Laman

Jumat, 04 Oktober 2013

Obituari (Proses Kreatif)

Oleh: Eka Kurniawan
TEMPAT KEJADIAN PERKARA

Lanskap pertama yang menarik perhatian saya, dan tak dipungkiri  berangkali generasi pembaca seperti saya, adalah kota imajiner  Macondo dalam One Hundred Years of Solitude Gabriel Garcia Marquez. Kota itu juga muncul di dua novela sebelumnya, Leaf Storm dan In the Evil Hours. Sebuah kota yang bisa segera dikenal dengan kebun pisangnya, gereja tempat tujuh anak Aureliano Buendia diberi tanda dari abu di kening mereka, dan rumah-rumah yang bercat putih serupa merpati.

Saya belajar mengenali Macondoi lebih dulu daripada apapun yang ada di novel itu. Macondo boleh jadi merupakan tipikal kota kecil di Colombia, modelnya mungkin Aracataca, tempat kelahiran Marquez. Tapi sejarah Macondo, bagi saya bukna semata-mata sejarah mengenai  Kolombia, tetap juga sejarah sastra. Membaca Macondo akan membawa kita ke kota lain: Yoknapatawpha Coutry, Missisipi, Amerika bagian selatan. Pentinng untuk disebutkan: selatan, sebab
Yoknapatawpha County merupakan lanskap yang membedakan dirinya dengan kota-kota di bagian utara.

Yoknapatawpha adalah kota dengan perkebunan kapas yang terbengkalai, negro-negro, veteran County merupakan kota imajiner dalam kebanyakan novel William Faulkner. Sejak saat itu saya selalu membaca banyak kota di banyak karya, imajiner maupun tidak. Ulysses James Joyce tak hanya merupakan kisah mengenai Bloom, tapi juga Dublin. The Hunchback of Notredame tak hanya tentang si Bongkok, namun juga tentang Paris di masanya.

Saya membaca Praha di pertengahan abad lalu dalam novel-novel Milan Kundera, mencoba mengenalinya, dan coba membayangkan apa yang terjadi disana dan memengaruhi hidup orang-orang yang mendiaminya.  Saya mulai melihat bagaimana Yoknapatwpha dan Macondo melahirkanb Gaoma County dalam novel Mo Yan Red Sorghum. Kita juga menemukan Cristantia (Sekarang Oslo, Norwegia) dalam Knut Hamsun Hunger.

Saya bisa membuat daftar lumayan panjang. Dalam sastra kita, juga ditemukan Blora dalam Cerita dari Blora atau Perburuan Pramoedya Ananta Toer, sebagaiamana Surabaya  di awal abad kedua puluh, dalam novelnya yang lain Bumi Manusia.

Sejak saat itu, saya menyadari bagi penulis-penulis agung ini, tempat dalam karya mereka jelas bukan sesuatu yang tidak penting. Tempat adalah dasar bagi mengapa peristiwa-peristiwa di dalamnya terjadi, dan alas bagi mengapa tokoh-tokoh di dalamnya bertindak. Dengan kata lain, kota berbeda akan memaparkan peristiwa yang lain dan menghasilkan tindakan berbeda dari para penghuninya.

Saya mulai berpikir, novel yang baik selalu perpaduan yang khas antara wadah dan isinya. Antara tempat dan para penghuninya.

Demikianlah saya mulai berpikir tentang tempat bagi tokoh-tokojh saya. Sebuah tempat dengan anatomi tertentu, dengan riwayat hidupnya sendiri, luka-lukanya, karnaval-karnavalnya. Sebuah tempat yang layak dan patut bagi peristiwa-peristiwa yang saya kisahkan bakal terjadi. Seperti Kyoto dalam novel The Old Capital Yasunari Kawabata.

TERSANGKA PELAKU

Don Quixote, bagi saya, tampak serupa pembunuh sejati. Siapa hari-hari ini yang masih mengenal Miguel de Carvantes Saavedra? barangkali hanya satu dari sembilan ribu orang yang mengenal Don Quixote mengenal Carvantes.

Penulis ideal, bagi saya, adalah yang mampu menciptakan pembunuh bagi dirinya sendiri. Lebih jauh, mengapa saya tertarik dengan tokoh serupa Don Quixote, sebab ia merupakan model bagi sastra modern secara umum: olok-olok mengenai yang nyata  dan tidak, mengenai pengalaman dan ide, fakta dan fiksi. Dalam sastra modern, dialah yang berhasil mengocok semua itu dalam dirinya. Saya tak bisa membayangkan sosok yang lebih ideal itu.

Tapi selalu lebih rumit daripada yang dibayangkan para penulis. Setiap masa dan tempat memberikan karakter tertentu untuk tokoh-tokohnya. Kita bisa membayangkan awal modernitas melalui Don Quixote, tapi kita juga bisa mengenali absurditas hidup di jaman modern melalui tokoh-tokoh di novel Franz Kafka, yuppi, yang selalu diidentikkan dengan penulisnya. Barangkali karena tokoh-tokoh itu, yang saya maksud adalah karakter di the Trial dan The Castle  yang memiliki inisial Josef K. dan K. Tapi jarang sekali kita mendengar Don Quixote disebuat sebagai orang Spanyol, atau K sebagai penduduk Praha, meskipun kenyataannya demikian.

Barangkali karena mereka melampaui tempat kaki-kakinya berpijak.
Mereka terlalu bersar untuk wilayah-wilayah terpencil serupa itu, dan ini membuat saya kadang merindukan seseorang yang benar-benar berbaring di rumput, orang-orang yang tampak sepele.

Saya melihatnya antara lain di novel-novel Yasunawi kawabata. Lelaki Jepang yang pergi ke daerah salju untuk menamui seseorang geisha, seorang gadis Kyoto yang mendatangi perayaan musim semi dengan kimono, atau seseorang penari dari Izu. Mereka adalah orang kebayakan, dengan nama-nama kebanyakan (Dan saya paling benci nama-nama tokoh di novel yang tak make sense). Akhir-akhir in sya juga menyukai mereka yang hadir di novel-novel Cina yang ditulis Mo Yan atau Su Tong. Saya  membayangkan petani-petani sederhana, sosok biasa yang sama sekali  tak istimewa, dalam the Garlic Ballads atau Rice.

Kesederhanaan mereka, dengan pakaian dan makanan, serta mungkin malah merupakan bagian-bagiana yang membuat kita mengubur hidup-hidup para penulis yang menciptakannya.
Di antara semuanya, Thomas Sutpen merupakan sosok yang tak pernah bisa saya lupakan. Ia muncul di Abslom, Absalom! William Faulkner. Sakit jiwanya merupakan gerusan sebuah masa yang busuk. Kesehariannya merupakan gambaran yang buruk, namun saya selalu akan mengenangnya sebagai memang begitulah, pembenci Yankee dari Selatan, tuan tanah dengan kejayaan yang mulai ambruk.

Dalam dirinya kita bisa membaca sebuah dunia secara lengkap. Dunia dalam dirinya dan dunia di luar dirinya. Sejenis karakter ideal yang barangkali dibayangkan dan dunia di luar dirinya. Sejenis karakter ideal yang barangkali dibayangkan  Iwan Simatupang sbagai Tokoh Kita dalam novel-novelnya (tapi atk pernah berhasil) sebagai tokoh yang bisa mewaki9li seluruh umat dan ras manusia. Yang kita butuhkan adalah sosok serupa Sutpen, yang di wajahnya kita bisa membaca semesta.

Demikianlah, jika saya ingin menulis novel, saya ingin menghadirkan sosok-sosok dengan kepala yang menerawanjg, kaki yang melangkah di tanah, dan dada yang bergemuruh.

METODE

Seseorang mengatakan bahwa sebuah cerita adalah sebuah cerita. Cerita yang bagus, akan tetap bagus dengan cara apapun. Barangkali itu benar, Seperti sebuah rumah, dibikin seperti apapun, asal ia tetap memenuhi persyaratan sebuah rumah sebagai tempat berteduh dan berlindung, tetap sebuah rumah. Tapi saya pecinta arsitektur, sebuah seni yang tak meungkinkan sebuah rumah dibuat begitu saja. Seorang arsitek tak akan datang tiba-tiba dengan semen, pasti dan batu lalu membuat rumah. Mungkin ada yang begitu, tapi bagi saya tak menarik. Kalaupun menarik, barangkali rumahnya yang pertama. Rumah selanjutnya, berdasarkan pengalaman, jadi terasa membosankan.

Demikianlah saya tak tertarik menenteng alat tulis lalu tiba-tiba menulis sebuah kisah. Banyak penulis melakukannya, tapi saya tetap tak tertairik. Jack Keroac melakukannya, tapi hanya On the Road yang menarik perhatian saya. Sebab saya menyukai pekerjaan arsitektur, duduk berlam-lama memikirkan alasan-alasan mengapa sebuah jendela harus berdaun ganda, mengapa pilarnya dibuat dari kayu dan bukan beton, mengapa dapurnya ad dekat pintu depan. Sebab juru masak yang paling baik juga menggunakan resep.

Tentu saja saya tak  akan melarang, dan tatap menaruh hormat, untuk juru masak yang akan memasukan bumbu mereka ke wajan, jika merka suka. Tapi sekali lagi,  saya lebih tertarik memikirkan alasan mengapa harus memasukkan garam dan bukan merica, sebelum memasak.

Ulysses James Joyce barangkali merupakan arsitektur yang paling istimewa di abad kedua puluh yang baru lalu. Tapi kemegahannya, bagi saya, seringkali membuat tersesat di lorong-lorongnya. Yang bisa dilakukan hanyalah, masuk ke salah satu ruangam dan menikmati ruangan tersebut. Di hari lain kita duduk di sudutnya yan glain, dan hidup di sana. Untuk hidup serentak di seluruh ruangan, paling tidak bagi saya, menjadi sesuatu yang nyaris mustahil.

Demikianlah mengapa saya lebih menyukai ruangan kecil yang diciptakan oleh Jorge Luis Borges. Meskipun kisah-kisahnya relatif pendek, hanya beberapa yang panjang, membacanya segera kita tahu itu dibangun dalam sebuah sistem cara berpikir. Setiap bagian-bagiannya diletakkan dengan maksud tertentu, demi sebuah bangunan cerita dan ide. Dalam kisah The Plot, ia hanya menjejer dua paragraf. Yang pertama mengnai pembunuhan Julius Cesar oleh Brutus. Yan gkedua kisah pembunuhan gaucho oleh seorang kepercayaannya.

Sebuah kisah adalah sebuah pola. Sebuah ide. Cerita the Plot mungkin sangat bniasa, atau orang sudah mengetahui kisah tersebut. Tapi meletakkan dua kisah berdampingan, tentu itu pekerjaan seorang pemikir. Sebuah ide, sebuah seni bercerita sesungguhnya.

Novel-novel yang saya kagumi, sepengatahun saya, jelas merupakan karya-karya kebetulan. Penciptaannya merupakan oragn-orang metodis. Dalam novel- novel Gabriel Garcia Marquez, kita melihat bab-bab yang relatif sama satu sama lain. Dalam novel-novel Milan Kundera, kita menemukan pengulangan angka tujuh. Tujuh bab misalnya. Ia juga seorang yang sadar mengambil arsitektur musik dalam novelnya. Mengerti bagaimana membuat intro yang baik, memahami bagaimana irama yang menentukan kualitas ceritanya, dan tahu harus menutup novelnya dengan sejenis coda.

Di antara yang lainnya, Jose Samarago jelas merupakan yang paling keranjingan. Saya tak bisa membayangkan seandainya novel-novelnya ditulis dengan cara lain, akan menjadi seindah yang saya baca sekarang.

Barangkali begitulah sudut pandang saya mengenai bentuk dan isi. Mengenai kisah dan bagiamana kisah disampaikan. Saya tak akan pernah berani menyatakan kisah lebiuh penting daripada cara menyampaikannya, demikian pula sebaliknya.

Saya bukan seorang pembunuh yang peduli menghilangkan nyawa seseorang, tapi juga harus menyadari pembunuhannya. Seorang penulis, bagi saya, bukan seseorang yang membunuh karena terpaksa atau kebntulan. Ia mesti seorang yang memang dilahirkan untuk menikmati seni membunuh. Sorang penulis harus maniak. Ia mesti mencintai cara kerjanya, untuk menghasilkan akhir yang paling gemilang.

BUKTI-BUKTI

Saya paling benci membaca kalimat serupa ini: ia lari ke sebuah lorong  jalan yang di kiri-kanannya dipenuhi pepohonan. Saya selalu bertanya jalan apa? Pohon apa? Sama bencinya dengan membaca kalimat, bangun tidur ayam jantun berkokok. Apakah pengalaman semua orang di dunia bangun pagi selalu sama? Tak adakah yang bisa mengambarkan bangun tidur yang lebih personal? Detail tidak menuntut orang untuk bertele-tele dengan hal remeh. Novel sendiri, jelas merupakan novel yang buruk. Tapi sebuah kalimat yang mengatakan: ia berbelok ke Jalan Merdeka dan bersembunyi di bawah pohon-pohon mahoni, jelas memberi nilai kepercayaan lebih daripada sekadar lorong jalan dan pepohonan, tanpa harus membuatnya jadi larut dalam detail tak perlu.

Dalam Song of Solomon, Toni Morrison tidak asal memberi nama sebuah jalan sebabagi Not Doctor Street. Kisahnya berawal dari sebuah ruas jalan dimana seorang dokter negro tinggal di sana. Komunitas orang-orang negero di sekitar jalan itu kemduian menamai jalan tersebut sebagai Doctor Street, untuk mengingat si dokter, meski jalan tersebut sesungguhnya memiliki nama sendiri.
Masalah kemudian muncul ketika mulai banyak orang tinggal disan dan menyebut Doctor Street sebagai alamat korespondensi mereka, yang ternyata memguat bingung pihak kantor pos. Pemerintah kota, yang didominiasi orang putih tentu saja, tak menyukai keadaan tersebu8t. Ia melarang orang menyebut jalan tersebut sebagai Doctor Street dan menempelkan pengumuman panjang di sepanjang loromg jalan bahwa This Is Not Doctor Street. Demikialah, komunitas orang negro, patuh pada perintah walikota sekaligus ngeyel, mulai menyebut jalan tersebut sebagai Not Doctor Street.

Sebuah detail kecil, tapi bisa memberikan sebuah wajah manusia-manusia. Ah, jangan berharap bisa menemukannya di novel-novel buruk yan ditulis penulis-penulis amatir (seperti saya ini, barangkali).

Sebuah fiksi adalah sebuah fiksi, kita mengetahui kebohongannya. Tapi dusta adalah fiks, segila apapun, harus menyentuh kepercayaan pembaca. Sebab hanya dengan cara itu seseorang akan terus membaca dan terlibat secara emosional. Jika ada sebuah kalimat lima ratus ekor gajah melintas di Jalan Thamrin, barangkali tak seorang pun percaya dengan begitu mudahnya. Bandingkan dengan kalimat in: seratus dua puluh empat ekor gajah melintas di Jalan Thamrin. Separuh pembaca mungkin memercayainya, hanya karena angka yang tak terlalu genap cenderung lebih dipercaya untuk kasus serupa itu. Tapi perhatikan kalimat ini: seratus dua puluh empat ekor gajah melintas di Thamrin, Presiden SBY membuka sendiri acara karnaval bersama perwakilan dari WWF untuk Indonesia, saya yakin seluruh pembaca akan percaya, tak peduli peristiwa itu sunggu terjadi atau tidak.

Detail ini adalah pembuka menuju sebuah kepercayaan, dan kepercayaan akan menjadi kebenaran. Serupa itulah, dalam bayangan saya, bagaimana fiksi-fiksi yang baik selalu bekerja.

KURBAN

Sekarang, izinkan saya mengisahkan diri sendiri. Saya dilahirkan dari banyak ibu, dan banyak ayah. Tapi satu orang yang pelu saya sebut pertama kali adalah penulis Norwegia, Knut Hamsun. Terima kasih kepadanya, yang telah memberi contoh untuk menjadi seoprang tumbal dunia fiksi yang baik. Ketika pertama kali membaca Hunger, saya tahu saya akan menulis  seolah tak ada hal lain yang saya ingin lakukan di dunia. Ia memberi pelajaran pertama pada saya untuk hidup: bernapas! Hunger merupakan napas asya. Saya selalu merasa sebagai seseorang yang tak bernama, berjalan di trotoar pelan-pelan Christania, memikirkan apa yang ingin saya tulis, dengan rasa lapar yang menyayat.

Pendidikan pertama saya adalah komik silat, yang saya baca diam-diam karena ayah saya dan sekolah melarang kami membacanya. Tokoh favorit saya adalah Pendekar Mabuk. Barangkali adaptasi novel dari Drunken Master. Saya membaca novel-novel silat dari Asmaraman S. Kho Ping Ho dan Bastian Tito. Saya juga, ya benar, penggemar novel-novel horor, yang ditulis Abdullah Harap. Tujuh Manusia Harimau saya baca di suatu masa yang sudah saya lupa, dan saya melihat filmnya di pertunjukan layar tancap, jika tak salah. Barangkali karena novel-novel semacam itu relatif mudah ditemukan di kota kecil serupa tempat saya tinggal.

Oh ya, saya menemukan Agatha Christie. Saya rasa sudah membaca seluruh edisi bukunya, dan percayalah tampaknya bisa membedakan bagaimana cara Mr Poirot dan Miss Marple dalam menyelesaikan kasus-kasus.

Menjelang umur dua puluhan, saya mulai belajar filsafat. Saya membaca Nietsche dan terkagum-kagum dengan gaya prosanya. Lihatlah cara ia menulis, selalu dalam bentuk aforisma-aforisma pendek yang indah. Saya belum pernah menemukan filsuf menulis dengna penuh gaya sepertinya. Tapi seperti kebanyakan borjuis kecil yang tak memperoleh kenyamanan hidup, saya mulai jatuh cinta dengan Hegel, dan setelah dari Hegel seseorang sangat mudah jatuh ke Marz dan Engels. Karena saya menyukai sastra, saya membaca George Lukacs. Dengan cara itulah saya dibesarkan.

Dan di bawah pengasuh-pengasuh seperti itulah saya menulis. Saya sendiri tak bisa membayangkan bagaimana akan jadinya seorang banyi yang diasuh Lukacs dan Kho Ping Ho, tapi saya membayangkan sesuatu telah terjadi pada diri saya.

Hingga datang waktu saya harus menyapih diri dari para pengasuh,l bahkan para orang tua, dan mencari sendiri teman, kekasih, dan sekaligus musuh. Saya membaca buku apa pun yang bisa saya peroleh. Buku pengobatan maupun manual mengoperasikan telepon genggam. Lalu saya mulai menulis, dan dengan cara itulah, seoarang pengarang menemui ajalnya.

Solo-Jakarta, 2005-2006

Post Scriptorium: Catatan ini saya tulis ulang dari On/Off tahun 2006, di edisi Proses Kreatif. Saya menulis ulang selepas membaca Hunger Knut Hamsun dan pernah teringat Eka Kurniawan adalah penggemar garis keras novel ini, dan sebagai penggemar berat Eka Kurniawan, saya harus menulis obituari ini--walaupun belum izin penulisnya sendiri.

2 komentar:

  1. Mohon izin menyebarkan tulisan ini (tanpa suntingan) di blog saya, ya, Mas Dedik :-)

    BalasHapus
  2. Ikut menautkan link buku terkait: http://blog.insist.or.id/insistpress/id/arsip/1933

    BalasHapus