Senin, 10 Februari 2014

Bagaimana Puthut EA Melukiskan Eka Kurniawan


Kesaksianku Atas Proses Kreatif Eka Kurniawan*

Oleh: Puthut EA

Proses kreatif Eka Kurniawan dideskripsikan oleh salah satu kawan baiknya, Puthut EA.

Ada dua kejadian hampir mirip yang saya alami, lalu saya ingin menuliskannya. Hal ini dilatarbelakangi, belakangan ini banyak orang yang menulis tentang 'proses kreatif ini dan itu', lalu biarlah saya akan memberi sedikit kesaksian saya atas proses kreatif Eka Kurniawan.

Saya orang biasa, akan menulis tentang Eka yang masih juga orang biasa. Ini sebuah kesaksian orang biasa atas yang lainnya. Saya sudah agak lama kenal muka dan kenal karya pada Eka Kurniawan, bukan saja karena saya satu kota dengannya, tapi karena saya adalah adik tingkatnya di fakultas filsafat UGM.
Ia adalah orang yang beredar dengan senyum. Menenteng tas kecilnya yang berisi karya-karyanya, lalu menawarkan pada orang lain untuk membaca dan memberikan pendapat.

Ia berkitar, tak juga lelah, dengan diamnya yang ringan, ia berbagi cerita, berbagi hasil kerja, berbagi sentuhan penciptaan. Sepintas, itu terasa aneh, apalagi bagi orang-orang yang satu mental menulis seperti saya. Sebuah karya adalah mirip-mirip seperti aib, menyerupai najis kita kala sebuah malam mampir di tempat pelacuran. Dan Eka beredar, bersetia pada tegur sapa, tak lelah-lelah, seperti jam di dinding yang bergerak runtut.

Dari sana saya mulai curiga: ia akan menghasilkan karya besar!

Lalu suatu saat saya bermain di tempat kosnya, yang mirip situasi di Afganistan karena banyak orang berjenggot dan bercelana komprang ( jangan-jangan saya nanti di vonis mati, tapi tidak apa-apa, demi sebuah kesaksian ). Waktu itu telah terbit beberapa kumpulan karya dia dalam bentuk buku; terjemahan, antologi cerpen maupun karya non fiksi. Ia sedang menulis novelnya yang pertama: O, Anjing.

Saya tidak suka calon judul cerpennya, dan di benak saya waktu itu, saya bilang pada diri saya sendiri, kelak jika saya membuat sebuah novel, tidak akan meniru judul sederhana yang tidak punya unsur agitatif. Ia sedang menulis di depan komputer. Saya datang. Ramah ia mempersilakan duduk, menemani berbincang. Tapi kemudian saya sadar, dari cara dia berbicara, bahwa ia sedang bersabung untuk sebuah karya. Menyabungkan waktu. Lalu saya pulang.

Sebagaimana biasa, Eka mengantar dengan senyum ramah dan jinak. Ia, memang tidak punya sedikit rasa angkuh sebagai seorang penulis yang cukup teruji dan sedang berhadapan dengan calon penulis yang masih malu-malu menyembunyikan keinginannya. Lepas itu, saya agak jarang menemuinya, takut mengganggu.Hingga sebuah sore, dalam keadaan agak teler, saya menemuinya.

Waktu itu, ia ada di tempat kos adik kandung laki-lakinya. Dan sampai di sana, saya tertidur. Waktu saya agak sadar, lamat-lamat masih kulihat Eka yang terus mengetik. Lalu saya tertidur lagi. Dan ketika saya agak terjaga, kulihat Eka masih suntuk menulis. Begitu sampai berkali-kali ( kemudian ini mengingatkanku pada sebuah cerita, waktu istri Muhammad tidur dan setiap bangun mendapati Muhammad masih sholat ).

Kalau cerita tersebut kemudian menimbulkan tanya pada hati sang istri; bukankah sudah dijamin surga? Maka saya atas Eka bersaksi: sudah berbakat, tapi masih rajin. Sementara saya ( lalu saya membandingkan dengan beberapa teman dan tentu saja diri saya sendiri, yang rata-rata tidak begitu berbakat tapi bermental sok seniman, tidak rajin dan cenderung ngawur, serta defensif! )

Bahkan suatu saat, ketika komputer Eka sedang rusak, ia menulis bakal novelnya dengan tulis tangan di buku tebal dan lebar. Waktu itu saya langsung ngomong: ada sih Eka, orang yang lebih susah dari itu, ambil contoh Pram, tapi kalau saya, saya lebih baik tidak jadi penulis daripada harus susah seperti itu...

Dan benar-benar jadi, sebuah novel dengan judul O, Anjing, setebal hampir 600 halaman, tapi belum diterbitkan. Dan saya ingat waktu itu, Eka bilang: rasanya saya tidak mampu nulis novel lagi.

Tapi apa yang kemudian kudapati? Berbarengan kemudian, Eka nulis novelnya yang kedua dengan saya yang mencoba menulis novel. Waktu diskusi draft novelnya, dua minggu kemudian draft novel novel saya. Dan ketika enam bulan kemudian novel Eka sudah tercetak setebal lebih dari 500 halaman, draft novel saya tidak nambah-nambah. Hingga pada suatu kesempatan, saya ketemu Eka, dan dia bilang: rasanya saya tidak sanggup menulis novel lagi.

Lalu saya nyaut: dulu juga ngomong gitu, tapi buktinya?! Tentu kuucapkan dengan perasaanagak jengkel. Kali ini bahkan judulnya lebih agitatif dari semua judul yang pernah kubayangkan untuk novel novel saya: Cantik Itu Luka.

Saya orang yang sejujurnya tidak pernah percaya pada bakat, entah kenapa. Dan saya tahu, jika ada orang yang ditanya tentang sebuah karya, orang tersebut mengatakan : o..., saya lagi mencari inspirasi....atau...o, saya lagi berproses kreatif mencerap pengalaman.atau...o..., saya lagi pengendapan. Maka itu semua omongkosong. Sebab saya sering menghindar dengan cara seperti itu.

Cara menghindar orang yang malas.

***

Malam ini, seharusnya Eka ada di samping saya. Beberapa teman kami telah duduk di tanah lapang, memandang senja, menunggu sampai bulan setengah telanjang itu menyala dengan jelas. Dengan cahayanya, perlahan bisa disaksikan, bulan naik, lambat, merayap.cahayanya menusuki gelas-gelas dan tikar tergelar yang mulai kotor, bukan saja oleh sisa-sisa makanan, tapi juga oleh sisa tawa dan umpatan. Sinar itu, juga menusuki punggung kami.

Eka tetap tidak ada. Adakah pesan telah salah alamat? Tersesat dalam sore yang jinak di kota yang juga jinak?

Dan aku mengenangnya. Mengenang Eka.ia bertubuh rapuh, percayalah. Sedikit angin malam saja menyentuh tubuhnya, dua-tiga minggu ia akan terkapar, dengan matanya yang seperti bocah kehilangan mainan senapan, sementara di luar dar-der-dor, kawan-kawannya yang lain saling menembak, tapi tak ada yang betulan mati.

Mungkin Eka hanya membaca buku dan makan bubur (aih, kekasihnya begitu setia, mungkin karena Eka juga setia, sehingga muncul novel novel itu. Lalu bagi orang sepertiku yang menganggap setia adalah barang rongsokan dari langit, mungkin dijauhi takdir untuk menulis buku tebal ).

Hidup ini mungkin perjuangan, Eka....tapi aku enggan seperti itu. Seperti seorang menawariku nonton film Zapatista, aku hanya jawab, beri aku jalan ke sana, aku ingin jadi gerilyawan, bukan nonton filmnya.

Di kamar berukuran 3 x 4, aku nyaris mengahapal tiap sudutnya. Di sana, dalam ruang tanpa ventilasi itu, di tengah-tengah suara orang yang gemar berdoa dan menanak nasi, ia, Eka Kurniawan, seperti keluar merayap, lindap entah pergi ke mana. Menulis dengan kekuatan entah, dilakukan oleh kekuatan pikir yang lebih entah, dari tubuh yang lemah seperti kardus. Aku seperti mencium bau gudang setiap kali berkunjung ke kamarnya. Juga mungkin kutangkap sensasi museum tua yang muram, menyimpan barang-barang yang dikerjakan di masa lampau, di catat dimasa yang lebih muda, dan dijajar, dirawat untuk masa yang akan datang.

Siapa hendak merawat kata-kata, Eka?
Jawablah dalam suara kecilmu yang berirama santun itu. Aku manusia, tegak di mata siapa saja, aku tetap merasa bahwa aku manusia. Tapi di depanmu, aku merasa, aku lebih manusia lagi. Juga siapa hendak merawat cuaca, Eka ?
Atau kalau kamu sedang dalam keadaan yang tidak sehat, jawablah dengan kerling matamu, atau gerak badanmu yang ringkih itu.

Eka juga bukan seorang penagih. Hampir semua kawannya tahu, berapa buku yang kamu pinjam darinya, tidak akan ditagih. Sebuah bukunya, pernah enam bulan di kamarku, hingga aku merasa bahwa itu bukuku, bukan buku siapapun.
Layar hidup membentang sudah. Gambar-gambarmu bermain di sana...... Ia juga bisa galak dan sinis.

Ini ceritanya.

Di awal-awal 2001 beberapa penulis sepakat untuk berkumpul. Eka mau, tapi dengan syarat, pada setiap pertemuan yang seminggu sekali itu, setiap orang harus membawa karyanya untuk didiskusikan. Dan kudengar, Eka kemudian keluar lebih dulu, dan kudengar pula, ia berkata: kok tidak ada yang bawa karya? Kita mau jadi penulis atau tukang ngobrol ?
Selang beberapa hari, kami bertemu. Kamu kenapa tidak datang? Tanyanya padaku. Aku hanya bisa menjawab: aku bukan penulis. Ia lalu tertawa.

Ya, banyak orang yang ngaku penulis sekarang, tapi karyanya, mending kalo gak bisa dibaca, ini, gak ada karyanya! Begitu ia berkata di sela derai tawanya.

Ia juga lumayan sering tertawa. Walaupun singkat.tidak terus-menerus dan panjang. Dan itu tidak penting, sebab wajah eka wajah ramah. Di wajah yang ramah, anda tidak perlu terlalu sering tertawa. Itu sudah menentramkan, kok. Sungguh, dan sumpah!

***

Ini kutulis ketika Andi Seno Aji, desainer yang kukagumi sedang membaca tentang Arshile Gorkhy dan membandingkan dengan Van Gogh. Sebuah hidup yang tragis, Arshile bunuh diri dan istrinya telah berselingkuh dengan seorang kawannya yang suka meniru lukisannya. Paragraf-paragraf anyir dan hitam.
Suara merintih di belakang, lagu sendunya radio head, exit music, kulitku meremang.
Tidak, Eka, ini bukan paragraf kematian untukmu, ini kesaksian yang harus kumuntahkan. Kelak, aku akan seperti ini, mencatat dan mengekalkan orang-orang yang dekat denganku, siapapun, siapapun, apapun, apapun.....sempat kulirik wajah keras dengan cambang yang tegas dan lebat, wajah Arshile.

Lalu pelan kuketik lagi, ingatan-ingatanku, kesaksian yang berpuing tentang Eka Kurniawan, penulis sekaligus kawanku.

Pada akhir 2001, aku dan dia bergabung dalam sebuah organisasi, dan dia termasuk orang yang ikut membidani sebuah media: On/Off. Di sebuah pendopo, yang angina dibiarkan untuk mengibaskan dukanya, kami beberapa orang--terlibat dalam diskusi-diskusi tulisan yang keras kepala, angkuh, seperti gelas transparan berisi kopi hitam.

Dalam diskusi-diskusi seperti itu, ia seperti aliran sungai, kadang beriak jika dihadang bebatuan, kadang tenang, dan buaya sesekali menyelinap di sana, purba dan menggidikkan. Kadang tawanya berderai bersama denting piring dan kecipak mulut kami, mengunyah tawanya, mengunyah perbincangan kami sendiri. Kadang kritiknya yang sinis dan menghentak itu--membuat kami tertegun, tersadar, untuk segera beranjak merapikan ketololan dan membuangnya di asbak, bersama puntung-puntung yang mulai menebar bau busuk.

Dan yang selalu membuatku iri pada Eka, adalah keahliannya di bidang yang lain. Sebut, sebut saja: lukis, desain, layout, musik, bahkan bikin komik!

Ia selalu seperti terbang, dibawa kepak berkah semesta...

Lalu aku tidak terima, suatu saat, ia kupaksa untuk mengajariku melukis--kemudian aku selalu percaya bahwa segala sesuatu bisa dipelajari, dan aku yakin bisa. Benar, ia mengajariku, pelajaran pertama, ia menggambar sebuah kursi, lalu aku disuruh mencontohnya. Sepele sekali, pikirku. Tapi ternyata tidak, ia membalikkann gambar itu 180 derajat.

Gila, mana bisa?

Ia--sebagaimana biasa--tertawa. Iyalah, kalau kamu mencontoh tanpa dialik, kamu mulai menggambar dengan logika benda, nah sekarang kalau dibalik seperti ini, kamu mencontoh dengan logika garis. Begitu ia menandaskan.

Aku mencoba, teramat sulit, lalu bilang ke Eka: nggak jadi saja dech, sulit! Dan ia tertawa. Aku semakin kesal. Andy Seno Aji beranjak pulang, menyisakan lagu-lagu sendu untuk menemaniku. Mumu datang, ia mengajakku berbincang tentang distribusi on/off.

Kuakhiri ini semua, tapi sekali lagi, aku akan terus mencatat dan mengekalkannya di sini, di milis ini. Jika tidak boleh, aku akan pindah milis : P

*tulisan ini diposting dalam tiga bagian dalam milis
bumimanusia.or.id

Sunday, May 11 2003 @ 04:35 PM BST

PS: Saya muat dan tata ulang tulisan lawas ini dari sini sebab menurutku, ini penting untuk disebarkan. Saya pertama kali membacanya sudah begitu lama di bumimanusia.or.id yang sekarang sudah tidak aktif. Dua orang penulis yang menarik, dan satu generasi. Mereka berdua mengiringi saya tumbuh saat dengan karya keduanya; Cantik Itu Luka, Gelak Sedih, Isyarat Cinta yang Keras Kepala dan lain-lain.  

2 komentar:

  1. Terima kasih sudah menyebarkannya lagi, Mas Dedik :)

    BalasHapus
  2. ditunggu tulisan tentang kepenulisan yang lain, Mas :D

    BalasHapus