Selasa, 11 Maret 2014

The Silver Linings Playbook, Matthew Quick

Apa yang kau lakukan jika ayahmu adalah seorang pemarah kelas berat, dan hal itu menurun padamu dan akhirnya kau harus berurusan dengan pihak berwajib. Saranku, tirulah keluarga Pat; ia akan bersantai ria, berteriak-teriak dan menghabiskan vodka sambil menonton pertandingan bola dan berharap suatu saat nanti, keluarga ini akan baik-baik saja.

Cerita inilah yang coba diangkat oleh Matthew Quick dalam novelnya Silver Linings Playbook dengan kisah keluarga temparamental hingga akhirnya mampu menyelesaikan masalahnya; ayah yang kehilangan pekerjaan dan akhirnya menjadi penjudi, dua anak yang tampak tak akur.

Pulang ke rumah memang sebuah pilihan yang paling menjanjikan ketika kau divonis gila dan telah menjalani rentetan terapi. Pat Jr. mengalami itu dan ia berusaha untuk tidak lagi menjadi pemarah, khususnya setelah ia menghantam guru sejarah yagn ketahuan selingkuh dengan istrinya. Terapi yang dilakukan adalah berlari.

Pada saat berlari inilah ia bertemu lagi dengan Tifani, yang juga kawan dari Nikki--istri Pat yang kemudian meningalkannya sebab tak tahan dengan perangainya--dan bercakap tentang hidup mereka berdua yang kacau balau. Tiffani menjadi sosok yang agak kurang waras setelah suaminya wafat.

Kisah antara Pat Jr. dengan Tiffani yang sebenarnya menjadi inti cerita di novel ini. Kisah dua orang yang sedang bermasalah dengan psikis dan keluarga masing-masing yang amburadul.

Lalu keduanya saling bertukar keuntungan. Pat yang ingin kembali kepada istrinya meminta bantuan Tiffani untuk mengirimkan surat kepada Nikki dan Tiffani meminta Pat untuk jadi partner dalam kompetisi dansa. Ia tetap mengingat suaminya yang dulu, katanya, begitu romantis tapi telah wafat. Itu salah satu keinginannya yang belum terpenuhi.

Ketebalan cerita juga menarik, misalnya, bagaimana Pat Sr. yang beradu judi dengan kawannya dan mempercayai takhyul, juga bagaimana perlakuan rasis sebagaian orang-orang Amerika terhadap Asia juga tampak sebagai bumbu yang asyik untuk memperkuat cerita dan membuatnya tidak basi atau bertele-tele.

Ini juga yang menjadi kekuatan. Saat titik dimana perjudian sang ayah mencapai kekalahan dan ia percaya bahwa ini sebab Pat berhubungan Tiffani, maka Tiffani datang dengan data rasional dan itu membuat ayah terperangah. Hingga terjadi pertaruhan yang lebih besar; ayah mempertaruhakn seluruh bisnis keluarga asalkan mampu menang Parlay. Artinya, tim favorit keluarga menang dan mereka berdua mampu tampil bagus di kompetensi dansa dengan angka minimal 5.

Singkat cerita, mereka menang di Parlay ini dan keluarga mereka kembali utuh, juga cinta Pat dan Tiffani yang baru mereka sadari. Dua orang yang terluka dan ingin kembali menemukan bahagia.

Satu peristiwa menarik di sini adalah bertaburan bacaan, tapi tidak berupaya bersok pintar seperti halnya bacaan lain. Tapi, buku-buku itu bahkan masuk ke dalam cerita. Misalnya, bagaimana Pat memaki-maki Hemingway karena merasa bukunya 'a farewell to arms' malah membuatnya sakit dan kembali pemarah sebab dalam cerita itu berakhir sedih. Kemarahan itu membuatnya membanting buku itu dan melemparkannya hingga keluar jendela.

Bagiku, ini peristiwa yang cukup menarik. Mengingat banyak sekali cerita kita yagn seolah ingin pamer bacaan tanpa membantu jalannya cerita. Tapi di sini, Mathew Quick berhasil menghubungkannya menjadi bagian dari kemarahan dan kena pada cerita itu.

Dan selebihnya, novel ini cukup menghibur sebagaimana filmnya.

@DedikPriyanto

PS: Saya membaca e-book novel ini setelah sebelumnya hanya menonton filmnya yang rilis tahun lalu dan dibintangi oleh Robert de Niro dan Jennifer Lawrence. Harus kuakui, saya takjub dengan penampilan Jennifer Lawrence seperti halnya ketakjuban saat ia memerankan Katniss Everdeen di Hunger Games (Suzanne Collins) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar