Minggu, 11 Oktober 2015

Kenapa Saya (Tidak) Menulis Lagi

Seorang kawan bertanya, kenapa saya tidak menulis lagi, entah di media maupun buku. Kebanyakan orang dengan bercanda menyebut saya terlalu sibuk, tapi saya akan menjawab: kemalasan.

Waktu produktif saya sebagai penulis agaknya terjadi kurun waktu 2009-2012. Saya menulis 5 buku cerita, 3 buku anak, 1 buku bola dan produktif menulis ragam opini serta esai di media massa dan masih banyak lainnya.

Kebutuhan untuk menulis berbanding lurus dengan urusan perut. Jika tidak ada yang dimuat, bisa dipastikan saya akan bokek. Mengharapkan event atau program lain di organisasi hanyalah bualan belaka. Saya tidak cukup pandai urusan ini.

Kurun waktu tiga tahun itu saya berusaha serius mempelajari jurnalisme dan membangun diri dengan bacaan sosial politik. Menjadi wartawan di sebuah korporasi media,  menerjemahkan berita-berita bola di dunia dalam sebuah laman online dan aktif di organisasi sosial keagamaan. Sederhananya, saya menjadi  orang yang sangat aktif.

Menjadi orang yang sangat aktif ternyata menjadikan lalai. Saya tidak serius mempelajari jurnalisme, apalagi membangun diri dengan bacaan sosial politik. Anehnya, saya semakin menyukai cerita. Saya menyukai novel dan cerita pendek. Semakin saya membaca, saya kian merasa tidak tahu apa-apa. Buruknya, bahasa inggris saya tidak terlalu bagus.

Seiring waktu, bacaan pun berubah. Saya melihat kembali tulisan-tulisan lawas saya dan saya langsung benci. Saya menulis dengan sangat buruk, data yang terlalu dipaksakan dalam opini dan cerita-cerita yang cenderung dungu. Saya membenci penulisnya. Saya membenci saya diri sendiri.

Setahun lebih saya tidak lagi produktif menulis. Tapi, saya dan beberapa kawan mendirikan majalah sastra. Surah namanya.

Waktu itu juga saya masih menjadi kordinator forum sebuah forum studi. Dari situ, saya lebih banyak mengurusi organisasi: membuat event, mengurusi proposal dengan segala tetek bengeknya, serta bertemu banyak orang. Sialnya, saya bertemu dengan seorang perempuan.  Saya jatuh cinta padanya. Hubungan kami tidak lama. Tapi saya merasa waktu itu saya sangat produktif—untuk hal ini akan saya ceritakan lain kali.

Tahun 2013 seorang kawan baik memberi tahu saya, salah satu penulis terbaik di negeri ini membuka lowongan untuk menjadi editor novel sebuah penerbitan yang sedang ia rintis. Nama penulis itu A.S. Laksana.  Konon ia ingin membuat revolusi, memberikan bacaan bermutu untuk remaja dan anak muda. Saya tertarik, mendaftar dan akhirnya diterima.

Harus saya katakan, bergabung dengan sosok yang kerap saya panggil ‘paman’ tersebut merupakan anugerah terbesar dalam hidup saya. Saya bisa dengan sangat dekat melihatnya bekerja, belajar bagaimana membuat bacaan bermutu dan ia guru yang begitu menyenangkan.

Tentu saja bacaan saya berubah.

Jika dulu saya ingin menjadi seorang jurnalis—saya beberapa kali dikecewakan oleh tempat saya bekerja sebelumnya, khususnya perihal diajari ‘jale’ di kalangan redaktur media saya sebelumnya—maka saat ini saya ingin tumbuh menjadi seorang editor novel. Seorang praktisi cerita.

Hampir dua tahun saya belajar di sana. Beruntungnya saya bertemu dengan kawan-kawan dekat yang juga penulis: A.S. Laksana, Dea Anugrah, Paman Yusi Avianto Pareanom, Fisca Ambarsari (ia sekarang studi di Jerman), Sabda Armandio dan masih banyak lain. Banyak sekali cerita lucu, banyak juga yang membuat saya malu. Khususnya, kenapa saya tidak menulis cerita laiknya mereka.

Harus juga saya katakan, bersama mereka saya akhirnya mengerti bacaan-bacaan yang bagus. Bagus di sini artinya bacaan yang juga membuat para penulis dunia lahir, bacaan yang dibaca oleh para penulis bagus lainnya. Ukurannya apa? Banyak. Tapi, yang paling kelihatan dari sebuah bacaan bagus adalah, bagaimana penulis tersebut menuliskan ceritanya. Cara bercerita, mengutip Paman Yusi, buku bagus adalah buku yang menantang kepenulisan dia.

Saya tenggelam di sana. Semakin saya membaca buku yang bagus, saya semakin merutuki saya sendiri. Kenapa saya tidak bisa menulis sebagus mereka?

Hal itulah yang membuat saya begidik. Jika tidak bisa membuat cerita bagus, mending saya membesarkan diri saya sebagai pembaca saja. Toh, seperti kata Roberto Bolano, membaca jauh lebih penting daripada menulis, bukan? Ketakutan-ketakutan bahwa cerita-cerita saya jelek terus saja menghantui ketika saya membaca buku-buku bagus. Bahkan saya bisa begitu selektif dan sangat kejam terhadap tulisan. Namun, di masa itu itu juga saya merasa begitu produktif.

Saya ditantang untuk menulis novel atau novella. Saya telah membuat draftnya, menulis kerangka ceritanya dan mulai mengerjakan. Saat ini belum selesai. Tapi ada sesuatu yang membuat saya—maksud saya kami—terdepak dari penerbitan yang kami rintis. Satu per satu pergi. Saya menyusul sebulan kemudian. Segalanya berubah lagi.

Satu hal yang tidak berubah adalah, saya kembali tidak produktif. Saya kehilangan arah. Bagaimana impian yang telah kau bangun bersama tiba-tiba saja dihancurkan seketika? Saya merasa itu terjadi pada kami. Namun, kehidupan harus terus berlanjut.

Saya kembali menapaki jalan lama, membangun ulang mimpi, bertukar pikiran lagi dengan banyak orang dan menulis lagi.

Saat ini saya sedang mempersiapkan sebuah terjemahan. A Moveable Feast, otobiografi Ernest Hemingway. Menyelasikan novel lawas yang tertunda dan merancang lagi cerita-cerita—tentu saja akan sangat berbeda dengan cerita lama yang pernah saya buat.

Belakangan saya sedang menggilai teknologi. Hal itu dikarenakan saya membaca biografi Steve Jobs karya Walter Isaacson. Busuknya, saya baru menyadari belakangan bahwa hal ini menjadi penting. Telat sekali saya tahu ini. Saya terpengaruh. Saya terprovokasi karena bacaan bagus ini. Akhirnya, saya pun mencari buku-buku lain tentangnya dan buku-buku teknologi lainnya.

Bukan sekadar teknologi taktis, melainkan bagaimana orang-orang ini bercerita dan melahirkan sesuatu yang hebat dengan apa yang mereka pikirkan. Elon Musk, Mark Zuckernberg, Sergey Brin dan Larry Page, Steve Jobs dan lain sebagainya. Mereka ini adalah orang yang berada di persimpangan antara seni dan teknologi. Mereka orang yang menyukai cerita dan percaya dengan kekuatan cerita.

Itulah sebabnya, saya harus kembali menulis. Saya pun menulis dan kembali meliput. Tiga hari lalu saya baru kembali dari Kupang. Saya menulis seorang guru agama yang menjadi sahabat para preman. Saya berbincang, bertemu dan menuliskannya.  Nanti tulisan tersebut berkumpul dengan karya jurnalisme lain yang ditulis teman-teman saya lain, yang juga menulis hal serupa di seluruh Indonesia. Satu hal lagi, saya bersama dengan beberapa kawan sedang membuat start up di bidang literasi.

Saya kira, saya ingin bercerita itu saja untuk saat ini, semoga kawan saya tadi tidak bertanya lagi.


2 komentar:

  1. Apa ada tempat di start up company punyamu itu, untuk praktisi IT seperti saya? Soalnya, saya sedang cari pekerjaan baru.

    Intinya sih seperti itu. :)))

    Welcome back, Nabi!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, senang saya mendengarnya, Ayu. Lama juga tidak berjumpa dan kamu masih bergulat di IT. Tapi, maaf sekali, kami masih benar-benar membangun dan tampaknya belum bisa dengan kapasitasmu. Mungkin nanti, kalau aku butuh bantuan IT, pasti menghubungi. Apalagi, startup yang lagi kami bangun pasti akan cocok untuk orang yang sepertimu. Haha.

      Hapus