Halaman

Selasa, 12 November 2013

#5BukuDalamHidupku: Orang-orang Tortilla

Saya sarankan kepada saudara sekalian, jangan pernah membaca buku ini jika tidak, dan saudara bisa pilih sendiri jawabannya. Pertama, bisa gila. Kedua, orang lain yang gila karena kelakuanmu.

Gila pertama adalah gila yang, membuat saudara, menjadi orang yang terkekeh sendirian, terjungkal-jungkal dihajar tawa, dan pada level yang akut, saudara akan dibuang, dilempar botol sebab berisik tanpa berkesudahan. Beruntung jika di samping saudara tidak ada anak kecil, yang kemudian kabur dan melaporkan ke orang tuanya. Sekonyong-konyong kemudian, sebuah mobil putih akan datang dan menciduk saudara sebab dianggap gila betul dan selayaknya dimasukkan ke rumah sakit jiwa.

Gila kedua adalah, orang-orang yang saudara provokasi untuk membaca kisah gila di dalamnya, dan akan mengalami gila pertama.

Buku ini, yang membuat orang-orang menjadi gila adalah Tortilla Flat dari John Steinbeck, dan saya membacanya lewat terjemahan yang begitu biadab dari Djoko Lelono, seorang sepuh yang patut diberi label orang yang gila pertama sebab mampu menafsirkan kebiadaban Steinbeck pada tingkatan yang lebih serius lagi dari gila pertama dan kedua: sableng.

Baiklah, saya tidak akan bicara tentang gila lagi. Sebab jika saudara pernah membaca novel ini, maka pasti mengerti maksud saya, bahwa cerita orang-orang di dataran Monterrey ini hingga detik ini terus menghantui.

Bahkan, beberapa kali itu saya mencari jejak orang-orang Tortilla yang diceritakan oleh Steinbeck itu dengan kawan-kawan yang berada di lingkaran saya. Misalkan, kawan A saya yang memiliki rumah, maka saya akan menyebutnya Danny. Yang memiliki hati lembut, penyayang binatang maka sepatutnya saya panggil nama Bajak Laut, dan bagi yang agak dungu, bertubuh gempal, tapi baik hati maka Joe Portugis adalah namanya. Yang agak filosofis, mirip filsuf yang gagal dan akhirnya mencari harta karun entah akhirnya bernama Pilon.

Semuanya, bahkan saya sendiri, acapkali dianggap sebagai Joe Portugis oleh kawan-kawan lain, juga seorang yang menyia-nyiakan perempuan yang telah menyiapkan anggur pada sebuah malam. Tapi lebih memilih anggur daripada perempuan. Entah, dosa apalagi yang harus saya terima selepas membaca Tortilla Flat. 

Saya beruntung berada di lingkungan orang-orang yang gemar bercakap tentang apa saja, biasanya ada saja yang menyentil soal bacaan, dan tentu saja dengan kehidupan yang begitu biadab, mirip seperti kehidupan orang-orang Torelli di lembah Monterrey.

“Novel yang menginspirasi Ronggeng Paruh adalah Dataran Tortilla. Karya Steinbeck,” seloroh Si Celurit Emas, D. Zawawi Imron, ketika kami berdiskusi di Pojok Gus Dur beberapa bulan lalu.

Seketika itu pula saya terdiam, dan menoleh ke arah Abah, seorang kawan yang sekarang menjadi wartawan di sebuah portal.

Sejenak mata kami bertaut, seolah ingin berteriak bersama,”Brengsek Steinbeck!”

Saya sendiri membaca buku ini entah berapa kali, dan mata saya begitu tertohok dengan percakapan Pilon dan Pablo di hutan perihal  hujan dan air yang turun saat itu. Mereka berdebat soal bagaimana air hujan yang turun. Ada yang berkata bahwa  jika turun berupa permata. Maka, tentu mereka akan kaya, dan banyak uang untuk dibawa ke Torelli guna dibelikan anggur.

Namun, akhirnya mereka sepakat bahwa air hujan yang turun malam itu alangkah lebih indah jika berupa anggur. Tentu anggur Torelli.  Karena dengan itu,  mereka akan lebih bisa menikmati tiap jengkal, tiap waktu untuk menikmati anggur.

Imajinasi ini, bagi saya, begitu gila, jenaka dan candu.

Anggur Torelli, yang menjadi barang paling berharga bagi orang-orang Torelli,  begitu merasuki otak saya, dan kerap mengusik alam bawah sadar saya. Bahkan sampai sekarang saya masih terus mencari tempat ini di Ciputat, atau di daerah-daerah lain di negara ini. 

Jika saudara tahu, ajaklah saya.

Bahkan saya yakin, jika pun Tuhan tahu, ia pasti sekarang sedang berada di Torelli, atau sekadar menggoda si nyonya belibis, atau paling tidak ia akan   

Begitulah, selepas baca ini, saya begitu bernafsu untuk mencari karya Steinbeck yang lain, dan juga mencari novel asli. Beberapa kali saya mencari di toko buku konvensional tidak ketemu.

Pernah suatu tempo menemukannya tergeletak di antara buku terjemahan  lainnya, tapi malang tak bisa ditolak, saat itu isi dompet saya hanya setengah dari harga yang tertera di buku tersebut. Dalam hati saya mengumpat, namun juga bahagia.

Gembira karena saya akan mendapatkan buku asli tersebut. Bukan fotocopy, begitu pikir saya. Dan menunjukkan pada mereka yang sering meremehkan para sivitas tukang copy ini.

Sebulan selepas peristiwa itu, saya mengumpat kembali sembari mendengar dinginnya seorang kasir berkata lirih,”Sudah tidak ada, Mas. Stok habis kayaknya. “

Sontak, saya kecewa untuk kembali. Saya pun mencari di toko-toko buku langganan. Tapi hasilnya sama; nihil. Dan sampai sekarang saya hanya mempunyai versi fotocopy. Entah bagaimana tawasul saya nanti, seperti kebiasaan saya waktu dulu saat ngaji, yang harus melafalkan doa kepada mereka yang berjasa atas keberadaan buku ini di muka bumi.

Konon, buku ini dianggap hadiah terbesar bagi penduduk Amerika selepas luluh lantak akibat perang tak berkesudahan, dan perekonomian yang ambruk selepas perang dunia pertama. Terlepas dari itu, buku ini menyelematkan kegilaan saya tentang humor sebagai bagian satir dalam bacaan.Orang-orang Paisano di lembah Monterrey ini mampu memberikan gelak tawa dan obat sejenak di antara deru tangisan.

Sastra, atau buku lainnya, bukan hanya persoalan serius dan patut untuk dirayakan sebagai sebuah kesedihan semata. Sedih yang berbalut jenaka tentunya lebih menyakitkan, dan model begini yang ditawarkan oleh Steinbeck melalui kisah orang-orang Tortilla. Ibarat racun, saya rela senantiasa meneguknya dan mati berkali-kali sebab tawa.

Maka, ketika saya ditanya banyak orang tentang sebuah novel yang patut ditempatkan di tempat utama dalam perpustakaan. Jawaban saya bulat, Tortilla Flat karya John Steinbeck.

Saudara juga sepakat, bukan?

Hujan

Kita adalah
airmata yang, jatuh
depan jendela

(2013)

#5BukuDalamHidupku: Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta

Apa  buku yang kau lakukan jika kau adalah seorang mahasiswa, dengan tekad  bertahan hidup di perantauan  dan  menemukan sebuah buku yang mirip-mirip dengan hidupmu? Apalagi jika kau adalah seorang yang aktif di pergerakan, forum studi dan dikutuk untuk selalu berurusan dengan teks, selebaran dan media di kampusmu, apa yang akan kau lakukan?

Tentunya jika bertemu buku tersebut, banyak orang yang mengepalkan tangan sembari berujar: Eureka!

Dan barangkali pula, akan berteriak sekencang-kencangnya, berlari sejauh-jauhnya dan tertawa sehabis-habisnya. Tapi berbeda halnya dengan saya, ketika menemukan buku bertajuk ‘Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta’ ini, badan saya tiba-tiba lemas, dan gelisah merupa kentut yang tak tertahankan untuk segera dilepaskan.

Saya bertanya, apakah hidup saya ini, dengan pilihan-pilihan dan keadaan model begini, merupakan pilihan yang sesuai: menjadi seorang dengan kebanggaan yang maha biasa,  menyebut dirinya adalah penulis, apalagi tokoh yang saya baca di buku ini hidup begitu menderita, dan berakhir dengan sedih tak ada ujung; ditipu penerbitan, tidak bisa makan, terusir dari kampus dengan status DO, dan akhirnya meninggal dunia sebelum jadi apa-apa.

Sebegitukah bengis kehidupan, di sebuah kota yang konon begitu menghargai pengetahuan dan kata-kata: Yogyakarta.  

Buku ini berhasil memengaruhi hidup saya sampai detik ini—dan entah sampai kapan akan terus membuat teror di otak saya tentang kehidupan ringkih di jalur kepenulisan, kalau tidak mau dibilang membius saya melalui narasi yang dibangun. Di buku ini pula, saya lupa untuk melihat sebuah novel dari segi estetik yang mendukung sebuah karya sastra bisa disebut bagus, atau minimal dari ulasan, percakapan maupun resensi yang menuntut saya untuk bersegera mencari dan malahapnya.

Proses saya menemukannya pun harus dengan curi baca. Berawal dari kawan saya yang—entah meminjam darimana—membawa buku ini dan dibacanya di teras depan kontrakan, dan saya hanya bisa sesekali mencuri lihat. Lalu  cara yang misterius pula,  kawan saya ini tiba-tiba ke kamar dan meletakkan sembarangan buku itu samping televisi.

Sontak saja, saya langsung membacanya dan agak mmenjauh dari kontrakan.

Tatkala kawan saya bangun dan mencari buku ini, saya enggan untuk memberi tahu, bahkan pernah terbersit di otak saya untuk sengaja mencurinya. Belakangan ia tahu, saya hanya berdalih, buku itu saya baca dan lupa. Tapi entah kenapa, sampai sekarang, saya ingin mencuri buku itu. Walaupun saya tahu, kalau pun saya merajuk dan meminta pasti dikasih, tapi sekali lagi, saya ingin mencurinya. Itu saja.  Tidak salah, bukan?

Selain soal isi dan cerita yang mirip-mirip obat bius itu kala saya baca, saya jatuh cinta dengan perwajahan muka novel ini. Jika kover buku itu boleh diambil sebagai istri saya, maka seketika itu pula saya akan mengajak orang tua saya untuk mendatangi rumah kover itu dan melamarnya.

Bayangkan, kovernya saja begitu buluk, tapi menyentak; seorang lelaki yang tampak sedang mengayuh sepeda onthel dan dibelakangnya terdapat buku-buku. Sublim, pikirku. 

Novel ini berkisah perihal kehidupan sunyi yang harus dialami ketika orang memutuskan untuk menjadi seorang penulis dan meninggalkan dunia kuliah. Orang yang begitu mencintai dunia menulis dan buku hingga ia menukarkan hidup dan nyawanya hanya untuk membaca.

Tak hanya itu, buku ini juga mengulik dunia penerbitan Jogja yang riuh oleh penerbitan. Lengkap dengan pelbagai tipu daya dan unsur humor tentang dunia yang konon mencerdaskan manusia ini. Buku ini ditulis dengan apik oleh Muhidin M. Dahlan, yang belakangan selain penulis produktif, juga membuat gerakan arsip dan suara digital dengan @radiobuku.

Satu hal lagi, buku ini merekam jejak Jogja sebagai kota buku, gerakan dan juga cinta. Juga memotret perdebatan masa  2000-an perihal debat buku terjemahan yang memantik sengit antara kubu penulis/penerjemah asal Jogja dan Jakarta yang acapkali sok pintar itu.

Namun, sayang sekali, beberapa bulan lalu saya menemukan buku ini diterbitkan ulang dengan perwajahan yang begitu mengecewakan dan diberi tajuk yang sangat buruk dan layak segera dimasukkan dalam daftar buku, yang jangan dibaca sebab judulnya unyu: Jalan Sunyi Seorang Penulis.

Ah, saya sungguh tidak simpati.

Jika Gus Muh, begitu ia disapa, membaca catatan sederhana ini, tolong kembalikan cinta saya kepada sosok pria ringkih berambut gondrong yang berada dalam ‘Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta' ini, Tolong!

@Dedik Priyanto

PS: Hari pertama, untuk #5BukuDalamHidupku yang diinisiasi @irwanbajang dkk di twitter, mudik ke blog pribadi. Entah kenapa, otak saya langsung teringat buku ini. Gambar diambil di sini

Kamis, 07 November 2013

Jakarta

: Perempuan yang berdiri di dekat halte itu  

Pada mata yang lelah
bising
dan perjumpaan
yang kau peras dari darahku, dan
tercipta
miliaran cangkir
kopi Starbucks itu

tak ada jalan manis, dan
kerlip riang
kotamu

(2013)



Senin, 04 November 2013

Seno dan Kutipan di Dinding Facebook

"Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa." ~ Menjadi Tua di Jakarta- Seno Gumira Ajidarma

Saya pertama kali membaca kutipan itu dari dinding facebook penulis cum aktivis Puthut EA, seketika itu pula saya tercekat dan beberapa kali berpikir, untuk apa kita hidup di kota, lengkap dengan pelbagai kebisingan dan semrawut tanpa ada kesudahan?

Lalu saya teringat beberapa tahun silam, beberapa jam selepas kelulusan, tepuk tangan dengan ragam keriangan, dan ucapan selamat tanpa henti seperti udara yang saban hari dihirup, saya bertekad untuk keluar dari daerah saya di Jawa Timur dan bertekad menjadi perantau. Menjadi perantau dengan kesungguhan yang begitu menggebu untuk menjadi diri sendiri, menemukan pribadi sendiri, menelisik pelbagai kemungkinan yang, barangkali, akan terjadi.

Datang ke sebuah kota yang bagi orang desa seperti saya seperti membayangkan masuk ke kehidupan yang lain, yang tidak mungkin terbayang sebelumnya seperti seorang pengembala tersesat ke hutan dan pasir yang tak bertuan, lalu segera menemukan kegagapan sepanjang jalan dalam kisah The Alchemist Paul Coelho.

Kota adalah imajinasi banyak orang, dan memberikan harapan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Saya dan barangkali semua orang yang datang ke kota seolah memenuhi ruang janji yang tidak akan sanggup berdiri sendiri, tanpa mampu ada seseorang yang pergi menanggalkan keinginannya hanya untuk satu kalimat paling puitis yang mereka impikan: kehidupan yang lebih baik.

Lalu gerbang dunia pendidikan, pintu dunia kerja dan kesempatan mencari jejak-jejak penghidupan seakan menebarkan pelbagai harap, yang banyak orang tak mampu memenuhi janji.

Banyak pula yang meradang dengan ribuan umpatan, lalu kalah, dan pulang.

Kesempatan menjadi bagian kota dengan janji riang dengan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya diterjang dengan pelbagai risiko: bising, sakit, macet, gaji yang minim dan hidup seperti robot.

Dalam kehidupan kota yang serba berisik dan tidak menentu ini, kutipan Seno di dinding facebook itu kembali membuat saya bertanya, sampai kapan saya bertahan di kota Jakarta?

@DedikPriyanto

PS: saya belum pernah baca cerpen Seno yang itu, jika ada kalian yang punya, mohon saya dikasih tahu link atau bukunya, biar saya beli atau fotokopy

Sabtu, 26 Oktober 2013

Kepenyairan Ebiet G. Ade

Oleh: Sutardji Calzoum Bachri

Bagaimana kualitas kepenyairan Ebie G. Ade?

Kepenyairan seseorang ditentukan oleh sajak-sajaknya sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Bukan yang dilagukan atau dimusikalisasikan, sebab bsia saja sebuah sajak hanya lumayan, tapi karena musikalisasinya yang cemerlang menyebabkan apresiator puisi yang awam terkecoh dan beranggapan puisinya sama hebat dengan musikalisasinya.

Sama halnya juga, penyair yang sajak-sajaknya hanya kaliber lumayan tetapi punya kemampuan membaca saja yang luar biasa, berkat vokal atau kemampuan teatrikal bantuan musik, bisa menyebabkan penonton yang awam menganggap puisi itu sangat baik. Sebagai contoh pembacaan sajak Emha Ainun Najib tempo hari di Taman Ismail Marzuki. Berkat pertolongan musik gamelan, sementara para penonton yang awam mengaggap sajak-sajak Emha bermutu sekali. Padahal tidak sama sekali.

Jadi, yang paling tepat untuk menilai sajak ialah dengna memandang sajak itu dengan sejumlah kata, baris dan baitnya sebagai sesuatu yang mandiri, yang tidak ditopang oleh sesuatu di luar sajak itu seperti musikalisasinya, pernyataan-pernyataan atau statemen penyair tersebut.

Dari album Camelia I sampai dengan Camelia IV, Ebiet menyuguhukan tema-tema religius seperti sajak "Dia Lelaki Ilham dari Sorga","Hidup I","Hidup II",Hidup III", dan "Hidup IV", juga tentang cinta seperti sajak "Seberkas Cinta yang Sirna","Untukmu kekasih","Senandung Jatuh Cinta", dan tentu saja sajak-sajak Camelia I sampai dengan Camelia IV.

Tentang simpatinya pada derita manusia dan orang-orang kecil tampak pada sajak "Berita Pada Kawan","Dosa Siapa Ini Dosa Siapa","Nasihat Pengemis untuk Istrinya"," dan "Doa untuk Hari Esok Mereka". Kemudian tentang kerinduan Ebiet pada kehidupan desa serta tentang dirinya yang tengah terombang-ambing antara kehidupan desa dan kota, bisa kita lihat pada sajak "Pesta","Jakarta II","dan Cita-cita Kecil Si Anak Desa".

Oh rentangkan tanganMu
bersama datang malam
agar dapat kurebahkan kepala
pada bulan di lenganMu

    (sajak "Hidup II")

Usaha untuk berindah-indah dengan bahasa, berhias-hias dengan ucapan tak jarang terasa menjurus kepada semacam romantisme ala Pujangga Baru--suatu hal yagn hampir tak pernah ditemukan pada sajak-sajak para penyair Indonesia terbaik masa kini.

Memang tidak semua sajak Ebiet sarat dengan elusan romantis, bahkan sebagian yang lain tidak demikian. Bahasanya lebih spontan dan wajar, puisinya lebih sederhana dan segar. Namun menulis kata-kata dalam puisi secara spontan atau dengan gaya 'langsung begitu saja' bukan tidak mengandung risiko apabila tanpa seleksi kreatif.

Pada penyair yang berbakat dan berpengalaman seleksi kreatif ini beroperasi secara tidak sadar. Sang penyair tersebut bisa merasa dirinya menyair begitu saja, spontan, padahal sebenarnya menkanisme selektif memang sifatnya kreatif yang bekerja di bawah sadar untuk memilihkan kata-kata apa yang tepat keluar pada penanya.

Dari sajak-sajaknya yang terbaikj saya melihat Ebiet sebenarnya mempunyai bakat menjadi penyair. Tapi pengalaman kepenyairan, teknikalitas menyairnya masih kurang. Jika pengalaman ini sudah ada padanya, tentu sajaknya cukup wajar dan tidak kedodoran dengan gindu kata-kata seperti pada "Berita pada Kawan" akan menjadi lebih baik. "Berita pada Kawan" dan sajak "Sajak Pendek I.R" adalah beberapa dari sajak Ebiet yang terbaik.

Dalam sajak-sajaknya yang terbaik dan itu, kelemahan Ebiet terletak dalam kekurangmampuannya menguasai teknik persajakan, memilih kata-kata, komposisi, dan juga bait. Kelemahan teknik inilah yang menyebabkan kenapa sajak-sajaknya yang terbaik dan jumlahnya tidak banyak itu menjadi kurang berhasil dibandingkan puisi puisi para penyair Indonesia yang berkualitas sperti terdapat dalam majalah sastra Horison, misalnya.

Sedangkan pada sajak-sajak Ebiet yang jelek--jumlahnya sangat banyak--kelemahan disebabkan oleh visi dan persepsi terhadap hidup belum lagi personal. Ebiet belum menemukan sesuatu yang unik, dan punya ciri khas.

Sajak-sajak Ebit masih klise-klise. Kita lihat saja misalnya pada sajak "Dua Menit ini Misteri'.

dalam keranda hitam
tubuhmu membujur
ada misteri yang tak pernah terungkap
alis matanya terjal menyimpan rahasia
adalah waktu akan mampu mengurai
kematian ini memisahkan kita
selamat jalan


Persepsi penyair terhadap kematian seperti sajak di atas terlalu umum dan klise. Penyair yagn benar-benar berbobot akan menukik dalam menghayati misteri, tidak hanya sekadar menyebut misteri kata-kata umum yang klise, bahwa kematian memisahkan kita.

Setiap penyair yang sudah jadi dan matang pasti punya cara sendiri dan ucapan yang khas untuk memperkuat dan menukikkan dalam-dalam akan hakikat misteri kehidupan.

Dalam "Nyanyian Ombak", "Camelia II", "Cinta di Kerea Biru Malam","Senandung Jatuh Cinta," "Camelia III" Camelia IV" Sepucuk Surat Cinta","Camelia III" kita dihadirkan pada sang aku penyair sebagai remaja yang bercinta dengan ketulusan, kepolosan, kesetiaan, serta keremajaannya "Cinta sesaat" yang bergelimang dosa (baca: Cinta di Kereta Biru Malam) cinta yagn telah menjadi obsesi (Camelia  II dan "Mimpi Parang Tritis"), usaha merenungkan hakikat cintanya (Sepucuk Surat Cinta).

Ungkapan-ungkapan yang segar dan menarik juga terdapat pada: Sisi Ladangku/Tak lagi subur/untuk tumbuhkan cinta kasihmu. Yang terdapat pada sajak "Nyanyian Ombak", atau selimut biru yang kau ulurkan padaku/kini basah bersimbah peluh kita berdua, dan beberapa lainnya lagi yang menunjukkan kepada saya bahwa Ebiet punya potensi untuk menjadi seorang penyair yang baik. Walaupun sajak-sajak Ebiet belum sekuat puisi-puisi atau lirik-lirik terbaik John Lennon atau yang dinyanyikan Bob Bylan dan John Denver, namun sajak "Hidup III"-nya Ebiet boleh kita ketengahkan

sekarang
aku tengah tengadah ke langit
berjalan di atas bintang-bintang
bersembunyi
dari bayang-bayangku sendiri
yang sengaja kutinggal di atas bukit
Barangkali tanganMu tak akan lagi
mengejarku
untuk merenggut segenap hidupku
aku yang sembunyi di bawah kulitku sendiri
kapan lagi
aku mampu berdiri
lihatlah kedua belah tanganku
yang kini tampak mulai gemetaran
sebab,
ada yang tak seimbang
anara hasrat dan beban
atau karena jiwaku yang kini mulai rapuh
gampang diguncangkan angin
lihatlah bilik di balik jantungku
denyutnya tak rapi lagi
seperti akan segera berhenti
kemudian
sepi dan mati


Majalah Intan, 4-17 Januari 1989

Post Scriptum: esai Sutardji Calzoum Bachri ini saya tulis ulang melalui buku Isyarat: Kumpulan Esai Sutardji Colzoum Bachri (IndonesiaTera, 2007) di halaman 400-405.

Minggu, 13 Oktober 2013

Risalah Lima Babak Film Catatan Si Boy (Bag. II)

Jika dalam tulisan pertama catatan sederhana ini, saya  melihat adanya keterpukauan terhadap orde baru  sebagai sebuah negara dan pembangunan ala Soeharto sebagai ide, maka pertanyaannya, apakah film ini juga akan terjebak dengan keterpukauan yang serupa?

Ketiga

Sebagai sebuah ide, modernisme dan pembangunanisme ala Orde Baru begitu tampak, maka di film ketiga yang tetap diproduseri oleh Nasri Cheppy, ini juga tetap menunjukkan gejala serupa dengan barat sebagai basis kemajuan dan peradaban.

Adegan di film yang meluncur ke pasaran tahun 1989 ini pun dimulai oleh dialog antara Vera dan Boy perihal rencana ke Los Angeles, Amerika. "Sekolah disana lebih bagus," ujar Vera seraya merajuk kepada Boy.

Begitu halnya dengan kawan-kawannya yang lain; Kendi, Emon dan lain-lain juga bersifat serupa. Bahkan, Emon (diperankan Didi Petet) menunjukkan kekaguman yang uar biasa terhadap Amerika.

Ia bahkan merajuk dan enggan untuk kuliah di Indonesia lagi dan bakal menuju Los Angeles. Jika tidak—dengan gaya yang bagi saya mengejek—akan berjualan bensin, bikin warteg dan segala kerjaan kaki lima lain jika keinginannya tidak terkabulkan. "Biar papa tengsin," ujarnya.

Pada mulanya saya agak terkejut dengan dialog begini, tapi lambat laun saya mulai menyadari keadaan. Apalagi dengan mendudukkan film ini dalam konteks sebelum 90-an, serta keluarga Emon yang begitu kaya, tentu

Tapi hal ini semakin meneguhkan idiom umum bahwa, lemiskinan adalah aib bagi orang-orang kaya model mereka.

Baiklah, kita kembali sejenak untuk melihat film edisi ketiga ini. Selepas Boy pergi ke L.A untuk kuliah dengan dibiayai orang tua, ia pun dijemput dengan limosin keluarganya dan menyewa sebuah apartemen. Tak lama, ia pun  membeli mobil--sesuatu yang bagi mahasiswa kebanyakan yang merantau adalah kenihilan.

Di kota ini, ia bertemu dengan Sheila (Bella Esperance), perempuan blasteran Filipina dan Minang yang dikenalnya di sebuah klub malam. Dan seperti biasanya, cinta pun terjalin dengan tidak sengaja, walaupun Boy dan Vera harus berpacaran jarak jauh.

Singkat cerita, ShEila adalah pengguna obat-obatan terlarang dan Boy mendapat masalah dengan gangster disana. Konflik timbul kala Vera dan Emon berliburan kesana dan cemburu terhadap kedekatan Boy.

Nah, kepergian Vera dan Emon ke Amerika juga semakin menguatkan posisi orang-orang kaya di Indonesia yang sering pelesir ke luar negeri, khususnya Amerika. Bahkan dengan agak pongah, ia merajuk untuk segara diberikan doski (duit: bahasa slang jaman dulu). Sebagai orang kaya, itu mudah bagi orang tua Emon.

Barangkali satu hal yang cukup menarik bagi saya adalah  ketika Boy di rumah pamannya. Saya cukup terpantik dengan obrolan seorang bule pembantu paman si Boy. Ternyata ia memakai bahasa jawa halus. "Untuk mengingatkan kampung," ujarnya.Kontras dengan keadaan keluarga Vera yang--bahkan--pembantunya harus berbahasa Inggris. 

Bagi saya, film Catatan si Boy edisi ketiga ini cukup menggelitik untuk mengetahui posisi barat, khususnya Amerika dan lain-lain, keterkaitannya dengan orang-orang kaya Indonesia. 

Keempat

Apakah Indonesia bagian dari Bali?

Barangkali begitula guyon yang acapkali kita dengar perihal jawaban orang luar negeri terhadap posisi geografis kita. Tentunya, bagi orang-orang bule yang tidak tahu atau tidak membaca saja itu. Tapi, saya tidak ingin berbicara itu.

Film keempat ini berbicara tentang kepulangan Boy ke Indonesia--yang bagi saya tidak jelas maksud kepulangannya--serta bagaimana kesalnya Boy melihat kekasihnya, Vera, menjadi foto model seksi.

Bali adalah pilihan mereka untuk berpelesir menghilangkan suntuk dan dilema perasannya Boy.

Pembuka film ini dimulai dengan 'pamer' kekayaan dari Boy dengan menggunakan helikopter. Ya, sekali lagi, sebuah helikopter yang ia kendarai sendiri. Alangkah tajirnya Boy ini!

Nah, salah satu yang menarik di sini adalah bagaimana norma menjadi salah satu bagian penting dalam tubuh cerita. Walaupun sebenarnya sejak awal film Boy dicitrakan sebagai sosok pemuda kaya dan religius, serta enggan menggunakan obat-obatan terlarang dan seks bebas.

Keluarga Boy masih mengganggap diri mereka sebagai timur, sedangkan Vera sekeluarga tetap bersikukuh menunjukkan bahwa mereka telah memasuki gerbang barat yang modern dan rasional. Bahkan dalam sebuah percakapan, dengan bahasa Inggris pula, ibu Vera seakan menghardik keluarga Boy sebagai keluarga tradisional yang kolot dan enggan maju.

Di Bali, Boy bertemu dengan sosok cantik bernama Cindy (Paramitha Rusady) di sebuah butik. Akhirnya mereka berkenalan dan saling jatuh hati.

Tapi tunggu dulu, harus saya akui Paramitha Rusady begitu cantik—tolong katakan? siapa yang memasukkan kalimat model begini di paragraf ini.

Film Boy edisi empat yang rilis tahun 1990 ini, dan masih di produseri Nasry Cheppy, seakan ingin mengesplorasi kekayaan Bali dengan pelbagai keindahan alamnya. Tentu nya dengan menunjukkan kota ini sebagai ikon wisata Indonesia di mata dunia.

Saya belum bisa melacak keberhasilan film ini dalam memengaruhi wisata Bali pada tahun-tahun segitu, satu hal yang barangkali patut dicatat agaknya adalah mengembalikan posisi Boy ke Indonesia dengan dialek bahasa Indonesia yang cukup bagus. Bahkan saya sendiri agak jarang menemukan sapaan gaul atau prokem di edisi ini.

Satu hal yang masih menghantui saya adalah, bagaimana kabar study Boy? Apakah ia tidak melanjutkan sekolah di L.A, ataukah sudah lulus? Tidak ada keterangan pasti dari film  ini.

Saya menduga, film ini dibuat dengan agak terburu-buru tanpa mengedepankan korelasi sebagai sebuah film berseri. Bahkan saya tidak bertemu di percakapan atau yang lain di film ini. Buruk!

Satu hal yang tampaknya patut dicatat, film ini diakhiri dengan 'cara' film, bukan sinetron. Adegannya kira-kira begini:

Boy sedang berada adi di Bandara dan Boy hendak kembali ke Jakarta. Kemudian bertemu Vera dan terjadilah adu pandang. Vera hanya melongo dan bersandar di mobil, Cindy yang menyapu leher dan Boy yang tetap terdiam. Seolah mereka mengamini sajak Gonawan Mohamad, bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata.

Saya kira, edisi kali ini menggelitik, khususnya melihat di edisi terdahulu berusaha mengeksplorasi wujud timur dan moralitas yang menjadi kekhasan negeri semacam Indonesia. Begitulah.

(Bersambung)

Gambar di ambil dari sini, sini dan sini

Baca juga: 

Risalah Lima Babak FIlm Catatan Si Boy (Bag. I)