Jumat, 11 Oktober 2013

Risalah Lima Babak Catatan Si Boy (Bag. I)

Duduk Perkara

Penghujung tahun 80-an dan awal 90-an perfilman kita diramaikan film Catatan Si Boy, yang berkat kesuksesannya, mampu melahirkan lima sekuel dengan judul yang sama. Bahkan melahirkan film atas tafsiran ini bertajuk catatan si Boy 2011 lalu. Tercatat, ada 6 film dengan menggunakan Boy sebagai pilar cerita.

Berdasarkan arsip PT Perfin, film ini berhasil meraup 313.516 penonton. Kesuksesan itu berujung pada empat film lanjutan, hingga terakhir diproduksi pada 1991 dengan 'Catatan Si Boy V'. Rata-rata setiap film Boy dapat menggaet 300-an ribu pemirsa bioskop.

Film ini sebenarnya bermula dari sandiwara Radio anak muda, yang memang, begitu terkenal pada jaman itu; Radio Prambors.

Pertama
Diproduksi pertama kali pada tahun 1988 oleh Nasri Cheppy, film ini begitu populer di kalangan anak muda, khususnya Jakarta. Satu hal yang paling mencolok di sini adalah  bertaburnya iklan, khususnya rokok dan pelbagai jenis mobil semisal BMW jenis 80an. 
Si Boy, simbol kota dan kemakmuran

Film ini dibuka dengan kegundahan Boy (Ongky Alexander) dengan catatan hariannya dan kenangan atas Nuke, gadis yang begitu dicintai dan meninggalkannya untuk pergi ke Los Angeles sebab orang tua tidak mengijinkan mereka. Lalu muncul  seorang Vera (Mariam Belina). Dari sinilah kisah ini mula berkelindan.

Seperti halnya narasi kehidupan mahasiswa, buku pesta dan cinta menjadi salah satu ciri dalam film Boy periode ini. Ditambah lagi, Boy dikiskan sebagai aktivis kampus, ketua mahasiswa dan memimpin rapat ospek, dan tentu saja digandrungi banyak mahasiswi.

Hedonisme dunia kampus juga terlihat dalam film edisi ini. Dunia kampus hanyalah selingan semata dari narasi cinta yang dibangun oleh Boy, Nuke dan Vera. Beda halnya dengan film Cintaku di Kampus Biru (1987).


Jika di film itu mengekplorasi dunia gerakan mahasiswa dan cinta yang janggal, maka tentu anda tidak akan menemukannya di film ini. Tapi, untuk dinisbahkan sebagai seorang idola dan memotret kehidupan pemuda di kota, maka film ini sudah menemukan dirinya sendiri dalam sosok Boy dan narasi kota sebagai simbol kemakmuran.

Salah satu kelebihan film ini bagi saya adalah, jika anda kangen dengan lagu Gombloh, maka anda akan menemukan dirinya sedang melantunkan lagunya dengan temaram sebuah puba. Bagi saya, ini kelebihan film ini selain potret hedonisme kota Jakarta.   

Kedua

Narator dalam sebuah film merupakan faktor penting, semacam 'aku serba tahu' dalam sebuah cerita rekaan. Tapi akan berubah menjadi buruk jika itu terus-terusan dilakukan dalam cerita, seolah mengajak pembaca/penonton berdialog.

Film kedua Catatan Si Boy (1991)ini, sayangnya, jatuh pada hal yang demikian. Bukan berusaha untuk menjalankan cerita sewajarnya, melainkan berusaha mengajak penonton untuk berbicara. Bagi saya, ini kesalahan.

Dan ia pun memulai dengan adegan pembuka: Si Boy yang bergumam tentang hidup dan juga Nuke, tapi malah berkata: Ya, daripada tidak, sambil mengajak penonton berdialog.

Di bagian ini, masih bercerita tentang hal yang sama; Boy, Andi, Emon, Nuke dan segala perniknya. Tapi kali ini yang paling kentara adalah penggunaan idion asing dalam cerita. Berbeda dengan Catatan Si Boy sebelumnya.

Cerita sederhana begini: mereka sudah masuk akhir kuliah, lalu Vera (Mariam Bellina) balik dari LA bersama seorang kawannya bernama Friska (Venna Melinda), tapi Vera tidak tahu, bahwa ia akan bertemu lagi dengan Boy tanpa diduga. Mereka pun kembali berjalan bersama.
Boy, Friska, Emon dan Kendi

Konflik pun dibangun dengan biasa; Vera cemburu dengan Vera, sebab ia, ternyata, dijodohkan oleh kawan-kawannya dengan Boy yang saat itu kembali ditinggal oleh Nuke. Konflik cinta segitiga pun terjadi dan berulang seprti pertama. Bedanya, saat ini Boy setia dengan Vera.

Nah, seperti yang saya ceritakan di awal bahwa, film ini begitu banyak mengadopsi asing sebagai bahan cerita. Termasuk cerita, seolah bahwa sesuatu yang asing itu yang maju dan berkeadaban. Terutama keluarga Vera yang ekspatriat.

Keluarga Vera yang borjuis adalah penanda keterpukauan pada asing dan menganggapnya sebagai budaya masa depan. Bahkan dalam suatu adegan, ibu Vera berkada pada Boy, bahwa pembantu mereka pun diwajibkan untuk berbahasa Inggris biar maju.

Dalam terminologi Saussure, hal ini merupakan peneguh struktual yang coba dibangun orde baru dengan kekuasaan dan kemakmuran di bawah naungan konsep pembangunan ala Soeharto. Begitulah Catatan Harian Si Boy berusaha untuk menancapkan pesannya.


@DedikPriyanto

(Bersambung)

Baca lanjutannya di sini 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar