Rabu, 06 Januari 2016

Ketika Gus Dur Jalan-Jalan di Ciganjur Malam Ini

Orang-orang datang ke tempat itu dengan rupa macam-macam. Ada yang memakai baju koko, berkopyah hitam dan sarung, tubuhnya penuh tato, memakai salib dan lain-lain. Mereka datang untuk menghadiri Haul Gus Dur yang keenam di kediamannya, Ciganjur, Jakarta Selatan. Tak jauh dari pusat acara haul yang bakal dihadiri Habib Luthfi bin Yahya dari Pekalongan tersebut, 600 meter kira-kira, seorang lelaki berkacamata tebal berusia 75 tahun sedang berjalan sendirian.

Lelaki itu berjalan dengan biasa saja, tidak terburu-buru dan tidak juga lambat. Tapi, jalanan sempit Ciganjur malam ini membuatnya menepi—klakson berbunyi saling bersahutan seolah semua manusia ini tuli belaka—dan berhenti di sebuah warung kopi. Warung itu cukup ramai sebenarnya, tapi ada sebuah tempat kosong dan lelaki itu duduk di sana.
“Kopi, Pak?” Tanya pemilik warung itu sembari memperlihatkan dengan seksama lelaki yang berada di depannya. Ia merasa kenal dengan lelaki ini, tapi tidak yakin dengan apa yang dilihatnya.

“Tidak. Berikan jahe hangat saja,” jawabnya singkat.

Orang-orang yang berada di warung tersebut saling pandang dan berbisik-bisik. Suasana mulai gaduh, tiap orang seperti berbicara sendiri-sendiri dan berusaha meyakinkan apa yang ia lihat barusan. Sedangkan lelaki itu hanya diam saja.

Akhirnya, salah seorang di antara mereka memberanikan diri bertanya. ”Maaf, Pak. Sampean Gus Dur, bukan?"

Lelaki itu menoleh, ia melihat wajah orang-orang yang berada di  depannya itu. Sepersekian detik setelahnya, lelaki itu tertawa dan hal itu membuat mereka kebingungan.

“Sekali lagi, kami minta maaf, Pak. Apa benar sampean Gus Dur,” tukas yang lain, dengan nada panik.  Lelaki itu menganggukkan kepala. “Gus Dur?” Tanya yang lain, memastikan.

- Silakan baca terusannya di tautan ini

Jumat, 01 Januari 2016

Kisah Masa Kecil Muhammad Bersama Ibunya


Saya menyukai cerita. Dan pada hari ibu, saya menceritakan ulang tokoh yang saya kagumi: Muhammad, ketika ia masih kecil dan harus terpisah dari ibu aslinya. Kisah ini bisa dibaca di situs nu online.

Buku Apa yang Layak Jadi yang Terbaik 2015?

"Jika kau hanya membaca bacaan seperti kebanyakan orang baca, kau hanya akan mampu berpikir seperti yang mereka pikirkan," kata Haruki Murakami.  

Tentu saja kita berhak untuk menilai mana buku terbaik yang kita baca, tapi sebaiknya kita punya standar sebagai ukuran untuk menilai sesuatu. Akhir Desember lalu, teman saya Arman Dhani menulis di mojok.co tentang buku terbaik 2015 menurutnya. Tak lama berselang, sanggahan saya terhadap tulisan itu dimuat di media yang sama dengan judul 'Buku Terbaik 2015: Sebuah Alternatif untuk Arman Dhani'. Silakan jika ingin dibaca.