Sabtu, 26 Oktober 2013

Kepenyairan Ebiet G. Ade

Oleh: Sutardji Calzoum Bachri

Bagaimana kualitas kepenyairan Ebie G. Ade?

Kepenyairan seseorang ditentukan oleh sajak-sajaknya sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Bukan yang dilagukan atau dimusikalisasikan, sebab bsia saja sebuah sajak hanya lumayan, tapi karena musikalisasinya yang cemerlang menyebabkan apresiator puisi yang awam terkecoh dan beranggapan puisinya sama hebat dengan musikalisasinya.

Sama halnya juga, penyair yang sajak-sajaknya hanya kaliber lumayan tetapi punya kemampuan membaca saja yang luar biasa, berkat vokal atau kemampuan teatrikal bantuan musik, bisa menyebabkan penonton yang awam menganggap puisi itu sangat baik. Sebagai contoh pembacaan sajak Emha Ainun Najib tempo hari di Taman Ismail Marzuki. Berkat pertolongan musik gamelan, sementara para penonton yang awam mengaggap sajak-sajak Emha bermutu sekali. Padahal tidak sama sekali.

Jadi, yang paling tepat untuk menilai sajak ialah dengna memandang sajak itu dengan sejumlah kata, baris dan baitnya sebagai sesuatu yang mandiri, yang tidak ditopang oleh sesuatu di luar sajak itu seperti musikalisasinya, pernyataan-pernyataan atau statemen penyair tersebut.

Dari album Camelia I sampai dengan Camelia IV, Ebiet menyuguhukan tema-tema religius seperti sajak "Dia Lelaki Ilham dari Sorga","Hidup I","Hidup II",Hidup III", dan "Hidup IV", juga tentang cinta seperti sajak "Seberkas Cinta yang Sirna","Untukmu kekasih","Senandung Jatuh Cinta", dan tentu saja sajak-sajak Camelia I sampai dengan Camelia IV.

Tentang simpatinya pada derita manusia dan orang-orang kecil tampak pada sajak "Berita Pada Kawan","Dosa Siapa Ini Dosa Siapa","Nasihat Pengemis untuk Istrinya"," dan "Doa untuk Hari Esok Mereka". Kemudian tentang kerinduan Ebiet pada kehidupan desa serta tentang dirinya yang tengah terombang-ambing antara kehidupan desa dan kota, bisa kita lihat pada sajak "Pesta","Jakarta II","dan Cita-cita Kecil Si Anak Desa".

Oh rentangkan tanganMu
bersama datang malam
agar dapat kurebahkan kepala
pada bulan di lenganMu

    (sajak "Hidup II")

Usaha untuk berindah-indah dengan bahasa, berhias-hias dengan ucapan tak jarang terasa menjurus kepada semacam romantisme ala Pujangga Baru--suatu hal yagn hampir tak pernah ditemukan pada sajak-sajak para penyair Indonesia terbaik masa kini.

Memang tidak semua sajak Ebiet sarat dengan elusan romantis, bahkan sebagian yang lain tidak demikian. Bahasanya lebih spontan dan wajar, puisinya lebih sederhana dan segar. Namun menulis kata-kata dalam puisi secara spontan atau dengan gaya 'langsung begitu saja' bukan tidak mengandung risiko apabila tanpa seleksi kreatif.

Pada penyair yang berbakat dan berpengalaman seleksi kreatif ini beroperasi secara tidak sadar. Sang penyair tersebut bisa merasa dirinya menyair begitu saja, spontan, padahal sebenarnya menkanisme selektif memang sifatnya kreatif yang bekerja di bawah sadar untuk memilihkan kata-kata apa yang tepat keluar pada penanya.

Dari sajak-sajaknya yang terbaikj saya melihat Ebiet sebenarnya mempunyai bakat menjadi penyair. Tapi pengalaman kepenyairan, teknikalitas menyairnya masih kurang. Jika pengalaman ini sudah ada padanya, tentu sajaknya cukup wajar dan tidak kedodoran dengan gindu kata-kata seperti pada "Berita pada Kawan" akan menjadi lebih baik. "Berita pada Kawan" dan sajak "Sajak Pendek I.R" adalah beberapa dari sajak Ebiet yang terbaik.

Dalam sajak-sajaknya yang terbaik dan itu, kelemahan Ebiet terletak dalam kekurangmampuannya menguasai teknik persajakan, memilih kata-kata, komposisi, dan juga bait. Kelemahan teknik inilah yang menyebabkan kenapa sajak-sajaknya yang terbaik dan jumlahnya tidak banyak itu menjadi kurang berhasil dibandingkan puisi puisi para penyair Indonesia yang berkualitas sperti terdapat dalam majalah sastra Horison, misalnya.

Sedangkan pada sajak-sajak Ebiet yang jelek--jumlahnya sangat banyak--kelemahan disebabkan oleh visi dan persepsi terhadap hidup belum lagi personal. Ebiet belum menemukan sesuatu yang unik, dan punya ciri khas.

Sajak-sajak Ebit masih klise-klise. Kita lihat saja misalnya pada sajak "Dua Menit ini Misteri'.

dalam keranda hitam
tubuhmu membujur
ada misteri yang tak pernah terungkap
alis matanya terjal menyimpan rahasia
adalah waktu akan mampu mengurai
kematian ini memisahkan kita
selamat jalan


Persepsi penyair terhadap kematian seperti sajak di atas terlalu umum dan klise. Penyair yagn benar-benar berbobot akan menukik dalam menghayati misteri, tidak hanya sekadar menyebut misteri kata-kata umum yang klise, bahwa kematian memisahkan kita.

Setiap penyair yang sudah jadi dan matang pasti punya cara sendiri dan ucapan yang khas untuk memperkuat dan menukikkan dalam-dalam akan hakikat misteri kehidupan.

Dalam "Nyanyian Ombak", "Camelia II", "Cinta di Kerea Biru Malam","Senandung Jatuh Cinta," "Camelia III" Camelia IV" Sepucuk Surat Cinta","Camelia III" kita dihadirkan pada sang aku penyair sebagai remaja yang bercinta dengan ketulusan, kepolosan, kesetiaan, serta keremajaannya "Cinta sesaat" yang bergelimang dosa (baca: Cinta di Kereta Biru Malam) cinta yagn telah menjadi obsesi (Camelia  II dan "Mimpi Parang Tritis"), usaha merenungkan hakikat cintanya (Sepucuk Surat Cinta).

Ungkapan-ungkapan yang segar dan menarik juga terdapat pada: Sisi Ladangku/Tak lagi subur/untuk tumbuhkan cinta kasihmu. Yang terdapat pada sajak "Nyanyian Ombak", atau selimut biru yang kau ulurkan padaku/kini basah bersimbah peluh kita berdua, dan beberapa lainnya lagi yang menunjukkan kepada saya bahwa Ebiet punya potensi untuk menjadi seorang penyair yang baik. Walaupun sajak-sajak Ebiet belum sekuat puisi-puisi atau lirik-lirik terbaik John Lennon atau yang dinyanyikan Bob Bylan dan John Denver, namun sajak "Hidup III"-nya Ebiet boleh kita ketengahkan

sekarang
aku tengah tengadah ke langit
berjalan di atas bintang-bintang
bersembunyi
dari bayang-bayangku sendiri
yang sengaja kutinggal di atas bukit
Barangkali tanganMu tak akan lagi
mengejarku
untuk merenggut segenap hidupku
aku yang sembunyi di bawah kulitku sendiri
kapan lagi
aku mampu berdiri
lihatlah kedua belah tanganku
yang kini tampak mulai gemetaran
sebab,
ada yang tak seimbang
anara hasrat dan beban
atau karena jiwaku yang kini mulai rapuh
gampang diguncangkan angin
lihatlah bilik di balik jantungku
denyutnya tak rapi lagi
seperti akan segera berhenti
kemudian
sepi dan mati


Majalah Intan, 4-17 Januari 1989

Post Scriptum: esai Sutardji Calzoum Bachri ini saya tulis ulang melalui buku Isyarat: Kumpulan Esai Sutardji Colzoum Bachri (IndonesiaTera, 2007) di halaman 400-405.

Minggu, 13 Oktober 2013

Risalah Lima Babak Film Catatan Si Boy (Bag. II)

Jika dalam tulisan pertama catatan sederhana ini, saya  melihat adanya keterpukauan terhadap orde baru  sebagai sebuah negara dan pembangunan ala Soeharto sebagai ide, maka pertanyaannya, apakah film ini juga akan terjebak dengan keterpukauan yang serupa?

Ketiga

Sebagai sebuah ide, modernisme dan pembangunanisme ala Orde Baru begitu tampak, maka di film ketiga yang tetap diproduseri oleh Nasri Cheppy, ini juga tetap menunjukkan gejala serupa dengan barat sebagai basis kemajuan dan peradaban.

Adegan di film yang meluncur ke pasaran tahun 1989 ini pun dimulai oleh dialog antara Vera dan Boy perihal rencana ke Los Angeles, Amerika. "Sekolah disana lebih bagus," ujar Vera seraya merajuk kepada Boy.

Begitu halnya dengan kawan-kawannya yang lain; Kendi, Emon dan lain-lain juga bersifat serupa. Bahkan, Emon (diperankan Didi Petet) menunjukkan kekaguman yang uar biasa terhadap Amerika.

Ia bahkan merajuk dan enggan untuk kuliah di Indonesia lagi dan bakal menuju Los Angeles. Jika tidak—dengan gaya yang bagi saya mengejek—akan berjualan bensin, bikin warteg dan segala kerjaan kaki lima lain jika keinginannya tidak terkabulkan. "Biar papa tengsin," ujarnya.

Pada mulanya saya agak terkejut dengan dialog begini, tapi lambat laun saya mulai menyadari keadaan. Apalagi dengan mendudukkan film ini dalam konteks sebelum 90-an, serta keluarga Emon yang begitu kaya, tentu

Tapi hal ini semakin meneguhkan idiom umum bahwa, lemiskinan adalah aib bagi orang-orang kaya model mereka.

Baiklah, kita kembali sejenak untuk melihat film edisi ketiga ini. Selepas Boy pergi ke L.A untuk kuliah dengan dibiayai orang tua, ia pun dijemput dengan limosin keluarganya dan menyewa sebuah apartemen. Tak lama, ia pun  membeli mobil--sesuatu yang bagi mahasiswa kebanyakan yang merantau adalah kenihilan.

Di kota ini, ia bertemu dengan Sheila (Bella Esperance), perempuan blasteran Filipina dan Minang yang dikenalnya di sebuah klub malam. Dan seperti biasanya, cinta pun terjalin dengan tidak sengaja, walaupun Boy dan Vera harus berpacaran jarak jauh.

Singkat cerita, ShEila adalah pengguna obat-obatan terlarang dan Boy mendapat masalah dengan gangster disana. Konflik timbul kala Vera dan Emon berliburan kesana dan cemburu terhadap kedekatan Boy.

Nah, kepergian Vera dan Emon ke Amerika juga semakin menguatkan posisi orang-orang kaya di Indonesia yang sering pelesir ke luar negeri, khususnya Amerika. Bahkan dengan agak pongah, ia merajuk untuk segara diberikan doski (duit: bahasa slang jaman dulu). Sebagai orang kaya, itu mudah bagi orang tua Emon.

Barangkali satu hal yang cukup menarik bagi saya adalah  ketika Boy di rumah pamannya. Saya cukup terpantik dengan obrolan seorang bule pembantu paman si Boy. Ternyata ia memakai bahasa jawa halus. "Untuk mengingatkan kampung," ujarnya.Kontras dengan keadaan keluarga Vera yang--bahkan--pembantunya harus berbahasa Inggris. 

Bagi saya, film Catatan si Boy edisi ketiga ini cukup menggelitik untuk mengetahui posisi barat, khususnya Amerika dan lain-lain, keterkaitannya dengan orang-orang kaya Indonesia. 

Keempat

Apakah Indonesia bagian dari Bali?

Barangkali begitula guyon yang acapkali kita dengar perihal jawaban orang luar negeri terhadap posisi geografis kita. Tentunya, bagi orang-orang bule yang tidak tahu atau tidak membaca saja itu. Tapi, saya tidak ingin berbicara itu.

Film keempat ini berbicara tentang kepulangan Boy ke Indonesia--yang bagi saya tidak jelas maksud kepulangannya--serta bagaimana kesalnya Boy melihat kekasihnya, Vera, menjadi foto model seksi.

Bali adalah pilihan mereka untuk berpelesir menghilangkan suntuk dan dilema perasannya Boy.

Pembuka film ini dimulai dengan 'pamer' kekayaan dari Boy dengan menggunakan helikopter. Ya, sekali lagi, sebuah helikopter yang ia kendarai sendiri. Alangkah tajirnya Boy ini!

Nah, salah satu yang menarik di sini adalah bagaimana norma menjadi salah satu bagian penting dalam tubuh cerita. Walaupun sebenarnya sejak awal film Boy dicitrakan sebagai sosok pemuda kaya dan religius, serta enggan menggunakan obat-obatan terlarang dan seks bebas.

Keluarga Boy masih mengganggap diri mereka sebagai timur, sedangkan Vera sekeluarga tetap bersikukuh menunjukkan bahwa mereka telah memasuki gerbang barat yang modern dan rasional. Bahkan dalam sebuah percakapan, dengan bahasa Inggris pula, ibu Vera seakan menghardik keluarga Boy sebagai keluarga tradisional yang kolot dan enggan maju.

Di Bali, Boy bertemu dengan sosok cantik bernama Cindy (Paramitha Rusady) di sebuah butik. Akhirnya mereka berkenalan dan saling jatuh hati.

Tapi tunggu dulu, harus saya akui Paramitha Rusady begitu cantik—tolong katakan? siapa yang memasukkan kalimat model begini di paragraf ini.

Film Boy edisi empat yang rilis tahun 1990 ini, dan masih di produseri Nasry Cheppy, seakan ingin mengesplorasi kekayaan Bali dengan pelbagai keindahan alamnya. Tentu nya dengan menunjukkan kota ini sebagai ikon wisata Indonesia di mata dunia.

Saya belum bisa melacak keberhasilan film ini dalam memengaruhi wisata Bali pada tahun-tahun segitu, satu hal yang barangkali patut dicatat agaknya adalah mengembalikan posisi Boy ke Indonesia dengan dialek bahasa Indonesia yang cukup bagus. Bahkan saya sendiri agak jarang menemukan sapaan gaul atau prokem di edisi ini.

Satu hal yang masih menghantui saya adalah, bagaimana kabar study Boy? Apakah ia tidak melanjutkan sekolah di L.A, ataukah sudah lulus? Tidak ada keterangan pasti dari film  ini.

Saya menduga, film ini dibuat dengan agak terburu-buru tanpa mengedepankan korelasi sebagai sebuah film berseri. Bahkan saya tidak bertemu di percakapan atau yang lain di film ini. Buruk!

Satu hal yang tampaknya patut dicatat, film ini diakhiri dengan 'cara' film, bukan sinetron. Adegannya kira-kira begini:

Boy sedang berada adi di Bandara dan Boy hendak kembali ke Jakarta. Kemudian bertemu Vera dan terjadilah adu pandang. Vera hanya melongo dan bersandar di mobil, Cindy yang menyapu leher dan Boy yang tetap terdiam. Seolah mereka mengamini sajak Gonawan Mohamad, bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata.

Saya kira, edisi kali ini menggelitik, khususnya melihat di edisi terdahulu berusaha mengeksplorasi wujud timur dan moralitas yang menjadi kekhasan negeri semacam Indonesia. Begitulah.

(Bersambung)

Gambar di ambil dari sini, sini dan sini

Baca juga: 

Risalah Lima Babak FIlm Catatan Si Boy (Bag. I)

Jumat, 11 Oktober 2013

Risalah Lima Babak Catatan Si Boy (Bag. I)

Duduk Perkara

Penghujung tahun 80-an dan awal 90-an perfilman kita diramaikan film Catatan Si Boy, yang berkat kesuksesannya, mampu melahirkan lima sekuel dengan judul yang sama. Bahkan melahirkan film atas tafsiran ini bertajuk catatan si Boy 2011 lalu. Tercatat, ada 6 film dengan menggunakan Boy sebagai pilar cerita.

Berdasarkan arsip PT Perfin, film ini berhasil meraup 313.516 penonton. Kesuksesan itu berujung pada empat film lanjutan, hingga terakhir diproduksi pada 1991 dengan 'Catatan Si Boy V'. Rata-rata setiap film Boy dapat menggaet 300-an ribu pemirsa bioskop.

Film ini sebenarnya bermula dari sandiwara Radio anak muda, yang memang, begitu terkenal pada jaman itu; Radio Prambors.

Pertama
Diproduksi pertama kali pada tahun 1988 oleh Nasri Cheppy, film ini begitu populer di kalangan anak muda, khususnya Jakarta. Satu hal yang paling mencolok di sini adalah  bertaburnya iklan, khususnya rokok dan pelbagai jenis mobil semisal BMW jenis 80an. 
Si Boy, simbol kota dan kemakmuran

Film ini dibuka dengan kegundahan Boy (Ongky Alexander) dengan catatan hariannya dan kenangan atas Nuke, gadis yang begitu dicintai dan meninggalkannya untuk pergi ke Los Angeles sebab orang tua tidak mengijinkan mereka. Lalu muncul  seorang Vera (Mariam Belina). Dari sinilah kisah ini mula berkelindan.

Seperti halnya narasi kehidupan mahasiswa, buku pesta dan cinta menjadi salah satu ciri dalam film Boy periode ini. Ditambah lagi, Boy dikiskan sebagai aktivis kampus, ketua mahasiswa dan memimpin rapat ospek, dan tentu saja digandrungi banyak mahasiswi.

Hedonisme dunia kampus juga terlihat dalam film edisi ini. Dunia kampus hanyalah selingan semata dari narasi cinta yang dibangun oleh Boy, Nuke dan Vera. Beda halnya dengan film Cintaku di Kampus Biru (1987).


Jika di film itu mengekplorasi dunia gerakan mahasiswa dan cinta yang janggal, maka tentu anda tidak akan menemukannya di film ini. Tapi, untuk dinisbahkan sebagai seorang idola dan memotret kehidupan pemuda di kota, maka film ini sudah menemukan dirinya sendiri dalam sosok Boy dan narasi kota sebagai simbol kemakmuran.

Salah satu kelebihan film ini bagi saya adalah, jika anda kangen dengan lagu Gombloh, maka anda akan menemukan dirinya sedang melantunkan lagunya dengan temaram sebuah puba. Bagi saya, ini kelebihan film ini selain potret hedonisme kota Jakarta.   

Kedua

Narator dalam sebuah film merupakan faktor penting, semacam 'aku serba tahu' dalam sebuah cerita rekaan. Tapi akan berubah menjadi buruk jika itu terus-terusan dilakukan dalam cerita, seolah mengajak pembaca/penonton berdialog.

Film kedua Catatan Si Boy (1991)ini, sayangnya, jatuh pada hal yang demikian. Bukan berusaha untuk menjalankan cerita sewajarnya, melainkan berusaha mengajak penonton untuk berbicara. Bagi saya, ini kesalahan.

Dan ia pun memulai dengan adegan pembuka: Si Boy yang bergumam tentang hidup dan juga Nuke, tapi malah berkata: Ya, daripada tidak, sambil mengajak penonton berdialog.

Di bagian ini, masih bercerita tentang hal yang sama; Boy, Andi, Emon, Nuke dan segala perniknya. Tapi kali ini yang paling kentara adalah penggunaan idion asing dalam cerita. Berbeda dengan Catatan Si Boy sebelumnya.

Cerita sederhana begini: mereka sudah masuk akhir kuliah, lalu Vera (Mariam Bellina) balik dari LA bersama seorang kawannya bernama Friska (Venna Melinda), tapi Vera tidak tahu, bahwa ia akan bertemu lagi dengan Boy tanpa diduga. Mereka pun kembali berjalan bersama.
Boy, Friska, Emon dan Kendi

Konflik pun dibangun dengan biasa; Vera cemburu dengan Vera, sebab ia, ternyata, dijodohkan oleh kawan-kawannya dengan Boy yang saat itu kembali ditinggal oleh Nuke. Konflik cinta segitiga pun terjadi dan berulang seprti pertama. Bedanya, saat ini Boy setia dengan Vera.

Nah, seperti yang saya ceritakan di awal bahwa, film ini begitu banyak mengadopsi asing sebagai bahan cerita. Termasuk cerita, seolah bahwa sesuatu yang asing itu yang maju dan berkeadaban. Terutama keluarga Vera yang ekspatriat.

Keluarga Vera yang borjuis adalah penanda keterpukauan pada asing dan menganggapnya sebagai budaya masa depan. Bahkan dalam suatu adegan, ibu Vera berkada pada Boy, bahwa pembantu mereka pun diwajibkan untuk berbahasa Inggris biar maju.

Dalam terminologi Saussure, hal ini merupakan peneguh struktual yang coba dibangun orde baru dengan kekuasaan dan kemakmuran di bawah naungan konsep pembangunan ala Soeharto. Begitulah Catatan Harian Si Boy berusaha untuk menancapkan pesannya.


@DedikPriyanto

(Bersambung)

Baca lanjutannya di sini 

Yang Retak dalam Sajak Mendendang Puan

Mendendang Puan
Aku menemukanmu dalam kegelisahan senja yang temaram

Dalam bola mata bersalahmu,
menyala riang yang remang.

Bergendak engkau pada melati layu yang dicuri putiknya.
Belalu aku pada derita mata setengah terbuka.

Aku hanya mentari pekat yang sekejap menelusurimu dalam detik-detik cumbu.
Memahami dimensi asingmu pada senja yang tiada; senja kita.
Senja yang jingga sekejap tercipta lagi untukmu.

Semesta merayakanmu, berbahagialah.
Mentari layu kan' berpulang pada hatimu, berbahagialah.

***

Konon, puisi yang baik selalu menimbulkan tanya selepas membacanya, melahirkan katarsis dan acap memberikan resah di tiap lekuk baitnya. Sebab di dalamnya selalu ada ketegangan dan ketidaknyamanan yang membuat aku lirik terkadang berdiri sendiri, tanpa ada yang lain, termasuk pembaca.

Kritikus puisi, Conrad Aiken (Damono; 1968) pernah menyatakan bahwa puisi adalah  potret manusia dengan peluh di kening, darah di tangan, siksa neraka di hati, dengan absurditasnya, dengan kejalangannya, keyakinan-keyakinannya, dan keraguan-keraguannya. Baik itu merupa muram yang menjadi ide, atau bahkan bahagia berbentuk jelaga di muara tiap kata. 

Sajak di atas menunjukkan sesuatu yang, bagi saya, mendekati penafsiran puisi dari Aiken tadi. Ada perjuangan yang begitu berat yang harus diperjuangkan aku lirik untuk kembali ke pangkuan 'Puan'.

Coba perhatikan pertemuan aku lirik berkisah tentang pertemuan yang resah--dan sengaja menjadikannya sebagai bentuk lelaku: Aku menemukanmu dalam kegelisahan senja yang temaram/Dalam bola mata bersalahmu,/menyala riang yang remang. Pada bait ini juga berusaha mengisahkan pertemuan yang bermula dari luka yang disadari. Ketegangan timbul dalam bentuknya yang absurd; kesadaran.

Biasanya, kesadaran ini membuat manusia memilih untuk pergi meninggalkan luka yang, barangkali, telah membuatnya jadi objek kesalahan. Kesalahan ini pula yang digambarkan penyair dengan gembira; riang yang remang.

Saya percaya, kesedihan harus dirayakan sebagaimana manusia merayakan kegembiraan. Sungguh tidak adil jika bahagia hanya sendirian saja. Ujungnya tentu akan semu. Sebab tak ada yang bisa berdiri sendiri, termasuk bahagia yang kerap dicari oleh manusia.

Proses menjadi semu dan tidak bahagia ini pula yang membuat yang coba diterakan dalam bait: Bergendak engkau pada melati layu yang dicuri putiknya.

Ada semacam gembira yang menyayat dan getir yang coba ditertawakan, ketika putik itu telah dicuri dan berakhir menjadi layu sebab proses perkawinan yang tidak direstui, atau bisa jadi penyair sengaja menjadikan putik yang dicuri ini sebagai antitesa keperawanan. Sesuatu yang bagi masyarakat umum masih mengganggap perawan adalah hal yang sakral sebelum perempuan pernikahan. Bergendak (bersetubuh) dengan keterpaksaan.

Dimana cahaya bagi perempuan jika keperawanan masih dianggap sesuatu yang sakral, dan mengindahkan pelbagai fakta bahwa selaput dara sebagai tanda keperawanan bukanlah sesuatu yang faktual dan tunggal?

Di sinilah penyair mencoba untuk mengisahkan aku lirik dengan dunia yang penuh absurd. Sebuah percumbuan yang begitu gamang dan sukar terlaksana: Aku hanya mentari pekat yang/sekejap menelusurimu dalam detik-detik cumbu. lalu diteruskan dengan perjumpaan yang tak pernah purna dan, bisa jadi, hanyalah sebuah khayalan...Memahami dimensi asingmu pada senja yang tiada; senja kita.

Senja yang menjadi asing, tak tentu, dan enggan menemukan kebersamaan antara dua orang yang mencumbu ini pula ditutup dengan larik yang diceritakan dengan sederhana dan riang...Senja yang jingga sekejap tercipta lagi untukmu.

Pada titik lain, sajak di atas berusaha untuk menelurkan pelbagai ketegangan antara hubungan dua manusia yang  tidak mampu bercakap dengan seksama, dan malah menjadikan percumbuan sebagai alat komunikasi.

Semesta merayakanmu, berbahagialah.
Mentari layu kan' berpulang pada hatimu, berbahagialah.

Bait di atas adalah penutup sajak ini, dan kembali lagi meneguhkan kecurigaan saya bahwa aku lirik tidak berusaha untuk menghilangkan kesedihan dan tidak ingin menggarami luka yang ada. Seakan semua selesai jika harus dikembalikan semesta.

Ketegangan yang terjadi menunjukkan bahwa cahaya pun, pada akhirnya, bisa layu dan rontok. Tergopoh-gopoh dan harus tetap berpulang dengan riang walau dengan luka yang terus menganga. Namun tetap saja, hati itu telah retak. 

lukisan karya Titis, begitu ia biasa disapa.
Begitulah kiranya, sebuah sajak yang mampu menjadi jembatan antara ketengan-ketegangan yang ada, bahkan bisa jadi optimisme dalam merayakan kesedihan. Sebab dengan kesedihan adalah titipan kehidupan yang tidak boleh ditaruh di pojok dan dibungkus dengan tangisan semata.

Catatan ini ini adalah apresiasi sederhana dari orang yang masih biasa terhadap karya dari orang yang juga masih biasa. Tapi bukan berarti karya yang dibuat orang biasa ini menjadi biasa saja. Sama sekali tidak, sebab sajak ini membuat saya terpantik untuk membuat resepsi yang sederhana.

Menulis adalah mencipta dunia dengan segala ketegangan-ketegangan yang acapkali membuat dunia rekaan itu menjadi begitu absurd. Begitulah realitas memberikan warna. Dan Karya puisi karya Titis Dewanti yang bertajuk 'Mendendang Puan', membuat saya dengan jujur harus berkata: saya terpesona dalam tiap kalimatnya.

@DedikPriyanto


Post Scriptum: Di sajak yang saya ambil dari blog yang bersangkutan ini juga disertakan lukisan karya penulisnya, Nastiti Dewanti, yang saya kenal belakangan di Kelas Menulis Surah. Bisa jadi, suatu saat nanti, saya akan menulis khusus tentang sketsa yang bakal menghiasai edisi 4 majalah sastra Surah yang saya turut di dalamnya. 

Rabu, 09 Oktober 2013

Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta

Oleh: Seno Gumira Ajidarma

Pada sebuah telepon umum, seorang wanita berbicara dengan wajah gelisah.

“Katakanlah sekali lagi, kamu cinta padaku.”

Mendengar kalimat itu, orang yang mengantre di belakangnya memberengut, sambil melihat arlojinya. Pengalaman menunjukkan, orang tidak bias berbicara tentang cinta kurang dari 15 menit. Namun, sungguh terlalu kalau wanita itu masih juga bertanya tentang cinta setelah 30 menit. Apalagi sudah ada beberapa orang berdatangan ke telepon umum itu, sambil sengaja mengecrek-gecrekkan koin di tangannya.

“Kamu benar-benar cinta padaku? Sampai kapan?”

Orang-orang mendengar kalimat itu dengan jelas. Wanita yang menelepon dengan wajah gelisah itu memang terlihat berusaha menahan suaranya, tapi rupanya perasaannya berteriak lebih keras. Menjadi tidak penting lagi baginya, apakah orang-orang itu mendengar atau tidak. Mereka toh tidak tahu siapa dirinya. Di kota besar seperti ini, kita tidak selalu bertemu orang yang sama di jalanan. Begitu juga di telepon umum.

“Kamu gombal, kamu juga mengatakan hal yang sama pada pacar-pacarmu.”

Wanita itu melirik kea rah orang-orang yang menunggu, kemudian melihat arlojinya, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa ia bukan tidak tahu tentang waktu yang dihabiskannya. Tapi, kemudian ia menyembunyikan wajahnya ke dalam kotak kuning, berbicara pelan-pelan dan tersendat-sendat. Barangkali lelaki di seberang sana itu memberikan jawaban yang kurang berkenan.

“Aku cuma salah satu di antara mereka, aku cuma salah satu dari wanita-wanita itu, aku tidak ada artinya bagimu.”

Wajah wanita yang tadi gelisah itu kini tampak menderita. Matanya penuh cinta, tapi memancarkan rasa takut kehilangan.

“Ternyata kamu bohong, kamu tidak mencintaiku,” katanya.

Para pengantre berdecak-decak gelisah. Mulut mereka memperdengarkan bunyi ‘ck’ yang sengaja dikeras-keraskan. Sebagian menggeser-geser dan menghentak-hentakkan sepatunya. Sebagian, untuk kesekian kalinya, melihat arloji. Sebagian lagi terus terang menggerutu.

“Siang-siang panas begini bicara tentang cinta, seperti tidak ada waktu lain.”

“Terlalu!”

“Sudah setengah jam.”

“Kalau pergi ke telepon umum yang di sana, sudah sampai dari tadi, tapi sekarang jadi tanggung!”

“Berapa lama lagi dia selesai?”

“Ini sudah setengah jam.”

“Paling lama sepuluh menit lagi, dia kan tahu dari tadi kita menunggu.”

“Saya cuma perlu menelepon setengah menit, penting sekali.”

“Saya juga cuma sebentar, tapi penting sekali.”

“Saya harus segera telepon, sangat penting, kalau tidak, saya bisa celaka.”

***

Kemudian, terdengar suara wanita itu, yang tanpa disadarinya sudah menjadi jauh lebih keras.

“Kamu ini bagaimana, sih? Kamu tahu kan aku sayang padamu, aku selalu kangen padamu. Aku cinta sekali padamu, kamu jangan begitu, dong!”

Wanita itu sudah memasukkan koin lagi, dua sekaligus. Artinya percakapan masih akan berlangsung, setidaknya 12 menit lagi. Kalau setelah itu masih juga bicara, sungguh-sungguh keterlaluan, karena pengantre yang paling dekat dengannya sudah menunggu selama 42 menit. Sebagian orang yang datang belakangan sudah pergi. Mereka bisa memperkirakan waktu yang lama melihat banyaknya para penunggu. Namun, yang sudah terlanjur menunggu lama agaknya merasa rugi jika pergi. Mereka masih menunggu dengan wajah yang disabar-sabarkan.

“Aku ingin yakin bahwa kamu memang cinta padaku. Aku harus yakin kamu memang cinta, kamu memang sayang, kamu memang selalu memikirkan aku. Apakah kamu selalu memikirkan aku? Katakan padaku kamu cinta, cinta, cinta…”

Apakah yang dikatakan lelaku di telepon sebelah sana? Wanita yang menelepon dengan wajah gelisah itu kini untuk pertama kalinya tersenyum. Pasti yang disebut cinta itu ajaib sekali, karena bisa menelusuri kabel telepon dan mengubah wajah seorang wanita yang gelisah jadi bahagia. Menjadi cantik, dan menyegarkan, meski di siang panas terik yang melelehkan aspal jalanan.

Mata wanita itu berbinar-binar, bagaikan mata kanak-kanak di sebuah dunia fantasi.

Pemandangan ini agak melegakan para pengantri. Pasangan yang bercinta di telepon biasa memutuskan percakapan mereka pada saat-saat terbaik. Mata wanita itu menunjukkan kebahagiaan. Pada saat seperti itu ia bisa berpisah di telepon dengan senang, dengan perasaan seolah-olah dunia sudah menjadi miliknya. Tinggal sebentar lagi, pikir orang-orang yang menunggu itu, sambil lagi-lagi melihat arlojinya.

“Satu koin lagi, ya? Ngomong cinta lagi, dong.”

Meluncur satu koin lagi. Berarti enam menit lagi. Orang-orang mengerutkan dahi. Alangkah memabukkannya cinta yang bergelora itu. Tapi, sudahlah, enam menit bukan waktu yang lama.

“Kamu masih akan mencintaiku kalau aku sudah tua?”

“Kamu masih akan mencintaiku, meskipun ada seorang wanita cantik merayumu?”

“Benarkah cuma aku seorang di dunia ini yang ada di dalam hatimu?”

“Masih cintakah kamu pada istrimu?”

***

Semua orang menoleh. Wajah wanita itu sudah gelisah lagi.

“Masih cintakah kamu pada istrimu?”

Meluncur lagi satu koin.

“Gila! Hampir satu jam!” Seseorang berteriak dengan marah.

“He! Mbak! Ini telepon umum! Gantian, dong.”

Pengantre yang paling lama mendekatkan kepalanya ke kotak kuning, sengaja memperlihatkan dirinya di depan mata wanita itu, sambil mengetuk-ngetukkan koinnya dari luar kotak. Wanita itu berkata pada yang diteleponnya.

“Sebentar, sebentar.”

Lantas ia mendekapkan telepon itu ke dadanya, dan berkata pada pengantre yang terdekat dengannya.

“Maaf, sebentar lagi, ya, Pak? Sebentar saja.”

Kemudian, ia menolehkan kepalanya ke arah lain. Berbicara setengah berbisik, maunya, karena yang terjadi adalah ia berteriak tertahan.

“Katakan yang jelas, apakah kamu masih mencintainya?”

Angin berhembus. Mega menutupi matahari. Langit mendung.

Orang-orang yang menunggu hanya melihat wanita itu mengeluarkan tissue dari tasnya, dan mulai mengeluarkan ingus. Matanya basah.

“Kamu masih tidur dengan dia?”

Orang yang berada di dekatnya menjauh. Mencari tempat untuk duduk. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan, selain menunggu. Angin makin kencang berhembus. Daun-daun berguguran.

“Kamu kok bisa, sih? Kamu terga sekali padaku. Sebetulnya kamu tidak mencintai aku.”

Seseorang pura-pura batuk, mengingatkan, tapi wanita itu sudah tidak peduli. Ia meluncurkan satu koin lagi.

“Apa sih artinya aku buat kamu? Apa sih artinya aku?”

Wanita itu membuang tissue ke bawah, dan mengambil lagi tissue yang lain. Sambil menjepit telepon dengan kepalanya, ia mendenguskan ingusnya. Tiada yang lebih sendu selain wanita yang menangis karena cinta.

“Jadi, kamu bisa mencintai lebih dari satu orang? Kamu bisa mencintai dua orang sekaligus?”

Ia seorang wanita yang cantik, menarik, dan indah. Wajahnya gelisah dan sendu, tapi ini membuatnya semakin lama semakin indah. Apakah cinta yang membuat seorang wanita menjadi indah? Mungkinkah seorang wanita menjadi indah tanpa cinta? Apakah artinya cinta bagi seorang wanita?

“Jadi, apa artinya hubungan kita? Apa artinya?”

Debu cinta bertebaran. Suatu ketika di suatu tempat, entah kapan dan di mana, seseorang bisa begitu saja saling jatuh cinta dengan seseorang yang lain. Ah, ah, ah-lelaki macam apakah kiranya yang berada di seberang telepon itu, yang telah membuat seorang wanita yang indah menjadi gelisah?

“Apa sih artinya cinta untukmu? Coba jelaskan padaku. Apa sih artinya cinta?”

Jeglek! Tuuuuuuttt…

Koinnya habis. Hubungan pun terputus. Wanita itu tertegun. Ia merogoh dompetnya. Tak ada lagi koin di sana. Ia banting gagang telepon itu dengan kesal.

Pengantre yang sejak tadi menunggu segera menyerobot dengan setengah memaksa. Pengantri yang lain pun mendekat dengan wajah mengancam. Semua orang punya keperluan penting. Tak seorang pun peduli dengan wanita itu, yang setelah menukarkan uang kertasnya dengan setumpuk koin di kios rokok, segera ikut menunggu kembali, meskipun hujan kini turun dengan deras.

Wanita indah yang wajahnya gelisah itu tidak lari berteduh-ia tetap menunggu, sampai basah kuyup. Ia juga punya keperluan penting. Ia masih menyimpan sebuah pertanyaan untuk cinta.


Post Scriptum: Cerpen ini saya tulis ulang dari kumpulan cerpen SGA bertajuk 'Sebuah Pertanyaan untuk Cinta' (Gramedia, 1996). Cerpen ini sebelumnya di harian Kompas, 28 Maret 1993. Selain itu, cerita romantis tentang narasi cinta di tengah hiruk pikuk kota dan komunikasi urban awal 90-an ini pernah difilmkan dengan gabungan dari tiga cerpen bersama Putu Wijaya, dibuat oleh Enison Sinaro.

Minggu, 06 Oktober 2013

Knut Hamsun dan Dua Penulis Rekaannya

Bermula dari pelbagai cakap Eka Kurniawan tentang menulis dan selalu menyebut Knut Hamsun, maka saya pun terpantik membaca novel Hunger dan Victoria. Tapi selepas membaca keduanya, saya bertanya-bertanya, kenapa Knut Hamsun begitu pesimistis akan kehidupan penulis?

Baiklah, kita akan mencoba melihatnya:

Pada novel yang pertama, Hunger (diterjemahkan menjadi Lapar oleh penerbit Obor), Knut Hamsun melukiskan seseorang yang berusaha hidup dari menulis. Ia menulis artikel, cerita dan pelbagai jenis tulisan lainnya untuk bisa bertahan hidup. Tentu dengan ragam risiko dan konsekwensi sebagai bentuk kerja.

Ia menampik segala kerjaan yang tidak ada hubungannya dengan dunia menulis, dan tahan berhari-hari dalam kelaparan yang, menurutnya, membuat perutnya senantiasa melilit, serta sanggup bergelimang kemiskinan tiap detiknya. Seolah menantang jalanan Cristiania (Sekarang Oslo, Norwegia) itu dengan kemampuannya sebagai seorang pengarang.

Ia pun menulis dan terus menulis, dimanapun dan kapanpun tanpa ada yang bisa melerai. Dan untuk segala aktivitasnya, ia harus rela menjual pelbagai barang yang melekat--dan ia miliki--untuk dijual ataupun dilego guna memenuhi hasrat purba yang ingin ia buang sejauh-jauhnya; rasa lapar. Bahkan ia pun selalu lari kala induk semangnya menagih uang sewa tinggal.

Sebegitu miskinnya si tokoh 'aku' dalam cerita ini hingga ia pun harus menjual selimut, baju dan kancing baju untuk mendapatkan beberapa krone (mata uang Norwegia) dah dibelanjakan makan ataupun lilin untuk ia bisa menulis malam hari.

Jalanan Cristiania, tempat tokoh aku ini begitu banyak gelandangan yang tersebar, dari taman-taman hingga kantor walikota. Tempat-tempat ini pula yang kerap dipakai penulis kala lari dari pelbagai tagihan induk semangnya dan ruang berkreasi tempat sekitar sebagai inspirasi tulisannya.

Sosok ini juga digambarkan begitu murung dan mudah iba kepada orang-orang yang sejenisnya; yang tidak punya makanan, tidak punya tempat tinggal, tidak punya harapan. Bahkan ia pun beberapa kali memberikan uangnya--walaupun ia sendiri kerap tidak punya--kepada kaum ini. Tapi ia juga berwatak keras, dan keras kepala, bahkan cenderung kasar. Satu hal yang patut dicatat adalah, tokoh ini juga teguh pada pendirian dan pemalu.

Kisah hidupnya begitu buruk, atau jika enggan dikatakan sangat suram dan nyaris tanpa masa depan yang jelas. Beberapa tulisannya memang berhasil menembus koran dan dipuji redaktur, hingga ia dapat uang 10 krone sebagai imbalan. Tapi hal itu tidak bertahan lama, ia dicampakkan redaktur.

Bukan karena tulisannya buruk, tapi lebih pada sifatnya yang acap pongah. Bayangkan, ia selalu dan selalu mengirim tulisannya yang terkadang kacau ke rekdatur, dan selalu datang ke tempat mereka, serta membuat para redaktur ini marah. Ujungnya, tokoh ini dihempaskan begitu saja dan tulisan-tulisannya ditolak.

Tentu akibatnya sudah bisa ditebak, hidupnya akan kacau. Ia pun pernah masuk penjara, dan untuk memudahkan dan untuk mendapatkan makan gratis, ia mengaku sebagai wartawan di Morning Times. Sekali dua, ia pun pernah mengibuli pelayan restoran untuk bisa mendapatkan roti.

Karirnya yang amburabul ini berbanding lurus dengan kehidupan cintanya. Ia gagal menjalin cinta dengan seseorang yang ia sebut 'nona'. Perempuan yang telah memberikan genggaman tangannya di suatu malam--dan ia terus menerus memikirkannya sepanjang hayat. Tapi, kembali lagi, kehidupannya dari menulis takkan mampu bertahan, apalagi untuk hubungan yang serius, dan perempuan itu mengerti betul. Bahkan ia mengiriminya beberapa krone untuk ia bertahan hidup.

Namun si tokoh aku ini merasa tersinggung dan enggan menerimanya. Bahkan ia pun meniadakan kesempatan terakhir menjadi penulis setelah ia tidak menyelesaikan tugasnya untuk membuat naskah drama. Tamatlah riwayatnya, dan ia diusir dari kontrakan.

Di akhir cerita ia meningalkan dunia menulis dan melamar sebagai seorang kelasi pada sebuah perahu untuk berlayar ke Eropa.

Lalu, mari kita simak di novel kedua: Victoria.

Ada seorang penulis puisi bernama Johannes, putra dari pemiliki pabrik kecil yang memproduksi jagung, dan kesalahannya jatuh hati pada anak juragan kastil bernama Victoria. Keduanya terpisah karena status ekonomi dan keluarga yang tidak mengijinkan.

Bedanya dengan sosok penulis di Hunger, Knut Hamsun melukiskan Johannes sebagai penulis yang cukup sukses. Bahakan mampu membuatnya dipanggil pihak kastil untuk makan malam selepas buku-buku terbitannya ramai diperbincangkan.

Kisah cinta keduanya pun bermula dari sini, dari Johannes yang suka menulis puisi dan dibaca banyak orang, termasuk Victoria. Tapi semuanya soalah purna, kesuksesannya berbanding terbalik, ia tetaplah dianggap sebagai anak orang biasa dan tidak sederajat dengan Victoria.

Bahasa di novel ini juga liris, hal ini menunjukkan tingkat kehidupan penulis yang digambarkan Knut Hamsun yang memang seorang penyair, dan negara tempatnya, berbeda dengan Cristiania, yang tampaknya tidak begitu menghargai dunia menulis. Ia pun segera terjerambab pada kesedihan yang tak terkira.

Harusnya, dengan segala popularitas yang dimiliki, ia mampu menggaet Victoria. Tapi apa lacur, ia harus menerima undangan pernikahan Victoria dengan seorang letnan pilihan dari keluarga perempuan, keluarga yang bangsawan.

Cintanya pun pupus, dan kehidupan penulis itu hancur. Ia tidak tahu berbuat apa, dan terus berkarya yang diperbincagkan orang, tapi hidupnya tidak, ia tidak pernah mengerti karya-karyanya seolah bukan ia yang menulis. Bahkan ia akhirnya berhenti. 

Di akhir cerita, ia harus menerima sebuah surat panjang yang salah satu isinya begini;

Johannes, Sayang!

Ketika kau baca surat ini aku tentu sudah mati. Segala sesuatunya kini tampak begitu ganjil; aku tak merasa malu lagi untuk menulis surat padamu, dan aku menuliskannya seolah-olah tak ada sesuatu kejadian yang pernah menghalangiku untuk berkirim surat padamu. Sebelumnya, ketikak diri ini masih benar-benar hidup, lebih kupilih menderita siang dan malam daripada berkirim surat denganmu; namun kini mulai sekarat...
......
......
Selama berbaring di sini aku harus memikirkan kata-kata terakhir yang kuucapkan padamu. Kata-kata yang kuucapkan di hutan itu pada suatu malam. Tak terlintas di benakku itu akan menjadi kata-kata terakhir
.....
.....
Johannes sayang, sungguh aneh memikirkan bahwa semua yang berusaha kulakukan adalah hadir ke dunia dan mencintaimu dan kini melambaikan tangan selamat tinggal pada kehidupan
...
Kini tak ada lagi kekuatan yang tersisa dalam diriku untuk menulis. Selamat tinggal, Kekasiku.

Begitulah akhir cerita muram seorang penulis di Victoria yang dikisahkan Knut Hamsun ini; menyedihkan.

Lalu, untuk menjawab pertanyaan saya di atas tadi, kenapa Knut Hamsun begitu pesimistis dengan dunia rekaan seorang penulis yang dibangunnya itu? Saya belum bisa menjawabnya.

Satu hal yang pasti, dua kehidupan penulis menurut Knut Hamsun ini akan terus abadi, seperti halnya tulisan-tulisannya, sebab dunia menulis dan orangnya selalu akan jatuh pada dua hal di atas; karyanya ditolak seperti halnya kehidupan penulis yang pertama atau karyanya diterima khalayak seperti halnya Johannes.

Dan tulisanmu nanti--jika memutuskan untuk menulis--apakah jadi manusia yang pertama atau kedua? Sila jawab sendiri.

Bintaro, 7 Okt

@DedikPriyanto


Gambar pertama di diambil dari sini dan dari sini

Jumat, 04 Oktober 2013

Soe Hok Gie, Semacam Obituari

Oktober 1968,  Soe Hok Gie pergi ke Honolulu.  Ia ingin menjadi turis dan sejenak berpikir untuk meninggalkan semuanya, melepaskan segala kepenatan dan berniat menjadi seorang turis semata. Lalu ia melihat dataran Fiji dan Sidney yang luas itu.Ia tergelak, otaknya mampat, pikirannya meracau. Tiba-tiba ia merasa begitu sedih, sentimentil.

Soe pergi menuju kawan karibnya, Daniel-Lev, dan mendengarkannya berucap lirih. Ia ingin berkeluh perrihal otaknya yang tak bisa sejenak pun untuk beristirahat dari gelisah yang entah ia sendiri tidak bisa memahami. Bayangan perihal karut-marutnya negeri membuatnya tak berhenti.

“Soe, kau adalah seorang pemikir. Orang-orang seperti itu selalu menanyakan tentang nilai-nilai dalam masyarakat. Mereka tidak pernah akan bahagia, dan tak akan pernah puas. Terimalah kenyataan ini.”

Soe,

Saya baru baca penutup tulisanmu yang bertajuk ‘Awal dan Akhir’ di harian Sinar Harapan (7 April 1969). Sebuah pertanyaan muncul di benak saya, apakah benar seorang pemikir itu tidak bisa bahagia? Lalu, apa yang kamu—dan orang-orang sepertimu cari?

Saya tidak bisa mendefinisikan apa itu kebahagiaan. Absurd. Tidak adanya kriteria mendasar perihal bahagia ini merupa lembah belukar yang terkadang tak bisa dilalui. Namun semua pasti sepakat, ada yang mampu untuk sekadar membelah belukar itu dan menjadikannya sebuah taman yang asri penuh bunga dan—konon—itulah kebahagiaan.

Seorang pemikir bukanlah mereka yang bekerja hanya dengan pikiran semata, berkehendak dengan otak dan bertutur laiknya nabi yang memberikan petuah. Toh, nabi saya kira bukanlah seorang pemikir. Ia adalah pewarta yang menjadi jembatan antara manusia, dan  Tuhan kepada manusia.

Kita bisa berdebat panjang soal itu.

Tapi, seorang pemikir sering diasosiasikan sebagai orang yang murung, berjalan dengan ringkih dan berkacamata tebal, serta tak akan pernah lekang dari buku. Atau jika menemukannya ia termenung, ia akan terus berdiam dan enggan untuk sekadar disapa.

Pun kalau ia berbicara, orang-orang akan siap diberi amanah untuk menjadi kawan bercakap yang entah kapan akan berakhir dengan kesepaktan dan kesepahaman.  Sebab argumentasi yang ndakik dan mungkin serba awang-awang akan tersaji. Beruntung jika kawan bicara ini mempu mengimbangi. Berita buruk jika ia tidak sanggup, maka alamat sengsara.

Seorang pemikir, sepertimu, biasanya adalah orang yang hidupnya tidak bahagia, seperti kata Daniel Lev. Orang yang tidak pernah bisa berhenti memikirkan segala hal, tak akan usai untuk mengejar harapan, dan tak pernah lekang menimbang segala perbedaan. Itulah sikap atau semacam sembahyang yang dilakukan orang model dirimu.

Konon, seorang pemikir itu makanannya adalah segala yang berbau kericuhan, persoalan bangsa yang tak pernah tuntas. Itu adalah asupan gizi dari makanan saban hari yang harus ia terima seperti halnya Daniel Shilton yang harus terima mendapatkan gol dari Maradona—walaupun itu menggunakan tangan. Hidup bagi mereka adalah sebuah takdir magis yang harus dilalui.

Orang biasa kerap berkilah, bahagia itu sederhana. Misalnya, dengan mendapatkan keluarga yang hidup dengan berkecukupan atau tiba-tiba datang segepok dirham tanpa diduga. Toh, kebahagiaan memiliki bilang makna yang tak terkira.

Tapi bagi mereka yang suka berpikir tak akan pernah selesai dengan sederhana. Ia akan berhenti jika hidup ini berhenti berdenyut. Kamu telah meninggal, memang. Tapi, tidakkah kamu mengerti, bahwa hidup ini akan terus berputar.

Soe,

Saya tahu, sekarang ini di dunia kamu saat ini, kamu pasti tidak bisa berhenti berpikir, memikirkan negaramu saat ini yang tambah kacau dan tak menentu; harga-harga yang kian tak terjangkau, pongah para pejabat yang kian tak masuk akal, serta rintih masyarakat yang begitu memekakan telinga.

Umur kita bertaut hampir 60 tahun. Tapi keadaaan saat itu saya yakin hampir serupa dengan jamanku saat ini. Reformasi ’98 tidak memberikan keamanan dan kenyamanan dalam hal ekonomi bagi masyarakat bawah. Tentu saja hal itu serupa saat kalian turun ke jalan memaksa diturunkannya harga-harga pada tahun ’66.

Apakah kamu bahagia di alam sana?

Saya tidak yakin. Tapi mungkin kamu akan sedikit lebih beruntung. Kamu bisa langsung bercakap dengan pelbagai orang yang tidak bahagia sepertimu. Saya membayangkan dirimu tiap pagi membaca koran dan berdiskusi dengan pemikir lintas generasimu seperti Gus Dur, Yap Thiam Thien, Romo Mangunwijaya, Pramoedya Ananta Toer, WS Rendra dan mungkin juga dengan Mbah Surip.

Oh ya, Soe. Apakah kamu sudah berbaikan dengan Bung Karno? Saya yakin, kamu malah mengajaknya untuk berdebat. Tapi sejurus kemudian saling cekikian bersama.

Pastinya, sekarang ini Bung Karno tidak akan meledekmu gara-gara setelan safari yang kedodoran kala kamu seperti saat bertandang ke istana negara tempo itu.

Saya tidak bermaksud untuk menulis surat kepadamu, seperti halnya orang-orang yang  menuliskan surat kepada orang yang dikaguminya. Sebenarnya saya tidak terlalu mengagumimu selepas tahu bahwa dirmu adalah eksponen GMSos/PSi dan walaupun—akhirnya—kamu menyadari dan keluar sebab perjuangan mereka adalah lip service semata.

Tapi, apakah kamu sekarang bahagia? Saya tidak bisa menebaknya.

Jakarta, 20 April
@Dedik Priyanto

Obituari (Proses Kreatif)

Oleh: Eka Kurniawan
TEMPAT KEJADIAN PERKARA

Lanskap pertama yang menarik perhatian saya, dan tak dipungkiri  berangkali generasi pembaca seperti saya, adalah kota imajiner  Macondo dalam One Hundred Years of Solitude Gabriel Garcia Marquez. Kota itu juga muncul di dua novela sebelumnya, Leaf Storm dan In the Evil Hours. Sebuah kota yang bisa segera dikenal dengan kebun pisangnya, gereja tempat tujuh anak Aureliano Buendia diberi tanda dari abu di kening mereka, dan rumah-rumah yang bercat putih serupa merpati.

Saya belajar mengenali Macondoi lebih dulu daripada apapun yang ada di novel itu. Macondo boleh jadi merupakan tipikal kota kecil di Colombia, modelnya mungkin Aracataca, tempat kelahiran Marquez. Tapi sejarah Macondo, bagi saya bukna semata-mata sejarah mengenai  Kolombia, tetap juga sejarah sastra. Membaca Macondo akan membawa kita ke kota lain: Yoknapatawpha Coutry, Missisipi, Amerika bagian selatan. Pentinng untuk disebutkan: selatan, sebab
Yoknapatawpha County merupakan lanskap yang membedakan dirinya dengan kota-kota di bagian utara.

Yoknapatawpha adalah kota dengan perkebunan kapas yang terbengkalai, negro-negro, veteran County merupakan kota imajiner dalam kebanyakan novel William Faulkner. Sejak saat itu saya selalu membaca banyak kota di banyak karya, imajiner maupun tidak. Ulysses James Joyce tak hanya merupakan kisah mengenai Bloom, tapi juga Dublin. The Hunchback of Notredame tak hanya tentang si Bongkok, namun juga tentang Paris di masanya.

Saya membaca Praha di pertengahan abad lalu dalam novel-novel Milan Kundera, mencoba mengenalinya, dan coba membayangkan apa yang terjadi disana dan memengaruhi hidup orang-orang yang mendiaminya.  Saya mulai melihat bagaimana Yoknapatwpha dan Macondo melahirkanb Gaoma County dalam novel Mo Yan Red Sorghum. Kita juga menemukan Cristantia (Sekarang Oslo, Norwegia) dalam Knut Hamsun Hunger.

Saya bisa membuat daftar lumayan panjang. Dalam sastra kita, juga ditemukan Blora dalam Cerita dari Blora atau Perburuan Pramoedya Ananta Toer, sebagaiamana Surabaya  di awal abad kedua puluh, dalam novelnya yang lain Bumi Manusia.

Sejak saat itu, saya menyadari bagi penulis-penulis agung ini, tempat dalam karya mereka jelas bukan sesuatu yang tidak penting. Tempat adalah dasar bagi mengapa peristiwa-peristiwa di dalamnya terjadi, dan alas bagi mengapa tokoh-tokoh di dalamnya bertindak. Dengan kata lain, kota berbeda akan memaparkan peristiwa yang lain dan menghasilkan tindakan berbeda dari para penghuninya.

Saya mulai berpikir, novel yang baik selalu perpaduan yang khas antara wadah dan isinya. Antara tempat dan para penghuninya.

Demikianlah saya mulai berpikir tentang tempat bagi tokoh-tokojh saya. Sebuah tempat dengan anatomi tertentu, dengan riwayat hidupnya sendiri, luka-lukanya, karnaval-karnavalnya. Sebuah tempat yang layak dan patut bagi peristiwa-peristiwa yang saya kisahkan bakal terjadi. Seperti Kyoto dalam novel The Old Capital Yasunari Kawabata.

TERSANGKA PELAKU

Don Quixote, bagi saya, tampak serupa pembunuh sejati. Siapa hari-hari ini yang masih mengenal Miguel de Carvantes Saavedra? barangkali hanya satu dari sembilan ribu orang yang mengenal Don Quixote mengenal Carvantes.

Penulis ideal, bagi saya, adalah yang mampu menciptakan pembunuh bagi dirinya sendiri. Lebih jauh, mengapa saya tertarik dengan tokoh serupa Don Quixote, sebab ia merupakan model bagi sastra modern secara umum: olok-olok mengenai yang nyata  dan tidak, mengenai pengalaman dan ide, fakta dan fiksi. Dalam sastra modern, dialah yang berhasil mengocok semua itu dalam dirinya. Saya tak bisa membayangkan sosok yang lebih ideal itu.

Tapi selalu lebih rumit daripada yang dibayangkan para penulis. Setiap masa dan tempat memberikan karakter tertentu untuk tokoh-tokohnya. Kita bisa membayangkan awal modernitas melalui Don Quixote, tapi kita juga bisa mengenali absurditas hidup di jaman modern melalui tokoh-tokoh di novel Franz Kafka, yuppi, yang selalu diidentikkan dengan penulisnya. Barangkali karena tokoh-tokoh itu, yang saya maksud adalah karakter di the Trial dan The Castle  yang memiliki inisial Josef K. dan K. Tapi jarang sekali kita mendengar Don Quixote disebuat sebagai orang Spanyol, atau K sebagai penduduk Praha, meskipun kenyataannya demikian.

Barangkali karena mereka melampaui tempat kaki-kakinya berpijak.
Mereka terlalu bersar untuk wilayah-wilayah terpencil serupa itu, dan ini membuat saya kadang merindukan seseorang yang benar-benar berbaring di rumput, orang-orang yang tampak sepele.

Saya melihatnya antara lain di novel-novel Yasunawi kawabata. Lelaki Jepang yang pergi ke daerah salju untuk menamui seseorang geisha, seorang gadis Kyoto yang mendatangi perayaan musim semi dengan kimono, atau seseorang penari dari Izu. Mereka adalah orang kebayakan, dengan nama-nama kebanyakan (Dan saya paling benci nama-nama tokoh di novel yang tak make sense). Akhir-akhir in sya juga menyukai mereka yang hadir di novel-novel Cina yang ditulis Mo Yan atau Su Tong. Saya  membayangkan petani-petani sederhana, sosok biasa yang sama sekali  tak istimewa, dalam the Garlic Ballads atau Rice.

Kesederhanaan mereka, dengan pakaian dan makanan, serta mungkin malah merupakan bagian-bagiana yang membuat kita mengubur hidup-hidup para penulis yang menciptakannya.
Di antara semuanya, Thomas Sutpen merupakan sosok yang tak pernah bisa saya lupakan. Ia muncul di Abslom, Absalom! William Faulkner. Sakit jiwanya merupakan gerusan sebuah masa yang busuk. Kesehariannya merupakan gambaran yang buruk, namun saya selalu akan mengenangnya sebagai memang begitulah, pembenci Yankee dari Selatan, tuan tanah dengan kejayaan yang mulai ambruk.

Dalam dirinya kita bisa membaca sebuah dunia secara lengkap. Dunia dalam dirinya dan dunia di luar dirinya. Sejenis karakter ideal yang barangkali dibayangkan dan dunia di luar dirinya. Sejenis karakter ideal yang barangkali dibayangkan  Iwan Simatupang sbagai Tokoh Kita dalam novel-novelnya (tapi atk pernah berhasil) sebagai tokoh yang bisa mewaki9li seluruh umat dan ras manusia. Yang kita butuhkan adalah sosok serupa Sutpen, yang di wajahnya kita bisa membaca semesta.

Demikianlah, jika saya ingin menulis novel, saya ingin menghadirkan sosok-sosok dengan kepala yang menerawanjg, kaki yang melangkah di tanah, dan dada yang bergemuruh.

METODE

Seseorang mengatakan bahwa sebuah cerita adalah sebuah cerita. Cerita yang bagus, akan tetap bagus dengan cara apapun. Barangkali itu benar, Seperti sebuah rumah, dibikin seperti apapun, asal ia tetap memenuhi persyaratan sebuah rumah sebagai tempat berteduh dan berlindung, tetap sebuah rumah. Tapi saya pecinta arsitektur, sebuah seni yang tak meungkinkan sebuah rumah dibuat begitu saja. Seorang arsitek tak akan datang tiba-tiba dengan semen, pasti dan batu lalu membuat rumah. Mungkin ada yang begitu, tapi bagi saya tak menarik. Kalaupun menarik, barangkali rumahnya yang pertama. Rumah selanjutnya, berdasarkan pengalaman, jadi terasa membosankan.

Demikianlah saya tak tertarik menenteng alat tulis lalu tiba-tiba menulis sebuah kisah. Banyak penulis melakukannya, tapi saya tetap tak tertairik. Jack Keroac melakukannya, tapi hanya On the Road yang menarik perhatian saya. Sebab saya menyukai pekerjaan arsitektur, duduk berlam-lama memikirkan alasan-alasan mengapa sebuah jendela harus berdaun ganda, mengapa pilarnya dibuat dari kayu dan bukan beton, mengapa dapurnya ad dekat pintu depan. Sebab juru masak yang paling baik juga menggunakan resep.

Tentu saja saya tak  akan melarang, dan tatap menaruh hormat, untuk juru masak yang akan memasukan bumbu mereka ke wajan, jika merka suka. Tapi sekali lagi,  saya lebih tertarik memikirkan alasan mengapa harus memasukkan garam dan bukan merica, sebelum memasak.

Ulysses James Joyce barangkali merupakan arsitektur yang paling istimewa di abad kedua puluh yang baru lalu. Tapi kemegahannya, bagi saya, seringkali membuat tersesat di lorong-lorongnya. Yang bisa dilakukan hanyalah, masuk ke salah satu ruangam dan menikmati ruangan tersebut. Di hari lain kita duduk di sudutnya yan glain, dan hidup di sana. Untuk hidup serentak di seluruh ruangan, paling tidak bagi saya, menjadi sesuatu yang nyaris mustahil.

Demikianlah mengapa saya lebih menyukai ruangan kecil yang diciptakan oleh Jorge Luis Borges. Meskipun kisah-kisahnya relatif pendek, hanya beberapa yang panjang, membacanya segera kita tahu itu dibangun dalam sebuah sistem cara berpikir. Setiap bagian-bagiannya diletakkan dengan maksud tertentu, demi sebuah bangunan cerita dan ide. Dalam kisah The Plot, ia hanya menjejer dua paragraf. Yang pertama mengnai pembunuhan Julius Cesar oleh Brutus. Yan gkedua kisah pembunuhan gaucho oleh seorang kepercayaannya.

Sebuah kisah adalah sebuah pola. Sebuah ide. Cerita the Plot mungkin sangat bniasa, atau orang sudah mengetahui kisah tersebut. Tapi meletakkan dua kisah berdampingan, tentu itu pekerjaan seorang pemikir. Sebuah ide, sebuah seni bercerita sesungguhnya.

Novel-novel yang saya kagumi, sepengatahun saya, jelas merupakan karya-karya kebetulan. Penciptaannya merupakan oragn-orang metodis. Dalam novel- novel Gabriel Garcia Marquez, kita melihat bab-bab yang relatif sama satu sama lain. Dalam novel-novel Milan Kundera, kita menemukan pengulangan angka tujuh. Tujuh bab misalnya. Ia juga seorang yang sadar mengambil arsitektur musik dalam novelnya. Mengerti bagaimana membuat intro yang baik, memahami bagaimana irama yang menentukan kualitas ceritanya, dan tahu harus menutup novelnya dengan sejenis coda.

Di antara yang lainnya, Jose Samarago jelas merupakan yang paling keranjingan. Saya tak bisa membayangkan seandainya novel-novelnya ditulis dengan cara lain, akan menjadi seindah yang saya baca sekarang.

Barangkali begitulah sudut pandang saya mengenai bentuk dan isi. Mengenai kisah dan bagiamana kisah disampaikan. Saya tak akan pernah berani menyatakan kisah lebiuh penting daripada cara menyampaikannya, demikian pula sebaliknya.

Saya bukan seorang pembunuh yang peduli menghilangkan nyawa seseorang, tapi juga harus menyadari pembunuhannya. Seorang penulis, bagi saya, bukan seseorang yang membunuh karena terpaksa atau kebntulan. Ia mesti seorang yang memang dilahirkan untuk menikmati seni membunuh. Sorang penulis harus maniak. Ia mesti mencintai cara kerjanya, untuk menghasilkan akhir yang paling gemilang.

BUKTI-BUKTI

Saya paling benci membaca kalimat serupa ini: ia lari ke sebuah lorong  jalan yang di kiri-kanannya dipenuhi pepohonan. Saya selalu bertanya jalan apa? Pohon apa? Sama bencinya dengan membaca kalimat, bangun tidur ayam jantun berkokok. Apakah pengalaman semua orang di dunia bangun pagi selalu sama? Tak adakah yang bisa mengambarkan bangun tidur yang lebih personal? Detail tidak menuntut orang untuk bertele-tele dengan hal remeh. Novel sendiri, jelas merupakan novel yang buruk. Tapi sebuah kalimat yang mengatakan: ia berbelok ke Jalan Merdeka dan bersembunyi di bawah pohon-pohon mahoni, jelas memberi nilai kepercayaan lebih daripada sekadar lorong jalan dan pepohonan, tanpa harus membuatnya jadi larut dalam detail tak perlu.

Dalam Song of Solomon, Toni Morrison tidak asal memberi nama sebuah jalan sebabagi Not Doctor Street. Kisahnya berawal dari sebuah ruas jalan dimana seorang dokter negro tinggal di sana. Komunitas orang-orang negero di sekitar jalan itu kemduian menamai jalan tersebut sebagai Doctor Street, untuk mengingat si dokter, meski jalan tersebut sesungguhnya memiliki nama sendiri.
Masalah kemudian muncul ketika mulai banyak orang tinggal disan dan menyebut Doctor Street sebagai alamat korespondensi mereka, yang ternyata memguat bingung pihak kantor pos. Pemerintah kota, yang didominiasi orang putih tentu saja, tak menyukai keadaan tersebu8t. Ia melarang orang menyebut jalan tersebut sebagai Doctor Street dan menempelkan pengumuman panjang di sepanjang loromg jalan bahwa This Is Not Doctor Street. Demikialah, komunitas orang negro, patuh pada perintah walikota sekaligus ngeyel, mulai menyebut jalan tersebut sebagai Not Doctor Street.

Sebuah detail kecil, tapi bisa memberikan sebuah wajah manusia-manusia. Ah, jangan berharap bisa menemukannya di novel-novel buruk yan ditulis penulis-penulis amatir (seperti saya ini, barangkali).

Sebuah fiksi adalah sebuah fiksi, kita mengetahui kebohongannya. Tapi dusta adalah fiks, segila apapun, harus menyentuh kepercayaan pembaca. Sebab hanya dengan cara itu seseorang akan terus membaca dan terlibat secara emosional. Jika ada sebuah kalimat lima ratus ekor gajah melintas di Jalan Thamrin, barangkali tak seorang pun percaya dengan begitu mudahnya. Bandingkan dengan kalimat in: seratus dua puluh empat ekor gajah melintas di Jalan Thamrin. Separuh pembaca mungkin memercayainya, hanya karena angka yang tak terlalu genap cenderung lebih dipercaya untuk kasus serupa itu. Tapi perhatikan kalimat ini: seratus dua puluh empat ekor gajah melintas di Thamrin, Presiden SBY membuka sendiri acara karnaval bersama perwakilan dari WWF untuk Indonesia, saya yakin seluruh pembaca akan percaya, tak peduli peristiwa itu sunggu terjadi atau tidak.

Detail ini adalah pembuka menuju sebuah kepercayaan, dan kepercayaan akan menjadi kebenaran. Serupa itulah, dalam bayangan saya, bagaimana fiksi-fiksi yang baik selalu bekerja.

KURBAN

Sekarang, izinkan saya mengisahkan diri sendiri. Saya dilahirkan dari banyak ibu, dan banyak ayah. Tapi satu orang yang pelu saya sebut pertama kali adalah penulis Norwegia, Knut Hamsun. Terima kasih kepadanya, yang telah memberi contoh untuk menjadi seoprang tumbal dunia fiksi yang baik. Ketika pertama kali membaca Hunger, saya tahu saya akan menulis  seolah tak ada hal lain yang saya ingin lakukan di dunia. Ia memberi pelajaran pertama pada saya untuk hidup: bernapas! Hunger merupakan napas asya. Saya selalu merasa sebagai seseorang yang tak bernama, berjalan di trotoar pelan-pelan Christania, memikirkan apa yang ingin saya tulis, dengan rasa lapar yang menyayat.

Pendidikan pertama saya adalah komik silat, yang saya baca diam-diam karena ayah saya dan sekolah melarang kami membacanya. Tokoh favorit saya adalah Pendekar Mabuk. Barangkali adaptasi novel dari Drunken Master. Saya membaca novel-novel silat dari Asmaraman S. Kho Ping Ho dan Bastian Tito. Saya juga, ya benar, penggemar novel-novel horor, yang ditulis Abdullah Harap. Tujuh Manusia Harimau saya baca di suatu masa yang sudah saya lupa, dan saya melihat filmnya di pertunjukan layar tancap, jika tak salah. Barangkali karena novel-novel semacam itu relatif mudah ditemukan di kota kecil serupa tempat saya tinggal.

Oh ya, saya menemukan Agatha Christie. Saya rasa sudah membaca seluruh edisi bukunya, dan percayalah tampaknya bisa membedakan bagaimana cara Mr Poirot dan Miss Marple dalam menyelesaikan kasus-kasus.

Menjelang umur dua puluhan, saya mulai belajar filsafat. Saya membaca Nietsche dan terkagum-kagum dengan gaya prosanya. Lihatlah cara ia menulis, selalu dalam bentuk aforisma-aforisma pendek yang indah. Saya belum pernah menemukan filsuf menulis dengna penuh gaya sepertinya. Tapi seperti kebanyakan borjuis kecil yang tak memperoleh kenyamanan hidup, saya mulai jatuh cinta dengan Hegel, dan setelah dari Hegel seseorang sangat mudah jatuh ke Marz dan Engels. Karena saya menyukai sastra, saya membaca George Lukacs. Dengan cara itulah saya dibesarkan.

Dan di bawah pengasuh-pengasuh seperti itulah saya menulis. Saya sendiri tak bisa membayangkan bagaimana akan jadinya seorang banyi yang diasuh Lukacs dan Kho Ping Ho, tapi saya membayangkan sesuatu telah terjadi pada diri saya.

Hingga datang waktu saya harus menyapih diri dari para pengasuh,l bahkan para orang tua, dan mencari sendiri teman, kekasih, dan sekaligus musuh. Saya membaca buku apa pun yang bisa saya peroleh. Buku pengobatan maupun manual mengoperasikan telepon genggam. Lalu saya mulai menulis, dan dengan cara itulah, seoarang pengarang menemui ajalnya.

Solo-Jakarta, 2005-2006

Post Scriptorium: Catatan ini saya tulis ulang dari On/Off tahun 2006, di edisi Proses Kreatif. Saya menulis ulang selepas membaca Hunger Knut Hamsun dan pernah teringat Eka Kurniawan adalah penggemar garis keras novel ini, dan sebagai penggemar berat Eka Kurniawan, saya harus menulis obituari ini--walaupun belum izin penulisnya sendiri.

Bulan Juni di Mata Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad

Bulan Juni seperti halnya bulan-bulan selanjutnya, tak ada yang lebih istimewa dari sebuah perjumpaan. Bila tak bisa ditaruh sebagai peristiwa biasa, maka tentu saja Sapardi Djoko Damono tidak akan usai menebalkannya menjadi 'Hujan Bulan Juni' atau seorang Goenawan Mohamad tak akan mengabadikan dalam sajak 'Di Sebuah Juni'.

Bulan ini pula yang memaksakan dua penyair ini untuk melukiskan gundah lewat temaram kota. Kota yang dengan arif diceritakan, tapi membentuk partitur perpisahan tanpa kata-kata, tanpa harus mengharu biru seperti halnya deru kendaraan yang melintas saban hari di sebuah kota. 

Goenawan Mohamad bercerita tentang dirinya dan sebuah pertemuan;

Di sebuah Juni yang seperti asma
kutemukan kau tanpa nama


Tanpa nama adalah kata yang dipilihkan Goenawan Mohammad dalam membuka sajak lirisnya itu. Bagaimana bila pertemuan itu tanpa nama, dalam sebuah  bulan seperti penyakit asma; tersengal-sengal, sukar bernafas dan akhirnya jatuh sakit?

Lain GM, lain pula Sapardi. Penyair yang belakangan ditahbiskan sebagai pujangga memulai dengan lebih liris lagi.

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni


Bilakah sakit dan pertemuan tanpa nama adalah bentuk lain dari perpisahan, maka Sapardi adalah kebalikannya. Ia menganggap bulan ini adalah harapan, dan tak ada yang lebih tabah selain bulan ini, penuh dengan masa depan dan dimulai dengan pijak ikhlas sebagai mula.

Namun, semua itu merupa seorang yang tetap sakit, kata GM, meneruskan puisinya:

Sore yang sepucat pasien
Cahaya
hampir absen


Hampir tak ada cahaya lagi, jika tanpa absensi, kilah seperti itu yang coba diteriakkan sebagai bentuk sublimasi dan perayaan tanda..  Karbol/tercium di udara dan seperti pada titik 0/angin tak juga kuasa

Bahkan angin pun tak punya kuasa, seperti halnya orang-orang yang tak mampu menduduki semesta dengan pelbagi teknologi. Manusia dengan kecerdesannya itu hanya mampu sebatas titik. Titik-titik ini pula yang membuat manusia begitu kecil, sebuah titik yang tidak hanya kecil, tapi juga kerdil. 

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu


Juni adalah penghapus jejak kaki yang ragu untuk melangkah, seperti halnya hidup di negara yang penuh keraguan seperti hari ini, di negeri ini. Frasa 'Jalan Itu' yang dipilih Sapardi tentu saja bukan sembarang jalan, inilah kilau masa depan yang dengan tertatih coba untuk diraih, tapi tidak akan sampai bila kita ragu.

Sapardi pun menutupnya dengan ... tak ada yang lebih arif/ dari hujan bulan juni.. Selain hidup dengan pemaknaan yang biasa saja, maka arif adalah kunci. Orang yang arif akan memandang sesuatu tanpa meledak-ledak, sebab dirinya memahami bagian dari alam.

Dan bulan hanyalah rangkaian semesta yang ditafsirkan manusia untuk menandai hidup. Termasuk bulan Juni, yang pada awalnya Sapardi menuliskannya dengan keadaan kemarau, tapi Juni di bulan sekarang ini tidak bisa diartikan hanya satu saja.

Lebih dari itu, Juni dalam pandang Sapardi adalah semesta yang harus dipahami. Manusia hanya menyesuaikannya dan akan senantiasa menjadi bunga--walau musim gugur atau kemarau sekalipun.

dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
(Hujan Bulan Juni, 1989)



Goenawan Mohammad sendiri memandang Juni sebagai sebuah kotak penuh teka-teki.

Kota ini seakan sebuah kotak kaca, rasanya,
di mana orang setengah bicara, setengah membaca

menaruh tubuh sepanjang lorong
dan bayang juga, seperti kau bilang,
bertebar kosong


Ya, kosong dan keheningan adalah muasal dari ketidaktahauan akan dengan sendirinya berusaha menjadi. Menurutnya, orang-orang sibuk mengukir masa lalu dengan luka yang tak mampu diperamnya. Semuanya menjadi kosong dan..

Tentu saja kau coba
selubungi sepi


Menjadi sepi, terselebung dengan sepi, kata GM, merupakan sebuah pertemuan yang kalau boleh tidak akan pernah selesai, atau bisa selesai dengan duka.

Dan dengan sebuah topi
kauinginkan sebagaian matahari
di teras restoran ini

menahan vakum
di sebuah ruang yang tak terangkum


Tentu saja...

Tapi kita, mereka berkata, akhirnya setelah kata
pada spanduk:
cat tebal di pojok yang sibuk


Sebuah pertemuan, sebuah harapan, sebuah percakapan dalam sebuah teras adalah kejanggalan yang harus diterima manusia sebagai makhluk yang tidak sendiri.

di Juni yang seperti asma
yang ditemukan tanpa nama

Atau tak tereja, barangkali
sepatah maklumat,
pada kaki adpertensi

Kemudian aku cuma liwat
dan hari lari
dan kau tak ada lagi

1996
GM


Bagi mereka berdua, Juni adalah penanda. Penanda tentang kebahagiaan dan harapan yang kemarau, juga pertemuan-pertemuan singkat tanpa nama, tanpa ada percakapan yang sederhana. Juni  hanyalah pencerita, yang harus menuruti semesta dan menceritakan dirinya lewat tanda-tanda. Begitulah.

Bintaro, 3 Oktober 2013

Post scriptorium: catatan ini tidak ditulis dengan serius dengan pendekatan teori apapun, sebab tidak ada pretensi apresiasi sastra di dalamnya. Hanya sekadar perbandingan saja.