Kamis, 05 Desember 2013

Ketika Jodoh Bukan Sekadar Puisi

Bila pernikahan adalah legalitas cinta hubungan sesama manusia, maka sudah selayaknya titik pijaknya adalah cinta. Namun, jika cinta itu berusaha dipudarkan akibat keterpaksaan dan kepiluan keadaan, maka untuk apa Tuhan menciptakan cinta?

Cobalah tanya para penyair, berapa larik bait puisi yang telah mereka cipta. Lalu tanyakan kembali, untuk ia membuat bait-bait cinta? Percayalah, cinta yang mendatangi mereka dengan rahasia dan tanpa disangka.

Kiara, perempuan manis berwajah sendu yang suka berpetualang itu telah salah. Ia begitu rendah dalam memandang hidup hanya sekadar tanjakan-tanjakan seperti halnya ragam gunung yang terus berusaha ditaklukan, dengan pelbagai bekal yang telah dipersiapkan sebelumnya; ilmu, agama dan kepercayaan orang tua.

Tapi saya salah.

Ya, Cinta tidak salah, tidak akan pernah salah. Cinta tidak pernah salah untuk memilih. Sebab ia hadir sebagai pertitur retak yang membutuhkan dua manusia untuk menyatukannya, sesuatu yang, seperti diterakan Goenawan Mohammad dalam Sajak ‘Kwatrin Tentang Sebuah Poci’, sesuatu yang kelak retak dan kita membuatnya abadi, entah di kehidupan ini—atau bahkan nanti.

Kiara tidak akan pernah salah dalam jatuh cinta, sebab ia tidak pernah meminta, tapi ia datang seperti halnya hujan yang datang tiba-tiba kalau kau berada di siang yang terik. Ia bekerja seperti tagihan kredit yang tiba-tiba habis tanpa bisa kau sadari penggunnannya.

Dan pecinta yang menghabiskan hidupnya dengan gunung sebagai ganti, seperti sebuah bunga layu yang ia kasihkan kepada Kiara sebagai pengganti dirinya yang telah mengerti sasmita gaib yang dititahkan semesta; cinta itu suci, sebab Tuhan juga suci, tapi manusia hanya menganggapnya sebagai bait tanpa arti. 

Ia mengabdikan dirinya pada semesta dan memeluk cinta ini sebagai seorang ksatria yang tidak pernah mundur dan menantang sejauh nirwana kelak akan melukiskan cinta mereka. Seperti kata kalian berdua, cinta lebih tua dari agama. 

Puisi yang Koyak

Puisi adalah puncak dari bahasa. Ia lahir dari rahim keteduhan dan berwujud dalam kata-kata, dan cinta adalah emosi yang melahirkan segalanya, termasuk dua anak manusia yang dipisahkan manusia lainnya itu.  Lalu ketika semuanya koyak oleh sesuatu yang lebih muda dari puisi dan cinta, dimanakah keduanya akan bersemayam di rongga manusia?

Kiara dan bunga adalah perwujudan kasih suci-Nya. Jika ia bukan pemegang teguh agama ciptaan-Nya, tentu ia sudah melakukan hal yang buruk dengan mengorbankan kesucian Dewi untuk melanggengkan pernikahan itu.

Tapi bukan itu yang ia inginkan, ia sudah berusaha untuk meneduhkan, memberi suara yang telah begitu takut kehilangan orang tua--dan agamanya. Ketakutan ini  yang berusaha untuk ditaklukkan keduanya, tapi realitas terkadang lebih memilih untuk mengoyak hati mereka berdua.

Dan puisi itu terkoyak, tapi cinta kian besar. Hingga sampai pada akhir, Kiara menikahi lelaki yang diimpikan kedua orang tuanya dan hidup menikam hatinya sendiri dan tenggelam bersama suka yang terus berselimutkan duka.

Lalu ketika pernikahan itu enggan sampai purna, dan Kiara memilih kembali kepada alam, semuanya telah begitu senja. Ia berkabung dengan bunga kering yang akan disiapkannya menjemput cinta, ia terkubur bersama cinta dan dirinya sendiri.

Cinta lebih tua  dari agama, sebab dari cinta pula Tuhan menciptakan manusia dan menciptakan agama. Sebab cinta oleh kedua orang tua mereka ditafsirkan sebagai luka yang harus segera dicarikan obat, jika tidak hanyutlah mereka dalam neraka.

Puisi itu telah koyak, dan kematian hanyalah, seperti sebuah sajak Acep Zamzam Noor 'Seperti Cinta dan Maut'; seperti sepasang kekasih yang ditakdirkan berjauhan. Seperti cinta dan maut yang saling merindukan.

Surga dan neraka bukanlah kuasa manusia, tapi rasa cinta itu khusus diperuntukkan untuk manusia. Begitulah.

 @DedikPriyanto

Kamis, 21 November 2013

Buku, Pesta dan Cinta di Kampus Biru

Film: Cintaku di Kampus Biru (1976)
Adaptasi novel Cintaku di Kampus Biru (Ashadi Siregar)
Sutradara: Ami Prijono
Skenario: Nya Abbas Akub Cerita: Ashadi Siregar
Produksi: PT Safari Sinar Sakti Film

Buku, pesta dan cinta adalah tiga hal yang menjadi kunci  untuk memasuki dunia mahasiswa. Lalu dalam sejarah film nasional, film apa yang menggambarkan ketiga identitas ini?

Jika hal itu ditanyakan kepada beberapa kritikus, maka bisa jadi mereka serempak mereka akan menjawab film arahan Ami Prijono bertajuk Cintaku di kampus Biru (1976) adalah yang pertama menyuguhkan ketiga hal di atas. Bahkan film adaptasi dari novel populer Ashadi Siregar dengan judul serupa ini acapkali dijadikan contoh bagaimana menelurkan sebuah film yang tidak hanya komersial, tapi juga bermutu.

Film ini dimulai dengan adegan ciuman yang tidak hangat antara Anton (Roy Marten) dan Marini (Yetty Octavia) di semak belukar di dekat kampus Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta. Anton tampak rikuh dan gusar memikirkan ujiannya yang gagal untuk kesekian galinya, padahal waktu studinya sudah semakin mepet dan membuatnya lama lulus.

Sebagai seorang aktivis mahasiswa yang cerdas dan sudah hapal seluk beluk birokrasi kampus, ia merasa ada yang tidak beres dengan dosen ini. Menurutnya, ia sudah melakukan semua perintah yang dititahkan dosen tersebut, tapi apa lacur, ia tetap saja gagal. Dosen yang membuat Anton kesal itu bernama Dra Yusnita (Rae Sita), seorang gadis cantik, cerdas, angkuh tapi juga berumur.

Dari sinilah konflik film ini dimulai. Anton tidak diterima dengan perlakukan sang dosen. Lalu ia mengorganisasi sejumlah mahasiswa untuk mempertanyakan kepada pihak kampus terkait perangai dosen tersebut. Apalagi, korban dari kekejaman Bu Yusnita, begitu dosen itu biasa disapa, tidak sedikit yang bernasib sama seperti Anton.   

Konflik memang lantas terjadi antara sang dosen dengan sejumlah mahasiswa yang dipimpin oleh Anton. Ketegangan menjadi makin memuncak oleh tangan-tangan jahil yang melempari rumah Yusnita, serta menempelkan plakat di kampus yang isinya mengolok-olok Yusnita. Sonta, ia pun amat tersinggung dan menuduh Anton sebagai biang keladi, serta mendeesak kampus untuk mengeluarkannya dari kampus.

Ketegangan pun tak terelakkan, Anton harus berhadapan dengan dewan dosen, sedangkan di luar gedung, para simpatisan Anton telah bersiap menggelar aksi massa. Akhirnya, hukuman Anton pun ditangguhkan sebab ia masih harus memimpin sebuah penelitian yang melibatkan mahasiswa lintas kampus. Pendek cerita, Anton pun kembali diselamatkan oleh kegigihannya menerangkan otoritas kampus yang tidak boleh semena-mena. Apalagi menyingkirkan kampus 

Buku, Pesta dan Cinta

Seperti yang saya gambarkan di atas, film ini adalah mula yang memotret tentang fenomenakampus dengan pelbagai dinamikanya yang khas; corak intelektualisme mahasiswa dan semaraknya cinta antar mereka, serta tentu saja narasi perlawanan sebagai potret jaman di tahun 70-an, beberapa tahun sebelum NKK-BKK (1977-1978) diberlakukan sebagai bentuk kebiri yang dilakukan pemerintah orde baru terhadap gerakan mahasiswa.

Salah satu hal yang menonjol adalah perwujudan sosok Anton yang digambarkan begitu mengidolakan Che Guevara dan berambut gondrong, serta menjadi pemimpin Senat mahasiswa yang mampu memobilisasi aksi massa untuk melawan dewan dosen yang telah membuat dirinya.

Tak hanya itu, film ini juga menggambarkan intrik politik dan perebutan kekuasaan yagn terjadi dalam tubuh mahasiswa. Anton dianggap oleh kawan-kawananya sesama aktivis sebagai sosok yang harus segera disingkirkan, sebab ia telah lalai terhadap tugasnya sebagai pemimpin, apalagi kini sikapnya semakin lembek, dan kurang menggigit selepas dekat dengan beberapa perempuan, termasuk Yusnita, orang yang dulu ia lawan.

Maka dilancarkanlah pelbagai aksi guna menyingkirkan Anton di kursi. Anton pun harus pasrah, apalagi ia  dikhianati kawannya sendiri, Farouk, yang bersengkongkol untuk melawan dirinya dengan mengajukan orang lain untuk menduduki. Padahal sebelumnya, Anton adalah orang yang mengkader dirinya.

Farouk sakit hati, sebab ia merasa tidak dianggap dalam kancah politik kampus dan dilecehkan oleh sikap Anton. Apalagi ia tertangkap basah oleh Anton sedang selingkuh dengan kekasih Anton, Marini. Konflik antar tokoh mahasiswa pun terjadi, dan Anton harus merelakan jabatannya sebagai ketua senat beralih melalui pemilhan umum.

Walaupun demikian, dunia kampus tetaplah dunia yang penuh dengan cinta. Anton pun digambarkan sebagai sosok yang begitu digandrungi perempuan, yakni Marini, Erika dan bu Yusnita. Ketiga perempuan ini seolah berlomba untuk mendapatkan hati Anton.

Tapi Anton tetaplah tetaplah pribadi yang tidak bisa diatur, walaupun itu oleh orang yang dicintai. Bahkan ia pun menolak kembali ke Erika, gadis manis yang ditemuinya di perpustakaan kampus, sebab ia pernah ditolak mentah-mentah oleh orang tua Erika.

Buku, pesta dan cinta adalah tema yang telah lama diperdebatkan dan tak akan pernah usai selama masih sosok bernama mahasiswa. Drama Anton dan pelbagai konfliknya adalah tanda, perlawanan tidak akan habis selama masih ada mahasiswa di tengah kita. Begitulah. 

PS: Tulisan lebih menggelitik soal ini, bisa dilihat di edisi empat majalah Surah edisi 4 :p

Senin, 18 November 2013

Kesunyian dan Sejumlah Kisah Orang Bawah

Syahdan, berdasarkan pengulik sastra kebanyakan,  kenangan adalah satu ruang yang banyak dijadikan inspirasi penulis mengeksplorasi kekayaan masa lalu. Kenangan itu bisa merupa pedih yang dalam, atau riang yang acap bergelap dengan ruang sendu sebagai penanda cerita.

Begitu halnya yang termaktub dalam kumpulan cerita pendek bertajuk Kabar dari Kesunyian (PBS, 2012) oleh Zakky Zulhazmi, cerpenis asal Ponorogo, Jawa Timur, yang berusaha untuk memberikan warta tentang hidup yang begitu dingin, minimal bagi dirinya sendiri. 

Jika Freud menganggap ruang kenangan ini merupakan alter ego yang menuntut orang untuk senantiasa datang, lalu menyublimasi segalanya ini menjadi kisah yang benar-benar nyata, maka kejadian dalam cerita ini hanyalah sebuah kisah yang  paradoksal; terkadang binal memaksakan masa lalu, tapi lain waktu 

Coba telisik kisah 'Di Beranda' yang berusaha menuturkan kisah masa kecil dengan personifikasi seorang renta dan menghabiskan masa tua dalam sebuah rumah yang nyaman. Namun di balik itu, ia menyimpan sebuah kenangan yang muram, tentang seorang yang jatuh cinta kepada seorang, dan juga tentang kawan yang terus menghantuinya.

Kisah dan janji pada akhirnya hanyalah fatamorgana dari risalah perjalanan, sesuatu yang ingin dikabarkan oleh penulis cerita ini sebagai bentuk; pengabdian masa lalu, tapi sayang ia gagal mewujudkannya menjadi cerita yang membuat pembaca menarik empati.

Empati ini pula yang coba dilihat oleh seorang anak kepada kakeknya dalam cerpen 'Masjid Abah' yang coba mengulik persoalan orang tua, kakeknya, yang teguh menjaga masjidnya dari serbuah modernitas. Ia enggan untuk kalah, tatkala keluarganya sudah tidak sanggup lagi memertahankan masjid sebab ada kejadian-kejadian ganjil, yang bisa saja karena konstrukis masjid sudah begitu tua dan lapuk, mereka terpaksa membongkarnya. 

Menurut saya, cerpen yang cukup berhasil, khususnya di akhir cerita dengan sebuah tanya: apakah yang dicari Abah di puing-puing masjid itu? Apakah ia sedang mencari kenangan pada masa lalunya, di sebuah tempat, yang hanya ia sendiri yang tahu? Apakah keris, yang jadi tema cerita, adalah hanya kiasan semata?

Persoalan ketidaktahuan inipula yang coba diceritakan oleh Zakky sebagai gaya bercerita yang cukup unik di cerpen 'Marsha', dengan dua gaya bertutur yang berlainan. Pencerita pertama mengisahkan kebingungan orang-orang menyaksikan seorang anak kecil yang menaiki Sutet, dan terjatuh serta meninggal. Pencerita kedua adalah si Marsha, yang ia tidak tahu, kenapa orang-orang ribut di bawahnya. Ia terus mendaki puncak, dan akhirnya turun, tapi jatuh dan meninggal. Tapi kesalahan di cerpen ini, ia menutupnya dengan kejadian gaya bertutur orang ketiga, dengan keadaan tahu segalanya, termasuk kehidupan selepas ia terjatuh.

Tema politik juga tidak lepas dari amatan Zakky, ia mengisahkan tentang-orang PKI yang tidak bisa pulang, dan dikiaskan lewat seorang perempuan yang senantiasa menunggu dalam 'Dewi Bulan'. Sebagaimana cerita berwatak realis lainnya, politik juga terjadi antara orang-orang biasa, seperti yang diceritakan Zakki tentang politisasi antara mereka, dua orang penjual yang saling bertukar fitnah dan dengki, dalam 'Angkringan'. Hingga akhirnya, pembeli enggan untuk keduanya.

Jika politik adalah milik penguasa dan orang-orang besar semata, maka dalam cerita ini, Zakky cukup berhasil memotret realitas yang terjadi dalam masyarakat kelas bawah, dan sekali lagi, ia seakan ingin menegaskan bahwa politik, apapun bentuknya, tidak akan pernah dipisahkan dari masyarakat. Bahkan, juga persoalan desas-desus mistis yang diciptakan oleh para pengusaha dalam cerpen 'Makam', hingga membuat orang-orang berkelahi. Juga cerita tentang 'Malam Tahun Baru' yang mengisahkan seorang sepuh yang ditipu dalam relokasi perumahan, padahal ia adalah turut memberontak pada jaman revolusi.

Mistis pula yang membuat seorang penyanyi dangdut kala mencalonkan diri menjadi wakil bupati dan pergi ke seorang dukun dalam cerpen 'Teluh'. Tapi sayangnya, ia kurang teliti dalam membuat repetisi cerita dengan hanya satu hari bercerita. Bagaimana teluh bekerja, orang-orang meminta dan calon saling bertarung hanya dalam satu cerita?

Ada juga kisah mistis tentang kematian lewat tanda kupu-kupu gelap yang datang ke rumah dalam cerpen 'Tamu', tapi sayang cerita ini begitu mudah ditebak, bahwa nanti tamu bukan saja soal kebahagiaan, tapi juga kematian. Lain halnya kala ia membicarakan hal mistis lainnya dalam cerpen bertajuk 'Sunyi', yang ini bisa jadi adalah cerita yang melatarbelakangi penunjukkan judul 'Kabar dari Kesunyian.

Ibarat sebuah kabar, ia sanggup mewartakan keinginan si penulisnya. Dan cerpen ini terbukti mampu mengendalikan emosi pembaca untuk larut pada kisah masa kecil 'Sun' dengan kenangannya yang detil: tentang ayunan masa kanak dan seorang sahabatnya--yang bisa jadi--hanya pada imajinasi belaka, seperti halnya kata Freud yang saya nukil di atas, ruang terdalam id yang kadang-kadang bisa timbul begitu saja. Ruang ketidaksadaran yang janggal, tapi begitu nyata.

Dari kelima belas cerita pendek yang ada di buku ini, hampir keseluruhan berkisah realis dengan acuan arus bawah sebagai cerita, seperti halnya cerpen Mbak Nik dan Langgar Mukadar. Kecuali satu cerpen bertajuk 'penjaga malam', yang seharusnya berpotensi menjadi cerpen yang sublim dan begitu surealistik.

Bayangkan saja, sosok yang saban hari menjaga malam dan mengatur denyut cuaca berkeliling mencari hiburan dan harus berganti dengan penjaga pagi, dan keduanya adalah sosok yang bukan manusia, bukan setan, atau bahkan bukan malaikat. Barangkali merupa bayangan, yang bisa menjadikan pembaca merasa terkaget dan mengimajikan sosok ini, tapi sayang, ia ditaburi aroma cafe dengan orang-orang membicarakan sosok Tuhan. Cerita yang terlalu dibuat-buat jika mahasiswa membicarakan hal--hal begini ditempat yang begitu riuh.
***

Buku 'Kabar dari Kesunyian' ini sebagaimana judulnya, berusaha untuk menjadi kabar dari kesunyian dan hal-hal yang tak selesai lainnya.  Saya sendiri kurang menangkap, sebenarnya apa yang dimaksudkan oleh 'kesunyian' yang coba diwartakan penulis, ataukah kesunyian itu merupa kesendirian atau bahkan kenangan.

Itu pula yang perlu ditelisik, sebab kelima belas cerita ini, tidak semua membicarakan hal muram yang kerap diwartakan sebagai sebuah kesunyian. Apalagi mau diambil berang merahnya, saya kira, pembaca paling biasa pun sukar mendefinisikannya.

Terlepas dari itu, dengan umur yang masih sangat muda, Zakky Zulhazmi mampu bercerita dengan begitu lancar, dan kalau saja tidak terburu-buru menyelesaikan cerita, akan jadi sebuah kisah yang--jika ia menginginknkan--menjadi jalinan kesunyian yang diinginkan, maka ia harus lebih mengesplorasi ruang terdalam, yang kerap tidak terucap, dan menjadi kekuatan kesunyian, seperti halnya kisah-kisah yang diterakan Guy De Mapaussant, misalnya, atau cerpenis serupa Puthut EA Apalagi dengan luasnya ragam tema yang dibahasnya.

Kekuatan bercerita yang cukup bagus tadi akan menjadi lebih istimewa jika Zakky Zulhazmi mampu mengelupas ruang batin terdalam manusia, yang menjadi kabar dari masa lalu, tempat bersemayam kenangan dan kesunyian. Sesuatu yang belum bisa dipenuhinya lewat kumpulan cerpen ini. Begitu. 

@Dedik Priyanto

PS: Saya mengenal penulisnya begitu dekat, tapi berhubung saya harus berkata apa adanya, terhadap resepsi karyanya, maka beginilah adanya.

Minggu, 17 November 2013

Taman Kesedihan

Langit petang menaungi taman itu,  bekas alun-alun tua yang bersejarah namun tak terawat, sampah-sampah mengendap di sekitar tanah yang masih basah karena hujan yang senantiasa datang, sangat jarang pula kendaraan lewat di sekitar situ, hanya ada beberapa orang saja lewat, bahkan nyaris tak ada lagi pertokoan, rumah-rumah makan yang ramai kala makan siang atau pengamen yang mengais receh di jalanan.

Di taman itu pula aku duduk, mengarahkan mataku ke sekitar yang tampak seperti seorang tua yang diusir dari rumah dan pergi ke panti jompo, entah kenapa aku merasa begitu dekat dengan semua yang ada di sini.

Aku berjalan ke taman ini selepas membaca sebuah artikel di internet tentang sebuah kota yang penuh dengan kesedihan, tempat orang-orang datang untuk kembali menyapa luka. Kota yang akhirnya, oleh pemerintah daerah setempat ditujukan untuk mereka yang ditinggalkan keluarganya karena kematian.

Sebuah kota haruslah membuat orang berbahagia, dengan hidup modern yang serba ada dan lampu neon yang senantiasa terang sepanjang malam, atau riang jalanan dengan musik dan  tatapan manja mereka yang berpasangan. Tapi di kota ini, sore tak ubahnya tengah malam, sepi.

Di taman ini pula, pada Desember ketujuh puluh tiga, kita akan berjumpa.   

#JejakDesember

Sabtu, 16 November 2013

#5BukudalamHidupku: Candu Humor dari Mahbub Djunaidi

Saya orang yang begitu mudah terprovokasi, khususnya pelbagai bacaan bermutu,  yang terkadang, harus saya curi dari ragam perbincangan orang-orang. Dari situ pula, saya mulai jatuh cinta pada sosok ini; Mahbub Djunaidi.

Siapakah Mahbub Djunaidi, dengan tambahan 'Haji' di depannya?

Jika saudara aktivis pergerakan, atau minimal pernah berada di lingkungan organisasi kepemudaan atau sekurang-kurangnya memiliki latar belakang jurnalisme, pasti saudara akan mengenalnya. Lebih-lebih jika suka mengoleksi tulisan-tulisan lawas yang bernas, tentunya nama ini tidaklah asing.

Saya mengenalnya pertama kali lewat novel 'Dari Hari ke Hari' yang berkisah tentang revolusi Indonesia, khususnya kala Agresi Militer Belanda pada tahun 1945-1949 dalam kaca pandang seorang bocah. Ia bercerita dengan begitu detil, alamiah dan begitu lucu. Tak heran, akhirnya novel ini menyabet novel DKJ pertama pada tahun 1984.

Jika puncak filsafat adalah komedi yang berbalut komedi (tragikomedi) maka saya bisa katakan, novel ini begitu berhasil mengangkat revolusi dengan canda yang begitu komikal, penuh dengan ironi, kaya akan metafora, dan tentu saja tragedi. Tapi, melebihi segalanya, inilah gerbang mula untuk lebih mengenal karya-karya beliau, khususnya humor yang begitu penuh di esai-esainya.

Maka, seperti halnya provokasi lainnya, saya pun terpantik untuk mencari karya-karya lainnya, semisal Kolom Demi Kolom, Humor Jurnalistik, Binatangisme (terjemahan dari George Orwell Animal Farm), Angin Musim, Di Bawah Gurun Sinai (terjemahan) dan lain sebagainya. Ia pula yang menerjemahkan buku legendaris 100 orang paling berpengaruh di dunia karya Hart.

Tapi sayangnya, dari kesemuanya, saya masih belum menemukan terjemahannya atas Animal Farm George Orwell, padahal novel ini adalah salah satu novel yang begitu saya sukai. Juga konon Mahbub menulis sebuah buku tipis tentang liputan perang di Bosnia.

Jika masih tidak percaya, silakan baca sendiri karya-karya Mahbub Djunaidi. Saya tidak ikut provokasi, tapi coba menunjukkan bukti bahwa saat ini kepala saya masih terus terngiang humornya. Saya butuh obat sakit kepala atau minimal buku-buku Mahbub lainnya--yang belum saya punya tentunya.

Apakah saya akan bercerita tentang hal lucu itu? Tidak.

Silakan cari sendiri, misalkan, dengan mengunjungi laman ini, atau sila baca novel 'Dari Hari ke Hari'  atau tulisan-tulisan lainnya. Beberapa kawan menyebut Mahbub Djunaidi sebagai pendekar humor, atau yang paling bagus: penulis sableng.

Sungguh saya tidak ingin memprovokasi.

@Dedik Priyanto

PS: #HariKelima, hari terakhir mudik ke blog sendiri.

Jumat, 15 November 2013

#5BukudalamHidupku: Orang-orang yang Merindu

~ Pram, Bumi Manusia dan karya-karya lainnya

Sebut saja kami orang-orang yang merindu. Orang-orang yang tidak pernah bertemu langsung dengan sosokmu yang entah; merupa bayangan yang hanya kami temukan di lembaran-lembaran lusuh yang saling berganti tangan.

Itulah kami, generasi yang tak pernah mendengar suaramu yang konon selalu keras jika berbicara itu.

Kami tumbuh dengan rapuh, selalu memandang masa depan seolah dunia yang retak dan merasa tiap waktu berjalan pada lorong yang senyap penuh rerimbun. Tak ada cahaya yang datang seperti sebuah pagi yang membangunkan lelaki muda dengan teriknya, yang ada hanyalah alarm denngan lengkingnya bergegas menyuruh kami terkesiap mengejar dunia yang entah.

Lalu muncul televisi yang merenggut kesadaran kami atas dunia sekitar, menculik jiwa kami dari permainan kelereng di sekitar atau rebutan suara dengan azan yang menyentak kala magrib tiba. Juga ponsel dan pelbagai kaca yang enggan berbagi dan mematikan senarai cakap yang sedari kecil kami genggam.

Kami tumbuh dengan luka yang tak pernah kami sadari; tentang suramnya masa lalu yang dibiarkan menjalar begitu saja menjadi kebenaran tunggal. Perihal pembunuhan-pembunuhan yang kami terima sebagai sebuah heroisme yang diajarkan sejak masa kanak, dan  pembangunan-pembangunan fisik yang kami terima sebagai bagian dari dunia modern.

Selebihnya, tak ada yang sanggup membuat kami begitu gigih memertahankan ego yang kian rudin, sedikit ringkih, terkadang bengal dan begitu keras kepala terhadap sekitar. Seakan semuanya mengabur dan tak ada ruang tersisa atau semacam residu yang entah kapan kami akan menggenggamnya.

Kemudian muncul orang-orang itu.

Orang-orang yang mengjarkan kami untuk mengenalmu, pribadi-pribadi yang dikirimkan semesta untuk mengingatkan akan sosokmu.

Kini, bagi kami, hidup bukan sekadar beranak-anak pinak lalu mati bergumul tanah, atau bekerja dan bergumul dengan rutinitas yang entah.

Kami melihat hidup tidak hanya tanah retak yang terpaksa kami huni atau masa depan suram yang berusaha kami capai dengan segala pengetahuan.

Tak ada masa tanpa ada gejolak. Tak ada sejarah tanpa darah. Tak ada pekik perubahan tanpa ada leher yang tercekik. Dan kemanusiaan hanya menjadi bumbu masak bagi mereka yang gemar memeram masa lalu dengan culas. Kesadaran merupa bait suci yang tunduk pada keadaan.

Kami akan selalu menjadi generasi yang rapuh jika tak mengenalmu melalui lembar-lembar lusuh itu.

Kami akan melangkah ke lorong senyap tanpa jika tak bercakap tentang perlawanan yang telah kau lemparkan itu.

Kami adalah orang-orang itu, orang-orang yang merindu akan sosokmu kembali hadir menjadi nyala bagi bara api kami yang terus meredup.

Dan sampai kini, titahmu adalah cambuk bagi kami. Bumi manusia adalah tempat kau ingatkan kami, dan selamanya kami, orang-orang yang datang jauh dari generasimu ini, akan terus mengenangmu dan karangan-karanganmu itu yang membangkitkan generasi kami yang kian hari bertambah layu.

Kau adalah kakek kami, yang menyapa dengan buku pertama kali, yang mengajarkan akan arti memahami bangsa sendiri.

Kami merindukanmu, dan akan selalu ingat petuahmu di Bumi Manusia ini."Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan."

@Dedik Priyanto

PS: Hari keempat #5BukudalamHidupku, kembali ke blog pribadi, sebuah gerakan menarik dari kawan-kawan di linimasa. 

Kamis, 14 November 2013

#5BukuDalamHidupku: Eka, Cantik itu Luka dan Perjumpaan Lainnya

Entah kenapa saya harus menyukai sosok ini, perempuan yang terlahir dengan paras memesona, cantik yang tak terkira dan wafat, serta bangkit lagi selepas 25 tahun dikuburkan. Begitulah Eka membuka cerita dengan racun yang ganas, persis seperti Gregor Samsa dalam Metamorphosis Kafka, tapi ini lebih berasa Indonesia: mistis.

Darimana pertama kali saya mendengar nama Eka Kurniawan? Saya lupa. Barangkali dari letupan suara dengan Bang Makki, seorang abang penggemar garis keras bacaan bermutu yang pernah saya temui, atau dari internet, saya benar-benar lupa.

Terlepas dari kelupaan saya itu, harus saya akui Cantik Itu Luka Eka Kurniawan ini, menurut saya, masih karya sastra terbaik Indonesia kontemporer. (Belakangan, saya menemukan yang hampir-hampir mirip, sebagai karya sastra terbaik kita, yakni Murjangkung, kumpulan cerpen AS Laksana)

Novel ini mengisahkan tentang kehidupan ibu-anak yang memiliki paras cantik. Dewi Ayu, Sang Ibu, dan ketiga anaknya, Alamanda, Adinda, Maya Dewi, memiliki bentuk fisik yang memukau, berkat keturunan Belanda dan atau Jepang yang mereka miliki, juga tentang Rengganis dan pelbagai kisah panjang tentang cinta dan sejarah di sebuah kota bernama Halimunda.

Jika saudara pernah membaca One Hundred Years of Solitude dari Gabriel Garcia Marquez, dan menemukan ada sebuah kota imajiner bernama Macondo, maka Eka dengan lihai meniru gaya ini dengan sebuah kota bernama Halimunda, sebuah kota yang sebenarnya  tidak pernah ada, tapi membangun dirinya sendiri dalam otak pembaca, minimal saya.

Saya pun pernah menjuluki daerah sekitar kontrakan saya di Semanggi II, sebagai bagian dari Halimunda. Dan saya sendiri, di otak saya yang dungu ini, begitu percaya bahwa sosok Kamerad Kliwon, seorang aktivis gerakan kiri yang terbunuh dalam cerita Eka Kurniawan itu merupakan sosok yang nyata, yang barangkali suatu hari nanti akan datang ke Semanggi II lengkap dengan topi kabaretnya, dan mengetuk pintu dan selanjutnya, kami berbincang tentang banyak hal--padahal ia sudah meninggal--termasuk gerakan politik yang membuatnya gagal dan terbunuh.

Sekali lagi, entah kenapa, saya harus menyukai novel ini, hingga akhirnya saya pun mencari karya-karya Eka Kurniawan lainnya. Beruntung pula, saya memiliki kawan penggila Eka Kurniawan seperti Zakky Zulhazmi, Arlian Buana, Asep Sopyan, Ahmad Makki dan lainnya yang setia memberikan informasi perihal Eka, terkadang tanpa diminta.

Dan hingga kini, saya selalu mengikuti perkembangannya dan sempat bersedih hati,  ketika tidak lagi berinteraksi dengannya via twitter ataupun facebook--dua hal yang sudah ditinggalkannya dua tahun belakangan. Tapi itu terobati, dengan laman ekakurniawan.com yang menjadi bacaan wajib, mirip sembahyang, jika sekali saja tidak melakukannya, maka dosa besar akan menghantam otak saya, seketika itu pula.

***

Eka Kurniawan, saya dan Cantik Itu Luka adalah sebuah perjumpaan kata-kata. Saya mengenalnya melebihi saya mengenal kekasih saya yang lama. Kekasih yang membuat saya kecewa, dan lebih-lebih terhadap diri saya sendiri.

Tapi Eka dan Cantik Itu luka tidak pernah membuat saya kecewa, dan sebagai seorang yang jatuh cinta dengan karyanya, maka saya pun terus mencari tentang karya apa yang bakal dibuatnya nanti, sembari terus berharap seperti halnya kisah cinta tak sampai, seperti Melatie dan Manio, kisah  cinta yang dingin dan dungu di Cinta Tak Ada Mati, cerpen panjang Eka Kurniawan, yang termaktub dalam buku Sepuluh Kisah Cinta yang Mencurigakan bareng Puthut EA dkk.

Perjumpaan pertama kali secara fisik--dan saya yakin Eka Lupa ini--adalah kala saya turut bersama di konser #KoinSastra, disebuah pagelaran di Bentara Budaya Jakarta untuk penyelamatan PDS HB Jassin. Saya diberi amanah untuh berada di desk belakang konser, sembari menyiapkan artis atau  talent lain sebelum masuk panggung.

Pada saat giliran Eka Kurniawan akan naik ke panggung, saya pun diminta untuk mencarinya, dan saya yang hanya berbekal pengetahuan potret di internet perihal sosoknya, harus mencari dan bertemu sosok yang, menurut sahabat karibnya Puthut EA, adalah seorang dengan tubuh rapuh,  Sedikit angin malam saja menyentuh dua-tiga minggu ia akan terkapar, dengan matanya yang seperti bocah kehilangan mainan senapan,sementara di luar dar-der-dor, kawan-kawannya yang lain saling menembak. Tapi cerita tidak berhenti di situ.

Kawan saya bernama Chandra, yang diberi tugas menjadi pengait antara panggung utama dan belakang panggung begitu gusar dan tampak marah-marah, sebab saya yang diberi tugas mencari, malah duduk-duduk dan ngobrol dengan seorang berkacamat, kurus dan tampak seperti orang belum makan berapa hari tersebut.

"Woi, mana Eka! Cari dong!" Teriaknya sembari menendang-nendang kaki saya.

Saya melirik Eka, ia hanya tersenyum. Dan kawan-kawan yang lain di sana pada terkekeh. Kawan saya ini tidak tahu, Eka berada di samping saya dan kita sedang ngobrol. Ia mungkin berpikir, Eka yang begitu terkenal di antara kami ini, adalah orang yang gagah perkasa, atau ganteng luar biasa. Bukan. Eka sosok yang biasa, yang jika orang melihat matanya, akan melihat sedih tak terkira

Selanjutnya, Eka adalah tetap sebuah misteri dan penjaga kata-kata. Dan seperti pengakuannya di  On/Off yang saya tulis ulang, ia sudah menyapih dirinya sendiri dari penulis-penulis dunia yang telah mengasuh dirinya dengan karya-karya hebat dirinya, dan dengan cara inilah, dengan karya-karya hebatnya, kelak ia akan menemukan ajalnya.

***

Eka Kurniawan dan saya sama-sama tinggal di Ciputat, sebuah kota kecil di pinggiran Jakarta yang begitu berisik dan bising, tapi begitu cantik, serta penuh dengan kekuatan imajinasi, sebab di kota inilah Jakarta ditopang oleh para pendatang yang saban pagi merayap menuju pusat, dan ketika malam tiba, ke kota ini pula orang-orang berpulang.

Cantik itu Luka adalah jalan saya untuk lebih lanjut mengenal karya-karya lain di sastra Indonesia yang bermutu, dan saya akan selalu, akan senantiasa terus menerus,  menempatkannya dalam standar estetis bagaimana karya sastra itu dibuat--walaupun saya sendiri masih belum bisa menulisnya. Tapi sebagai pembaca, saya akan terus membuatnya sebagai perbandingan dalam menilai sebuah novel Indonesia.

Segala yang ada di dunia ini menipu, persis seperti cerita Eka. Bahkan kecantikan, terkadang begitu miris dan tanpa segan-segan membuat tangis. Eka telah berhasil mencekoki otak saya dengan karya yang begitu  bagus--dan ditulis oleh orang Indonesia--sesuatu yang belakangan sukar ditemui.

Belakanggan juga, konon Eka akan merampungkan cerita panjangnya yang bertajuk, entah ini benar atau tidak, berkisah tentang masuknya islam ke nusantara. Saya menunggu sejarah ditafsir ulang dengan apik olehnya, seperti halnya peristiwa kelam 65 dan sejarah lainnya dalam Cantik Itu Luka. Bukan merayakan desak tangis korban seperti halnya novel belakangan. Tapi membuatnya begitu satire dan menyayat, seperti seorang yang menikmati perutnya ditusuk pisau karatan dengan perlahan, saya bersedia mati dengan cara demikian.

Jika nanti Eka gagal atau minimal belum bisa menandingi anaknya bernama Cantik itu  luka, maka otak saya siap-siap harus berhamburan keluar, bersedih tanpa seucap kata. Tapi seperti halnya cinta, ia tetaplah menerima, dan saya akan tetap mencintai karya Eka selanjutnya seperti halnya saya mencintai Cantik Itu Luka.

Tebet, 11 November 2013
@Dedik Priyanto

PS: Ini hari ketiga #BukuDalamHidupku, perjalanan masih di pertengahan, kembali ke blog pribadi.

Selasa, 12 November 2013

#5BukuDalamHidupku: Orang-orang Tortilla

Saya sarankan kepada saudara sekalian, jangan pernah membaca buku ini jika tidak, dan saudara bisa pilih sendiri jawabannya. Pertama, bisa gila. Kedua, orang lain yang gila karena kelakuanmu.

Gila pertama adalah gila yang, membuat saudara, menjadi orang yang terkekeh sendirian, terjungkal-jungkal dihajar tawa, dan pada level yang akut, saudara akan dibuang, dilempar botol sebab berisik tanpa berkesudahan. Beruntung jika di samping saudara tidak ada anak kecil, yang kemudian kabur dan melaporkan ke orang tuanya. Sekonyong-konyong kemudian, sebuah mobil putih akan datang dan menciduk saudara sebab dianggap gila betul dan selayaknya dimasukkan ke rumah sakit jiwa.

Gila kedua adalah, orang-orang yang saudara provokasi untuk membaca kisah gila di dalamnya, dan akan mengalami gila pertama.

Buku ini, yang membuat orang-orang menjadi gila adalah Tortilla Flat dari John Steinbeck, dan saya membacanya lewat terjemahan yang begitu biadab dari Djoko Lelono, seorang sepuh yang patut diberi label orang yang gila pertama sebab mampu menafsirkan kebiadaban Steinbeck pada tingkatan yang lebih serius lagi dari gila pertama dan kedua: sableng.

Baiklah, saya tidak akan bicara tentang gila lagi. Sebab jika saudara pernah membaca novel ini, maka pasti mengerti maksud saya, bahwa cerita orang-orang di dataran Monterrey ini hingga detik ini terus menghantui.

Bahkan, beberapa kali itu saya mencari jejak orang-orang Tortilla yang diceritakan oleh Steinbeck itu dengan kawan-kawan yang berada di lingkaran saya. Misalkan, kawan A saya yang memiliki rumah, maka saya akan menyebutnya Danny. Yang memiliki hati lembut, penyayang binatang maka sepatutnya saya panggil nama Bajak Laut, dan bagi yang agak dungu, bertubuh gempal, tapi baik hati maka Joe Portugis adalah namanya. Yang agak filosofis, mirip filsuf yang gagal dan akhirnya mencari harta karun entah akhirnya bernama Pilon.

Semuanya, bahkan saya sendiri, acapkali dianggap sebagai Joe Portugis oleh kawan-kawan lain, juga seorang yang menyia-nyiakan perempuan yang telah menyiapkan anggur pada sebuah malam. Tapi lebih memilih anggur daripada perempuan. Entah, dosa apalagi yang harus saya terima selepas membaca Tortilla Flat. 

Saya beruntung berada di lingkungan orang-orang yang gemar bercakap tentang apa saja, biasanya ada saja yang menyentil soal bacaan, dan tentu saja dengan kehidupan yang begitu biadab, mirip seperti kehidupan orang-orang Torelli di lembah Monterrey.

“Novel yang menginspirasi Ronggeng Paruh adalah Dataran Tortilla. Karya Steinbeck,” seloroh Si Celurit Emas, D. Zawawi Imron, ketika kami berdiskusi di Pojok Gus Dur beberapa bulan lalu.

Seketika itu pula saya terdiam, dan menoleh ke arah Abah, seorang kawan yang sekarang menjadi wartawan di sebuah portal.

Sejenak mata kami bertaut, seolah ingin berteriak bersama,”Brengsek Steinbeck!”

Saya sendiri membaca buku ini entah berapa kali, dan mata saya begitu tertohok dengan percakapan Pilon dan Pablo di hutan perihal  hujan dan air yang turun saat itu. Mereka berdebat soal bagaimana air hujan yang turun. Ada yang berkata bahwa  jika turun berupa permata. Maka, tentu mereka akan kaya, dan banyak uang untuk dibawa ke Torelli guna dibelikan anggur.

Namun, akhirnya mereka sepakat bahwa air hujan yang turun malam itu alangkah lebih indah jika berupa anggur. Tentu anggur Torelli.  Karena dengan itu,  mereka akan lebih bisa menikmati tiap jengkal, tiap waktu untuk menikmati anggur.

Imajinasi ini, bagi saya, begitu gila, jenaka dan candu.

Anggur Torelli, yang menjadi barang paling berharga bagi orang-orang Torelli,  begitu merasuki otak saya, dan kerap mengusik alam bawah sadar saya. Bahkan sampai sekarang saya masih terus mencari tempat ini di Ciputat, atau di daerah-daerah lain di negara ini. 

Jika saudara tahu, ajaklah saya.

Bahkan saya yakin, jika pun Tuhan tahu, ia pasti sekarang sedang berada di Torelli, atau sekadar menggoda si nyonya belibis, atau paling tidak ia akan   

Begitulah, selepas baca ini, saya begitu bernafsu untuk mencari karya Steinbeck yang lain, dan juga mencari novel asli. Beberapa kali saya mencari di toko buku konvensional tidak ketemu.

Pernah suatu tempo menemukannya tergeletak di antara buku terjemahan  lainnya, tapi malang tak bisa ditolak, saat itu isi dompet saya hanya setengah dari harga yang tertera di buku tersebut. Dalam hati saya mengumpat, namun juga bahagia.

Gembira karena saya akan mendapatkan buku asli tersebut. Bukan fotocopy, begitu pikir saya. Dan menunjukkan pada mereka yang sering meremehkan para sivitas tukang copy ini.

Sebulan selepas peristiwa itu, saya mengumpat kembali sembari mendengar dinginnya seorang kasir berkata lirih,”Sudah tidak ada, Mas. Stok habis kayaknya. “

Sontak, saya kecewa untuk kembali. Saya pun mencari di toko-toko buku langganan. Tapi hasilnya sama; nihil. Dan sampai sekarang saya hanya mempunyai versi fotocopy. Entah bagaimana tawasul saya nanti, seperti kebiasaan saya waktu dulu saat ngaji, yang harus melafalkan doa kepada mereka yang berjasa atas keberadaan buku ini di muka bumi.

Konon, buku ini dianggap hadiah terbesar bagi penduduk Amerika selepas luluh lantak akibat perang tak berkesudahan, dan perekonomian yang ambruk selepas perang dunia pertama. Terlepas dari itu, buku ini menyelematkan kegilaan saya tentang humor sebagai bagian satir dalam bacaan.Orang-orang Paisano di lembah Monterrey ini mampu memberikan gelak tawa dan obat sejenak di antara deru tangisan.

Sastra, atau buku lainnya, bukan hanya persoalan serius dan patut untuk dirayakan sebagai sebuah kesedihan semata. Sedih yang berbalut jenaka tentunya lebih menyakitkan, dan model begini yang ditawarkan oleh Steinbeck melalui kisah orang-orang Tortilla. Ibarat racun, saya rela senantiasa meneguknya dan mati berkali-kali sebab tawa.

Maka, ketika saya ditanya banyak orang tentang sebuah novel yang patut ditempatkan di tempat utama dalam perpustakaan. Jawaban saya bulat, Tortilla Flat karya John Steinbeck.

Saudara juga sepakat, bukan?

Hujan

Kita adalah
airmata yang, jatuh
depan jendela

(2013)

#5BukuDalamHidupku: Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta

Apa  buku yang kau lakukan jika kau adalah seorang mahasiswa, dengan tekad  bertahan hidup di perantauan  dan  menemukan sebuah buku yang mirip-mirip dengan hidupmu? Apalagi jika kau adalah seorang yang aktif di pergerakan, forum studi dan dikutuk untuk selalu berurusan dengan teks, selebaran dan media di kampusmu, apa yang akan kau lakukan?

Tentunya jika bertemu buku tersebut, banyak orang yang mengepalkan tangan sembari berujar: Eureka!

Dan barangkali pula, akan berteriak sekencang-kencangnya, berlari sejauh-jauhnya dan tertawa sehabis-habisnya. Tapi berbeda halnya dengan saya, ketika menemukan buku bertajuk ‘Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta’ ini, badan saya tiba-tiba lemas, dan gelisah merupa kentut yang tak tertahankan untuk segera dilepaskan.

Saya bertanya, apakah hidup saya ini, dengan pilihan-pilihan dan keadaan model begini, merupakan pilihan yang sesuai: menjadi seorang dengan kebanggaan yang maha biasa,  menyebut dirinya adalah penulis, apalagi tokoh yang saya baca di buku ini hidup begitu menderita, dan berakhir dengan sedih tak ada ujung; ditipu penerbitan, tidak bisa makan, terusir dari kampus dengan status DO, dan akhirnya meninggal dunia sebelum jadi apa-apa.

Sebegitukah bengis kehidupan, di sebuah kota yang konon begitu menghargai pengetahuan dan kata-kata: Yogyakarta.  

Buku ini berhasil memengaruhi hidup saya sampai detik ini—dan entah sampai kapan akan terus membuat teror di otak saya tentang kehidupan ringkih di jalur kepenulisan, kalau tidak mau dibilang membius saya melalui narasi yang dibangun. Di buku ini pula, saya lupa untuk melihat sebuah novel dari segi estetik yang mendukung sebuah karya sastra bisa disebut bagus, atau minimal dari ulasan, percakapan maupun resensi yang menuntut saya untuk bersegera mencari dan malahapnya.

Proses saya menemukannya pun harus dengan curi baca. Berawal dari kawan saya yang—entah meminjam darimana—membawa buku ini dan dibacanya di teras depan kontrakan, dan saya hanya bisa sesekali mencuri lihat. Lalu  cara yang misterius pula,  kawan saya ini tiba-tiba ke kamar dan meletakkan sembarangan buku itu samping televisi.

Sontak saja, saya langsung membacanya dan agak mmenjauh dari kontrakan.

Tatkala kawan saya bangun dan mencari buku ini, saya enggan untuk memberi tahu, bahkan pernah terbersit di otak saya untuk sengaja mencurinya. Belakangan ia tahu, saya hanya berdalih, buku itu saya baca dan lupa. Tapi entah kenapa, sampai sekarang, saya ingin mencuri buku itu. Walaupun saya tahu, kalau pun saya merajuk dan meminta pasti dikasih, tapi sekali lagi, saya ingin mencurinya. Itu saja.  Tidak salah, bukan?

Selain soal isi dan cerita yang mirip-mirip obat bius itu kala saya baca, saya jatuh cinta dengan perwajahan muka novel ini. Jika kover buku itu boleh diambil sebagai istri saya, maka seketika itu pula saya akan mengajak orang tua saya untuk mendatangi rumah kover itu dan melamarnya.

Bayangkan, kovernya saja begitu buluk, tapi menyentak; seorang lelaki yang tampak sedang mengayuh sepeda onthel dan dibelakangnya terdapat buku-buku. Sublim, pikirku. 

Novel ini berkisah perihal kehidupan sunyi yang harus dialami ketika orang memutuskan untuk menjadi seorang penulis dan meninggalkan dunia kuliah. Orang yang begitu mencintai dunia menulis dan buku hingga ia menukarkan hidup dan nyawanya hanya untuk membaca.

Tak hanya itu, buku ini juga mengulik dunia penerbitan Jogja yang riuh oleh penerbitan. Lengkap dengan pelbagai tipu daya dan unsur humor tentang dunia yang konon mencerdaskan manusia ini. Buku ini ditulis dengan apik oleh Muhidin M. Dahlan, yang belakangan selain penulis produktif, juga membuat gerakan arsip dan suara digital dengan @radiobuku.

Satu hal lagi, buku ini merekam jejak Jogja sebagai kota buku, gerakan dan juga cinta. Juga memotret perdebatan masa  2000-an perihal debat buku terjemahan yang memantik sengit antara kubu penulis/penerjemah asal Jogja dan Jakarta yang acapkali sok pintar itu.

Namun, sayang sekali, beberapa bulan lalu saya menemukan buku ini diterbitkan ulang dengan perwajahan yang begitu mengecewakan dan diberi tajuk yang sangat buruk dan layak segera dimasukkan dalam daftar buku, yang jangan dibaca sebab judulnya unyu: Jalan Sunyi Seorang Penulis.

Ah, saya sungguh tidak simpati.

Jika Gus Muh, begitu ia disapa, membaca catatan sederhana ini, tolong kembalikan cinta saya kepada sosok pria ringkih berambut gondrong yang berada dalam ‘Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta' ini, Tolong!

@Dedik Priyanto

PS: Hari pertama, untuk #5BukuDalamHidupku yang diinisiasi @irwanbajang dkk di twitter, mudik ke blog pribadi. Entah kenapa, otak saya langsung teringat buku ini. Gambar diambil di sini

Kamis, 07 November 2013

Jakarta

: Perempuan yang berdiri di dekat halte itu  

Pada mata yang lelah
bising
dan perjumpaan
yang kau peras dari darahku, dan
tercipta
miliaran cangkir
kopi Starbucks itu

tak ada jalan manis, dan
kerlip riang
kotamu

(2013)



Senin, 04 November 2013

Seno dan Kutipan di Dinding Facebook

"Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa." ~ Menjadi Tua di Jakarta- Seno Gumira Ajidarma

Saya pertama kali membaca kutipan itu dari dinding facebook penulis cum aktivis Puthut EA, seketika itu pula saya tercekat dan beberapa kali berpikir, untuk apa kita hidup di kota, lengkap dengan pelbagai kebisingan dan semrawut tanpa ada kesudahan?

Lalu saya teringat beberapa tahun silam, beberapa jam selepas kelulusan, tepuk tangan dengan ragam keriangan, dan ucapan selamat tanpa henti seperti udara yang saban hari dihirup, saya bertekad untuk keluar dari daerah saya di Jawa Timur dan bertekad menjadi perantau. Menjadi perantau dengan kesungguhan yang begitu menggebu untuk menjadi diri sendiri, menemukan pribadi sendiri, menelisik pelbagai kemungkinan yang, barangkali, akan terjadi.

Datang ke sebuah kota yang bagi orang desa seperti saya seperti membayangkan masuk ke kehidupan yang lain, yang tidak mungkin terbayang sebelumnya seperti seorang pengembala tersesat ke hutan dan pasir yang tak bertuan, lalu segera menemukan kegagapan sepanjang jalan dalam kisah The Alchemist Paul Coelho.

Kota adalah imajinasi banyak orang, dan memberikan harapan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Saya dan barangkali semua orang yang datang ke kota seolah memenuhi ruang janji yang tidak akan sanggup berdiri sendiri, tanpa mampu ada seseorang yang pergi menanggalkan keinginannya hanya untuk satu kalimat paling puitis yang mereka impikan: kehidupan yang lebih baik.

Lalu gerbang dunia pendidikan, pintu dunia kerja dan kesempatan mencari jejak-jejak penghidupan seakan menebarkan pelbagai harap, yang banyak orang tak mampu memenuhi janji.

Banyak pula yang meradang dengan ribuan umpatan, lalu kalah, dan pulang.

Kesempatan menjadi bagian kota dengan janji riang dengan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya diterjang dengan pelbagai risiko: bising, sakit, macet, gaji yang minim dan hidup seperti robot.

Dalam kehidupan kota yang serba berisik dan tidak menentu ini, kutipan Seno di dinding facebook itu kembali membuat saya bertanya, sampai kapan saya bertahan di kota Jakarta?

@DedikPriyanto

PS: saya belum pernah baca cerpen Seno yang itu, jika ada kalian yang punya, mohon saya dikasih tahu link atau bukunya, biar saya beli atau fotokopy

Sabtu, 26 Oktober 2013

Kepenyairan Ebiet G. Ade

Oleh: Sutardji Calzoum Bachri

Bagaimana kualitas kepenyairan Ebie G. Ade?

Kepenyairan seseorang ditentukan oleh sajak-sajaknya sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Bukan yang dilagukan atau dimusikalisasikan, sebab bsia saja sebuah sajak hanya lumayan, tapi karena musikalisasinya yang cemerlang menyebabkan apresiator puisi yang awam terkecoh dan beranggapan puisinya sama hebat dengan musikalisasinya.

Sama halnya juga, penyair yang sajak-sajaknya hanya kaliber lumayan tetapi punya kemampuan membaca saja yang luar biasa, berkat vokal atau kemampuan teatrikal bantuan musik, bisa menyebabkan penonton yang awam menganggap puisi itu sangat baik. Sebagai contoh pembacaan sajak Emha Ainun Najib tempo hari di Taman Ismail Marzuki. Berkat pertolongan musik gamelan, sementara para penonton yang awam mengaggap sajak-sajak Emha bermutu sekali. Padahal tidak sama sekali.

Jadi, yang paling tepat untuk menilai sajak ialah dengna memandang sajak itu dengan sejumlah kata, baris dan baitnya sebagai sesuatu yang mandiri, yang tidak ditopang oleh sesuatu di luar sajak itu seperti musikalisasinya, pernyataan-pernyataan atau statemen penyair tersebut.

Dari album Camelia I sampai dengan Camelia IV, Ebiet menyuguhukan tema-tema religius seperti sajak "Dia Lelaki Ilham dari Sorga","Hidup I","Hidup II",Hidup III", dan "Hidup IV", juga tentang cinta seperti sajak "Seberkas Cinta yang Sirna","Untukmu kekasih","Senandung Jatuh Cinta", dan tentu saja sajak-sajak Camelia I sampai dengan Camelia IV.

Tentang simpatinya pada derita manusia dan orang-orang kecil tampak pada sajak "Berita Pada Kawan","Dosa Siapa Ini Dosa Siapa","Nasihat Pengemis untuk Istrinya"," dan "Doa untuk Hari Esok Mereka". Kemudian tentang kerinduan Ebiet pada kehidupan desa serta tentang dirinya yang tengah terombang-ambing antara kehidupan desa dan kota, bisa kita lihat pada sajak "Pesta","Jakarta II","dan Cita-cita Kecil Si Anak Desa".

Oh rentangkan tanganMu
bersama datang malam
agar dapat kurebahkan kepala
pada bulan di lenganMu

    (sajak "Hidup II")

Usaha untuk berindah-indah dengan bahasa, berhias-hias dengan ucapan tak jarang terasa menjurus kepada semacam romantisme ala Pujangga Baru--suatu hal yagn hampir tak pernah ditemukan pada sajak-sajak para penyair Indonesia terbaik masa kini.

Memang tidak semua sajak Ebiet sarat dengan elusan romantis, bahkan sebagian yang lain tidak demikian. Bahasanya lebih spontan dan wajar, puisinya lebih sederhana dan segar. Namun menulis kata-kata dalam puisi secara spontan atau dengan gaya 'langsung begitu saja' bukan tidak mengandung risiko apabila tanpa seleksi kreatif.

Pada penyair yang berbakat dan berpengalaman seleksi kreatif ini beroperasi secara tidak sadar. Sang penyair tersebut bisa merasa dirinya menyair begitu saja, spontan, padahal sebenarnya menkanisme selektif memang sifatnya kreatif yang bekerja di bawah sadar untuk memilihkan kata-kata apa yang tepat keluar pada penanya.

Dari sajak-sajaknya yang terbaikj saya melihat Ebiet sebenarnya mempunyai bakat menjadi penyair. Tapi pengalaman kepenyairan, teknikalitas menyairnya masih kurang. Jika pengalaman ini sudah ada padanya, tentu sajaknya cukup wajar dan tidak kedodoran dengan gindu kata-kata seperti pada "Berita pada Kawan" akan menjadi lebih baik. "Berita pada Kawan" dan sajak "Sajak Pendek I.R" adalah beberapa dari sajak Ebiet yang terbaik.

Dalam sajak-sajaknya yang terbaik dan itu, kelemahan Ebiet terletak dalam kekurangmampuannya menguasai teknik persajakan, memilih kata-kata, komposisi, dan juga bait. Kelemahan teknik inilah yang menyebabkan kenapa sajak-sajaknya yang terbaik dan jumlahnya tidak banyak itu menjadi kurang berhasil dibandingkan puisi puisi para penyair Indonesia yang berkualitas sperti terdapat dalam majalah sastra Horison, misalnya.

Sedangkan pada sajak-sajak Ebiet yang jelek--jumlahnya sangat banyak--kelemahan disebabkan oleh visi dan persepsi terhadap hidup belum lagi personal. Ebiet belum menemukan sesuatu yang unik, dan punya ciri khas.

Sajak-sajak Ebit masih klise-klise. Kita lihat saja misalnya pada sajak "Dua Menit ini Misteri'.

dalam keranda hitam
tubuhmu membujur
ada misteri yang tak pernah terungkap
alis matanya terjal menyimpan rahasia
adalah waktu akan mampu mengurai
kematian ini memisahkan kita
selamat jalan


Persepsi penyair terhadap kematian seperti sajak di atas terlalu umum dan klise. Penyair yagn benar-benar berbobot akan menukik dalam menghayati misteri, tidak hanya sekadar menyebut misteri kata-kata umum yang klise, bahwa kematian memisahkan kita.

Setiap penyair yang sudah jadi dan matang pasti punya cara sendiri dan ucapan yang khas untuk memperkuat dan menukikkan dalam-dalam akan hakikat misteri kehidupan.

Dalam "Nyanyian Ombak", "Camelia II", "Cinta di Kerea Biru Malam","Senandung Jatuh Cinta," "Camelia III" Camelia IV" Sepucuk Surat Cinta","Camelia III" kita dihadirkan pada sang aku penyair sebagai remaja yang bercinta dengan ketulusan, kepolosan, kesetiaan, serta keremajaannya "Cinta sesaat" yang bergelimang dosa (baca: Cinta di Kereta Biru Malam) cinta yagn telah menjadi obsesi (Camelia  II dan "Mimpi Parang Tritis"), usaha merenungkan hakikat cintanya (Sepucuk Surat Cinta).

Ungkapan-ungkapan yang segar dan menarik juga terdapat pada: Sisi Ladangku/Tak lagi subur/untuk tumbuhkan cinta kasihmu. Yang terdapat pada sajak "Nyanyian Ombak", atau selimut biru yang kau ulurkan padaku/kini basah bersimbah peluh kita berdua, dan beberapa lainnya lagi yang menunjukkan kepada saya bahwa Ebiet punya potensi untuk menjadi seorang penyair yang baik. Walaupun sajak-sajak Ebiet belum sekuat puisi-puisi atau lirik-lirik terbaik John Lennon atau yang dinyanyikan Bob Bylan dan John Denver, namun sajak "Hidup III"-nya Ebiet boleh kita ketengahkan

sekarang
aku tengah tengadah ke langit
berjalan di atas bintang-bintang
bersembunyi
dari bayang-bayangku sendiri
yang sengaja kutinggal di atas bukit
Barangkali tanganMu tak akan lagi
mengejarku
untuk merenggut segenap hidupku
aku yang sembunyi di bawah kulitku sendiri
kapan lagi
aku mampu berdiri
lihatlah kedua belah tanganku
yang kini tampak mulai gemetaran
sebab,
ada yang tak seimbang
anara hasrat dan beban
atau karena jiwaku yang kini mulai rapuh
gampang diguncangkan angin
lihatlah bilik di balik jantungku
denyutnya tak rapi lagi
seperti akan segera berhenti
kemudian
sepi dan mati


Majalah Intan, 4-17 Januari 1989

Post Scriptum: esai Sutardji Calzoum Bachri ini saya tulis ulang melalui buku Isyarat: Kumpulan Esai Sutardji Colzoum Bachri (IndonesiaTera, 2007) di halaman 400-405.

Minggu, 13 Oktober 2013

Risalah Lima Babak Film Catatan Si Boy (Bag. II)

Jika dalam tulisan pertama catatan sederhana ini, saya  melihat adanya keterpukauan terhadap orde baru  sebagai sebuah negara dan pembangunan ala Soeharto sebagai ide, maka pertanyaannya, apakah film ini juga akan terjebak dengan keterpukauan yang serupa?

Ketiga

Sebagai sebuah ide, modernisme dan pembangunanisme ala Orde Baru begitu tampak, maka di film ketiga yang tetap diproduseri oleh Nasri Cheppy, ini juga tetap menunjukkan gejala serupa dengan barat sebagai basis kemajuan dan peradaban.

Adegan di film yang meluncur ke pasaran tahun 1989 ini pun dimulai oleh dialog antara Vera dan Boy perihal rencana ke Los Angeles, Amerika. "Sekolah disana lebih bagus," ujar Vera seraya merajuk kepada Boy.

Begitu halnya dengan kawan-kawannya yang lain; Kendi, Emon dan lain-lain juga bersifat serupa. Bahkan, Emon (diperankan Didi Petet) menunjukkan kekaguman yang uar biasa terhadap Amerika.

Ia bahkan merajuk dan enggan untuk kuliah di Indonesia lagi dan bakal menuju Los Angeles. Jika tidak—dengan gaya yang bagi saya mengejek—akan berjualan bensin, bikin warteg dan segala kerjaan kaki lima lain jika keinginannya tidak terkabulkan. "Biar papa tengsin," ujarnya.

Pada mulanya saya agak terkejut dengan dialog begini, tapi lambat laun saya mulai menyadari keadaan. Apalagi dengan mendudukkan film ini dalam konteks sebelum 90-an, serta keluarga Emon yang begitu kaya, tentu

Tapi hal ini semakin meneguhkan idiom umum bahwa, lemiskinan adalah aib bagi orang-orang kaya model mereka.

Baiklah, kita kembali sejenak untuk melihat film edisi ketiga ini. Selepas Boy pergi ke L.A untuk kuliah dengan dibiayai orang tua, ia pun dijemput dengan limosin keluarganya dan menyewa sebuah apartemen. Tak lama, ia pun  membeli mobil--sesuatu yang bagi mahasiswa kebanyakan yang merantau adalah kenihilan.

Di kota ini, ia bertemu dengan Sheila (Bella Esperance), perempuan blasteran Filipina dan Minang yang dikenalnya di sebuah klub malam. Dan seperti biasanya, cinta pun terjalin dengan tidak sengaja, walaupun Boy dan Vera harus berpacaran jarak jauh.

Singkat cerita, ShEila adalah pengguna obat-obatan terlarang dan Boy mendapat masalah dengan gangster disana. Konflik timbul kala Vera dan Emon berliburan kesana dan cemburu terhadap kedekatan Boy.

Nah, kepergian Vera dan Emon ke Amerika juga semakin menguatkan posisi orang-orang kaya di Indonesia yang sering pelesir ke luar negeri, khususnya Amerika. Bahkan dengan agak pongah, ia merajuk untuk segara diberikan doski (duit: bahasa slang jaman dulu). Sebagai orang kaya, itu mudah bagi orang tua Emon.

Barangkali satu hal yang cukup menarik bagi saya adalah  ketika Boy di rumah pamannya. Saya cukup terpantik dengan obrolan seorang bule pembantu paman si Boy. Ternyata ia memakai bahasa jawa halus. "Untuk mengingatkan kampung," ujarnya.Kontras dengan keadaan keluarga Vera yang--bahkan--pembantunya harus berbahasa Inggris. 

Bagi saya, film Catatan si Boy edisi ketiga ini cukup menggelitik untuk mengetahui posisi barat, khususnya Amerika dan lain-lain, keterkaitannya dengan orang-orang kaya Indonesia. 

Keempat

Apakah Indonesia bagian dari Bali?

Barangkali begitula guyon yang acapkali kita dengar perihal jawaban orang luar negeri terhadap posisi geografis kita. Tentunya, bagi orang-orang bule yang tidak tahu atau tidak membaca saja itu. Tapi, saya tidak ingin berbicara itu.

Film keempat ini berbicara tentang kepulangan Boy ke Indonesia--yang bagi saya tidak jelas maksud kepulangannya--serta bagaimana kesalnya Boy melihat kekasihnya, Vera, menjadi foto model seksi.

Bali adalah pilihan mereka untuk berpelesir menghilangkan suntuk dan dilema perasannya Boy.

Pembuka film ini dimulai dengan 'pamer' kekayaan dari Boy dengan menggunakan helikopter. Ya, sekali lagi, sebuah helikopter yang ia kendarai sendiri. Alangkah tajirnya Boy ini!

Nah, salah satu yang menarik di sini adalah bagaimana norma menjadi salah satu bagian penting dalam tubuh cerita. Walaupun sebenarnya sejak awal film Boy dicitrakan sebagai sosok pemuda kaya dan religius, serta enggan menggunakan obat-obatan terlarang dan seks bebas.

Keluarga Boy masih mengganggap diri mereka sebagai timur, sedangkan Vera sekeluarga tetap bersikukuh menunjukkan bahwa mereka telah memasuki gerbang barat yang modern dan rasional. Bahkan dalam sebuah percakapan, dengan bahasa Inggris pula, ibu Vera seakan menghardik keluarga Boy sebagai keluarga tradisional yang kolot dan enggan maju.

Di Bali, Boy bertemu dengan sosok cantik bernama Cindy (Paramitha Rusady) di sebuah butik. Akhirnya mereka berkenalan dan saling jatuh hati.

Tapi tunggu dulu, harus saya akui Paramitha Rusady begitu cantik—tolong katakan? siapa yang memasukkan kalimat model begini di paragraf ini.

Film Boy edisi empat yang rilis tahun 1990 ini, dan masih di produseri Nasry Cheppy, seakan ingin mengesplorasi kekayaan Bali dengan pelbagai keindahan alamnya. Tentu nya dengan menunjukkan kota ini sebagai ikon wisata Indonesia di mata dunia.

Saya belum bisa melacak keberhasilan film ini dalam memengaruhi wisata Bali pada tahun-tahun segitu, satu hal yang barangkali patut dicatat agaknya adalah mengembalikan posisi Boy ke Indonesia dengan dialek bahasa Indonesia yang cukup bagus. Bahkan saya sendiri agak jarang menemukan sapaan gaul atau prokem di edisi ini.

Satu hal yang masih menghantui saya adalah, bagaimana kabar study Boy? Apakah ia tidak melanjutkan sekolah di L.A, ataukah sudah lulus? Tidak ada keterangan pasti dari film  ini.

Saya menduga, film ini dibuat dengan agak terburu-buru tanpa mengedepankan korelasi sebagai sebuah film berseri. Bahkan saya tidak bertemu di percakapan atau yang lain di film ini. Buruk!

Satu hal yang tampaknya patut dicatat, film ini diakhiri dengan 'cara' film, bukan sinetron. Adegannya kira-kira begini:

Boy sedang berada adi di Bandara dan Boy hendak kembali ke Jakarta. Kemudian bertemu Vera dan terjadilah adu pandang. Vera hanya melongo dan bersandar di mobil, Cindy yang menyapu leher dan Boy yang tetap terdiam. Seolah mereka mengamini sajak Gonawan Mohamad, bersiap kecewa, bersedih tanpa kata-kata.

Saya kira, edisi kali ini menggelitik, khususnya melihat di edisi terdahulu berusaha mengeksplorasi wujud timur dan moralitas yang menjadi kekhasan negeri semacam Indonesia. Begitulah.

(Bersambung)

Gambar di ambil dari sini, sini dan sini

Baca juga: 

Risalah Lima Babak FIlm Catatan Si Boy (Bag. I)

Jumat, 11 Oktober 2013

Risalah Lima Babak Catatan Si Boy (Bag. I)

Duduk Perkara

Penghujung tahun 80-an dan awal 90-an perfilman kita diramaikan film Catatan Si Boy, yang berkat kesuksesannya, mampu melahirkan lima sekuel dengan judul yang sama. Bahkan melahirkan film atas tafsiran ini bertajuk catatan si Boy 2011 lalu. Tercatat, ada 6 film dengan menggunakan Boy sebagai pilar cerita.

Berdasarkan arsip PT Perfin, film ini berhasil meraup 313.516 penonton. Kesuksesan itu berujung pada empat film lanjutan, hingga terakhir diproduksi pada 1991 dengan 'Catatan Si Boy V'. Rata-rata setiap film Boy dapat menggaet 300-an ribu pemirsa bioskop.

Film ini sebenarnya bermula dari sandiwara Radio anak muda, yang memang, begitu terkenal pada jaman itu; Radio Prambors.

Pertama
Diproduksi pertama kali pada tahun 1988 oleh Nasri Cheppy, film ini begitu populer di kalangan anak muda, khususnya Jakarta. Satu hal yang paling mencolok di sini adalah  bertaburnya iklan, khususnya rokok dan pelbagai jenis mobil semisal BMW jenis 80an. 
Si Boy, simbol kota dan kemakmuran

Film ini dibuka dengan kegundahan Boy (Ongky Alexander) dengan catatan hariannya dan kenangan atas Nuke, gadis yang begitu dicintai dan meninggalkannya untuk pergi ke Los Angeles sebab orang tua tidak mengijinkan mereka. Lalu muncul  seorang Vera (Mariam Belina). Dari sinilah kisah ini mula berkelindan.

Seperti halnya narasi kehidupan mahasiswa, buku pesta dan cinta menjadi salah satu ciri dalam film Boy periode ini. Ditambah lagi, Boy dikiskan sebagai aktivis kampus, ketua mahasiswa dan memimpin rapat ospek, dan tentu saja digandrungi banyak mahasiswi.

Hedonisme dunia kampus juga terlihat dalam film edisi ini. Dunia kampus hanyalah selingan semata dari narasi cinta yang dibangun oleh Boy, Nuke dan Vera. Beda halnya dengan film Cintaku di Kampus Biru (1987).


Jika di film itu mengekplorasi dunia gerakan mahasiswa dan cinta yang janggal, maka tentu anda tidak akan menemukannya di film ini. Tapi, untuk dinisbahkan sebagai seorang idola dan memotret kehidupan pemuda di kota, maka film ini sudah menemukan dirinya sendiri dalam sosok Boy dan narasi kota sebagai simbol kemakmuran.

Salah satu kelebihan film ini bagi saya adalah, jika anda kangen dengan lagu Gombloh, maka anda akan menemukan dirinya sedang melantunkan lagunya dengan temaram sebuah puba. Bagi saya, ini kelebihan film ini selain potret hedonisme kota Jakarta.   

Kedua

Narator dalam sebuah film merupakan faktor penting, semacam 'aku serba tahu' dalam sebuah cerita rekaan. Tapi akan berubah menjadi buruk jika itu terus-terusan dilakukan dalam cerita, seolah mengajak pembaca/penonton berdialog.

Film kedua Catatan Si Boy (1991)ini, sayangnya, jatuh pada hal yang demikian. Bukan berusaha untuk menjalankan cerita sewajarnya, melainkan berusaha mengajak penonton untuk berbicara. Bagi saya, ini kesalahan.

Dan ia pun memulai dengan adegan pembuka: Si Boy yang bergumam tentang hidup dan juga Nuke, tapi malah berkata: Ya, daripada tidak, sambil mengajak penonton berdialog.

Di bagian ini, masih bercerita tentang hal yang sama; Boy, Andi, Emon, Nuke dan segala perniknya. Tapi kali ini yang paling kentara adalah penggunaan idion asing dalam cerita. Berbeda dengan Catatan Si Boy sebelumnya.

Cerita sederhana begini: mereka sudah masuk akhir kuliah, lalu Vera (Mariam Bellina) balik dari LA bersama seorang kawannya bernama Friska (Venna Melinda), tapi Vera tidak tahu, bahwa ia akan bertemu lagi dengan Boy tanpa diduga. Mereka pun kembali berjalan bersama.
Boy, Friska, Emon dan Kendi

Konflik pun dibangun dengan biasa; Vera cemburu dengan Vera, sebab ia, ternyata, dijodohkan oleh kawan-kawannya dengan Boy yang saat itu kembali ditinggal oleh Nuke. Konflik cinta segitiga pun terjadi dan berulang seprti pertama. Bedanya, saat ini Boy setia dengan Vera.

Nah, seperti yang saya ceritakan di awal bahwa, film ini begitu banyak mengadopsi asing sebagai bahan cerita. Termasuk cerita, seolah bahwa sesuatu yang asing itu yang maju dan berkeadaban. Terutama keluarga Vera yang ekspatriat.

Keluarga Vera yang borjuis adalah penanda keterpukauan pada asing dan menganggapnya sebagai budaya masa depan. Bahkan dalam suatu adegan, ibu Vera berkada pada Boy, bahwa pembantu mereka pun diwajibkan untuk berbahasa Inggris biar maju.

Dalam terminologi Saussure, hal ini merupakan peneguh struktual yang coba dibangun orde baru dengan kekuasaan dan kemakmuran di bawah naungan konsep pembangunan ala Soeharto. Begitulah Catatan Harian Si Boy berusaha untuk menancapkan pesannya.


@DedikPriyanto

(Bersambung)

Baca lanjutannya di sini 

Yang Retak dalam Sajak Mendendang Puan

Mendendang Puan
Aku menemukanmu dalam kegelisahan senja yang temaram

Dalam bola mata bersalahmu,
menyala riang yang remang.

Bergendak engkau pada melati layu yang dicuri putiknya.
Belalu aku pada derita mata setengah terbuka.

Aku hanya mentari pekat yang sekejap menelusurimu dalam detik-detik cumbu.
Memahami dimensi asingmu pada senja yang tiada; senja kita.
Senja yang jingga sekejap tercipta lagi untukmu.

Semesta merayakanmu, berbahagialah.
Mentari layu kan' berpulang pada hatimu, berbahagialah.

***

Konon, puisi yang baik selalu menimbulkan tanya selepas membacanya, melahirkan katarsis dan acap memberikan resah di tiap lekuk baitnya. Sebab di dalamnya selalu ada ketegangan dan ketidaknyamanan yang membuat aku lirik terkadang berdiri sendiri, tanpa ada yang lain, termasuk pembaca.

Kritikus puisi, Conrad Aiken (Damono; 1968) pernah menyatakan bahwa puisi adalah  potret manusia dengan peluh di kening, darah di tangan, siksa neraka di hati, dengan absurditasnya, dengan kejalangannya, keyakinan-keyakinannya, dan keraguan-keraguannya. Baik itu merupa muram yang menjadi ide, atau bahkan bahagia berbentuk jelaga di muara tiap kata. 

Sajak di atas menunjukkan sesuatu yang, bagi saya, mendekati penafsiran puisi dari Aiken tadi. Ada perjuangan yang begitu berat yang harus diperjuangkan aku lirik untuk kembali ke pangkuan 'Puan'.

Coba perhatikan pertemuan aku lirik berkisah tentang pertemuan yang resah--dan sengaja menjadikannya sebagai bentuk lelaku: Aku menemukanmu dalam kegelisahan senja yang temaram/Dalam bola mata bersalahmu,/menyala riang yang remang. Pada bait ini juga berusaha mengisahkan pertemuan yang bermula dari luka yang disadari. Ketegangan timbul dalam bentuknya yang absurd; kesadaran.

Biasanya, kesadaran ini membuat manusia memilih untuk pergi meninggalkan luka yang, barangkali, telah membuatnya jadi objek kesalahan. Kesalahan ini pula yang digambarkan penyair dengan gembira; riang yang remang.

Saya percaya, kesedihan harus dirayakan sebagaimana manusia merayakan kegembiraan. Sungguh tidak adil jika bahagia hanya sendirian saja. Ujungnya tentu akan semu. Sebab tak ada yang bisa berdiri sendiri, termasuk bahagia yang kerap dicari oleh manusia.

Proses menjadi semu dan tidak bahagia ini pula yang membuat yang coba diterakan dalam bait: Bergendak engkau pada melati layu yang dicuri putiknya.

Ada semacam gembira yang menyayat dan getir yang coba ditertawakan, ketika putik itu telah dicuri dan berakhir menjadi layu sebab proses perkawinan yang tidak direstui, atau bisa jadi penyair sengaja menjadikan putik yang dicuri ini sebagai antitesa keperawanan. Sesuatu yang bagi masyarakat umum masih mengganggap perawan adalah hal yang sakral sebelum perempuan pernikahan. Bergendak (bersetubuh) dengan keterpaksaan.

Dimana cahaya bagi perempuan jika keperawanan masih dianggap sesuatu yang sakral, dan mengindahkan pelbagai fakta bahwa selaput dara sebagai tanda keperawanan bukanlah sesuatu yang faktual dan tunggal?

Di sinilah penyair mencoba untuk mengisahkan aku lirik dengan dunia yang penuh absurd. Sebuah percumbuan yang begitu gamang dan sukar terlaksana: Aku hanya mentari pekat yang/sekejap menelusurimu dalam detik-detik cumbu. lalu diteruskan dengan perjumpaan yang tak pernah purna dan, bisa jadi, hanyalah sebuah khayalan...Memahami dimensi asingmu pada senja yang tiada; senja kita.

Senja yang menjadi asing, tak tentu, dan enggan menemukan kebersamaan antara dua orang yang mencumbu ini pula ditutup dengan larik yang diceritakan dengan sederhana dan riang...Senja yang jingga sekejap tercipta lagi untukmu.

Pada titik lain, sajak di atas berusaha untuk menelurkan pelbagai ketegangan antara hubungan dua manusia yang  tidak mampu bercakap dengan seksama, dan malah menjadikan percumbuan sebagai alat komunikasi.

Semesta merayakanmu, berbahagialah.
Mentari layu kan' berpulang pada hatimu, berbahagialah.

Bait di atas adalah penutup sajak ini, dan kembali lagi meneguhkan kecurigaan saya bahwa aku lirik tidak berusaha untuk menghilangkan kesedihan dan tidak ingin menggarami luka yang ada. Seakan semua selesai jika harus dikembalikan semesta.

Ketegangan yang terjadi menunjukkan bahwa cahaya pun, pada akhirnya, bisa layu dan rontok. Tergopoh-gopoh dan harus tetap berpulang dengan riang walau dengan luka yang terus menganga. Namun tetap saja, hati itu telah retak. 

lukisan karya Titis, begitu ia biasa disapa.
Begitulah kiranya, sebuah sajak yang mampu menjadi jembatan antara ketengan-ketegangan yang ada, bahkan bisa jadi optimisme dalam merayakan kesedihan. Sebab dengan kesedihan adalah titipan kehidupan yang tidak boleh ditaruh di pojok dan dibungkus dengan tangisan semata.

Catatan ini ini adalah apresiasi sederhana dari orang yang masih biasa terhadap karya dari orang yang juga masih biasa. Tapi bukan berarti karya yang dibuat orang biasa ini menjadi biasa saja. Sama sekali tidak, sebab sajak ini membuat saya terpantik untuk membuat resepsi yang sederhana.

Menulis adalah mencipta dunia dengan segala ketegangan-ketegangan yang acapkali membuat dunia rekaan itu menjadi begitu absurd. Begitulah realitas memberikan warna. Dan Karya puisi karya Titis Dewanti yang bertajuk 'Mendendang Puan', membuat saya dengan jujur harus berkata: saya terpesona dalam tiap kalimatnya.

@DedikPriyanto


Post Scriptum: Di sajak yang saya ambil dari blog yang bersangkutan ini juga disertakan lukisan karya penulisnya, Nastiti Dewanti, yang saya kenal belakangan di Kelas Menulis Surah. Bisa jadi, suatu saat nanti, saya akan menulis khusus tentang sketsa yang bakal menghiasai edisi 4 majalah sastra Surah yang saya turut di dalamnya. 

Rabu, 09 Oktober 2013

Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta

Oleh: Seno Gumira Ajidarma

Pada sebuah telepon umum, seorang wanita berbicara dengan wajah gelisah.

“Katakanlah sekali lagi, kamu cinta padaku.”

Mendengar kalimat itu, orang yang mengantre di belakangnya memberengut, sambil melihat arlojinya. Pengalaman menunjukkan, orang tidak bias berbicara tentang cinta kurang dari 15 menit. Namun, sungguh terlalu kalau wanita itu masih juga bertanya tentang cinta setelah 30 menit. Apalagi sudah ada beberapa orang berdatangan ke telepon umum itu, sambil sengaja mengecrek-gecrekkan koin di tangannya.

“Kamu benar-benar cinta padaku? Sampai kapan?”

Orang-orang mendengar kalimat itu dengan jelas. Wanita yang menelepon dengan wajah gelisah itu memang terlihat berusaha menahan suaranya, tapi rupanya perasaannya berteriak lebih keras. Menjadi tidak penting lagi baginya, apakah orang-orang itu mendengar atau tidak. Mereka toh tidak tahu siapa dirinya. Di kota besar seperti ini, kita tidak selalu bertemu orang yang sama di jalanan. Begitu juga di telepon umum.

“Kamu gombal, kamu juga mengatakan hal yang sama pada pacar-pacarmu.”

Wanita itu melirik kea rah orang-orang yang menunggu, kemudian melihat arlojinya, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa ia bukan tidak tahu tentang waktu yang dihabiskannya. Tapi, kemudian ia menyembunyikan wajahnya ke dalam kotak kuning, berbicara pelan-pelan dan tersendat-sendat. Barangkali lelaki di seberang sana itu memberikan jawaban yang kurang berkenan.

“Aku cuma salah satu di antara mereka, aku cuma salah satu dari wanita-wanita itu, aku tidak ada artinya bagimu.”

Wajah wanita yang tadi gelisah itu kini tampak menderita. Matanya penuh cinta, tapi memancarkan rasa takut kehilangan.

“Ternyata kamu bohong, kamu tidak mencintaiku,” katanya.

Para pengantre berdecak-decak gelisah. Mulut mereka memperdengarkan bunyi ‘ck’ yang sengaja dikeras-keraskan. Sebagian menggeser-geser dan menghentak-hentakkan sepatunya. Sebagian, untuk kesekian kalinya, melihat arloji. Sebagian lagi terus terang menggerutu.

“Siang-siang panas begini bicara tentang cinta, seperti tidak ada waktu lain.”

“Terlalu!”

“Sudah setengah jam.”

“Kalau pergi ke telepon umum yang di sana, sudah sampai dari tadi, tapi sekarang jadi tanggung!”

“Berapa lama lagi dia selesai?”

“Ini sudah setengah jam.”

“Paling lama sepuluh menit lagi, dia kan tahu dari tadi kita menunggu.”

“Saya cuma perlu menelepon setengah menit, penting sekali.”

“Saya juga cuma sebentar, tapi penting sekali.”

“Saya harus segera telepon, sangat penting, kalau tidak, saya bisa celaka.”

***

Kemudian, terdengar suara wanita itu, yang tanpa disadarinya sudah menjadi jauh lebih keras.

“Kamu ini bagaimana, sih? Kamu tahu kan aku sayang padamu, aku selalu kangen padamu. Aku cinta sekali padamu, kamu jangan begitu, dong!”

Wanita itu sudah memasukkan koin lagi, dua sekaligus. Artinya percakapan masih akan berlangsung, setidaknya 12 menit lagi. Kalau setelah itu masih juga bicara, sungguh-sungguh keterlaluan, karena pengantre yang paling dekat dengannya sudah menunggu selama 42 menit. Sebagian orang yang datang belakangan sudah pergi. Mereka bisa memperkirakan waktu yang lama melihat banyaknya para penunggu. Namun, yang sudah terlanjur menunggu lama agaknya merasa rugi jika pergi. Mereka masih menunggu dengan wajah yang disabar-sabarkan.

“Aku ingin yakin bahwa kamu memang cinta padaku. Aku harus yakin kamu memang cinta, kamu memang sayang, kamu memang selalu memikirkan aku. Apakah kamu selalu memikirkan aku? Katakan padaku kamu cinta, cinta, cinta…”

Apakah yang dikatakan lelaku di telepon sebelah sana? Wanita yang menelepon dengan wajah gelisah itu kini untuk pertama kalinya tersenyum. Pasti yang disebut cinta itu ajaib sekali, karena bisa menelusuri kabel telepon dan mengubah wajah seorang wanita yang gelisah jadi bahagia. Menjadi cantik, dan menyegarkan, meski di siang panas terik yang melelehkan aspal jalanan.

Mata wanita itu berbinar-binar, bagaikan mata kanak-kanak di sebuah dunia fantasi.

Pemandangan ini agak melegakan para pengantri. Pasangan yang bercinta di telepon biasa memutuskan percakapan mereka pada saat-saat terbaik. Mata wanita itu menunjukkan kebahagiaan. Pada saat seperti itu ia bisa berpisah di telepon dengan senang, dengan perasaan seolah-olah dunia sudah menjadi miliknya. Tinggal sebentar lagi, pikir orang-orang yang menunggu itu, sambil lagi-lagi melihat arlojinya.

“Satu koin lagi, ya? Ngomong cinta lagi, dong.”

Meluncur satu koin lagi. Berarti enam menit lagi. Orang-orang mengerutkan dahi. Alangkah memabukkannya cinta yang bergelora itu. Tapi, sudahlah, enam menit bukan waktu yang lama.

“Kamu masih akan mencintaiku kalau aku sudah tua?”

“Kamu masih akan mencintaiku, meskipun ada seorang wanita cantik merayumu?”

“Benarkah cuma aku seorang di dunia ini yang ada di dalam hatimu?”

“Masih cintakah kamu pada istrimu?”

***

Semua orang menoleh. Wajah wanita itu sudah gelisah lagi.

“Masih cintakah kamu pada istrimu?”

Meluncur lagi satu koin.

“Gila! Hampir satu jam!” Seseorang berteriak dengan marah.

“He! Mbak! Ini telepon umum! Gantian, dong.”

Pengantre yang paling lama mendekatkan kepalanya ke kotak kuning, sengaja memperlihatkan dirinya di depan mata wanita itu, sambil mengetuk-ngetukkan koinnya dari luar kotak. Wanita itu berkata pada yang diteleponnya.

“Sebentar, sebentar.”

Lantas ia mendekapkan telepon itu ke dadanya, dan berkata pada pengantre yang terdekat dengannya.

“Maaf, sebentar lagi, ya, Pak? Sebentar saja.”

Kemudian, ia menolehkan kepalanya ke arah lain. Berbicara setengah berbisik, maunya, karena yang terjadi adalah ia berteriak tertahan.

“Katakan yang jelas, apakah kamu masih mencintainya?”

Angin berhembus. Mega menutupi matahari. Langit mendung.

Orang-orang yang menunggu hanya melihat wanita itu mengeluarkan tissue dari tasnya, dan mulai mengeluarkan ingus. Matanya basah.

“Kamu masih tidur dengan dia?”

Orang yang berada di dekatnya menjauh. Mencari tempat untuk duduk. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan, selain menunggu. Angin makin kencang berhembus. Daun-daun berguguran.

“Kamu kok bisa, sih? Kamu terga sekali padaku. Sebetulnya kamu tidak mencintai aku.”

Seseorang pura-pura batuk, mengingatkan, tapi wanita itu sudah tidak peduli. Ia meluncurkan satu koin lagi.

“Apa sih artinya aku buat kamu? Apa sih artinya aku?”

Wanita itu membuang tissue ke bawah, dan mengambil lagi tissue yang lain. Sambil menjepit telepon dengan kepalanya, ia mendenguskan ingusnya. Tiada yang lebih sendu selain wanita yang menangis karena cinta.

“Jadi, kamu bisa mencintai lebih dari satu orang? Kamu bisa mencintai dua orang sekaligus?”

Ia seorang wanita yang cantik, menarik, dan indah. Wajahnya gelisah dan sendu, tapi ini membuatnya semakin lama semakin indah. Apakah cinta yang membuat seorang wanita menjadi indah? Mungkinkah seorang wanita menjadi indah tanpa cinta? Apakah artinya cinta bagi seorang wanita?

“Jadi, apa artinya hubungan kita? Apa artinya?”

Debu cinta bertebaran. Suatu ketika di suatu tempat, entah kapan dan di mana, seseorang bisa begitu saja saling jatuh cinta dengan seseorang yang lain. Ah, ah, ah-lelaki macam apakah kiranya yang berada di seberang telepon itu, yang telah membuat seorang wanita yang indah menjadi gelisah?

“Apa sih artinya cinta untukmu? Coba jelaskan padaku. Apa sih artinya cinta?”

Jeglek! Tuuuuuuttt…

Koinnya habis. Hubungan pun terputus. Wanita itu tertegun. Ia merogoh dompetnya. Tak ada lagi koin di sana. Ia banting gagang telepon itu dengan kesal.

Pengantre yang sejak tadi menunggu segera menyerobot dengan setengah memaksa. Pengantri yang lain pun mendekat dengan wajah mengancam. Semua orang punya keperluan penting. Tak seorang pun peduli dengan wanita itu, yang setelah menukarkan uang kertasnya dengan setumpuk koin di kios rokok, segera ikut menunggu kembali, meskipun hujan kini turun dengan deras.

Wanita indah yang wajahnya gelisah itu tidak lari berteduh-ia tetap menunggu, sampai basah kuyup. Ia juga punya keperluan penting. Ia masih menyimpan sebuah pertanyaan untuk cinta.


Post Scriptum: Cerpen ini saya tulis ulang dari kumpulan cerpen SGA bertajuk 'Sebuah Pertanyaan untuk Cinta' (Gramedia, 1996). Cerpen ini sebelumnya di harian Kompas, 28 Maret 1993. Selain itu, cerita romantis tentang narasi cinta di tengah hiruk pikuk kota dan komunikasi urban awal 90-an ini pernah difilmkan dengan gabungan dari tiga cerpen bersama Putu Wijaya, dibuat oleh Enison Sinaro.

Minggu, 06 Oktober 2013

Knut Hamsun dan Dua Penulis Rekaannya

Bermula dari pelbagai cakap Eka Kurniawan tentang menulis dan selalu menyebut Knut Hamsun, maka saya pun terpantik membaca novel Hunger dan Victoria. Tapi selepas membaca keduanya, saya bertanya-bertanya, kenapa Knut Hamsun begitu pesimistis akan kehidupan penulis?

Baiklah, kita akan mencoba melihatnya:

Pada novel yang pertama, Hunger (diterjemahkan menjadi Lapar oleh penerbit Obor), Knut Hamsun melukiskan seseorang yang berusaha hidup dari menulis. Ia menulis artikel, cerita dan pelbagai jenis tulisan lainnya untuk bisa bertahan hidup. Tentu dengan ragam risiko dan konsekwensi sebagai bentuk kerja.

Ia menampik segala kerjaan yang tidak ada hubungannya dengan dunia menulis, dan tahan berhari-hari dalam kelaparan yang, menurutnya, membuat perutnya senantiasa melilit, serta sanggup bergelimang kemiskinan tiap detiknya. Seolah menantang jalanan Cristiania (Sekarang Oslo, Norwegia) itu dengan kemampuannya sebagai seorang pengarang.

Ia pun menulis dan terus menulis, dimanapun dan kapanpun tanpa ada yang bisa melerai. Dan untuk segala aktivitasnya, ia harus rela menjual pelbagai barang yang melekat--dan ia miliki--untuk dijual ataupun dilego guna memenuhi hasrat purba yang ingin ia buang sejauh-jauhnya; rasa lapar. Bahkan ia pun selalu lari kala induk semangnya menagih uang sewa tinggal.

Sebegitu miskinnya si tokoh 'aku' dalam cerita ini hingga ia pun harus menjual selimut, baju dan kancing baju untuk mendapatkan beberapa krone (mata uang Norwegia) dah dibelanjakan makan ataupun lilin untuk ia bisa menulis malam hari.

Jalanan Cristiania, tempat tokoh aku ini begitu banyak gelandangan yang tersebar, dari taman-taman hingga kantor walikota. Tempat-tempat ini pula yang kerap dipakai penulis kala lari dari pelbagai tagihan induk semangnya dan ruang berkreasi tempat sekitar sebagai inspirasi tulisannya.

Sosok ini juga digambarkan begitu murung dan mudah iba kepada orang-orang yang sejenisnya; yang tidak punya makanan, tidak punya tempat tinggal, tidak punya harapan. Bahkan ia pun beberapa kali memberikan uangnya--walaupun ia sendiri kerap tidak punya--kepada kaum ini. Tapi ia juga berwatak keras, dan keras kepala, bahkan cenderung kasar. Satu hal yang patut dicatat adalah, tokoh ini juga teguh pada pendirian dan pemalu.

Kisah hidupnya begitu buruk, atau jika enggan dikatakan sangat suram dan nyaris tanpa masa depan yang jelas. Beberapa tulisannya memang berhasil menembus koran dan dipuji redaktur, hingga ia dapat uang 10 krone sebagai imbalan. Tapi hal itu tidak bertahan lama, ia dicampakkan redaktur.

Bukan karena tulisannya buruk, tapi lebih pada sifatnya yang acap pongah. Bayangkan, ia selalu dan selalu mengirim tulisannya yang terkadang kacau ke rekdatur, dan selalu datang ke tempat mereka, serta membuat para redaktur ini marah. Ujungnya, tokoh ini dihempaskan begitu saja dan tulisan-tulisannya ditolak.

Tentu akibatnya sudah bisa ditebak, hidupnya akan kacau. Ia pun pernah masuk penjara, dan untuk memudahkan dan untuk mendapatkan makan gratis, ia mengaku sebagai wartawan di Morning Times. Sekali dua, ia pun pernah mengibuli pelayan restoran untuk bisa mendapatkan roti.

Karirnya yang amburabul ini berbanding lurus dengan kehidupan cintanya. Ia gagal menjalin cinta dengan seseorang yang ia sebut 'nona'. Perempuan yang telah memberikan genggaman tangannya di suatu malam--dan ia terus menerus memikirkannya sepanjang hayat. Tapi, kembali lagi, kehidupannya dari menulis takkan mampu bertahan, apalagi untuk hubungan yang serius, dan perempuan itu mengerti betul. Bahkan ia mengiriminya beberapa krone untuk ia bertahan hidup.

Namun si tokoh aku ini merasa tersinggung dan enggan menerimanya. Bahkan ia pun meniadakan kesempatan terakhir menjadi penulis setelah ia tidak menyelesaikan tugasnya untuk membuat naskah drama. Tamatlah riwayatnya, dan ia diusir dari kontrakan.

Di akhir cerita ia meningalkan dunia menulis dan melamar sebagai seorang kelasi pada sebuah perahu untuk berlayar ke Eropa.

Lalu, mari kita simak di novel kedua: Victoria.

Ada seorang penulis puisi bernama Johannes, putra dari pemiliki pabrik kecil yang memproduksi jagung, dan kesalahannya jatuh hati pada anak juragan kastil bernama Victoria. Keduanya terpisah karena status ekonomi dan keluarga yang tidak mengijinkan.

Bedanya dengan sosok penulis di Hunger, Knut Hamsun melukiskan Johannes sebagai penulis yang cukup sukses. Bahakan mampu membuatnya dipanggil pihak kastil untuk makan malam selepas buku-buku terbitannya ramai diperbincangkan.

Kisah cinta keduanya pun bermula dari sini, dari Johannes yang suka menulis puisi dan dibaca banyak orang, termasuk Victoria. Tapi semuanya soalah purna, kesuksesannya berbanding terbalik, ia tetaplah dianggap sebagai anak orang biasa dan tidak sederajat dengan Victoria.

Bahasa di novel ini juga liris, hal ini menunjukkan tingkat kehidupan penulis yang digambarkan Knut Hamsun yang memang seorang penyair, dan negara tempatnya, berbeda dengan Cristiania, yang tampaknya tidak begitu menghargai dunia menulis. Ia pun segera terjerambab pada kesedihan yang tak terkira.

Harusnya, dengan segala popularitas yang dimiliki, ia mampu menggaet Victoria. Tapi apa lacur, ia harus menerima undangan pernikahan Victoria dengan seorang letnan pilihan dari keluarga perempuan, keluarga yang bangsawan.

Cintanya pun pupus, dan kehidupan penulis itu hancur. Ia tidak tahu berbuat apa, dan terus berkarya yang diperbincagkan orang, tapi hidupnya tidak, ia tidak pernah mengerti karya-karyanya seolah bukan ia yang menulis. Bahkan ia akhirnya berhenti. 

Di akhir cerita, ia harus menerima sebuah surat panjang yang salah satu isinya begini;

Johannes, Sayang!

Ketika kau baca surat ini aku tentu sudah mati. Segala sesuatunya kini tampak begitu ganjil; aku tak merasa malu lagi untuk menulis surat padamu, dan aku menuliskannya seolah-olah tak ada sesuatu kejadian yang pernah menghalangiku untuk berkirim surat padamu. Sebelumnya, ketikak diri ini masih benar-benar hidup, lebih kupilih menderita siang dan malam daripada berkirim surat denganmu; namun kini mulai sekarat...
......
......
Selama berbaring di sini aku harus memikirkan kata-kata terakhir yang kuucapkan padamu. Kata-kata yang kuucapkan di hutan itu pada suatu malam. Tak terlintas di benakku itu akan menjadi kata-kata terakhir
.....
.....
Johannes sayang, sungguh aneh memikirkan bahwa semua yang berusaha kulakukan adalah hadir ke dunia dan mencintaimu dan kini melambaikan tangan selamat tinggal pada kehidupan
...
Kini tak ada lagi kekuatan yang tersisa dalam diriku untuk menulis. Selamat tinggal, Kekasiku.

Begitulah akhir cerita muram seorang penulis di Victoria yang dikisahkan Knut Hamsun ini; menyedihkan.

Lalu, untuk menjawab pertanyaan saya di atas tadi, kenapa Knut Hamsun begitu pesimistis dengan dunia rekaan seorang penulis yang dibangunnya itu? Saya belum bisa menjawabnya.

Satu hal yang pasti, dua kehidupan penulis menurut Knut Hamsun ini akan terus abadi, seperti halnya tulisan-tulisannya, sebab dunia menulis dan orangnya selalu akan jatuh pada dua hal di atas; karyanya ditolak seperti halnya kehidupan penulis yang pertama atau karyanya diterima khalayak seperti halnya Johannes.

Dan tulisanmu nanti--jika memutuskan untuk menulis--apakah jadi manusia yang pertama atau kedua? Sila jawab sendiri.

Bintaro, 7 Okt

@DedikPriyanto


Gambar pertama di diambil dari sini dan dari sini

Jumat, 04 Oktober 2013

Soe Hok Gie, Semacam Obituari

Oktober 1968,  Soe Hok Gie pergi ke Honolulu.  Ia ingin menjadi turis dan sejenak berpikir untuk meninggalkan semuanya, melepaskan segala kepenatan dan berniat menjadi seorang turis semata. Lalu ia melihat dataran Fiji dan Sidney yang luas itu.Ia tergelak, otaknya mampat, pikirannya meracau. Tiba-tiba ia merasa begitu sedih, sentimentil.

Soe pergi menuju kawan karibnya, Daniel-Lev, dan mendengarkannya berucap lirih. Ia ingin berkeluh perrihal otaknya yang tak bisa sejenak pun untuk beristirahat dari gelisah yang entah ia sendiri tidak bisa memahami. Bayangan perihal karut-marutnya negeri membuatnya tak berhenti.

“Soe, kau adalah seorang pemikir. Orang-orang seperti itu selalu menanyakan tentang nilai-nilai dalam masyarakat. Mereka tidak pernah akan bahagia, dan tak akan pernah puas. Terimalah kenyataan ini.”

Soe,

Saya baru baca penutup tulisanmu yang bertajuk ‘Awal dan Akhir’ di harian Sinar Harapan (7 April 1969). Sebuah pertanyaan muncul di benak saya, apakah benar seorang pemikir itu tidak bisa bahagia? Lalu, apa yang kamu—dan orang-orang sepertimu cari?

Saya tidak bisa mendefinisikan apa itu kebahagiaan. Absurd. Tidak adanya kriteria mendasar perihal bahagia ini merupa lembah belukar yang terkadang tak bisa dilalui. Namun semua pasti sepakat, ada yang mampu untuk sekadar membelah belukar itu dan menjadikannya sebuah taman yang asri penuh bunga dan—konon—itulah kebahagiaan.

Seorang pemikir bukanlah mereka yang bekerja hanya dengan pikiran semata, berkehendak dengan otak dan bertutur laiknya nabi yang memberikan petuah. Toh, nabi saya kira bukanlah seorang pemikir. Ia adalah pewarta yang menjadi jembatan antara manusia, dan  Tuhan kepada manusia.

Kita bisa berdebat panjang soal itu.

Tapi, seorang pemikir sering diasosiasikan sebagai orang yang murung, berjalan dengan ringkih dan berkacamata tebal, serta tak akan pernah lekang dari buku. Atau jika menemukannya ia termenung, ia akan terus berdiam dan enggan untuk sekadar disapa.

Pun kalau ia berbicara, orang-orang akan siap diberi amanah untuk menjadi kawan bercakap yang entah kapan akan berakhir dengan kesepaktan dan kesepahaman.  Sebab argumentasi yang ndakik dan mungkin serba awang-awang akan tersaji. Beruntung jika kawan bicara ini mempu mengimbangi. Berita buruk jika ia tidak sanggup, maka alamat sengsara.

Seorang pemikir, sepertimu, biasanya adalah orang yang hidupnya tidak bahagia, seperti kata Daniel Lev. Orang yang tidak pernah bisa berhenti memikirkan segala hal, tak akan usai untuk mengejar harapan, dan tak pernah lekang menimbang segala perbedaan. Itulah sikap atau semacam sembahyang yang dilakukan orang model dirimu.

Konon, seorang pemikir itu makanannya adalah segala yang berbau kericuhan, persoalan bangsa yang tak pernah tuntas. Itu adalah asupan gizi dari makanan saban hari yang harus ia terima seperti halnya Daniel Shilton yang harus terima mendapatkan gol dari Maradona—walaupun itu menggunakan tangan. Hidup bagi mereka adalah sebuah takdir magis yang harus dilalui.

Orang biasa kerap berkilah, bahagia itu sederhana. Misalnya, dengan mendapatkan keluarga yang hidup dengan berkecukupan atau tiba-tiba datang segepok dirham tanpa diduga. Toh, kebahagiaan memiliki bilang makna yang tak terkira.

Tapi bagi mereka yang suka berpikir tak akan pernah selesai dengan sederhana. Ia akan berhenti jika hidup ini berhenti berdenyut. Kamu telah meninggal, memang. Tapi, tidakkah kamu mengerti, bahwa hidup ini akan terus berputar.

Soe,

Saya tahu, sekarang ini di dunia kamu saat ini, kamu pasti tidak bisa berhenti berpikir, memikirkan negaramu saat ini yang tambah kacau dan tak menentu; harga-harga yang kian tak terjangkau, pongah para pejabat yang kian tak masuk akal, serta rintih masyarakat yang begitu memekakan telinga.

Umur kita bertaut hampir 60 tahun. Tapi keadaaan saat itu saya yakin hampir serupa dengan jamanku saat ini. Reformasi ’98 tidak memberikan keamanan dan kenyamanan dalam hal ekonomi bagi masyarakat bawah. Tentu saja hal itu serupa saat kalian turun ke jalan memaksa diturunkannya harga-harga pada tahun ’66.

Apakah kamu bahagia di alam sana?

Saya tidak yakin. Tapi mungkin kamu akan sedikit lebih beruntung. Kamu bisa langsung bercakap dengan pelbagai orang yang tidak bahagia sepertimu. Saya membayangkan dirimu tiap pagi membaca koran dan berdiskusi dengan pemikir lintas generasimu seperti Gus Dur, Yap Thiam Thien, Romo Mangunwijaya, Pramoedya Ananta Toer, WS Rendra dan mungkin juga dengan Mbah Surip.

Oh ya, Soe. Apakah kamu sudah berbaikan dengan Bung Karno? Saya yakin, kamu malah mengajaknya untuk berdebat. Tapi sejurus kemudian saling cekikian bersama.

Pastinya, sekarang ini Bung Karno tidak akan meledekmu gara-gara setelan safari yang kedodoran kala kamu seperti saat bertandang ke istana negara tempo itu.

Saya tidak bermaksud untuk menulis surat kepadamu, seperti halnya orang-orang yang  menuliskan surat kepada orang yang dikaguminya. Sebenarnya saya tidak terlalu mengagumimu selepas tahu bahwa dirmu adalah eksponen GMSos/PSi dan walaupun—akhirnya—kamu menyadari dan keluar sebab perjuangan mereka adalah lip service semata.

Tapi, apakah kamu sekarang bahagia? Saya tidak bisa menebaknya.

Jakarta, 20 April
@Dedik Priyanto