Kamis, 23 Oktober 2014

Surat Cinta untuk Ajo Kawir yang Burungnya Enggan Berdiri

Belakangan ini kita melihat orang-orang menulis surat terbuka, baik yang dicintai maupun yang ia benci. Tapi, saya tidak ingin menyebar kebencian. Saya hanya ingin menulis surat untukmu, Ajo Kawir. Kau mungkin diciptakan dari tawa—yang mungkin kau anggap sebagai hinaan dan beban dalam rentang hidupmu. Percayalah, banyak yang hidup dengan rasa malu yang dahsyat dan membuat kebohongan-kebohongan untuk menutupinya. Tapi, bukankah kebohongan yang diciptakan terus-terus menerus akan menjadi sebuah kebenaran? Atau yang lebih busuk lagi, kebohongan yang diceritakan dengan bagus akan tampak sebagai kebenaran pula?

Baiklah. Namaku Dedik Priyanto, orang biasa saja, sama sepertimu. Kau mungkin tidak mengenalku, dan seperti halnya orang-orang yang kukenal baik lainnya, misalnya Florentino Ariza—tahukah kau bahwa ia menunggu kekasihnya selama 53 tahun, 7 bulan dan 8 hari, sama sepertimu yang harus menunggu begitu lama untuk burungmu berdiri lagi, dan kembali melihat Iteung, kekasihmu itu.  Saya juga mengenal Pilon, seorang filsuf di tengah kejenakaaan Danny dan kawan-kawannya di lembah Monterrey, atau barangkali saudara tuamu, Margio, orang biasa aja yang enggan dianggap membunuh dan menyalahkan harimau di tubuhnya. Mereka kukenal dengan baik, sama sepertimu.

Mungkin kita bisa bersahabat dengan baik, Ajo Kawir, dan tentu sangat hangat. Orang-orang biasanya menyebut kata ‘lawan’ untuk seorang yang diajak bicara, tapi aku ingin menyebutmu seorang kawan. Kawan bicara. Dan laiknya seorang kawan, saya akan berbicara apa saja—walaupun nanti dianggap ngawur dan tidak penting. Kau tentu menyadari, biasanya hal-hal yang tidak penting tidak layak untuk dibicarakan, bukan? Tapi, melihat kisah hidupmu yang diambil orang-orang yang tidak penting, pinggiran dan nyaris dilupakan, kukira, surat ini juga patut kau baca. Kau bisa menggantungkannya di sisi busmu atau dilipat dan ditaruh dompet—tentu ini permintaan bodoh sebab di dompetmu sudah ada foto Iteung, yang kau simpan ke manapun kau pergi.

Ajo Kawir yang baik,

Saya mengenalmu terlebih dahulu melalui dunia yang dibangun dalam cerita panjang bertajuk ‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’. Maaf, ternyata bukan kali itu pertama saya mengenalmu. Saya pernah membacanya di sebuah cerpen yang dibuat oleh Eka Kurniawan. Saya menunggu karya ini begitu lama. Tapi, saya penasaran, bagaimana membuka dari ketiganya. 

Sore hari di akhir pekan bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian. Seorang bocah gembala dibuat terbangun dari tidur siang di bawah pohon kamboja, kencing di celana pendeknya sebelum melolong, dan keempat dombanya lari di antara batu dan kayu nisan tanpa arah bagaikan seekor macan dilemparkan ke tengah mereka. Semuanya berawal dari kegaduhan di kuburan tua, dengan nisan tanpa nama dan rumput setinggi lutut, tapi semua orang mengenalnya sebagai kuburan Dewi Ayu. Ia mati pada umur lima puluh dua tahun, hidup lagi setelah dua puluh satu tahun mati, dan kini hingga seterusnya tak ada orang yang tahu bagaimana menghitung umurnya. 

(Cantik itu Luka)

Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya, ditemani aroma asin yang terbang di antara batang kelapa, dan bunyi falseto laut, dan badai jinak merangkak di antara ganggang, dadap, dan semak lantana. Kolamnya menggenang di tengah perkebunan cokelat, yang meranggas kurang rawat, buah-buanya kering dan kurus tak lagi terbedakan dengan rawit, hanya berguna bagi pabrik tempe yang merampok daunnya setiap petang. Di tengah perkebunan, mengalir sungai kecil penuh dengan ikan gabus dan belut, dikelilingi rawa yang menampung tumpahan arus kala banjir. Orang-orang datang, selang berapa lama selepas perkebunan dinyatakan bangkrut tumbang, untuk memberi patok-patok dan menanam padi di rawa-rawa itu, mengusir eceng gondok dan rimba raya kangkung. Kyai Jahro datang bersama mereka, menanam padi untuk satu musim, terlalu banyak minta diurus dan menggerogoti waktu. Kyai Jahro yang bahkan tak mengenal apa makna bintang waluku mengganti padi dengan kacang yang lebih tangguh, tak minta banyak urus, namun dua karung kacang tanah di musim panen tak alang membuatnya bertanya-tanya, dengan cara apa ia mesti memamahnya. Demikianlah petak tersebut berakhir menjadi kolam, dilemparkan ke sana benih mujair dan nila, dan jadi kesenangannya untuk memberi pakan setiap senja, melihat mulut mereka cuap-cuap di permukaan air menggenang.

(Lelaki Harimau)

Hanya orang yang enggak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati,” kata Iwan Angsa perihal Ajo Kawir. Ia satu ari beberapa orang yang mengetahui kemaluan Ajo Kawir tak bisa berdiri. Ia pernah melihat kemaluan itu, seperti anak burung baru menetas, meringkuk kelaparan dan kedinginan. Kadang-kadang bisa memanjang, terutama di pagi hari ketika pemiliknya terbangun dari tidur, penuh dengan air kencing, tapi tetap tak bisa berdiri. Tak bisa mengeras. 

(Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas)

Apa yang membedakan?

Cerita yang bagus biasanya membuka dengan memikat, dan kau telah memperkenalkan pembukaan kepada kami. Tapi, ada satu hal yang sangat mengganjalku; kenapa kau langsung menutup itu dengan tanda jeda, seolah ini kerangkeng. Apakah kau berusaha memisahkan dan menjadikan scene patah laiknya menonton sebuah film?

Quentine Tarantino membuat hal serupa di film Pulp Fiction, pasangan kekasih yang bercakap-cakap untuk merampok sebuah kedai kopi, percakapan tentang layak atau tidaknya merampok ditempat seperti itu—biasanya merampok di bar, atau bank. Ini teknik pembocoran cerita yang lazim sebenarnya. Marquez melakukan hal itu, Aureliano Buendina berhadapan dengan senapan-senapan di regu tembak. Tapi, kalau kita lihat. Kau memakai pembocoran di tengah cerita, seperti 100 tahun kesunyian. Cantik Itu Luka pembuka konvensional, menyentak dan tampak terpengaruh gaya klasik Kafka dalam metamorfosa di pembukanya, atau Lelaki Harimau yang memakai alur mundur; awal adalah akhir dari cerita. Sedangkan di Seperti Dendam, awal adalah pembocoran tengah cerita. Seperti tengah cerita

Tapi, lagi-lagi, Eka menabrak itu dengan menggunakan kerangkeng sebagai jeda baca. Membuatmu menjadi cerita yang berbeda.

Tentu saja, dengan pola seperti ini, plot akan terbangun dengan tidak biasa. Ada banyak subplot di dalam cerita ini. Misalnya, bagaimana kehidupan Iteung yang ternyata mendapat perlakukan senonoh dari guru sekolah, atau si Mono Ompong yang malu pada keluarga karena naksir seorang pelacur dan lain  sebagainya. Dan sekali lagi mengingatkan saya pada adegan Pulp Fiction, dimana tiap adegan berlangsung pendek dan dibagi-bagi pada adegan-adegan terpisah. Seolah memasuki ruang yang besar dan mempunyai pintu-pintu kecil yang saling bertautan. Orang akan bebas untuk duduk dan termangu di pintu saja, tapi tetap ia akan tertarik memasuki pintu-pintu selanjutnya.

Ajo Kawir yang baik,

Saya membayangkan penciptamu telah bercakap-cakap dengan Sigmund Freud. Seorang tua dari Wina. Ia dengan tongkat tuanya berjalan-jalan menuju rumah Eka, cakap tentang trauma masa kecil. Tiga tesis utama; Id, Ego Superego. Id adalah ruang masa kecil dan traumatik dari tokoh-tokohnya; Ajo Kawir, Iteung, Mono Ompong. Sedangkan Ego adalah Realitas yang terjadi dan senantiasa jadi ruang pertarungan psikologis mereka; Ajo Kawir yang enggak mau mengecewakan orang yang dicinta, Iteung yang mencari orang biasa saja yang ia cinta—tapi ia akhirnya kalah oleh keinginan dan hasrat seksual hingga bercinta dengan Budi Baik, sesuatu yang kelak membuat retak rumah tangganya. Lain halnya adalah Superego, ruang ideal, yang harusnya ia inginkan; Ajo Kawir ingin burungnya berdiri dan hidup laiknya pemuda lainnya, dan hidup bahagia dengan Iteung.

Di perjalanan hidupnya, Ajo kawir mempu mendamaikan antara Id, Ego dan Superego dala dirinya. Misalnya, ketika di akhir, saat ia lebih memilih diam dan tidak berkelahi lagi. Padahal, ia sudah didesak oleh Jelita untuk membantu Mono Ompong. Tapi, kalau ia melakukan hal serupa seperti jaman muda, ia tidak akan melakukan kesalahan serupa. Apalai, saat ia membunuh macan, ia terdorong oleh rasa marah akibat tahu istrinya selingkuh.  Begitulah, ruang tarik menarik menjadi demikian menarik di novel ini sepanjang cerita

Ajo Kawir yang baik

Salah satu hal menarik di novel ini adalah kekuatan bercerita. Dibanding dua novel penciptamu sebelumnya, di sini adalah ruang eksplorasi bahasa. Misalnya. … nyamuk berdengung. Nyamuk dan gerimis… (hal.23) Selain itu, ada narrator novel ini, saya menenemukan ketidakjelasan (hal.32, 144, 155) lalu, perubahan dan suara-suara lain (hal, 97,100, 144,155). Deskripsi cerita yang dibikin cukup menarik. Tapi, ada beberapa pertanyaan-pertanyaan, misalnya, kenapa deskrpsi hujan dan keheningan dikerangkeng (Hal 22) dan kurang menambah cerita.
Ajo Kawir yang baik

Kekuatan fiksi adalah membuat ruang adegan di otak pembaca. Misalnya, pada kasus Cantik Itu Luka, saya masih teringat adegan Kamerad Kliwon yang menanti datangnya revolusi melalui tanda telatnya koran yang biasanya ia baca atau bagaimana Danny dan Pilon di Tortilla Flat

Di kisah hidupmu,  saya juga menemukan hal serupa. Misal, bagaimana kegundahan hati Ajo Kawir selepas kejadian di rona merah. Pertama, adegan burung yang diolesi cabe rawit, dengan perlahan berubah menjadi panas dan membuatnya blingsatan. Kedua, ia menyengatkan burungya pada tawon biar tambah membesar. Ketiga diajak jajan dan ancaman untuk dikapak. Ruang-ruang ini yang menjadi kekuatan yang bisa kita temui sepanjang novel ini.

Ajo Kawir yang baik,

Saya menduga-duga, sebenarnya, kapan kau dilahirkan. Sebenarnya sangat mudah ditebak, sebab ia menggunakan tanda puncak orde baru, di mana kekerasan dan pembunuhan menjadi biasa saja. Ini tampak dari brutalnya kehidupan Ajo Kawir dan Si Tokek dan Iwan Angsa. Di sini, saya taruh lengkap semacam pledoi, untuk kita tahu, sebenarnya apa maksud dari Eka Kurniawan untuk membuat gaya bercerita tak lazim.

Dua Tradisi

Eka Kurniawan 10 May 2014 (1)

Saya selalu membayangkan ada dua tradisi besar dalam bercerita/menulis novel (saya rasa sebenarnya dalam kesusastraan secara umum). Pertama, tradisi menulis dengan wadah; kedua tradisi menulis yang bebas mengalir. Saya tak yakin apakah istilah itu tepat atau tidak, tapi mari kita membayangkannya. Tradisi pertama, berawal atau berkembang dipengaruhi oleh tradisi panggung. Tradisi kedua, tentu saja berawal atau berkembang melalui tradisi mendongeng. Penyebutan pertama dan kedua ini bisa kita bolak-balik. Saya tak mengasumsikan yang satu lebih utama dari yang lain. Kenapa tradisi dari panggung ini saya bayangkan sebagai tradisi menulis dengan wadah? 

Ya bayangkan saja panggung sebagai wadah. Ada ruang terbatas sebesar panggung. Ada durasi waktu sebuah cerita akan dipentaskan. Jangan lupa, penonton juga dikondisikan di situasi tertentu: duduk di tempat penonton, memandang panggung dari sudut pandang yang tetap. 

Artinya, ada ruang-waktu yang secara ketat membatasi sejauh mana cerita akan disajikan. Keadaan ini secara langsung tentu saja sangat berpengaruh terhadap cara dan teknik bercerita. Saya melihatnya, tradisi ini menciptakan satu aturan-aturan dramatik yang sangat ketat. Jika kamu pernah dengar dari editormu, buang bagian yang tidak mengganggu cerita jika ia menghilang, maka saya yakin, editormu merupakan bagian dari aliran ini. Aliran yang menjunjung tinggi efisiensi. 

Aliran ini memerhatikan dengan ketat kapan sebuah karakter harus muncul, kapan permasalahan ditampilkan, di bagian mana konflik memuncak. Tentu saja dalam menulis novel, kita tidak membayangkan panggung. Meskipun begitu, bukan berarti tradisi ini, tradisi bercerita dengan wadah, tak terasa di novel. Bahkan saya melihat, pengaruhnya sangat kuat sekali. Saya bisa menyebut, Hemingway berada di tradisi ini. Kebanyakan sekolah menulis, akan mengajarkan aliran ini. Kita tak memerlukan panggung untuk membuat batasan-batasan ruang dan waktu, karena kita menciptakannya sendiri. Tentu saja bapak dari aliran ini, saya akan membayangkannya: Shakespeare. Aliran kedua, yang bersumber dari mendongeng, tentu bersifat sebaliknya. Ia mengasumsikan bebas ruang dan waktu (meskipun ya sebenarnya tidak). Sebagaimana layaknya dongeng, ia bisa diceritakan di mana dan kapan saja. Nyaris tak ada batasan durasi (bisa bersambung bermalam-malam layaknya Syahrazad di Hikayat Serbu Satu Malam). Pendengar dongeng juga bisa mendengarkan dongeng dengan cara apa saja, sambil tiduran, duduk di belakang pendongeng, atau di mana pun. Tak ada ruang dan waktu yang mengungkung, karena itu aturan-aturan ketat tangga dramatik tidak dikembangkan di sini. Yang berkembang adalah justru teknik “hipnosis”, teknik mencengkeram minat pendengar dongeng dengan apa pun tergantung situasi (karena situasinya tidak bisa dikendalikan, sebagaimana keadaan di ruang pertunjukan). Kadang-kadang pendongeng mengambil teknik dramatik panggung, tapi lain kali ia mungkin menyanyi untuk membuat pendengarnya betah, lain kali ia melantur dulu ke cerita yang lain. Disgresi, permainan kata, bunyi, berkembang di aliran ini yang bebas-merdeka selama pendongeng yakin bisa mempertahankan pendengarnya. Di aliran ini kita bisa menemukan kisah yang semena-mena, novel yang tak ke mana-mana (bayangkan If On A Winter’s Night A Traveler Italo Calvino), alur yang maju-mundur bertumpuk-tumpuk (bayangkan novel-novel Faulkner). 

Ada kesan aliran ini seenak udel sendiri, tapi saya rasa kesusastraan tak akan berkembang banyak tanpa mereka. Saya bayangkan editor harus bekerja keras melihat novel-novel seperti ini (dan mereka kadang tetap memakai ukuran “wadah” untuk mengatasinya). Aliran ini juga berkembang pesat. Ada Marquez. Ada Salman Rushdie. Ada James Joyce. Bapak dari semua penulis ini, tentu saja saya akan menyebut: Cervantes penulis Don Quixote. Saya menaruh hormat pada kedua kecenderungan ini (eh, jangan dilupakan para penulis yang kadang berada di area abu-abu keduanya), dan jauh di dalam hati kecil saya, saya selalu berpikir kondisi ideal menjadi penulis adalah menjadi Shakespeare dan Cervantes di waktu yang bersamaan. Berpikir tentang wadah sekaligus merasa mengalir bebas, atau sebaliknya. Itulah kenapa kita sering berpikir tentang aturan-aturan dalam menulis (seolah kita membayangkan menulis untuk ruang-waktu tertentu seperti panggung), sekaligus punya hasrat besar untuk melanggarnya (membebaskan diri sebagaimana pendongeng).

Dari sini, kita akan melihat benang merah penceritaan yang dianut. Eka memilih jalur tradisi mendongeng, yang mengutamakan kekuatan memengaruhi orang untuk senantiasa menunggu cerita ini rampung, tanpa memedulikan bahwa cerita itu konvensional atau tidak, benar atau tidak, tapi kekuatan cerita itu yang memikat.

Ajo Kawir yang baik

Satu hal yang membuatku tertawa  adalah, sebagai orang yang terlahir di generasi santri, saya tertawa terbahak-bahak ketika tahu bahwa semua yang ada dicerita ini hanyalah perjalanan sufi seorang Ajo Kawir. Melalui burung—yang selalu ia tanya tentang apa yang bakal ia lakukan selepas keluarga dari penjara akibat membunuh macan.

Membaca ceritamu di novel ini ini, saya diajak untuk eksplorasi gaya bercerita, sekaligus tertawa mengingat jaman cerita keemasan cerita silat dan seks. Dan sekali lagi meneguhkan bahwa seberapapun absurd ide sebuah cerita, jika ia mampu diceritakan dengan baik, maka akan membuat orang percaya bahwa cerita itu benar-benar terjadi. Dan mengaburkan ruang antara fakta dan fiksi di dunia nyata. Selain itu, novel ini memiliki struktur yang sangat tebal selain cerita sufi, yakni tentang kekerasan dan operasi-operasi militer (hal.183) sesuatu yang berat, tapi dibuat jenaka.

Kira-kira begitu.  Dan selamat burungmu sudah bisa berdiri. Tapi, sayang, kau tidak bisa bercinta dengan iteung karena ia sudah kembali ke penjara.

Jabat erat
Dedik Priyanto


PS: Ditulis sebagai bahan diskusi para penggerutu, jumpa lagi book club, bersama A.S. Laksana, Eka Kurniawan, Linda Christanty, Yusi Avianto Pareanom, Zen Hae, Dea Anugrah dkk di resto jumpa lagi resto, 26 Agustus 2014.

Rabu, 15 Oktober 2014

Tortilla Flat

“Novel ini yang menginspirasi Ronggeng Paruh adalah Dataran Tortilla. Karya Steinbeck,” seloroh Si Celurit Emas, D. Zawawi Imron, ketika kami berdiskusi di Pojok Gus Dur beberapa bulan lalu.

Waktu itu kami diskusi di pojok Gus Dur, ruang kerja presiden keempat kita yang juga digunakan sebagai perpustakaan lantai bawah gedung pusat NU. Seketika itu pula saya terdiam, dan menolah ke arah Abah.

Sejenak mata kami bertaut, seolah ingin berteriak bersama,”Brengsek Steinbeck!”

Saya sendiri membaca berkali-kali, dan mata saya begitu tertohok dengan percakapan Pilon dan Pablo di hutan perihal  hujan dan air yang turun saat itu. Mereka berdebat soal bagaimana air hujan yang turun. Ada yang berkata bahwa  jika turun berupa permata. Maka, tentu mereka akan kaya, dan banyak uang untuk dibawa ke Torelli guna dibelikan anggur.

Namun, akhirnya mereka sepakat bahwa air hujan yang turun malam itu alangkah lebih indah jika berupa anggur. Tentu anggur Torelli.  Karena dengan itu,  mereka akan lebih bisa menikmati tiap jengkal, tiap waktu untuk menikmati anggur. Imajinasi ini, bagi saya, begitu gila.

Anggur Torelli begitu merasuki otak saya, dan kerap mengusik alam bawah sadar. Bahkan sampai sekarang saya masih terus mencari tempat ini di Ciputat. Jika saudara tahu, ajaklah saya. Bahkan saya yakin, jika pun Tuhan tahu, ia pasti sekarang sedang di Torelli.  


Selepas baca ini, saya begitu bernafsu untuk mencari karya Steinbeck yang lain, dan juga mencari novel asli. Hingga bertemu dengan Of Mice and Men, Cannery Row dan lain-lain.

Pernah suatu tempo menemukannya tergeletak di antara buku terjemahan  lainnya, tapi malang tak bisa ditolak, saat itu isi dompet saya hanya setengah dari harga yang tertera di buku tersebut. Dalam hati saya mengumpat, namun juga bahagia.

Gembira karena saya akan mendapatkan buku asli tersebut. Bukan fotocopy, begitu pikir saya. Dan menunjukkan pada mereka yang sering meremehkan para sivitas pemfotocopy. Sebulan selepas peristiwa itu, saya mengumpat kembali sembari mendengar dinginnya seorang kasir berkata lirih,”Sudah tidak ada, Mas. Stok habis kayaknya. “

Sontak, saya kecewa untuk kembali. Saya pun mencari di toko-toko buku langganan. Tapi hasilnya sama; nihil. Dan sampai sekarang saya hanya mempunyai versi fotocopy. Entah bagaimana tawasul saya nanti, seperti kebiasaan saya waktu dulu saat ngaji, yang harus melafalkan doa kepada mereka yang berjasa atas keberadaan buku ini di muka bumi.

Maka, ketika saya ditanya banyak orang tentang sebuah novel yang patut ditempatkan di tempat utama dalam perpustakaan. Jawaban saya bulat, Tortilla Flat karya John Steinbeck.

Jadi bagaimana, kamu sepakat, bukan?

Selasa, 14 Oktober 2014

Media, Sastra, dan Kita

“Nama majalah itu ialah Pujangga Baru, sebab majalah itulah akan jadi penambat pujangga-pujangga muda, pujangga-pujangga baru yang sekarang. Di situlah mereka itu bersuara sebebas-bebasnya,”Foulcher; Pujangga Baru; Kesusasteraan dan Nasionalisme di Indonesia 1933-1942, (1991)”

Apakah Anda tiap hari baca Koran cetak atau online? Saya kira jika pertanyaan itu diajukan oleh mereka yang terbiasa mengikuti alur informasi akan menjawab spontan, ”Pasti. Tiap waktu.”

Lalu saat ditanya, “Apakah Anda baca karya sastra, baik itu cerpen, esai atau puisi tiap hari?” Maka, saya berani bertaruh, jawaban serempaknya akan begini, ”Tidak. Saya hanya baca hari minggu.” Beruntung kalau tidak ditambah embel-embel kalimat “itupun kalau sempat.”

Realitas seperti itulah yang kerap saya temui, bahwa sastra diciutkan hanya minggu dan “kalau sempat”. Seolah sastra hanyalah sampingan dan sudah sepatutnya ditaruh di bagian paling tak terjamah manusia. Berdebu, kumuh, pinggiran dan hanya disentuh oleh mereka yang berperilaku aneh.

Saya kira Anda sepakat, jika saya berbisik lirih di telinga pacar saya, ”Ini karena media, Sayang. Media yang membuat kita tidak menikmati sastra sebagaimana para orang tua, dan nenek kita menikmati karya-karya besar dunia.” Dan dia sembari mengamit tangan saya berujar pelan, ”Jangankan dunia. Sastrawan Indonesia saja kita jarang bertemu. “

Media dan sastra adalah ibarat dua saudara kandung yang kerap tidak bertemu, atau jangan-jangan enggan bertemu karena yang terakhir tidak pernah mendapatkan uang saku yang berlebih untuk sekadar bertahan hidup. 

Sedang yang pertama, media, acapkali dianggap sebagai tonggak keempat demokrasi, yang tentu saja bisa hidup jika mampu diolah dengan manajerial yang hebat. Laiknya pohon yang dirawat sang pemilik dan ditaburi prinsip jurnalisme yang begitu ketat.

Kalau toh mereka bertemu dalam satu rumah. Maka saudara pertama mendapatkan kamar yang begitu luas. Dan ia akan mendapatkan mainan yang begitu banyak. Mainan itu bisa berupa politik, hukum, kriminal, maupun ekonomi.

Sedangkan saudara kedua ibarat anak tiri yang hanya bisa  memandang sayu saudaranya bermain-main dari balik jendela.

Bagi saya, media dan sastra adalah tonggak peradaban. Kenapa?

Saya kira, ukurannya begitu jelas jelas; literasi. Literasi inilah yang menjadi akar. Bahwa corak literer bisa dilihat sebagai pijak dimana peradaban dapat menjelaskan dirinya lewat teks. Teks yang terus bergerak dan ditafsirkan oleh mereka yang hidup sekarang, ataupun anak cicit kita. 

Maka laiknya kita naik motor. Sesekali kita harus melihat kedua spion agar kita tidak jatuh, terjungkal, dan tertabrak. Dan perjalanan imajinasi bernama Indonesia pun tidak terlepas dari corak dan sastra menandai dirinya dalam tangkup kebudayaan yang memaknakan diri dalam tradisi. Tradisi yang terus menerus membaurkan sekat etnisitas dan agama.

Saya tidak mau berpolemik oleh kategorisasi HB Jassin yang menisbahkan pada peristiwa politik sebagai penanda gerak kesusasteraan. Saya hanya ingin menandaskan bahwa sastra mempunyai pengaruh yang begitu luar biasa pada imajinasi tentang peradaban, dan Indonesia sebagai, meminjam kata Sanusi Pane, Faust dan Arjuna yang selalu berada dalam pencarian dan bertabrakan dengan dinamisme baratnya Sutan Takdir Alisjahbana (Ulumul Quran, edisi masa depan sastra, 1998).

Medio 20-an para pemikir cum-sastrawan ini telah mengimajinasikan mau ke mana bangsa bernama Indonesia akan bergerak. Mereka gandrung pada Barat di satu sisi, dan Timur pada di lain sisi. Mereka tidak hanya menggunakan media-media konvensional untuk menabur apa yang dirasakan di balik tempurung mereka, namun juga mengimajinasikan dalam karya sastra sebagai bentuk pertaruhan literer seorang intelektual.

Seorang sastrawan, meminjam kelakar Mahbub Djunaidi, merupakan seorang futurolog. Ya, mirip-mirip dukun tapi berpendidikan. Mereka mengetahui apa yang tidak dipikirkan orang. Bahkan mampu menerawang apa yang bagi mereka orang biasa tidak dipedulikan. Capung yang bertengger di pohon tetangga rumah pun mereka mampu melihatnya.

Tentu, seorang sastrawan lahir tidak hanya sendiri di ruang hampa nan sunyi. Atau tiba-tiba turun dari langit Krypton dan diberi nama Clarke dalam narasi Superman. Bukan!

Mereka hadir pada saat suasana sastra dan pemikiran berkembang dengan kondusif. Bahkan riuh dengan pelbagai hal yang mendukung tempurung mereka berpikir banyak hal; tentang nyiur yang melambai bagai seorang gadis, tentang matahari yang selalu mengabarkan kesadaran baru, atau tentang perlawanan pada penguasa yang sengaja lupa.

Sebagai contoh, adanya majalah Pujangga Baru terbit sebagai mandegnya Balai Pustaka dan ketakutan kolonial terhadap bacaan. Mereka melahirkan STA, Arjmin dan Sanusie Pane, Hamka dst. Tentu kita masih berharap majalah sastra Horison mampu menjadi anak muda. Tidak lagi menjadi generasi tua yang seakan gagap menghadapi kebaruan, globalisasi, dan seterusnya.

Saya merindukan generasi ini. Generasi majalah sastra Kisah HB Jassin medio 50-an, yang pada akhirnya berkembang menjadi polemik yang begitu terkenal dalam sejarah kita; Lekra dan Manikebu.  Atau generasi Horison 80-an yang melahirkan sastrawan seperti Seno Gumira Ajidarma, NH Dini, dan masih banyak lagi. Ada yang menyebutnya generasi Koran, tapi tidak spesifik. 

Nah, saat ini saya kira kita menemukan jaman yang hampir serupa. Teknologi telah mengajak kita bergumul pada dunia. Di jejaring sosial twitter, misalnya, mata kita akan tertohok dengan ribuan puisi yang ditulis oleh pelbagai orang. Kadangkala hanya sebagai pemindah kegalauan, namun tak jarang pula yang bernas dan sublim. Belum lagi akses terhadap karya-karya sastra dunia yang begitu mudah.

Persoalannya adalah media-media kita tidak memberi ruang yang cukup untuk ‘suasana sastra’. Energi mereka terlalu terserap pada politik dengan segala manipulasinya. Kalau toh ada, mereka menempatkannya sebagai tempat peristirahat saja, dan itupun terus berkurang.

Maka yang diperlukan adalah keberanian untuk menciptakan suasana itu. keberanian untuk keluar dari kotak rumah yang membuat saudara ‘tiri’ itu mampu berdiri sendiri, hidup sendiri. Karena anak tiri inilah yang mampu mengisi kekosongan yang ada pada otak tempurung kita. Yang mengajarkan tentang hidup dan kebudayaan yang menjadi titik pijak peradaban. 

Saya kira sudah saatnya kita memberikan warna baru pada geliat yang sudah terlalu dan selalu terkooptasi dengan politik. Kita butuh media yang khusus berbicara tentang sastra. Yang tidak hanya bermain-main dengan esai, cerpen, puisi. Tapi sastra dengan tiga aspeknya yang paling penting; manusia, alam dan tuhan.

Ketiga elemen itu laiknya ruh yang pada akhirnya melahirkan pribadi yang yang mengerti akan hakikat dirinya, dan memahami sebagai kebudayaan sebagai penentu peradaban bangsanya.

Tentu kita tidak mau disindir oleh Subagio Sastrowordojo (1968) dalam bakat alam dan intelektualisme,” orang boleh tinggi tingkat kesardjanan dan sangat ahli di dalam lapangan pekerdjaannja,  tetapi selama ia tidak punja minat ataupun peka kepada rangsang2 budaja, ia belum berhak dinamakan intelektuil.”


@DedikPriyanto

NB: esai di  NU Online kolom budaya

Tiga Puluh


Beberapa hari ini saya terkaget, ternyata salah satu kawan akrab saya sudah berumur tiga puluh tahun. Angka ini bukanlah deretan angka semata, lebih dari itu, konon angka itu merupakan peralihan menuju dewasa dan tentu saja pernikahan.

Alih-alih membicarakan pernikahan, yang terbersit di otak saya tentu saja adalah kesepian. Betapa tidak, jika kawan saya itu pasti menikah, saya harus bersiap untuk kehilangan dirinya. Sebab pastinya sudah memiliki istri, dan bakal hidup dengan pelbagai deret tanggung jawab yang harus dipenuhi sebagai suami.

Sedangkan saya, harus siap sendiri.

Lain halnya dengan kawan akrab saya yang lain. Ia pemuda betawi dengan intelektualitas yang sukar saya tandingi; agama, filsafat, sastra dan tentu saja terjemahan. Saya juga pernah menuliskan sedikit biografinya yang menurut saya mirip dengan apa yang diperbincangkan Gus Dur tentang tipe kiai kampung.

Tapi entah kenapa, saya merasa ia agak aneh belakangan ini. Usut punya usut, ia habis lamaran dengan seorang gadis. Bahkan konon orang tua sudah saling bertemu dan bersepakat tentang hubungan mereka.

Tentu saja saya terkaget dan agak terbelalak mendapat info itu. Apalagi ia cukup dekat dengan saya sejak dulu, khususnya kala berhubungan dengan kekasihnya yang terdahulu dan  obrolan tentang sastra.

Walaupun begitu, saya tetap bergembira. Ternyata kawan saya ini sudah bisa menyintas dari masa lalunya yang menyedihkan bersama kekasihnya dulu dan membuanya tampak suram.

Namun sejenak kemudian saya berpikir bahwa saya akan kehilangan salah satu kawan terbaik saya lagi.

Beda halnya dengan kawan saya satu lagi, ia adalah pemuda pilih tanding, seorang marxis sejati dan penata arsip yang paling baik di antara kami. Umurnya kira-kira akan mendekati tiga puluh tahun.

Kawan saya satu ini memang istimewa, jika banyak orang atau aktivis mendaku diri sebagai kiri, tapi di satu sisi kehidupannya masih borjuis dan cenderung menerima keadaan, maka rumus itu tidak ada dalam dirinya. Bahkan ia kerap menjulukinya dengan marxis yang kekanak-kanakan. Sebab seorang marxis tidak akan mendaku diri sebagai marxis, cukup dengan bekerja dan integritas. Begitulah.

Hampir dua tahun ini kawan saya ini menjalin hubungan dengan seorang gadis, ia merupakan seorang yang enerjik, cerdas dan menyukai sepakbola. Ia juga yang membuat kawan saya ini akhirnya untuk pertama kali menonton sepakbola di stadion.

Hubungan mereka laksana mendung dan hujan, sukar dipisahkan dan akan selalu bersama. Orang tua mereka pun sudah mengiyakan untuk saling mengikat janji ke pelaminan. Tapi sayangnya, kawan saya ini terganjal dengan kampusnya dan baru bisa lulus tahun depan.

“Jadi, kapan kamu menikah?” tanya salah seorang kawan di sebuah malam,

“Tahun depan,” ujarnya santai.

Saya bergembira dengan jawaban ini. Kawan saya bakal menikah. Dan, ah, kenapa saya merasa akan kehilangan salah satu kawan lagi.

Satu orang lagi, tentu saja dia adalah seorang kawan yang sudah menjalin cinta sejak jaman SMA. Pemuda ini merupakan seorang penulis paling produktif di antara kawan-kawan yang saya kenal, saat ini ia sedang menempuh jenjang master sembari menunggu kekasihnya merampungkan studi master juga.

Saya yakin, tinggal waktu yang akan membuatnya pergi meninggalkan kota ini dan menaiki kereta kencana bersama kekasih yang ia cinta itu. “Sudah diperkenalkan kok, Bung, tinggal selesai, lalu nikah. Itu saja,” tuturnya suatu waktu.

Betapa girangnya hati saya mendengar itu. Satu lagi kawan saya bakal menikah dan tentu saja umurnya masih sangat muda dan dibawah umur saya. Bahkan belum mencapai usia peralihan tiga puluh yang menakutkan itu.

Tapi entah kenapa, saya merasa saya bakal lebih sepi lagi.

Sebab ada satu orang kawan yang sejak saya mula menempuh studi sudah menjadi kawan sepenanggungan. Baik dalam tangis, duka maupun kecewa. Umurnya memang hampir menginjak tiga puluh, dan ia sudah bilang tidak akan lagi mencari pacar. Ia akan mencari istri—walaupun untuk itu ia beberapa kali gagal.

Kami pun baru satu bulan belakangan ini pindah kontrakan. Saya gembira sebab ia sudah hampir purna dalam studi dan konon sedang menjalin hubungan serius dengan seorang permpuan. Dan ia nanti akan sangat sibuk, baik dengan pekerjaan ataupun dengan istrinya.

Dan entah kenapa untuk satu hal ini, saya merasa bakal begitu kesepian. Saya merasa bakal berjalan menjalani belukar dengan kaki saya sendiri, mencecap kopi sendirian, baca buku sendirian dan akan menjalani kehidupan dengna penuh kesendirian.

Ya, saya gembira sebab mereka ini, kawan-kawanku ini, bakal menemukan jalan hidupnya sebagaimana orang normal lainnya. Mungkin juga kala mereka saya ajak untuk sekadar ngobrol, mereka akan menawarkan rumahnya untuk dikunjungi. Atau mereka tidak akan bisa lagi saya ajak berbincang hingga larut malam. Ada istri yang menunggu, mungkin ia mereka akan menjawab demikian. Saya hanya bisa memakluki.

Lalu, kamu kapan?

Ah, saya memang tidak berpikiran ke situ.
Dahulu memang saya sempat berpikiran hal serupa, umur tiga puluh adalah patokan. Dalam hal apapun; ekonomi, hidup, percintaan dan segalanya. Tapi itu dulu.

Sekarang ini saya justru menanggapinya dengan berbeda. Bagi saya, sebuah hubungan bukan kontrak. Jika jatuh cinta, ya jatuh cinta saja. jika ingin tinggal bersama, ya silakan tinggal bersama. Jika diperlukan untuk mengikatnya menjadi sebuah hubungan legal-formal berupa pernikahan, ya silakan dengan pelbagai konsekwensi antar keduanya.

Seorang kawan menyebutnya dengan istilah posmo. Bahkan ketika saya sempat berdebat dengannya perihal lembaga pernikahan ia menyebut saya sebagai generasi posmo yang terpengaruh dengan bacaaan yang eksistensialis. Ia tertawa, saya pun serupa.

Tapi ini penting, saya tetap berpikir  bahwa jalan utama menuju cinta memang pernikahan. Itu jalan utama. Pastinya ada jalan lain, bukan? Yang mungkin jalan itu bisa berbelok, penuh kerikil, bahkan harus melewati sungai. Tentu tujuannya sama; bahagia.
Lalu jika tujuannya sama, apakah salah jika memilih jalan lain yang mungkin lebih menantang dan menuntut ketahanan yang lebih tinggi. Ah, saya terlalu serius, mungkin saya kurang pikinik :p

Kembali ke soal tiga puluh itu.

Saya harusnya turut bergembira dengan pilihan yang diambil oleh kawan-kawan saya tadi. Ya, saya memang bahagia. Sangat malahan.

Pada akhirnya, betul kata Chairil, Nasib adalah kesunyian masing-masing. Dan aku mungkin akan terus di jalan sunyi itu, seperti halnya Zainudin dalam Van Der Wijk yang tidak bisa memilih atas jalan yang ia lalui itu, atau bahkan seperti Jean Viljean seperti yang dituturkan Victor Hugo dalam Les Miserables.

Menjadi tua itu bukan pilihan yang harus dirayakan, bahkan sekadar mengajak untuk menikmati secangkir kopi di tengah malam yang dingin penuh obrolan pun sebaiknya tak tak perlu dilakukan.

Ah, ada-ada saja saya ini.

Ciputat, 13 Ramadan