Minggu, 20 Desember 2015

Wawancara Pramoedya Ananta Toer: "Agama Tidak Pernah Menaruh Perhatian Soal Keadilan."

Di taman depan rumahnya tampak orang tua berkacamata hitam dan mengenakan kaos putih tengah sibuk memotong dedaunan. Tangannya pelan bergerak memilih tangkai yang hendak dipotong dengan gunting.”Selamat pagi, Pak Pram,” sapa Syir’ah.

Pram hanya menoleh dan tersenyum. Mungkin kurang mendengar.”Bagaimana kabar Anda, sudah sembuh?” tanya Syir’ah lagi. “Belum, belum sembuah kalau jalan masih goyang. Saya kira, saya sudah mati. Ternyata masih hidup,” kelakarnya sambil tersenyum lebar.

Pramoedya memang sudah cukup lama menderita sakit jantung. Seusai rawat inap di rumah sakit, Pram kini kembali melakukan aktivitasnya. Menulis? Sastrawan ini rupanya tidak sanggup lagi menulis. Dalam kondisi sakit-sakitan, menulis dan mengumpulkan data sejarah tidak bisa dilakukan lagi.

”Kerjaan saya biasanya Cuma motongi tangkai pohon dan membakar samapah saja,” ucapnya.

Bagi pram, kesehariannya kini tidak lebih dari sekadar menanti detik-detik akhir usianya. Ia pun sadar bukan lantaran sakit parah yang barusan menimpanya, tai sejak beberapa tahun terakhir Pram sadar akan batas usia. “Dalam hitungan hari, minggu, atau bulan, mungkin saya akan mati, karena penyempitan pembuluh darah jantung,”
katanya. Tapi begitulah Pram. Ia percaya pada dialektika hidup. Manusia hidup pasti akan menuju pada kematian. Karena itu pula dia tidak merasa sedikit pun harus takut, atau mengambil sikap hidup yang lain sebagaimana kebanyakan orang.

Bukan Pramoedya kalau tidak ‘keras kepala’. jika sudah menghendaki sesuatu, siapa pun tidak bisa menghentikannya bahkan negara pun akan dilawan jika bertentangan dengan sikapnya.

”Saya ini seorang individualis, menuruti kata hati. Berjuang sendirian sampai sekarang.” Penindasan orde baru pun dihadapi sendirian,”Saya selama 38 tahun jadi tapol tanpa diadili.”

Naskah-naskah dokumentasi karya Pram menjadi korban vandalism. Padahal buku-bukunya menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah lanjutan di Amerika, tapi di Indonesia dilarang. Haknya sebagai pengarang telah dirampas. Pram menghabiskan  hampir separuh usianya di Pulau Buru dengan siksaan, penghinaan dan penganiayaan.

”Keluarga saya mengalami penderitaan yang luar biasa. Saya sudah memberikan semuanya kepada Indonesia. Umur, kesehatan, masa muda sampai setua ini,” ucapnya.

Dalam kondisi yang agak kurang sehat, empat hari menjelang pemilu 5 April 2004, Pramoedya Ananta Toer diwawancarai Faiz Manshur dari Syir’ah di kediamannya di Bojong Gede, Bogor. Berikut petikan wawancaranya.

Sebagai bagian dari proses demokratisasi pemilu diharapkan menjadi medium perubahan bangsa ke arah lebih baik. Bagaimana anda menilai pemilu sekarang?

Pemilu sekarang ini belum mempunyai arti bagi bangsa Indonesia karena saya melihat perkembangan manusia Indonesia itu sendiri belum beres. Apa sebabnya? Karena bangsa ini belum terdidik berproduksi.

Produksi itu kan menyebabkan pencarian, penambahan nilai, meningkatkan kualitas terus menerus dan menumbuhkan karakter. Ini tidak terjadi di Indonesia. Tanpa pengalaman produksi, jalan pintasnya pasti korupsi.

Produksi itu juga bentuk nation. Indonesia menjadi buruk karena factor itu. Birokrasi menjadi sarang korupsi. Padahal, merkea yang berada di jajaran birokrasi itu memegang kendali (administrasi) negara perannya sangat strategis. Saya tidak percaya dengan semua elit politik Indonesia. Juga para intektualnya, yang memilih diam dan menerima fasisme orde baru.

Produksi macam apa yang Anda maksud dalam hal ini?

Produksi apa saja. Banyak jalan untuk menuju ke sana. Yang jelas produksi itu mesti dimulai dari keluarga. Dengan kekuatan produksi ini diharapkan muncul bangsa yang berkarakter. Bung Karno sering mengatakan, kita ini masih bangsa kuli. Artinya mentalitas pesuruh. Ini karena tidak ada pendidikan produksi. Dengan pengalaman berproduksi akan meningkatkan nilai dan pengalaman. Lantas perkembangan bisnis dan segala-galanya ikut berkembang juga, terutama watak, karakter. Tanpa karakter, nyolong pun  mau, apalagi cuma korupsi. Kalau tidak dilakukan, pasti arah perkembangan suatu bangsa tidak karuan.

Tapi sekarang dan beberapa partai baru yang menjadi konsisten pemilu. Banyak orang menilai pemilu tahun ini bagian dari kemajuan bangsa.

Saya tidak percaya, sebelum berkembang individualitas-individualitas dalam masyarakat. Sekarang di Indonesia yang ada hanyalah kelompok-kelompok. Mereka tidak mempunya individualitas. Beraninya amut grubyuk (ikut gerombolan). Lihat saja tawuran-tawuran yang sering terjadi. Itu menunjukkan karakter masyarakat yang tidak punya keberanian individu. Beraninya tawuran. Keberanian individu yang berkembang di Indonesia itu baru di Aceh. Sementara yang  lainnya masih bermental ngawur. Desa lawan desa, pelajar lawan pelajar, kampung lawan kampung. Padahal secara tradisionil keberanian individu itu yang dikedepankan. Lihat wayang, kalau berkelahi satu lawan satu. Kenyataan sehari-hari kita lain.

Anda menganggap politisi yang berada di jajaran birokrasi sekarang ini tidak bisa diharapkan membangun Indonesia ke depan?

Kecuali anak muda, tidak ada sama sekali. Kaum democrat itu kebanyakan pembanyol saja. Orang-orang tua, termasuk saya ini kan hanya jadi beban saja. Harapan kemajuan bangsa ini hanya ada di tangan kaum muda. Generasi muda Indonesia itu selalu berhasil melahirkan sejarha. Sejak tahun 1915 sampai puncaknya pada Sumpah Pemuda. Revolusi 1945, tergulingnya dictator jawa Soeharto semua dilakukan oleh pemuda. Sejarah Indonesia adalah sejarah kaum muda. Cuma, kelemahannya, anak muda di Indonesia tidak mampu melahirkan pemimpin. Sejak muncul Indonesia, sampai sekarang kita baru memiliki satupemimpin, namanya Soekarno. Setelah itu tdiak ada sampai sekarang.

Kenapa kaum muda hanya bisa melakukan perlawanan, tidak mampu melahirkan pemimpin?
Why? Saya tidak tahu. Itu problem kalian. Saya sendiri tidak habis mengerti. Saya bingung, kok nggak sampai melahirkan kepemimpinan. Saya sudah anjurkan, bikin kongres nasional pemuda. Tapi sampai suara serak begini, ternyata tidak lahir apa-apa.  Mungkin karena anak-anak muda kita kurang mempunyai modal hidup yang kuat, terutama modal finansial?

Ya, karena ini juga anak muda jadi terbebani. Orang-orang tua itu mau mengeluarkan duit kalau ada kepentingannya. Lalu anak muda dibiarkan usaha sendiri semuanya. Orang tua di Indonesia otaknya sudah korup. Apalagi kalau orang tua itu berada dalam birokrasi. Saya tidak mempercayai mereka bis amendukung perubahan. Sejarah perubahan itu sejarah kaum muda. Jangan harapkan dari orang tua, apalagi negara.

Apa yang Anda harapkan dari anak-anak muda di tahun-tahun sekarang ini?

Saya kira perlu mewarisi anamat Bung Karno tentang revolusi yang belum selesai. Sekarang pembusukan politik menjadi problem yang belum selesai. Sekarang pembusukan politik menjadi problem utama. Dan in yang bisa menghentikan hanyalah angkatan muda. Kaum muda harus selalu melatih diri untuk berani mengambil inisiatif dan tanggung jawab risiko yang diperbuat, termasuk memperbaiki kesalahan diri sendiri.

Individualitas itu sangat penting untuk perkembangan karakter manusia dan bangsa. Karakter itu kan pembiasaan dari individu. Kalau dia tiap hari baca koran, misalnya, nanti ingin timbul karakter seseorang yang ingin terus menerus tahu perkembangan dunia.
Pemilu tahun 2004 diramaikan oleh partai-partai berbasis agama. Apakah partai itu bisa diharapkan menjadi katalisator perubahan atau justru sebaliknya?

Saya tidak bisa menerangkan soal ini. (Pram diam sejenak sambil mengisap rokoknya dalam-dalam). Tapi setidaknya, partai-partai yang menampilkan agama dan Tuhan itu tidak berdasarkan pada ketuhanan itu dasarnya mental pengemis. Ngemis berkah, ngemis kekuatan gaib, dan sebagainya. Maaf saya ngomong begitu. Kalau yang irasional semua pasti saya tolak, termasuk partai agama. Tapi kalau kita bicara soal isme, sebenarnya saya tidak menentang isme. Silakan saja penyebaran isme itu dijalankan. Isme apa pun pada dasarnya memang perlu dipelajari. Kalau mau mengkritik jangan ismenya karena itu hak public. Komunisme atau satanisme itu terserah. Isme itu kan ideology, artinya dunia prinspi yang harus dihargai.

Kalau seseorang yang terkait dengan salah satu isme melakukan pelanggaran hukum, misalnya, itu tidak bisa disalahkan ismenya, tetapi seret ke pengadilan. Perlu diperhatikan juga, antara ideology dan politik itu lain. Ideologinya A, politiknya belum tentu A.

Anda hanya menerima yang serba rasional dalam kehidupan?

Intinya, semua masih bisa diterima, tapi yang rasional. Yang bisa diterima oleh otak, yang tidak masuk akal, yang tidak bisa dibuktikan ditolak. Jadi yang tidak masuk akal tidak perlu jadi beban otak saya.

Manusia kalau masih tergantung pada agama atau Tuhan itu sebenarnya ditunggangi oleh kehendak orang lain yang mempunyai kepentingan. Katanya Tuhan adil, tapi pembunuhan penindasan terjadi di mana-mana. Itu enggak masuk akal. Yang masuk akal itu, ya akal sendiri. Rasionalitas yang memutuskan. Akal itu bahasa Arab, hukum bahasa Arab. Adil juga bahasa Arab. Kita belum mengerti sebelumnya. Sangat terbelakang. Tapi, orang pada memuji-muji kebudayaan kita masa lalu. Omong kosong. Kekayaannya melimpah-ruah justru jadi budak. Bangsa-bangsa miskin jauh-jauh datang dari Eropa ke Indonesia merajalela.

Apakah Anda sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap religiusitas?

Nggak sama sekali. Agama tidak pernah menaruh perhatian soal keadilan. Jadi ini pengalaman hidup saya sendiri yang mengajarkan kenapa saya hidup dalam rasionalitas total. Religi itu omong kosong. Itu orang yang menindas bangsanya sendiri, termasuk orang yang menindas saya itu orang-orang religius semua.

Soal agama itu juga menyangkut soal pribadi yang berkaitan dengan percaya terhadap aliran kepercayaan. Orang percaya terhadap aliran kepercayaan itu artinya seseorang sedang berhenti di terminal karena pikiran berhenti bekerja. Kalau seseorang mempunyai kualitas kepercayaan yang paling tinggi biasanya setelah melewati banyak terminal. Orang yang anti Tuhan (Ateis) biasanya justru mereka yang banyak berpikir matang, melewati berbagai jalan, tertambat di terminal-terminal, dan banyak memahami hal-ihwal ketuhanan. Saya sendiri termasuk orang yang banyak memikirkan tentang Tuhan dan agama. Tapi ternyata Tuhan dan agama hanyalah beban saja. Sekali lagi, soal Tuhan, saya tolak, sama sekali!

Tapi setidaknya, kita sering menghadapi hal-hal yang tidak rasional?

Iya saya pernah menghadapi hal yang tidak rasional itu. Beberapa tahun yang lalu, pernah ada kejadian, setiap malam pukul 10, istri saya terbangun dan teriak-teriak histeris. Saya tanya, ada apa? Kenapa tiap malam istri saya teriak-teriak. Setelah saya perhatikan, lantas saya suruh istri saya pindah kamar, lalu saya tidur di situ sendirian. Pas pukul 10 malam, betul terjadi sesuatu. Dari langkan jendela muncul cahaya pelangi. Cahaya itu bergerak memutar di sotoh kamar. Lalu saya gertak, “Mau apa lu.” Setelah saya gertak, cahaya pelangi itu bergetar dan keluar lagi.  Jadi memang saya saksikan hal yang gaib itu. Tapi buat apa dipikirkan begituan. Kalau saya layani, malah jadi beban otak saja. Lebih baik memikirkan hal-hal lain yang berguna.

Agama dalam pandangan Anda lebih sebagai problem ketimbang solusi. Bagaimana seharusnya melakukan rasionalisasi di tengah-tengah masyarakat kita yang religius ini?

Langkah rasionalisasi itu bagus, tapi tantangannya berat. Jangan dipaksakan. Ini bangsa masih religius, walau religiusnya semu. Kenapa semu? Karena kereligiusan orang kita tujuannnya hanya  untuk mengemis saja. Masyarakat kita sejak kecil diajarkan patuh pada Tuhan. Tapi apa itu Tuhan? Tuhan itu hanya berlaku bagi orang bermental pengemis.

***

AGAMA bagi Pram bukanlah gagasan ideal yang bisa diharapkan mengatasi persoalan kehidupan umat manusia. Tapi sekalipun Pram tidak bersahabat dengan ajaran agama, bukan berarti membutakan diri dari khazanah agama. Sebagai seorang penulis, berbagai karya Pram sarat dengan kajian sejarah agama. Sejarah masuknya ajaran Islam, misalnya, sering kali dikaji oleh Pram secara baik. Ada banyak pengaruh Islam yang dibawa pedagang-pedagang Islam yang berpusat di Spanyol dahulu kala. “Misi Islam yang dibawa ke Indonesia banyak unsur dagangnya,” tuturnya.

Pengaruh Islam di Indonesia adalah berkaitan dengan pembatasan poligami. Jika dulu di masyarakat kita ada tradisi poligami tanpa batas, dengan masuknya Islam, poligami dibatasi hanya empat. Tapi Pram melihat pengecualian pada adat pernikahan di Minahasa, jauh sebelum masuknya ajaran agama Kristen dan Islam, suku Minahasa tidak mengenal poligami. “Ini satu-satunya suku di Asia tenggara yang anti poligami,” kata Pram menegaskan.

Sebagai sastrawan, Pram dikenal sebagai orang yang rajin mengumpulkan dokumentasi sejarah. Dia dijuluki sebagai sastrawan sekaligus sejarawan. Berbagai karya sastranya yang berlatar belakang sejarah membuktikan bahwa pengetahuan Pram ihwal sejarah di Tanah Air sangat baik. Sayangnya, banyak dokumentasi yang musnah oleh perlakuan rezim Orde Baru.  “Tanpa sejarah, bangsa ini tidak akan bisa mengatasi kekacauan dan tidak bisa menata masa depan,” ungkapnya.

Nama besar Anda lekat dengan ideologi komunisme. Apakah Anda masih mempercayai ideologi komunisme sebagai senjata perlawanan terhadap kapitalisme-global?
Globalisasi itu perkembangan sejarah umat manusia. Globalisasi itu artinya kemenangan mutlak kapitalisme. Apa yang tidak dikuasi kapitalisme? Walaupun kapitalis-kapitalis dunia itu juga memberikan sebagian dari keuntungannya untuk sosial. Dari situ pajaknya dikurangi. Itu cara Amerika.

Komunisme tampaknya sudah ketinggalan kalau dijadikan alat perlawanan terhadap kapitalisme. Secara global sulit. Yang bisa diorganisasi adalah sosialisme, itu pun sebatas kelompok-kelompok lokal dengan cara menjalin kerja sama antarkekuatan kaum muda yang hidup dalam era global namun anti terhadap globalisasi. Karena itu kaum muda harus pintar bahasa asing. Ini syarat utama. Kelemahan generasi kita juga tampak pada rendahnya kebiasaan membaca. Kita memang ketinggalan jauh dari bangsa-bangsa maju lain.

Sewaktu Indonesia baru merdeka, yang bisa membaca hanya tiga persen dari jumlah penduduk. Nah, pada tahun pertama itu baru belajar membaca dan menulis di desa-desa, itu karena pemerintah Hindia-Belanda membikin sekolah rakyat. Itu yang membiayai sekolah pemerintahan desa sendiri. Dan perempuan lebih terbelakang lagi belajarnya. Kalau membaca saja masih enggan, apalagi menulis, bahkan menghimpun data-data historis?

Bangsa kita sangat tertinggal jauh dengan bangsa Eropa. Apa yang menjadi faktor penyebabnya?

Begini, kalau Eropa itu punya pengalaman, kalau seseorang mandi darah itu artinya meremajakan diri. Perang di Eropa itu artinya meremajakan diri. Tapi kalau tradisi kita, kalau terjadi perang itu mengulang-ulang, yang itu-itu juga. Berbagai tragedi penggulingan kekuasaan sejak zaman dulu kala di Jawa hanya mengulang tragedi, tidak lebih. Kayaknya, bangsa kita tidak mau mengerti sejarah. Coba baca kisah Babad Tanah Jawa.

Konon Anda termasuk tokoh yang pintar berbagai bahasa.

Saya tidak menguasai bahasa asing secara baik. Dulu semenjak sekolah SMP kelas 2, pada zaman Jepang, bahasa Inggris dilarang. Saya hanya menguasai bahasa Indonesia, itu mungkin masih kurang.

Kalau bahasa daerah seperti Jawa dan Sunda menguasai secara baik?

Saya memang orang Jawa. Tapi saya tidak suka bahasa Jawa. Saya tolak seluruhnya yang berasal dari Jawa. Jawa itu identik dengan javaisme. Dalam javaisme itu hanya tahu satu prinsip: menghormati atau menghargai. Artinya, membantu atasan. Nah, javaisme itu mengutamakan atasan. Apa itu bertingkat-tingkat hanya untuk menghormati atasan. Nggak karuan bahasanya.  Kalau ada orang Jawa ngomong menggunakan bahasa Jawa sama saya, risih rasanya.

Itu sebabnya tanpa perang pun Jawa pasti dijajah karena atasannya disogok habis. Saya tolak Jawa termasuk bahasanya. Saya lebih suka jadi orang Indonesia.


PS: Wawancara ditulis saya ketik ulang dari Syir'ah No. 30/IV/Mei 2004, dengan judul awal Pramoedya Ananta Toer: Partai Agama Bermental Pengemis

Minggu, 11 Oktober 2015

Kenapa Saya (Tidak) Menulis Lagi

Seorang kawan bertanya, kenapa saya tidak menulis lagi, entah di media maupun buku. Kebanyakan orang dengan bercanda menyebut saya terlalu sibuk, tapi saya akan menjawab: kemalasan.

Waktu produktif saya sebagai penulis agaknya terjadi kurun waktu 2009-2012. Saya menulis 5 buku cerita, 3 buku anak, 1 buku bola dan produktif menulis ragam opini serta esai di media massa dan masih banyak lainnya.

Kebutuhan untuk menulis berbanding lurus dengan urusan perut. Jika tidak ada yang dimuat, bisa dipastikan saya akan bokek. Mengharapkan event atau program lain di organisasi hanyalah bualan belaka. Saya tidak cukup pandai urusan ini.

Kurun waktu tiga tahun itu saya berusaha serius mempelajari jurnalisme dan membangun diri dengan bacaan sosial politik. Menjadi wartawan di sebuah korporasi media,  menerjemahkan berita-berita bola di dunia dalam sebuah laman online dan aktif di organisasi sosial keagamaan. Sederhananya, saya menjadi  orang yang sangat aktif.

Menjadi orang yang sangat aktif ternyata menjadikan lalai. Saya tidak serius mempelajari jurnalisme, apalagi membangun diri dengan bacaan sosial politik. Anehnya, saya semakin menyukai cerita. Saya menyukai novel dan cerita pendek. Semakin saya membaca, saya kian merasa tidak tahu apa-apa. Buruknya, bahasa inggris saya tidak terlalu bagus.

Seiring waktu, bacaan pun berubah. Saya melihat kembali tulisan-tulisan lawas saya dan saya langsung benci. Saya menulis dengan sangat buruk, data yang terlalu dipaksakan dalam opini dan cerita-cerita yang cenderung dungu. Saya membenci penulisnya. Saya membenci saya diri sendiri.

Setahun lebih saya tidak lagi produktif menulis. Tapi, saya dan beberapa kawan mendirikan majalah sastra. Surah namanya.

Waktu itu juga saya masih menjadi kordinator forum sebuah forum studi. Dari situ, saya lebih banyak mengurusi organisasi: membuat event, mengurusi proposal dengan segala tetek bengeknya, serta bertemu banyak orang. Sialnya, saya bertemu dengan seorang perempuan.  Saya jatuh cinta padanya. Hubungan kami tidak lama. Tapi saya merasa waktu itu saya sangat produktif—untuk hal ini akan saya ceritakan lain kali.

Tahun 2013 seorang kawan baik memberi tahu saya, salah satu penulis terbaik di negeri ini membuka lowongan untuk menjadi editor novel sebuah penerbitan yang sedang ia rintis. Nama penulis itu A.S. Laksana.  Konon ia ingin membuat revolusi, memberikan bacaan bermutu untuk remaja dan anak muda. Saya tertarik, mendaftar dan akhirnya diterima.

Harus saya katakan, bergabung dengan sosok yang kerap saya panggil ‘paman’ tersebut merupakan anugerah terbesar dalam hidup saya. Saya bisa dengan sangat dekat melihatnya bekerja, belajar bagaimana membuat bacaan bermutu dan ia guru yang begitu menyenangkan.

Tentu saja bacaan saya berubah.

Jika dulu saya ingin menjadi seorang jurnalis—saya beberapa kali dikecewakan oleh tempat saya bekerja sebelumnya, khususnya perihal diajari ‘jale’ di kalangan redaktur media saya sebelumnya—maka saat ini saya ingin tumbuh menjadi seorang editor novel. Seorang praktisi cerita.

Hampir dua tahun saya belajar di sana. Beruntungnya saya bertemu dengan kawan-kawan dekat yang juga penulis: A.S. Laksana, Dea Anugrah, Paman Yusi Avianto Pareanom, Fisca Ambarsari (ia sekarang studi di Jerman), Sabda Armandio dan masih banyak lain. Banyak sekali cerita lucu, banyak juga yang membuat saya malu. Khususnya, kenapa saya tidak menulis cerita laiknya mereka.

Harus juga saya katakan, bersama mereka saya akhirnya mengerti bacaan-bacaan yang bagus. Bagus di sini artinya bacaan yang juga membuat para penulis dunia lahir, bacaan yang dibaca oleh para penulis bagus lainnya. Ukurannya apa? Banyak. Tapi, yang paling kelihatan dari sebuah bacaan bagus adalah, bagaimana penulis tersebut menuliskan ceritanya. Cara bercerita, mengutip Paman Yusi, buku bagus adalah buku yang menantang kepenulisan dia.

Saya tenggelam di sana. Semakin saya membaca buku yang bagus, saya semakin merutuki saya sendiri. Kenapa saya tidak bisa menulis sebagus mereka?

Hal itulah yang membuat saya begidik. Jika tidak bisa membuat cerita bagus, mending saya membesarkan diri saya sebagai pembaca saja. Toh, seperti kata Roberto Bolano, membaca jauh lebih penting daripada menulis, bukan? Ketakutan-ketakutan bahwa cerita-cerita saya jelek terus saja menghantui ketika saya membaca buku-buku bagus. Bahkan saya bisa begitu selektif dan sangat kejam terhadap tulisan. Namun, di masa itu itu juga saya merasa begitu produktif.

Saya ditantang untuk menulis novel atau novella. Saya telah membuat draftnya, menulis kerangka ceritanya dan mulai mengerjakan. Saat ini belum selesai. Tapi ada sesuatu yang membuat saya—maksud saya kami—terdepak dari penerbitan yang kami rintis. Satu per satu pergi. Saya menyusul sebulan kemudian. Segalanya berubah lagi.

Satu hal yang tidak berubah adalah, saya kembali tidak produktif. Saya kehilangan arah. Bagaimana impian yang telah kau bangun bersama tiba-tiba saja dihancurkan seketika? Saya merasa itu terjadi pada kami. Namun, kehidupan harus terus berlanjut.

Saya kembali menapaki jalan lama, membangun ulang mimpi, bertukar pikiran lagi dengan banyak orang dan menulis lagi.

Saat ini saya sedang mempersiapkan sebuah terjemahan. A Moveable Feast, otobiografi Ernest Hemingway. Menyelasikan novel lawas yang tertunda dan merancang lagi cerita-cerita—tentu saja akan sangat berbeda dengan cerita lama yang pernah saya buat.

Belakangan saya sedang menggilai teknologi. Hal itu dikarenakan saya membaca biografi Steve Jobs karya Walter Isaacson. Busuknya, saya baru menyadari belakangan bahwa hal ini menjadi penting. Telat sekali saya tahu ini. Saya terpengaruh. Saya terprovokasi karena bacaan bagus ini. Akhirnya, saya pun mencari buku-buku lain tentangnya dan buku-buku teknologi lainnya.

Bukan sekadar teknologi taktis, melainkan bagaimana orang-orang ini bercerita dan melahirkan sesuatu yang hebat dengan apa yang mereka pikirkan. Elon Musk, Mark Zuckernberg, Sergey Brin dan Larry Page, Steve Jobs dan lain sebagainya. Mereka ini adalah orang yang berada di persimpangan antara seni dan teknologi. Mereka orang yang menyukai cerita dan percaya dengan kekuatan cerita.

Itulah sebabnya, saya harus kembali menulis. Saya pun menulis dan kembali meliput. Tiga hari lalu saya baru kembali dari Kupang. Saya menulis seorang guru agama yang menjadi sahabat para preman. Saya berbincang, bertemu dan menuliskannya.  Nanti tulisan tersebut berkumpul dengan karya jurnalisme lain yang ditulis teman-teman saya lain, yang juga menulis hal serupa di seluruh Indonesia. Satu hal lagi, saya bersama dengan beberapa kawan sedang membuat start up di bidang literasi.

Saya kira, saya ingin bercerita itu saja untuk saat ini, semoga kawan saya tadi tidak bertanya lagi.


Rabu, 15 April 2015

The Fantastic Flying Books of Mr Morris Lessmore

Saya menonton film pendek ini beberapa tahun lalu, entah di laptop siapa saya lupa. Lalu, beberapa hari lalu ada yang membagi film ini di dunia maya. Tentu saya sangat gembira. Saya menyukai film pendek tentang buku ini. Ia seakan ingin bercerita tentang dunia yang kita baca, apa yang kita pikirkan dan kehidupan yang harus kita jalani sebagai manusia. Film bertajuk The Fantastic Flying Books of Mr Morris Lesmoore juga dinominasikan untuk Oscar 2011 dan disutradarai oleh William Joyce dan Brandon Oldenburg

Senin, 13 April 2015

Wawancara dengan Sabda Armandio: “Selama Saya Masih Bisa Merasa Bosan, Selama Itu Pula Saya Masih Menulis.”

Beberapa hari lalu ada yang bertanya padaku, siapa penulis muda saat ini yang tulisannya ciamik. Saya terdiam sejenak, lalu mulai menyebutkan beberapa nama. Salah satu nama yang kusebutkan adalah Sabda Armandio, penulis kelahiran Tangerang 18 Mei 1991 silam ini rajin mengunggah cerita-cerita pendek, baik terjemahan maupun cerita dia sendiri, di blognya www.agrarifolks.wordpress.com dan telah menerbitkan sebuah novel bagus bertajuk ‘Kamu (Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya)’ yang diterbitkan oleh Moka Media. Apa yang membuat cerita Dio menarik? Banyak. Salah satunya adalah humor yang kental dan cara bercerita yang menyenangkan. Dan jika kau adalah makhluk twitter dan menyukai hal-hal yang lucu dan selo, kukira twitter @armandiolif wajib kau follow, jika tidak, bisa-bisa kau bisulan tujuh turunan.

Kami sering bercakap-cakap, lebih banyak tentang guyonan dan hal-hal tak penting lainnya, juga tentang buku, film dan perempuan tentu saja. Berikut ini wawancara tidak penting yang saya lakukan di antara kesibukannya menjadi pekerja kreatif periklanan dan hobinya main game. Untuk menghindari kejaran intel atau kimcil atau groupies daripada saudara Dio yang kian banyak, sengaja wawancara ini saya lakukan via email dan saya batasi hanya persoalan menulis, serta hal-hal menarik lainnya.  

Kalau boleh tahu, apa yang sedang kau lakukan saat ini?

Sebenarnya, tidak boleh tahu, sih. Tapi karena Yang Mulia Pak Nabi Dave (terkait sapaan ini, sila baca ini- peny)yang bertanya, saya bisa apa? Oke, saat ini saya sedang mencari cara baru untuk mengakali atasan saya supaya saya punya lebih banyak waktu luang untuk mengalih-bahasakan cerpen dan, kalau bisa, menyelesaikan tulisan sendiri.

Hmm... Oke begini,  apakah kau punya semacam ritual sebelum menulis?

Ritual khusus (dalam artian saya tidak bisa menulis kalau tidak melakukannya) sih, tidak ada. Bisa jadi karena saya tidak percaya hal-hal semacam itu.

Tapi, begini, Pak Nabi. Kadang saya suka memikirkan sebuah cerita sambil jalan kaki atau naik kendaraan. Dan biasanya sebelum cerita itu selesai, saya sudah memikirkan cerita lain. Akhirnya jadi bertumpuk-tumpuk, macam roti isi yang terus meninggi, disenggol sedikit pasti jatuh. Kalau saya sedang memikirkan sebuah cerita dan seseorang memanggil saya, atau saya tersandung, misalnya, ya semua cerita yang saya pikirkan buyar, tamat. Tapi kadang mereka kembali lagi, tentu dalam bentuk yang tidak utuh. Dan kalau sedang luang, saya menuliskannya.

Misal sedang menunggu kereta di peron, saya kadang suka memperhatikan orang yang duduk di peron seberang: Membayangkan apa yang mereka percakapkan atau sedang mereka pikirkan. Memberikan ‘tujuan’ ke obyek yang menarik perhatian saya—misal ibu-ibu muda yang sedang berbincang dengan kakek-kakek yang membaca koran, atau gadis-gadis SMA yang senang bergerombol dan membicarakan apa saja—lalu saya mulai mengarang-ngarang dialog sesuka hati, yang menurut saya lucu. Jika saya rasa menarik, saya akan menuliskannya.

Saya nggak tahu apa ini menjawab pertanyaan soal 'ritual', cuma menceritakan kebiasaan, mungkin orang lain punya kebiasaan yang sama.

Jika sedang berada di kamarmu, dengan teko dan cangkir berada di sisimu dan tentu saja rokok, apakah  kau menulis di laptop, atau tulisan tangan?

Laptop saya sudah lama rusak dan uang untuk membelinya selalu habis. Karena itu, terpaksa saya menulisnya di buku tulis, mengetiknya di ponsel, atau merekamnya. Kadang ada gunanya, kadang tidak ada sama sekali.

Saya punya komputer personal di kamar, tapi saya tetap menulis di buku. Karena kalau di kamar dan berhadapan dengan komputer, pasti saya akan melakukan hal lain: main game, baca komik digital, nonton film, atau membuka media sosial. Akhirnya tidak menulis.

Saya lebih suka menulis di warnet. Biasanya saya ke sana setiap Minggu pagi, sekitar jam 9. Ada warnet langganan di Jalan Raya Pemda, sekitar 100 meter dari McDonald. Koneksi internet di warnet itu jelek sekali, hanya ada 7 komputer dan pelanggan mesti duduk bersila, tanpa sekat, dan pengap karena tidak dipasang AC. Keadaan seperti itu bikin saya malas bermalas-malasan, maksud saya, jadi malas melakukan hal yang cocok dilakukan saat bermalas-malasan di depan komputer seperti menonton video atau film, mengunduh sesuatu, membuka situs media sosial, apalagi main game online. Kadang, karena sumpek, merokok pun malas. Kira-kira, urutannya begini: Beli makanan dan minuman secukupnya, masuk ke dalam warnet, pilih paket 8 jam—ada semacam ‘paket hemat’ di warnet langganan saya—memasang earphone dan mendengar lagu-lagu dari ponsel, lalu membuka microsoft word; mengetik apa yang sudah saya tulis selama satu minggu terakhir di buku catatan dengan tenang hingga delapan jam ke depan.

Dapatkah kau mengingatnya, kapan kali pertama kau ingin jadi seorang penulis? Dan apakah dalam keluargamu ada tradisi menulis?

Ingin menulis cerita sejak SD, sejak saya merasa bisa bikin cerita yang lebih bagus dari Akira Toriyama, dan seorang teman lumaya jago menggambar, jadi kami bikin komik-komikkan. Tapi justru teman saya itu yang terkenal, dia jadi sering diminta gambar Kapten Tsubasa dan dibayar 500 perak, dibelikan ikan cupang, atau ditraktir es kelapa.

Pertama kali muncul keinginan untuk menjadi penulis itu SMP, saya mulai dengan menulis cerita bersambung. Semacam cerita detektif, judulnya kalau tidak salah “Pembunuhan Pak Qushay”. Saat itu saya benar-benar takjub oleh gaya unreliable narrator dalam cerita Pembunuhan Atas Roger Ackroyd-nya Agatha Christie, dan saya ingin membuat cerita seperti itu juga. Trik pembunuhannya saya tiru dari komik Detektif Kindaichi, dan Pak Qushay benar-benar ada. Awalnya beberapa teman main di rumah membaca cerita itu, tetapi karena tulisan tangan saya jelek tidak ada yang mau baca lagi. Haha.

Di SMP pula saya berkenalan dengan Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, dan saya kira, cerita bersambung saya banyak menyontek gaya narasi Idrus. Meski saat itu saya tidak mengerti isi ceritanya, tapi saya suka gayanya bercerita. Mungkin karena waktu itu novel yang saya temukan di perpustakaan SMP kebanyakan R.L Stein, Trio Detektif, Pilih Sendiri Petualanganmu, atau Agatha Christie. Sehingga saat membaca Idrus, saya merasa tulisannya ‘segar’ dan keren. Saya cenderung mengikuti orang-orang keren.

Soal tradisi menulis, saya tidak terlalu yakin apakah di keluarga saya ada tradisi menulis, tapi saya pernah menemukan surat cinta ayah untuk ibu. Apa itu artinya ayah saya suka menulis? Sejauh ini saya tidak pernah menemukan buku harian atau apapun. Tapi, almarhum kakek dari ibu saya seorang dalang, beliau suka bercerita apa saja. Jadi, saya rasa, tradisi bercerita lisan lebih kuat daripada tradisi menulis.

Lalu, bagaimana kau mendapatkan tradisi itu, maksudku bercerita. Bolehlah kau berbagi cerita ini dengan sebuah cerita.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, almarhum kakek saya suka bercerita. Dan kalau sudah bercerita panjang sekali, seolah tidak mau berhenti. Kakek tinggal bersama kami di Peninggilan, Ciledug, dan dia suka mengajak saya naik sepeda. Saya duduk di depan, kami bersepeda menyusuri Jalan Raden Fatah, ke Jurangmangu, masuk ke perkampungan yang tembus ke perumahan tempat tinggal kami. Pernah juga sampai Stasiun Sudimara. Kadang kami cuma mampir di Bintaro. Saat itu Bintaro sedang dalam pembangunan, kami cuma berhenti di tepi jalan, menyaksikan gerak-gerik buldozer, lalu pulang. Dan selama jalan-jalan, dia bercerita, kebanyakan cerita wayang, sih. Kebiasaan itu bertahan hingga tengah tahun 1997, di tahun itu kakek pindah ke Bogor, dan wafat di Bogor satu tahun kemudian.

Ayah saya pendiam. Cool. Persis macam Pak Nabi. Seingat saya dia jarang mendongeng. Satu-satunya cerita yang pernah dituturkannya dan masih saya ingat sampai sekarang itu kisah Upik Abu. Dia bercerita soal Upik Abu versinya sendiri. Seluruh ceritanya mirip dengan Upik Abu, kecuali bagian akhirnya. Versi aslinya, kan, kalau nggak salah: pangeran membawa sepatu berkeliling desa, mencari kaki yang pas dengan sepatu itu. Versi ayah saya: Sebelah sepatu itu berjalan sendiri keliling desa mencari pemiliknya.

Dugaan saya begini: Ayah saya barangkali berpikir dia ingin menghilangkan kisah percintaan dari cerita itu karena menganggap saya masih kecil, atau dia berusaha melucu meski saat itu saya yakin saya tidak tertawa.

Itu barangkali cerita ‘sureal’ pertama yang saya dengar.

Kemungkinan dari Kakek dan cerita Ayah saya itulah saya jadi suka membaca atau mendengar cerita orang. Terlebih di kampung saya dulu—kampung yang hampir seluruh laki-laki dewasanya penganggur dan penjudi—gemar bercerita apa saja: dunia perdukunan, pengalaman tidur di komplek pemakaman tionghoa untuk mendapat nomor undian, dan sepakbola. Kalau bercerita kadang sambil teriak-teriak, mereka tertawa-tawa di rumah biliar belakang gereja Pentakosta. Kebetulan saya berteman dengan anak pemilik rumah biliar itu, kadang saya membantunya: mulai dari membereskan bola-bola biliar, merapikan tongkat, menulis poin di papan, menyajikan kopi, hingga menulis kertas undian judi Toto Gelap yang saat itu memang sedang marak. Tak jarang pula mereka bertanya apa yang saya mimpikan semalam. Saat mereka sedang bermain biliar, ributnya bukan main. Tetapi, saat berhadapan dengan kertas-kertas kode judi Toto Gelap, mereja bak kaum phytagorean yang tenggelam dalam angka-angka. Mereka merancang rumus-rumus khusus, menafsir gambar-gambar binatang yang muncul dalam kertas kode, dan mereka kelihatan serius sekali melakukannya. Dari rumah biliar itulah saya banyak mendengar kisah-kisah dari tiongkok, membaca novel-novel silat dan komik-komik (alm) R.A Kosasih. Mungkin dari pengalaman masa kecil itu pula saya jadi suka menulis cerita.

Nah, mari kita berbicara tentang novel pertamamu berjudul ‘Kamu‘. Dalam kesempatan Peluncuran novelmu bulan lalu, banyak yang bilang terpengaruh oleh Albert  Camus. Sebenarnya, sejauh mana pengaruh pengarang ‘the stranger’ itu bagimu?

Saya baca novel itu SMA, ‘Orang Asing’ yang sampulnya siluet orang berbaris kalau tak salah—saya lupa penerbitnya. Adakah orang yang membaca novel itu lalu tidak terpengaruh? Ada, pasti, tapi rasanya yang terpengaruh lebih banyak. Saya tidak meniatkan diri untuk mengikuti gaya narasi Camus. Saat itu saya nggak tahu apa itu eksistensialisme dan tetek-bengek lainnya, saya hanya menganggap novel itu keren. Dan seperti saya bilang tadi, saya cenderung mengikuti orang keren. Hehe. Di masa-masa itu saya banyak bermain peran jadi orang-orang yang saya anggap keren. Misalnya, setelah membaca potongan artikel Jim Morrison, saya berpura-pura menjadi Jim Morrison. Setelah membaca Pulanglah Dia Si Anak Hilang, saya ingin jadi Chairil.

Yang seperti itu, kira-kira. Tokoh 'Kamu' lahir di masa-masa itu, dalam perjalanannya, setelah saya bertemu orang-orang tampan lainnya dan cara pandang saya sepertinya ikut bergeser, ia terpecah jadi dua, yang satu tetap menjadi 'Kamu' setengahnya lagi menjadi Sang Narator. Sejujurnya, esai Arthur Schopenhauer banyak berperan membentuk karakter Sang Narator. Sebelumnya saya pernah kecewa bekerja sama dengan seorang editor dan setelah itu saya nggak pernah lagi mengirimkan naskah ke penerbit, rasanya lebih baik diunggah di blog sendiri sebab saya pikir mungkin memang naskah saya tidak layak untuk dicetak dan diperbanyak. Lalu nasib baik mempertemukan saya dengan Pemuda Korea, Dea Anugrah. Pemuda Korea ternyata jauh berbeda dengan editor yang pernah saya temui, kami lebih banyak ngobrol tentang hal yang kurang penting ketimbang membicarakan naskah itu sendiri, dan berkat wejangan dari beliau pula saya akhirnya menemukan semacam kepercayaan diri untuk menerbitkan novel itu.


Kemarin, beberapa alien mendatangiku. Saya terkaget. Ternyata, mereka cuma ingin bertanya, novel menarik apa di negaramu yang menarik saat ini dan serta merta kujawab novelmu. Lalu, mereka bertanya lagi, kenapa? Kujawablah singkat, karena novel itu punya selera humor yang menyebalkan. Ketika kujawab demikian, kulihat para alien itu memanggil kawan-kawannya dan turun ke bumi dengan jumlah lebih banyak lagi. Kami pun berbincang, salah satu dari mereka bertanya lagi, siapa penulis brengsek itu dan kujawab, namanya Dio. Dan kini, mewakili mereka, saya harus bertanya, dari mana cerita di novel ini berasal?

Dari sekitar, sih, Pak Nabi. Misalnya, bagian pembuka novel itu bau kamar saya sendiri. Pengamen yang menyebutkan nama-nama musisi itu dari seorang pengunjung warung kopi tempat saya biasa kongkow. Namanya Bang Heru, badannya besar dan kalau pakai celana pendek dilipat hingga sebatas selangkangan. Kalau ke warung kopi suka minta dibuatkan kopi, dan dia mencelupkan tahu goreng ke kopi itu sebelum dimakan, persis seperti mencelupkan biskuit. Kata warga sekitar, dia orang gila. Dia suka ngomong sendiri, dan bicaranya ngawur. Banyak ngomongin soal mesin-mesin, jendral anu yang bisa merakit bom dari sendok saat zaman penjajahan, dan sebagainya.

Saya kira dia mengidap skizofernia atau semacamnya. Suatu hari dia tiba-tiba berkata santai ke kawan saya: “Gue tahu kapan lo mati.” Kami jelas tercengang. Tapi, ya cuma begitu. Setelah itu dia malah membicarakan soal mesin kapal laut.

Sumur di perjalanan ke ‘Sisi B Kota Bogor’, itu terinspirasi dari serial animasi Inuyasha. Pernah nonton, Pak Nabi? Sumur keramat yang mengantar Kagome kembali zaman siluman. ‘Sisi B Kota Bogor’ sendiri adalah penafsiran ugal-ugalan dari lagu-lagu di album Fifth Dimension-nya The Byrds, beberapa lagu dari Strawberry Alarm Clock, dan lainnya.

Tentang bunuh dirinya Hana itu saya dapat dari pernyataan Menteri Pendidikan saat itu, M. Nuh. “...jika ada satu kelas bunuh diri massal usai UN, baru bisa dipikirkan ulang penyelenggaraan UN.” (tautan berita) Saya merasa beruntung tinggal di negara ini, tidak perlu mahal-mahal beli LSD atau ganja, cukup nonton TV atau baca berita saja

Oh, iya, setelah membaca Naked Lunch dan The Rum Diary, saya jadi terpikir untuk memasukkan unsur di dalam novel itu ke dalam novel 'Kamu'. Isi novel itu mungkin ya, campuran dari apa yang saya lihat dan dengar setiap hari.

Bisa kau sebutkan penulis-penulis favoritmu dan alasannya?

Kalau favorit ya banyak banget, Pak Nabi. Hehe. Bagaimana kalau yang saya nikmati selama kurang lebih empat bulan menyelesaikan novel Kamu sebelum akhirnya siap terbit?

FIKSI

-The Plague - Albert Camus: Sebab kematian itu menggantung di udara.

-Do Androids Dream of Electric Sheep? - Philip K. Dick: Seperti memaksa pembaca untuk bertanya-tanya, “Apa, sih, yang sebenarnya sedang terjadi sekarang?” Dan soal empati yang sepertinya merupakan inti novel ini.

- In the Miso Soup - Ryu Murakami: Kota Modern: bar-bar gelap, klub seks di bawah lampu-lampu neon, prostitusi remaja kelas menengah... surem. Saya kira kota itu perlu sosok seperti Pak Nabi. Oh iya, yang saya suka dari novel ini karena justru rasanya seperti membaca novel grafis.

- Ficciones -  Jorge Luis Borges: Bermain dengan konsep penciptaan~

-The Sailor Who Fell from Grace with the Sea - Yukio Mishima: Bayangkan situasinya begini, kau baru patah hati dan temanmu berkata begini: “Berliburlah ke pantai.” Kau pergi, tapi pantai dan laut ternyata juga tidak terlalu menghibur.

NON-FIKSI

-Riwayat Sang Kala (A Brief History of Time) - Stephen Hawking: Meski di kata pengantar tertulis, kalau tidak salah: ‘ditulis dalam bentuk yang dapat dimengerti oleh mereka yang tidak berpendidikan sains’—saya lupa tepatnya. Tetap saja saya tidak mengerti. Hehe. Tapi, di dalam buku ini banyak yang bisa dijadikan bahan di dalam cerita.

- A Walk in the Woods: Rediscovering America on the Appalachian Trail - Bill Bryson: Cocok dibaca kapan saja, dan di halaman mana saja. Hehe.

-The World as Will and Representation - Arthur Schopenhauer: Sebaiknya, jangan percaya apapun yang dikatakan orang tentang Schopenhauer sebelum kamu baca ini.

-Nyanyi Sunyi Seorang Bisu - Pramoedya Ananta Toer: sebenarnya, saya baca lagi buku ini karena teman baru mengembalikan saat saya sedang menyelesaikan novel ‘Kamu’.

-The Naked Ape: A Zoologist's Study of the Human Animal - Desmond Morris: Umat mesti selo, Pak Nabi, kalau tergesa-gesa nanti lenyap.

Sebagian saya baca dalam format buku elektronik, Pak Nabi. Karena kalau beli lumayan mahal dan susah dicari, dan saya tidak tahu bagaimana cara memesan di Amazon. Hehe.

Hmmm.. Kalau ini tidak ada hubungannya dengan alien. Selepas pertanyaan tadi, alien itu  kembali ke angkasa. Oh ya, alien itu juga menyebutkan kata ajaib, menurutnya,  penulis bumi suka tipu-tipu. Mending ia kembali ke planetnya saja. Tapi begini, menurutmu buku atau tulisan yang hebat  itu seperti apa? Jika perlu sebut judul-judulnya dan alasannya kenapa?

Tulisan yang hebat selalu membuat saya ingin memotong-motong mereka hingga menjadi bagian kecil. Menggosoknya hingga saya pikir saya sudah menemukan semacam intinya. Dan sialnya, setelah itu saya ingin membuat yang seperti itu juga. Sederhananya: Buku yang mengubah saya jadi mirip-mirip tukang batu akik.

Hmm, mungkin ini agak melebar, tapi  generasi kita dianggap sebagai generasi  digital. Bagaimana menurutmu?

Ya, nggak gimana-gimana hehe hehe terserah, deh, generasi apapun sama saja. Saya malah jadi ingat lagu My Generation dari The Who. Hehe.

Lalu, bagaimana caramu memelihara etos kepenulisan di tengah dunia digital yang terkadang malah membuat orang lupa membaca, atau malas membaca buku elektronik, dan lebih sering komentar di media sosial?

Soal 'membuat orang lupa membaca (buku) dan lebih sering komentar di media sosial' rasanya bukan urusan saya. Menulis barangkali semacam jembatan yang menyeberangi saya dari kebosanan satu ke kebosanan yang menunggu saya di depan. Bukan tujuan. Sehingga saya merasa tidak perlu memelihara 'etos kepenulisan' saya ‘di tengah dunia digital’, selama saya masih bisa merasa bosan, selama itu pula saya masih menulis. Ditambah dengan berkumpul bersama Pak Nabi Dave dan para sahabat, tentu saya semakin bersemangat menulis.

Saya merasa tidak keberatan hidup di ‘era digital’; membaca buku-buku digital, membaca majalah digital, dan digital-digital lainnya. Membaca kicauan Pak Nabi di twitter atau status-status Pak Nabi di facebook kan mempertebal iman kami juga. Kabar baiknya, dengan buku elektronik, tas jadi lebih ringan. Saya pikir seharusnya dengan buku elektronik kita jadi lebih rajin membaca, akses bacaan semakin luas, dan kita bisa menyimpan banyak buku di dalam ponsel, dan membacanya kapan saja. Menyenangkan. Kalau malas membaca buku elektronik ya, itu kan cuma soal cara berpikir, dan cara berpikir orang lain ya, lagi-lagi, bukan urusan saya.

Jika boleh tahu, proyek ambisius apa yang sekarang lagi kamu kerjakan, maksudku dalam menulis?

Saya tidak punya proyek ambisius, tapi saat ini sedang menulis novel dan menerjemahkan novel Kurt Vonnegut. Hehe.

Apakah kau berpikir bahwa dirimu adalah  seorang kutubuku? Kenapa?

Tidak. Karena selain membaca, saya punya kegemaran lain. Eh, kalau benar katamu tadi kita ini 'Generasi Digital', yang juga artinya membaca buku-buku berformat digital, istilah kutubuku bukankah jadi agak aneh? Selama ini, seingat saya,saya belum pernah menemukan kutu merayap di antara berkas-berkasbukuelektronikdalam harddisk.

Hahaha. Kau menghabiskan banyak waktumu di Bogor. Bagaimana arti kota ini bagimu?

Tidak ada artinya. Hehe.

Sebenarnya masih banyak yang kuingin tanyakan misalnya, kenapa belalang kian susah dan apakah ini ada hubungannya dengan fenomena crop circle atau bagaimana rambut putih bagi manusia disebut uban, kenapa tidak nama lain. Tapi itu semua tidak penting, sebab aku hanya ingin nanya satu hal dan ini kesukaanmu, bagaimana musik mempengaruhi dirimu dalam menulis? 

Saya cukup sering membuat cerita kecil dari lirik lagu yang saya suka. Menyenangkan ketika saya bisa berpura-pura mengerti apa yang ingin  disampaikan si pencipta lagu. Cuma corat-coret, sih, malu kalau dibaca orang.Hehe. Semoga menjawab pertanyaan Yang Mulia Pak Nabi Dave.

Oya, yang terakhir dan ini lebih penting dari segala pertanyaan di atas:  apakah situ sudah sarapan?

Terima kasih Pak Nabi Dave. Bolehkah minta gope buat nambahin beli rokok?




Sabtu, 04 April 2015

SUATU HARI DALAM KEHIDUPAN PRAMUDYA ANANTA TOER


Hidup memang bukan pasar malam, juga di tempat tahanan politik Pulau Buru. Di belakang kawat berdiri itu berjajar barak-barak bambu: bangunan sederhana di tengah sunyi ilalang dan pokok-pokok meranti yang telah ditebang. Di keluasaan itu, hampir-hampir tak ada suara.

Di hari Kamis sore yang mendung tanggal 25 Desember 1969 tersebut, seorang laki-laki berkaus dan bercelana khaki-dril lusuh berdiri dekat barang yang paling ujung. Barak XIX. Rambutnya putuh seluruhnya. Dari jarak sekitar 25 meter itu saya tak segera mengenali wajahnya, yang kadang-kadang diselaputi asap sampah sedang dibakar. Tapi kemudian saya tahu: dialah Pramudya Ananta Toer.

Ia adalah tahanan pertama yang terlihat dari kamp itu. Ia melambai-lambai romobongan wartawan yang datang dari Jakarta, lewat Ambon, singgah Namlea, menyusuri sungai Way Apu, dan saat itu muncul satu demi satu—setelah perjalanan kaki yang panjang menuju kamp—di atas jalan setapak yang becek dan hitam.

“Pramudya!?“ teriak seorang wartawan.

“Ya...“ Pram menjawab berseru. Suaranya masih keras lantang, mengeletar dengan emosi dan sifat gugupnya yang lama, seperti dulu. Hanya kini tubuhnya nampak liat, kulit wajahnya lebih terbakar matahari. Ia memelihara kumis.

Saya berhenti memasang kedua kamera yang tergantung di leher dan pergelangan tangan, mencoba memotret wajah di kejauhan itu lewat kawat berduri.

Dekat saya, di samping tonggak tempat saya menompangkan bahu mengatur fokus, Bur Rusuanto berseru, memperkenalkan dirinya kembali kepada Pramudya Ananta Toer, Pram agaknya tak lupa kepada pengarang yang lebih muda satu generasi sesudahnya itu, bekas tetangganya, yang dulu pernah jadi lawannya berdebat di saat-saat bertandang, dan kemudian jadi salah satu unsur lawan politiknya di tahun 1964, ketika anak muda itu ikut menyusun dan menandatangani Manifes Kebudayaan.

Saya sendiri berteriak:“Mas Pram, ada salah dari H. B. Jassin!“

“Terima kasih!“ Ia menyahut.

Sebenarnya, saya tidak ada amanat menyampaikan salam semacam itu dari H.B. Jassin—yang tak tahu sebelumnya bahwa saya akan berjumpa Pram di Pulau Buru—tapi saat itu tak ada cara lain bagi saya untuk membuka percakapan: suatu kesempatan yang mungkin tak akan saya dapatkan lagi dalam hidup saya. Pramudya Ananta Toer tidak pernah mengenal saya, dan saya tidak pernah berkenalan dengannya secara pribadi. Ia menyangka saya adalah seorang yang bernama “Goenawan Semaun“. Dan saya hanya berseru mengiyakannya. Waktu begitu sempit dan tempat begitu tak wajar buat suatu upacara introduksi yang tak perlu.

Lagipula apa baiknya itu buat Pramudya Ananta Toer? Sudah cukup baginya untuk mengetahui bahwa dalam rombongan wartawan wartawan yang datang itu ada pengarang yang dikenalya, Bur Rusuanto dan Alex Leo, dua pengarang yang berada di pihak lain dari pihaknya, dan karena itu mempunyai peruntungan yang lain pula dari padanya: dalam kebebasan. Saya tak bisa menebak, adakah kunjungan dari orang-orang luar tempat pembuangan sore itu menggembirakan atau menyedihkannya. Hanya pada saya ada semacam kekhawatiran aneh, kalau ia mengira bahwa beberapa orang hari itu sengaja datang kepadanya untuk menyindir ketidakbebasan yang kini mengungkungnya, dengan salam dan senyum mengasihani, orang yang dulu pernah dikutuknya hingga tak merdeka lagi buat berbicara di bawah bayang-bayang Partai Komunis, sebagaimana ia kini—meskipun dalam kondisi yang lebih jelek—juga tak merdeka untuk berbicara.

Karena, soalnya sudah sedemikian jauh. Perbedaaan seta pertentangan paham telah berakhir dengan perbedaan dan pertentangan nasib, di antara pagar yang telah dijaga dan petak rumput yang luas sore itu. Hidup memang bukan pasar malam. Nasib tak terbagi serentak beramai-ramai. Saya tak yakin adakah saya—ketika untuk kesekian kalinya memandang Pramudya Ananta Toer lewat kaca kamera—jadi bersyukur, atau menyesal, karenanya.

“Klik,“ saya memotret. Pada momen itu Pram tersenyum.

*

“Di sini mas Pram beloh menulis atau tidak?”

“Mintakan izin untuk itu,“ jawabnya.
Dari penjara Bukit Duri dan Pulau Edam hingga akhir Desember 1949—dua puluh tahun yang lalu—Pramudya Ananta Toer menuliskan ceritap-cerita pendek dan beberapa novel, yang sebagian besar diselundupkan keluar oleh Prof. G. J. Resink dan diterbitkan. Dari tempat penahanannya di tahun 1960, setelah menulis Hoa Kiau di Indonesia, ia juga konon menulis naskah yang hingga sekarang belum kita ketahui, meskipun H. B. Jassin pernah membacanya. Dan dari kamp Pulau Buru ini, apakah yang hendak ditulisnya?

Malam hari di tempat penginapan jaksa agung di kamp itu, Pramudya Ananta Toer didatangkan dan berbicara. “Ia menyatakan behwa ia ditangkap ketika sedang merencanakan menulis sejarah,“ kata Jaksa Agung ketika saya tanyakan peristiwa pertemuan dan pembicaraan itu. “Ia menyatakan bahwa ia mempunyai buku-buku dan guntingan-guntingan koran tabg sejak lama dikumpulkannya untuk itu. Ia bertanya tentang kemungkinan buat mendapatkannya kembali semua itu, sebab ia merencakan akan melanjutkan penulisannya. Saya kira itu usul yang baik. Saya kira itu bisa diusahakan.“

Menulis sejarah, seperti yang dilakukannya dengan dua jilid Panggil Aku Kartini Saja? di majalah indonesia bulan Juni 1956 dimuat Sunyi Senyap di Siang Hidup, yang konon ditulis Pram beberapa waktu sebelum ia mengunjungi Peking. ”Its difficult ti see this story as anything else but a sort of final settlement with the past at the moment of his break with it. It is noteworthy that after story Pramudya as a creative artist almost ceased to exprese himself…”  tulis Teeuw tentang cerita pendek itu. Nampaknya sang pengarang telah sampai pada satu babakan, di mana ia telah siap menggantikan impian-impiannya dengan tindakan—karena kepahitannya dengan dunia di sekitarnya, karena kekecawaannya terhadap kesia-siaan hidupnya sendiri, terhadap kegagalan tulisan-tulisannya dan terhadap tidak-cukupnya rasa kemanusiaan yang ada padanya.

Menggantikan impian-impiannya dengan tindakan: itukah yang menyebabkan Pramudya pada akhirnya menjadi  penulis pamflet lewat koran dan jadi penulis sejarah perjuangan? Itu pulakan yang menyebabkan ia dapat menemukan lingkungan dalam Parta Komunis Indonesia? Kesusasteraan memang tak selamanya bisa menolong, dan tak akan langsung sanggup memecahkan masalah-masalah yang berhubungan dengan rasa kemanusiaan. Bisa dimengerti pula apabila sastrawan sering tergoda oleh semacam rasa malu, atau mungkin putus asa, melihat dirinya sendiri hanya menulis puisi, cerita-pendek, novel dan esai, sementara ketidakadilan berlingkar-lingkar di sekitarnya: seakan-akan ia tak cukup menjadi manusia penuh yang bila perlu bertindak. Tapi kesalahan Pramudya Ananta Toer ialah bila ia dengan begitu kemudian mengira, bahwa hanya Partai Komunis Indonesia yang akan mampu memberesekan persoalan. Partai Komunis, atau partai revolusioner mana pun, atau kekuatan politik mana pun, akan terpaksa mengakui keterbatasannya di hadapan majemuk manusia. Dan apabila hidup kesusastraan yang wajar, yang bebas dan terbuka bagi segala kemungkinan hati serta pikiran, dikorbankan untuk itu, apakah artinya? Sejarah bukanlah soal yang mudah. Cita-cita besar, mungkin mulia, memang bisa menghalalkan penundaan beberapa bentuk kemerdekaan, tapi saya tidak percaya ia harus pula membenarkan tertahannya kemurnian hati. Pramudya Ananta Toer menjelang 1965 mungkin merasa telah memberikan pengorbanan buat cita-cita partai, yang tak lain artinya adalah pengorbanan rohani dalan acuan realisme-sosialis, ia rupanya harus mengorbankan diri lagi—bila ia masih percaya kepada pengertian perjuangannya—hanya kini dalam bentuk rohani dan jasmani yang terbelenggu dan terbelenggu.

Saya hanya mencoba menebak sikapnya, ketika saya kebetulan memperoleh kesempatan berbicara dengannya tanpa pengawal sore itu di depan Barak XIX. Umurnya 44, saya ingat, tapi di bawah rambutnya yang terlalu cepat memutih itu sorot matanya tetap seperti dulu, campuran keangkuhan dan kepahitan, tangkas, cerdas dan keras, tidak juga redup, memandang sekitarnya tanpa senyum, tanpa ketenteraman dan dengan segaris kebimbangan.

Bagaimanapun, saya seorang asing baginya—dalam suatu pertemuan yang tak bisa ditentukannya sendiri, di mana tak bisa diketahuinya adakah saya seorang pengunjung yang bersimpati atau seorang penyelidik dengan maksud tersembunyi.

“Menurut mas Pram, lebih enak mana di Buru atau di Salemba?” hati-hati saya bertanya, tahu bawha ia beberapa waktu lamanya berada di Rumah Penjara di pojok Jakarta itu sebelum dibawa ke mari, dan tahu bahwa mungkin pertanyaan seperti itu tidak akan dijawabnya terus-terang. Tapi ia menjawab,”Ya lebih enak di Salemba.”

Suaranya pasti.

Ia tidak mempunya kecurigaan kepada saya agaknya, untuk berkata demikian.

“Saya tadi bertanya kepada beberapa kawan-kawan,” kata saya lagi agak terbata-bata menyebut tahanan politik sebagai ‘kawan-kawan’ suatu istilah yang punya konotasi istimewa bagi mereka,”dan mereka mengatakan  bahwa makana di sini lebih baik daripada di beberapa penjara di Jawa… dan di sini ada alam terbuka yang luas… meskipun mereka mengeluh karena jauh dari keluarga.”

“Ya, tapi tenaga ktia di sini diabsordir oleh kerja yang berat.”

Saya terdiam, memandangnya. Suaranya bersemangat

*

“Di sini, sastrawan atau profesor harus bekerja sebagai tani,“ kata seorang petugas. “Mereka harus mengolah tanah ini, agar nanti bisa memilikinya dan hidup dari hasilnya.“

Dan saya bergurau.“Seorang sastrawan penganut realisme sosialis memang harus belajar hidup dengan dan dari kaum tani, seperti yang dikatakan Mao.“

Beberapa orang tertawa di sekitar saya, dan saya tak tahu adakah gurauan semacam itu tidak keterlaluan. Yang menyebabkan mereka bekerja semacam itu di pulau ini bukanlah partai mereka, tapi pemerintah yang telah membubarkan partai itu. Dan itu bisa berarti, bahwa kerja di situ adalah unsur ketidakbebasan, suatu batas yang harus mereka taati, seperti halnya pagar kawat berduri yang melingkupi kamp mereka.

Tapi tidakkah itu mungkin pula justru suatu alternatif yang lebih baik bagi mereka? Kerja, juga kerja di tanah-tanah di Pulau Buru yang telah disediakan bagi para tahanan politik, denan hutan yang telah dibuka oleh pasukan zenie dan Jawatan Transmigrasi, dengan rencana pembebasan yang konon akan terlaksana secara bertahap di masa depan, dan bibit padi serta palawija yang telah disiapkan, tidakkah itu juga bisa berarti kerja “Membangunkan Hari Kedua“ itu masih jauh, masyarakat baru yang akan mereka lahirkan kelak masih hanya satu kemungkinan, tapi kesempatan kerja di lingkungan langit terbujka, pohon-pohon serta tanah subur Pulau Buru barangkali lebih baik daripada duduk-duduk di sudut sel sepanjang hari, hingga akhir yang tak bisa diduga.

Barangkali. Tapi saya tahu bahwa masalahnya adalah masalah kenisbian: seberat-berat mata memandang masih berat bahu memikul, meskipun selalu ada kemungkinan bahwa mata yang memandang itu mata yang terlalu cepat jatuh kasihan...

Dalam catatan saya, 18 Desember 1969, Kamis, Kamp Tahanan Politik P. Buru, tertulis: “Kamp ini bukanlah neraka—seperti dinyatakan orang, juga bukan surga—sebab proyek Buru barulah suatu kemungkinan. Kita tak bisa menilai terlalu cepat, dan dari jauh, begitu saja.

“Beb Vuyk pernah tinggal di pula ini dan menulis Rumah Terakhir di Dunia. Mungkin Pusat Resettlement Buru akan merupakan rumah terakhir buat Pramudya Ananta Toer, dan yang lain-lain. Tapi sebuah rumah adalah tetap sebuah rumah, lebib baik daripada sekadar impian dan kekecewaan.”

Saya tidak tahu adakah saya benar.

Goenawan  Mohamad
Desember 1969

PS: Catatan ini saya tulis ulang dari buku ‘Kesusasteraan dan Kekuasaan’ karya Goenawan Mohamad dan terbit 1993.


Kamis, 19 Maret 2015

Gabriel Garcia Marquez Berjumpa Ernest Hemingway

Oleh: Gabriel Garcia Marquez

Aku segera mengenalinya, saat berjalan bareng Mary Welsh, isterinya, di Boulevard  St. Michel di Paris pada suatu hari yang hujan di musim semi tahun 1957, ia berjalan di sisi lain jalanan itu, ke arah Taman Luxembourg, memakai celana seperti koboi lawasan, kemeja kotak-kotak dan sebuah topi pemain bola. Satu-satunya hal  yang membuatnya tak tampak seperti dirinya adalah sebuah kaca mata logam, kecil dan bulat, dan membuatnya seperti memiliki wajah kakek-kakek tua yang yang prematur. Ia sudah berusia 59 tahun, dan tubuhnya besar nyaris kentara dan tampak, tetapi ia tak memberi kesan kekuatan brutal yang tak meragukan, dan itu ia harapkan, karena pinggulnya sempit dan kakinya tampak sedikit kurus di atas sepasang sepatu kasar penebang pohon. Ia tampak begitu hidup di tengah-tengah kios buku bekas dan di antara anak-anak muda yang banyak dari Sorbonne, sehingga tidak mungkin membayangkan ia hanya punya waktu empat tahun lagi untuk hidup.

Ernest Hemingway
Selama sepersekian detik, seperti biasanya yang selalu menjadi masalah, aku menemukan diriku terbagi antara dua peranku yang saling bersaing. Aku tak tahu apakah akan memintanya untuk sebuah wawancara atau sekadar menyeberangi jalan raya untuk mengungkapkan kekagumanku kepadanya. Namun segala pertimbangan, aku menghadapi ketidakenakkan yang sama. Waktu itu, aku bicara bahasa Inggris yang dasar, dan aku sangat tidak yakin dengan bahasa Spanyol petarung banteng-nya. Jadi, aku tidak melakukan keduanya yang dapat merusak suasana saat itu, namun tiba-tiba aku menangkupkan tangan di depan mulutku dan, seperti Tarzan di hutan, berteriak dari seberang ke ke arahnya: "Maaaeeestro!" Ernest Hemingway tampaknya mengerti bahwa tak akan ada sebutan 'master' lain di tengah-tengah gerombolan para pelajar, dan ia menoleh, mengangkat tangannya dan berteriak padaku dalam bahasa Castilian dengan suara yang sangat kekanak-kanakan, "Adiooos, amigo!" Itu satu-satunya waktu kala aku melihatnya.

Pada saat itu, aku seorang wartawan berumur 28 tahun dengan sebuah novel yang sudah diterbitkan dan telah mendapatkan hadiah sastra di Kolombia, tetapi tetap saja aku terkatung-katung dan tanpa tujuan di Paris. Guru-guruku yang terbesar adalah dua novelis Amerika Utara yang hidup nyaris berbarengan. Aku telah membaca apa saja yang mereka terbitkan, tetapi bukan sebagai bacaan yang saling melengkapi- namun lebih sebagai dua yang berlawanan, dua perbedaan dan satu sama lain hampir merupakan bentuk-bentuk ekslusif pemahaman sastra. Salah satunya adalah William Faulkner, pada siapa aku tak pernah melihatnya dan yang hanya dapat aku bayangkan sebagai petani yang mengenakan kemeja merentangkan lengannya di samping dua ekor anjing putih kecil dalam potretnya yang terkenal karya Cartier-Bresson. Pengarang satunya lagi adalah orang barusan yang baru saja mengatakan selamat tinggal kepadaku dari seberang jalan, meninggalkan aku dengan kesan bahwa sesuatu telah terjadi dalam hidupku, dan telah terjadi selamanya.

Gabo
Aku tak tahu siapa yang berkata bahwa para novelis membaca novel karya penulis lain sekadar untuk memahami cara mereka menulis. Aku mempercayainya. Kami tentu tidak puas dengan rahasia-rahasia per kalimat di permukaan halaman mereka: kami membolak-balik buku untuk melihat lapisan-lapisannya. Dalam satu cara tidaklah mungkin untuk diterangkan, kami membongkar buku itu untuk mendapatkan bagian-bagian esensialnya dan kemudian mengembalikannya bersama-sama setelah kami mengerti misteri-misteri kerumitan personalnya. Usaha ini membuat kecil hati pada buku-buku Faulkner, karena ia tak tampak memiliki suatu sistem organik dalam menulis, namun berjalan membabi-buta menembus alam biblikalnya, seperti sekumpulan kambing dilepas di sebuah toko kristal. Berencana membongkar satu halaman yang seperti ini, seorang akan memiliki kesan pegas dan sekrup berhamburan, dan tidaklah mungkin untuk meletakkannya kembali dalam keadaan sesungguhnya. Hemingway, sebaliknya, kurang inspirasi, kurang nafsu, dan kurang gila namun dengan kesederhanaan yang mempesona, meninggalkan sekrup seluruhnya tampak, seolah mereka berada dalam mobil barang. Mungkin dengan alasan itu Faulkner merupakan seorang penulis yang banyak berbuat bagi jiwaku, namun Hemingway adalah orang yang telah banyak berbuat bagi keterampilanku - tidak sungguh-sungguh bagi buku-bukunya, tapi bagi pengetahuannya mengenai aspek keterampilan dalam teknik menulisnya yang mengherankan. Dalam wawancaranya yang bersejarah dengan George Plimpton di The Paris Review, (Hemingway) memperlihatkan di segala keadaan- berbeda dengan gagasan kreativitas Romantik - kesenangan ekonomi dan kesehatan yang baik kondusif untuk menulis; bahwa salah satu kesulitan yang utama adalah menyusun kata-kata dengan baik; bahwa ketika menulis menjadi sulit adalah baik untuk membaca kembali buku-buku sendiri, untuk mengingat bahwa hal itu memang selalu sulit; bahwa seseorang dapat menulis begitu lama ketika tak ada yang berkunjung dan tak ada telepon; dan tidaklah benar bahwa jurnalisme mematikan seorang penulis. "Sesekali menulis menjadi keburukan utama dan kesenangan paling besar," katanya, "hanya kematian yang mampu mengakhirinya." Akhirnya, pelajarannya adalah penemuan bahwa setiap hari kerja seharusnya hanya dipotong ketika ia tahu di mana hari esok bisa dapat memulai lagi segalanya. Aku tak berpikir ada nasihat lain yang lebih berguna tentang menulis yang pernah orang lain berikan. Begini saja, tak kurang maupun lebih, semacam peristiwa mengerikan untuk para penulis: pagi yang menyengsarakan menghadapi halaman kosong.

Seluruh karya Hemingway menunjukkan bahwa spirit karya tersebut memang begitu brilian namun usianya pendek. Dan ini dapat dimengerti. Ada semacam tegangan internal yang ia lakukan, dan tetap tunduk pada dominasi teknik, dan untuk itu tak dapat ditopang di dalam jangkauan-jangkauan luas dan berisiko laiknya novel. Ini sifatnya, dan kesalahannya adalah mencoba untuk melebihi batas-batas kehebatannya. Dan itulah mengapa segala sesuatu yang berlebihan lebih nyata padanya ketimbang pada para penulis lain. Novel-novelnya seperti cerita-cerita pendek yang telah keluar dari proporsi yang harusnya, yang diisi terlalu banyak. Sebaliknya, segala sesuatu yang terbaik mengenai cerita-ceritanyanya adalah bahwa karya-karya itu memberi kesan tentang sesuatu yang hilang, dan inilah misteri cerita dan bukti begitu impresifnya (Cerita itu). Jorge Luis Borges, yang merupakan salah seorang penulis besar zaman kita, memiliki batas-batas yang sama, tetapi memiliki cita rasa untuk tidak coba berlebihan.

Satu tembakan dari Francis Macomber pada singa menunjukkan suatu pemberian yang besar sebagai suatu pelajaran berburu, tetapi juga sebagai suatu cara penyajian teknik menulis. Dalam salah satu ceritanya, Hemingway menulis  seekor banteng dari Liria, setelah menyeruduk dengan ganas dada sang matador, kembali laiknya "seekor kucing menuju sebuah sudut." Aku percaya, dengan segala rendah hati, bahwa pengamatan itu merupakan salah satu dari sedikit kedunguan penuh inspirasi, hanya datang dari para penulis yang begitu berbakat. Hasil kerja  Hemingway itu penuh dengan pengamatan sederhana dan mempesona, yang mana menampakkan titik di mana ia menambahkan definisinya mengenai penulisan sastra: bahwa, seperti gunung es yang terapung, ada dasar yang sangat kuat yang menopang gunung itu yang merupakan satu per tujuh volumenya.

Kesadaran teknik tersebut tak diragukan lagi merupakan alasan Hemingway tak akan mencapai kegemilangan dengan novel-novelnya, terkecuali dengan cerita-cerita pendeknya yang lebih disiplin. Membicarakan "For Whom the Bell Tolls" ia berkata bahwa ia tak memiliki pertimbangan sebelumnya untuk mengkonstruksi buku, tetapi lebih dibuat-buat setiap hari sehingga menjadi panjang. Ia tak punya apa pun untuk mengatakan itu: sudah jelas. Sebaliknya, cerita-cerita pendek instannya yang memberi inspirasi tak dapat disangkal. Seperti halnya tiga cerita yang ditulisnya pada suatu sore bulan Mei di sebuah  rumah penginapan kota Madrid, ketika suatu  badai salju memaksa pembatalan adu banteng di perayaan San Isidro. Cerita- cerita tersebut, seperti yang ia katakan juga pada pada George Plimpton, adalah “The  Killers, Ten Indians” dan “Today is Friday”, dan ketiga-tiganya magis. Pada baris-baris cerita di sana, bagi seleraku, cerita di mana kekuataannya sangat ditekan adalah salah satu ceritanya yang paling pendek," Cat in the Rain."

Meskipun begitu, bahkan jika hal itu muncul menjadi suatu olok-olokan nasibnya, bagiku karyanya yang paling mempesona dan manusiawi adalah karyanya yang paling tak sukses:"Across the River and Into the Trees". hal tersebut  sebagaimana ia nyatakan, diawali sebagai sebuah cerita pendek dan jadi tersesat ke dalam rimba mangrove sebuah novel. Sukar dimengerti begitu banyaknya retak-retak struktural dan begitu banyak kesalahan mekanik sastra dalam seorang teknisi yang bijaksana seperti demikian - dan dialog begitu seperti dibuat-buat, bahkan disusun, dalam karya salah seorang pandai emas paling cemerlang  sejarah sastra.

Ketika buku itu diterbitkan tahun 1950, para kritkus menjadi galak tapi salah cara (Dalam memahami). Hemingway merasa terluka, begitu sakit hati, dan ia membela diri dari Havana, mengirimkan sebuah telegram penuh gairah yang tampak tak sopan untuk seorang yang terkenal sebagai penulis terkenal.Tak hanya novel terbaiknya, itu juga merupakan yang paling pribadi, ditulis pada saat fajar di suatu musim gugur, dengan nostalgia pada tahun-tahun hidupnya yang tak dapat ditebus kembali dan suatu pertanda pedih tahun-tahun yang telah ia lewati. Tak ada satupun di dalam bukunya ia meninggalkan banyak hal dari dirinya sendiria, tidak juga ia menemukan - dengan segala keindahan dan kelembutan hati- suatu cara untuk memberi bentuk pada sentimen penting karya dan kehidupannya; kesia-siaan kemenangan. Kematian protagonisnya, seolah-olah begitu damai dan alami, merupakan penyamaran bunuh dirinya sendiri.
Ketika seseorang hidup begitu lama dengan karya seorang penulis, dan dengan intensitas dan rasa sayang, seseorang itu terjebak tanpa suatu cara memisahkan fiksi dari realitas. Aku telah menghabiskan banyak jam berhari-hari membaca di cafe itu, di Place St. Michel, yang ia anggap tempat baik untuk menulis karena tempatnya nyaman, hangat, bersih dan bersahabat, dan aku selalu berharap untuk menemukan sekali lagi gadis yang ia lihat masuk pada satu hari yang buas, dingin dan berangin, seorang gadis yang begitu cantik serta tampak segar, dengan rambut dipotong diagonal, wajahnya seperti sayap seekor elang. "Kau bagian dariku dan Paris adalah bagian dariku," ia menulis padanya, dengan kekuatan menulis dan tulisannya yang  kuat seperti yang ia miliki. Aku tak dapat melewati jalan Rue de l'Odeon No. 12 di Paris tanpa melihatnya berbincang dengan Sylvia Beach, di dalam sebuah toko buku yang sekarang tak lagi sama, membunuh waktu sampai jam enam malam, ketika James Joyce mungkin akan datang. Di padang rumput Kenya, melihatnya hanya sekali, ia menjadi pemilik kerbau dan singa-singanya, dan pemilik rahasia-rahasia berburu yang paling intim. Ia menjadi pemilik petarung banteng dan petinju bayaran, para seniman dan jago tembak yang hanya ada sesaat sementara mereka menjadi miliknya. Italia, Spanyol, Kuba--setengah dunia diisi dengan tempat-tempat yang ia ambil secara sederhana dengan hanya menyebut mereka. Di Cojimar, sebuah desa kecil di dekat Havana di mana nelayan kesepian "The Old Man and the Sea", tinggal ada sebuah tanda peringatan keberanian yang heroik, dengan patung  Hemingway berlapis emas. Di Finca de la Vigia, tempat ia mengungsi  Kuba, di mana ia tinggal hingga menjelang kematiannya, rumah itu tetap utuh di tengah-tengah pepohonan yang rindang, dengan koleksi beragam bukunya, piala-piala berburunya, podium tempatnya menulis, sepatu orang matinya yang sangat besar, pernah-pernik yang tak terhitung dari seluruh dunia miliknya sampai ia mati, dan yang hidup tanpanya, dengan jiwa yang ia berikan pada mereka dengan magis  atas benda-benda itu.

Beberapa tahun yang lalu, aku masuk ke dalam mobilnya Fidel Castro—Ia pembaca sastra yang kuat—dan di tempat duduknya aku melihat sebuah buku kecil dengan sampul kulit berwarna merah. "Ini guruku, Tuan Hemingway," Fidel Castro berkata padaku. Sungguh, Hemingway terus menjadi tempat di mana orang berharap menemukannya - 20 tahun selepas kematiannya - waktu yang singkat yang abadi sebagaimana pada pagi itu, barangkali bulan Mei, ketika ia berkata "Adios, amigo" dari seberang, kala melewati jalan Boulevard St. Michel.

*Diterjemahkan ke dalam bahasa inggris oleh Randolph Hogan, artikel ini saya terjemahkan dari ini

Selasa, 24 Februari 2015

Lima Jurus Jitu Menerbitkan Novel

Yang Harus Kamu Ketahui Tentang Menerbitkan Novel


 

Pertama, yang harus kamu ketahui adalah:
 

Kedua, ada langkah-langkahnya tentu saja. 





Ketiga, Kamu tentu ingin tahu proses menerbitkan novel.











Keempat, untuk bisa ke mokamedia, bagaimana caranya.



















Kelima, tentu ada banyak alasan kenapa naskahmu ditolak dan kamu akan terus bertanya-tanya, kenapa? Tidak ada jawaban pasti, tapi kira-kira kamu bisa menelaah kembali melalui gambar di bawah ini.
























Dan, jika semuanya sudah kamu lakukan, maka kamu akan berada di sini, bersama para penulis novel lain.






Dua Pencerita, Sepuluh Kisah dan segala Omong Kosong tentang Kenangan

Ada dua fakta penting yang harus kau ketahui sebelum terperosok lebih jauh ke dalam buku ini. Pertama, cerita-cerita di sini akan membuatmu sakit dan menyuruhmu pulang kampung sesegera mungkin—kalau dirimu adalah perantau yang telah lama tak sanggup pulang, entah karena biaya,nasib buruk yang membuatmu gagal pulang atau sudah tidak dianggap bagian dari kampungmu lagi, dan barangkali yang paling menjengkelkan: ada bagian dari masa lalu yang ingin kau kubur dalam-dalam. Kedua, silakan simak baik-baik fakta pertama dan persiapkan dirimu dengan kemungkinan besar bahwa segala sesuatu yang ada di sini hanyalah omong kosong belaka.

Sebelum segalanya tampak kacau dan membuat sakit kepala, saya akan mulai bercerita tentang dua penulis buku ini. Dua orang yang sudah lama saya kenal dan memiliki bakat alamiah yang diinginkan semua orang waras di dunia: bercerita dengan bagus. Saya sangat yakin, dua makhluk ini diciptakan ketika Tuhan sedang hobi mendongeng.
Orang pertama adalah Abdullah Alawi, kami biasa memanggilnya Abah atau ajengan atau Alawi. Untuk hal-hal yang berkaitan dengan Sunda, ia orang yang paling tepat diajak bercakap. Saya mengenalnya sebagai lelaki dengan rambut gondrong sebahu, kulit kuning langsat,kemampuan bergitar yang pas-pasan, serta ketidakmampuan mendapatkan pasangan kala akhir pekan tiba. Tapi soal kemampuan bercerita, di antara kami, jelas Alawi juaranya.

Sayangnya, orang ini tidak pernah mengirimkan cerita-cerita yang ia buat ke media massa arus utama. Kalau toh mungkin pernah, itu hanya sekali-dua. Itupun setelah bujuk rayu kami, sejawatnya. Berkali-kali saya memintanya untuk mengumpulkan cerita dan mulai mengirimkannya,tapi berkali-kali pula ia menjawab pendek, “Aku menikmati cerita-cerita ini di komputer dan ini adalah kesenangan pribadi.”

Begitu gemasnya, saya pernah memiliki keinginan buruk, mencuri cerita yang ia bikin, lantas mengirimkannya. Tentu saja tetap dengan nama Abdullah Alawi sebagai penulis. Tapi rencana itu urung saya lakukan. Dan meski begitu, beberapa kali cerita pendeknya dimuat di sejumlah majalah, zine dan tabloid terbitan pelbagai LSM.

Cerita-cerita Alawi di sini umumnya tak jauh dari tema orang-orang biasa, kerinduan akan rumah dan kampung halaman. Dari sekitar 30-an cerita yang saya baca dengan ragam tema, dengan pelbagai pertimbangan, saya memilih lima cerpen: Gula Kawung, Jalan Aspal Bulan Lima, Listrik Mati Lagi, Jalu Mengasah Golok, serta Antara Ibu dan Ayah.

Listrik Mati Lagi adalah cerpen Alawi tentang sebuah desa yang kerap mati listrik. Kisah yang biasa, tapi ternyata di dalamnya ada sepasang orang yang tidak tahan hidup dalam keadaan menghimpit, keduanya memilih mengakhiri hidup anak-anak mereka. Listrik adalah metafora yang membuat pembaca terkecoh dan percaya bahwa, segala sesuatu yang terjadi pada kehidupan ini, mungkin hanyalah bualan. Hal serupa juga terjadi pada cerita Jalan Aspal Bulan Lima, yang mengangkat janji dari perangkat desa akan pembangunan pada bulan kelima, janji tersebut terlanjur menjadi mitos yang turun temurun dan dianggap sebagai kebenaran.Sedangkan Gula Kawung mungkin lebih layak disebut sebagai cerita mistis tentang kepulangan seorang pada kampung halamannya dan menjadi pewaris generasi yang hilang; para penyadap pohon aren.

Cerpen Jalu Mengasah Golok adalah bentuk satir yang lain; tentang kebosanan pada hidup dan omong kosong orang-orang kampung dengan golok yang saban hari diasah Jalu. Lalu, cerita bertajuk Antara Ayah dan Ibu menyoroti bagaimana seorang anak mendapati kebingungan sikap kedua orang tuanya. Cerpen ini begitu asyik bermain dengan segala omong kosong dan ketidakjelasan, tapi dituturkan dengan gaya yang begitu jenaka.

Orang kedua yang ingin saya ceritakan adalah A. Zakky Zulhazmi; lelaki dengan tubuh agak gempal, pakaian yang selalu rapi dan rambut laiknya pemuda yang terlahir jaman revolusi. Ia seorang yang menggeluti studi media. Di sela-sela aktivitas akademiknya, ia juga melakukan banyak hal sebagai seorang cerpenis, pengamat kuliner, komentator, penasihat politik yang-yangan, penakluk hati perempuan, pencinta mie goreng Mas Ari garis depan. Baiklah, tiga yang terakhir agaknya berlebihan.

Zakky memang terlahir sebagai orang kreatif dan produktif. Tak heran, tulisannya tersebar di pelbagai media dan acapkali dibukukan.  Zakky adalah kebalikan dari Alawi yang selalu tampak kesepian dan menikmati kesendirian sebagai jalan hidup. Zakky hidup berkomunitas sejak masih sekolah di Solo. Komunitas Ketik, Karpet Merah, Senjakala dan Surah Sastra adalah tongkrongan tempatnya berproses.

Dari sana pula, lahir pelbagai cerita pendek yang ia kirimkan ke media massa, dan beberapa kali pula memenangkan lomba menulis. Saya cukup kebingungan ketika harus memilih lima cerita di buku ini, mengingat orang ini begitu produktif dengan cakupan tema yang cukup luas. Tercatat ada dua kumcer, tiga antologi dan tulisan lainnya.Total, ada sekitar 40-an naskah yang harus saya pilah, dansaya pun mengambil garis cerita; kampung, kepulangan dan kenangan masa kecil.

Cerpen pertama yang saya pilih bertajuk Masjid Abah, cerita yang mengingatkan satu keluarga akan kehilangan yang mereka alami; sebuah masjid yang menjadi penanda tumbuh,juga kenangan yang sebenarnya ingin terus mereka pelihara tapi terbentur realitas. Sama halnya dengan cerita Lelaki dengan Rajah Akar di Pipi Kirinya, berusaha menautkan peristiwa bencana alam Situ Gintung dengan sudut pandang percakapan orang-orang kampung dan kerinduan akan sebuah situ pada masa silam.

Cerpen bertajuk Tak Ada yang Minum Kopi Malam Ini sebenarnya juga berhasrat serupa. Sebagai orang yang tumbuh di Ponorogo dan Solo, Zakky seolah ingin meneguhkan angkringan sebagai penanda ruang bertemunya warga dan tentu percakapan yang hangat lainnya. Namun, tatkala politik dan persaingan bisnis kian meruyak dan mulai menggerus, semua jadi tampak konyol. Salah satu poin menarik dari Zakky adalah eksplorasi sudut pandang.

Di sisi lain, dalam cerita bertajuk Diam-Diam Aku Simpulkan, Alangkah Indahnya Rahasia, Zakky berkisah tentang kehidupan seorang Amik yang ditinggal orang tuanya. Cerita yang biasa, bukan? Tunggu dulu, silakan baca sampai usai dan temukan bahwa sudut pandang juga akan mengecohmu dan menjadi omong kosong. Senada dengan cerpen ini, Pohon Avokad juga menyiratkan hal serupa; kenangan adalah soal omong kosong yang terus dipelihara.

Lima kisah Zakky yang ia ceritakan di sini akan membuatmu kian bertanya: apakah kenangan itu hanyalah bualan, omong kosong yang tidak penting? Tapi kenapa membuatmu tampak lunglai, nyaris tanpa kekuatan apapun jika harus mengingatnya? Dan, jika kau percaya bahwa kesunyian adalah wajah lain dari omong kosong itu, maka cerita-cerita di sini merupakan kawan hangat, yang mengajakmu terus bercengkerama, hingga membuatmu mengumpat dan tertawa.

Zakky dan Alawi adalah dua penulis yang memiliki bakat bercerita yang baik. Mereka bercerita dengan asyik dan renyah. Membaca keduanya, kau akan merasa seperti kedatangan seorang kawan jauh yang tak henti-hentinya berkisah tentang hidupnya, masalahnya, kampungnya dan omong kosong lainnya. Kau tentu tidak akan melewatkan bertemu kawan lama yang begitu pandai bercerita, bukan? Tugasmu adalah menjadi pendengar yang baik, menyiapkan bercangkir-cangkir kopi dan menemaninya bercakap sampai pagi tiba. Cerita-cerita dalam buku ini coba mengisahkan orang-orang biasa dengan gaya tutur yang lancar mengalir.

Tentunya akan lebih manis lagi jika mereka senantiasa berinovasi dan terus meningkatkan kemampuan, misalnya, dengan memakan buah terong tiap hari dan keramas tiap malam. Baiklah itu omong kosong. Tapi, dengan umur yang masih begitu muda, sebaiknya mereka senantiasa memperbaiki gaya bercerita. Apalagi keduanya bergiat bersama di satu komunitas anak muda: Surah Sastra.

Surah, sebetulnya sudah lama mengupayakan penerbitan buku ini. Belakangan didorong lagi oleh salah seorang kolega, Savic Ali. Sejatinya ia adalah seorang ‘provokator’ yang terlatih dan piawai, sehingga buku ini bisa  terbit dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Ke depan, Surah berkomitmen menerbitkan buku-buku bagus lainnya. Percayalah, buku bagus akan membuatmu senantiasa menjadi orang waras di tengah dunia  yang bising dan menyebalkan ini.

Kira-kira begitulah catatan singkat ini atas sepuluh cerpen Zakky dan Alawi. Tidak ada catatan ilmiah, juga hal-hal jelimet laiknya sebuah pengantar. Ini adalah kesaksian biasa seorang sahabat kepada sahabatnya yang masih biasa juga. Tentunya kau bisa membuat kesaksian yang serupa.

Tapi, apakah kau masih percaya omong kosong ini?

Jabat erat,

Dedik Priyanto


NB: tulisan ini terdapat dalam pengantar kumpulan cerpen dua kawan saya, Zakky Zulhazmi dan Abdullah Alawi, yang bertajuk 'Gula Kawung, Pohon Avokad dan cerita pendek lainnya' dan diterbitkan oleh penerbit Surah, Komunitas Surah Sastra.  Silakan ke majalah surah jika ingin memiliki buku asyik ini.