Selasa, 30 September 2014

Melodi: Cinta yang Melintasi Waktu


Bulan ini Moka Media menerbitkan novel yang menarik. Judulnya Melodi; cinta yang melintasi waktu. Kebetulan saya juga yang diminta ngedit--hasil rapat redaksi, dan bertemu dengan penulisnya yang juga asik. Namanya Dedek Fidelis, asal Medan dan penyuka karya-karya Haruki Murakami.

Ceritanya sendiri tentang perjalanan waktu. Seorang gadis bernama Kiara yang terjebak pada masa dua tahun dari kehidupannya sekarang. Nanti saja saya akan cerita lebih banyak tentang novel ini.

Satu hal yang pasti, novel ini akan segera meluncur di toko buku terdekat. Kisar awal bulan. Jadi, mari kita tunggu. Begitu.

Minggu, 21 September 2014

Kencan Pertama yang Memalukan

Tidak selamanya kencan itu menyenangkan, apalagi yang pertama. Bahkan terkadang menyebalkan. Tentu saja tiap orang mengalaminya, kecuali ia benar-benar cupu atau memang pemalu akut, unyu atau apalah.

Beberapa waktu lalu, Moka Media menyelenggarakan 'sayembara menulis humor' dengan tema kencan pertama. Ada begitu banyak naskah masuk dan juri sempat kebingungan menentukan juaranya. Lalu, terpilih beberapa naskah terbaik dan dijadikan sebuah buku dan disunting oleh kawan saya Dea Anugrah, serta diberi tajuk 'Kencan Pertama yang Memalukan'.

Laiknya sebuah kumpulan cerita, di dalamnya kita akan menemukan ragam peristiwa. Tentang seorang perempuan yang selalu gagal tiap kencan meskipun sudah ikut biro jodoh, kencan dengan banci dan masih banyak lainnya. Semuanya ditulis dengan gaya humor yang asik dan tidak narsis.

Wah, kayaknya terlalu panjang saya cerita. Saya sih menyarankan siapapun untuk membacanya. Itu saja.


Sinopsis 


"Aku, laki - laki itu, dan manajernya menonton film drama. Aku suka nonton film, tapi bukan begini caranya. Orang - orang yang melihat tentu akan mengiraku sebagai ibu manajernya yang kurang terurus dan mengira laki - laki itu sebagai calon ayah baruku. Piknik keluarga. Jack dan Rose melambaikan tangan. Titanic tenggelam untuk kedua kalinya."

(Yessica P.F Apakah Hanya Kita Berdua?)

"Kadang dalam kencan, sebagai perempuan, saya terpaksa memaklumi kebiasaan para pria untuk memeri penjelasan akan fakta umum yang sudah banyak diketahui, tapi toh mereka dengan sok tahu tetap ngotot menjelaskan seolah kami tak tahu apa - apa."

(Isyana Artharini - Antara Film dan Kenyataan)

"Salah satu dari laki - laki gemulai itu memakai kardigan biru dan jins pensil ketat. Dia tersenyum manis kearah gue, perasaan gue mendadak masam. Pakaiannya sama persis dengan yang dijanjikan Sussy tadi malam."

(Adham Yudhistira - Sussy Celalutercakiti)

"Saya memulai : 'Sekolah dimana di Jakarta?' Padahal waktu itu Jakarta hanya pernah saya lihat di Tv balai desa, hitam-putih pula. Untuk menonton, kami mesti bawa obat nyamuk sendiri dan menyumbang 100 rupiah."

(Erni Aladjai - Kencan Tengah Hari Tua

Seperti Keluar dari Sebuah Gua

Some are dead, some are living, in my life i love you more ~ the beatles

Ceritanya begini, hari ini saya berulang tahun. Yang ke berapa? Tentu masih sangat muda. Kalau menurut KTP, saya baru seperempat abad. Dan saya tidak percaya. Ibu saya pernah bercerita bahwa akta lahir saya salah dan terus saja berulang di ijazah, akhirnya keterusan sampai kuliah, kerja dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan administrasi. Saya tentu saja masa bodoh dengan hal itu, tidak ambil pusing.

Jika mau mencatat ragam kejadian di tahun ini, saya merasa tidak ada yang istimewa. Semua berjalan biasa saja, tidak ada yang meledak-ledak seperti tahun lalu dan sempat membuat saya tampak begitu dungu. Bagi saya, tahun lalu adalah zaman peralihan.

Saya tidak mampu bercerita lebih banyak lagi. Tahun lalu saya sangat tidak produktif. Enam bulan pertama saya seperti berada dalam sebuah gua dan tidak sanggup untuk keluar. Lalu orang-orang mulai datang, mengajak berbincang dan mengajakku untuk berpikir realistis terhadap keadaan. Dan perlahan, saya mulai meninggalkan gua itu lalu berlari keluar sejauh-jauhnya dan mencari banyak hal di luar sana. Ternyata saya memang telah berlari dan terkadang lupa menengok ke belakang. Kepada mereka, saya ucapkan begitu banyak terima kasih--suatu waktu saya akan menuliskannya sendiri di blog ini.

Hal menggembirakan lain adalah, saya bertemu dengan banyak orang dan menambah daftar pertemuan, percakapan dan perdebatan lainnya. Mereka ini memperkaya pandangan hidup saya tentang kebebasan, kreativitas dan arti sebuah realitas. Entah kenapa saya ingat Gus Dur, kata dia, guru utama dalam hidup adalah realitas. Dan saya merasa mendapatkan itu dalam proses saya berlari dari gua yang menumpulkan daya hidupku.

Lalu, apalagi yang ingin saya ceritakan?

Masih banyak sebenarnya. Dan saya kira, hal yang paling penting adalah, menjalani apa yang telah saya apatkan dalam proses berlari ini sebaik-baiknya, sekuat-sekuatnya. Saya yakin sekali masa depan tercipta dari apa yang kita perbuat hari ini.

Ah, saya jadi melankolis kalau mengingat tanggal, apapun itu. Jadi, mungkin saya cukupkan saja di sini. Mungkin, saya akan sering update lagi blog, dan berbicara tentang apapun yang ingin saya utarakan. Itu saja sih.


PS: ada yang berkata padaku begini; seperti jatuh cinta, kita tidak bisa menolak jadi tua. Sialan!