Kamis, 21 November 2013

Buku, Pesta dan Cinta di Kampus Biru

Film: Cintaku di Kampus Biru (1976)
Adaptasi novel Cintaku di Kampus Biru (Ashadi Siregar)
Sutradara: Ami Prijono
Skenario: Nya Abbas Akub Cerita: Ashadi Siregar
Produksi: PT Safari Sinar Sakti Film

Buku, pesta dan cinta adalah tiga hal yang menjadi kunci  untuk memasuki dunia mahasiswa. Lalu dalam sejarah film nasional, film apa yang menggambarkan ketiga identitas ini?

Jika hal itu ditanyakan kepada beberapa kritikus, maka bisa jadi mereka serempak mereka akan menjawab film arahan Ami Prijono bertajuk Cintaku di kampus Biru (1976) adalah yang pertama menyuguhkan ketiga hal di atas. Bahkan film adaptasi dari novel populer Ashadi Siregar dengan judul serupa ini acapkali dijadikan contoh bagaimana menelurkan sebuah film yang tidak hanya komersial, tapi juga bermutu.

Film ini dimulai dengan adegan ciuman yang tidak hangat antara Anton (Roy Marten) dan Marini (Yetty Octavia) di semak belukar di dekat kampus Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta. Anton tampak rikuh dan gusar memikirkan ujiannya yang gagal untuk kesekian galinya, padahal waktu studinya sudah semakin mepet dan membuatnya lama lulus.

Sebagai seorang aktivis mahasiswa yang cerdas dan sudah hapal seluk beluk birokrasi kampus, ia merasa ada yang tidak beres dengan dosen ini. Menurutnya, ia sudah melakukan semua perintah yang dititahkan dosen tersebut, tapi apa lacur, ia tetap saja gagal. Dosen yang membuat Anton kesal itu bernama Dra Yusnita (Rae Sita), seorang gadis cantik, cerdas, angkuh tapi juga berumur.

Dari sinilah konflik film ini dimulai. Anton tidak diterima dengan perlakukan sang dosen. Lalu ia mengorganisasi sejumlah mahasiswa untuk mempertanyakan kepada pihak kampus terkait perangai dosen tersebut. Apalagi, korban dari kekejaman Bu Yusnita, begitu dosen itu biasa disapa, tidak sedikit yang bernasib sama seperti Anton.   

Konflik memang lantas terjadi antara sang dosen dengan sejumlah mahasiswa yang dipimpin oleh Anton. Ketegangan menjadi makin memuncak oleh tangan-tangan jahil yang melempari rumah Yusnita, serta menempelkan plakat di kampus yang isinya mengolok-olok Yusnita. Sonta, ia pun amat tersinggung dan menuduh Anton sebagai biang keladi, serta mendeesak kampus untuk mengeluarkannya dari kampus.

Ketegangan pun tak terelakkan, Anton harus berhadapan dengan dewan dosen, sedangkan di luar gedung, para simpatisan Anton telah bersiap menggelar aksi massa. Akhirnya, hukuman Anton pun ditangguhkan sebab ia masih harus memimpin sebuah penelitian yang melibatkan mahasiswa lintas kampus. Pendek cerita, Anton pun kembali diselamatkan oleh kegigihannya menerangkan otoritas kampus yang tidak boleh semena-mena. Apalagi menyingkirkan kampus 

Buku, Pesta dan Cinta

Seperti yang saya gambarkan di atas, film ini adalah mula yang memotret tentang fenomenakampus dengan pelbagai dinamikanya yang khas; corak intelektualisme mahasiswa dan semaraknya cinta antar mereka, serta tentu saja narasi perlawanan sebagai potret jaman di tahun 70-an, beberapa tahun sebelum NKK-BKK (1977-1978) diberlakukan sebagai bentuk kebiri yang dilakukan pemerintah orde baru terhadap gerakan mahasiswa.

Salah satu hal yang menonjol adalah perwujudan sosok Anton yang digambarkan begitu mengidolakan Che Guevara dan berambut gondrong, serta menjadi pemimpin Senat mahasiswa yang mampu memobilisasi aksi massa untuk melawan dewan dosen yang telah membuat dirinya.

Tak hanya itu, film ini juga menggambarkan intrik politik dan perebutan kekuasaan yagn terjadi dalam tubuh mahasiswa. Anton dianggap oleh kawan-kawananya sesama aktivis sebagai sosok yang harus segera disingkirkan, sebab ia telah lalai terhadap tugasnya sebagai pemimpin, apalagi kini sikapnya semakin lembek, dan kurang menggigit selepas dekat dengan beberapa perempuan, termasuk Yusnita, orang yang dulu ia lawan.

Maka dilancarkanlah pelbagai aksi guna menyingkirkan Anton di kursi. Anton pun harus pasrah, apalagi ia  dikhianati kawannya sendiri, Farouk, yang bersengkongkol untuk melawan dirinya dengan mengajukan orang lain untuk menduduki. Padahal sebelumnya, Anton adalah orang yang mengkader dirinya.

Farouk sakit hati, sebab ia merasa tidak dianggap dalam kancah politik kampus dan dilecehkan oleh sikap Anton. Apalagi ia tertangkap basah oleh Anton sedang selingkuh dengan kekasih Anton, Marini. Konflik antar tokoh mahasiswa pun terjadi, dan Anton harus merelakan jabatannya sebagai ketua senat beralih melalui pemilhan umum.

Walaupun demikian, dunia kampus tetaplah dunia yang penuh dengan cinta. Anton pun digambarkan sebagai sosok yang begitu digandrungi perempuan, yakni Marini, Erika dan bu Yusnita. Ketiga perempuan ini seolah berlomba untuk mendapatkan hati Anton.

Tapi Anton tetaplah tetaplah pribadi yang tidak bisa diatur, walaupun itu oleh orang yang dicintai. Bahkan ia pun menolak kembali ke Erika, gadis manis yang ditemuinya di perpustakaan kampus, sebab ia pernah ditolak mentah-mentah oleh orang tua Erika.

Buku, pesta dan cinta adalah tema yang telah lama diperdebatkan dan tak akan pernah usai selama masih sosok bernama mahasiswa. Drama Anton dan pelbagai konfliknya adalah tanda, perlawanan tidak akan habis selama masih ada mahasiswa di tengah kita. Begitulah. 

PS: Tulisan lebih menggelitik soal ini, bisa dilihat di edisi empat majalah Surah edisi 4 :p

Senin, 18 November 2013

Kesunyian dan Sejumlah Kisah Orang Bawah

Syahdan, berdasarkan pengulik sastra kebanyakan,  kenangan adalah satu ruang yang banyak dijadikan inspirasi penulis mengeksplorasi kekayaan masa lalu. Kenangan itu bisa merupa pedih yang dalam, atau riang yang acap bergelap dengan ruang sendu sebagai penanda cerita.

Begitu halnya yang termaktub dalam kumpulan cerita pendek bertajuk Kabar dari Kesunyian (PBS, 2012) oleh Zakky Zulhazmi, cerpenis asal Ponorogo, Jawa Timur, yang berusaha untuk memberikan warta tentang hidup yang begitu dingin, minimal bagi dirinya sendiri. 

Jika Freud menganggap ruang kenangan ini merupakan alter ego yang menuntut orang untuk senantiasa datang, lalu menyublimasi segalanya ini menjadi kisah yang benar-benar nyata, maka kejadian dalam cerita ini hanyalah sebuah kisah yang  paradoksal; terkadang binal memaksakan masa lalu, tapi lain waktu 

Coba telisik kisah 'Di Beranda' yang berusaha menuturkan kisah masa kecil dengan personifikasi seorang renta dan menghabiskan masa tua dalam sebuah rumah yang nyaman. Namun di balik itu, ia menyimpan sebuah kenangan yang muram, tentang seorang yang jatuh cinta kepada seorang, dan juga tentang kawan yang terus menghantuinya.

Kisah dan janji pada akhirnya hanyalah fatamorgana dari risalah perjalanan, sesuatu yang ingin dikabarkan oleh penulis cerita ini sebagai bentuk; pengabdian masa lalu, tapi sayang ia gagal mewujudkannya menjadi cerita yang membuat pembaca menarik empati.

Empati ini pula yang coba dilihat oleh seorang anak kepada kakeknya dalam cerpen 'Masjid Abah' yang coba mengulik persoalan orang tua, kakeknya, yang teguh menjaga masjidnya dari serbuah modernitas. Ia enggan untuk kalah, tatkala keluarganya sudah tidak sanggup lagi memertahankan masjid sebab ada kejadian-kejadian ganjil, yang bisa saja karena konstrukis masjid sudah begitu tua dan lapuk, mereka terpaksa membongkarnya. 

Menurut saya, cerpen yang cukup berhasil, khususnya di akhir cerita dengan sebuah tanya: apakah yang dicari Abah di puing-puing masjid itu? Apakah ia sedang mencari kenangan pada masa lalunya, di sebuah tempat, yang hanya ia sendiri yang tahu? Apakah keris, yang jadi tema cerita, adalah hanya kiasan semata?

Persoalan ketidaktahuan inipula yang coba diceritakan oleh Zakky sebagai gaya bercerita yang cukup unik di cerpen 'Marsha', dengan dua gaya bertutur yang berlainan. Pencerita pertama mengisahkan kebingungan orang-orang menyaksikan seorang anak kecil yang menaiki Sutet, dan terjatuh serta meninggal. Pencerita kedua adalah si Marsha, yang ia tidak tahu, kenapa orang-orang ribut di bawahnya. Ia terus mendaki puncak, dan akhirnya turun, tapi jatuh dan meninggal. Tapi kesalahan di cerpen ini, ia menutupnya dengan kejadian gaya bertutur orang ketiga, dengan keadaan tahu segalanya, termasuk kehidupan selepas ia terjatuh.

Tema politik juga tidak lepas dari amatan Zakky, ia mengisahkan tentang-orang PKI yang tidak bisa pulang, dan dikiaskan lewat seorang perempuan yang senantiasa menunggu dalam 'Dewi Bulan'. Sebagaimana cerita berwatak realis lainnya, politik juga terjadi antara orang-orang biasa, seperti yang diceritakan Zakki tentang politisasi antara mereka, dua orang penjual yang saling bertukar fitnah dan dengki, dalam 'Angkringan'. Hingga akhirnya, pembeli enggan untuk keduanya.

Jika politik adalah milik penguasa dan orang-orang besar semata, maka dalam cerita ini, Zakky cukup berhasil memotret realitas yang terjadi dalam masyarakat kelas bawah, dan sekali lagi, ia seakan ingin menegaskan bahwa politik, apapun bentuknya, tidak akan pernah dipisahkan dari masyarakat. Bahkan, juga persoalan desas-desus mistis yang diciptakan oleh para pengusaha dalam cerpen 'Makam', hingga membuat orang-orang berkelahi. Juga cerita tentang 'Malam Tahun Baru' yang mengisahkan seorang sepuh yang ditipu dalam relokasi perumahan, padahal ia adalah turut memberontak pada jaman revolusi.

Mistis pula yang membuat seorang penyanyi dangdut kala mencalonkan diri menjadi wakil bupati dan pergi ke seorang dukun dalam cerpen 'Teluh'. Tapi sayangnya, ia kurang teliti dalam membuat repetisi cerita dengan hanya satu hari bercerita. Bagaimana teluh bekerja, orang-orang meminta dan calon saling bertarung hanya dalam satu cerita?

Ada juga kisah mistis tentang kematian lewat tanda kupu-kupu gelap yang datang ke rumah dalam cerpen 'Tamu', tapi sayang cerita ini begitu mudah ditebak, bahwa nanti tamu bukan saja soal kebahagiaan, tapi juga kematian. Lain halnya kala ia membicarakan hal mistis lainnya dalam cerpen bertajuk 'Sunyi', yang ini bisa jadi adalah cerita yang melatarbelakangi penunjukkan judul 'Kabar dari Kesunyian.

Ibarat sebuah kabar, ia sanggup mewartakan keinginan si penulisnya. Dan cerpen ini terbukti mampu mengendalikan emosi pembaca untuk larut pada kisah masa kecil 'Sun' dengan kenangannya yang detil: tentang ayunan masa kanak dan seorang sahabatnya--yang bisa jadi--hanya pada imajinasi belaka, seperti halnya kata Freud yang saya nukil di atas, ruang terdalam id yang kadang-kadang bisa timbul begitu saja. Ruang ketidaksadaran yang janggal, tapi begitu nyata.

Dari kelima belas cerita pendek yang ada di buku ini, hampir keseluruhan berkisah realis dengan acuan arus bawah sebagai cerita, seperti halnya cerpen Mbak Nik dan Langgar Mukadar. Kecuali satu cerpen bertajuk 'penjaga malam', yang seharusnya berpotensi menjadi cerpen yang sublim dan begitu surealistik.

Bayangkan saja, sosok yang saban hari menjaga malam dan mengatur denyut cuaca berkeliling mencari hiburan dan harus berganti dengan penjaga pagi, dan keduanya adalah sosok yang bukan manusia, bukan setan, atau bahkan bukan malaikat. Barangkali merupa bayangan, yang bisa menjadikan pembaca merasa terkaget dan mengimajikan sosok ini, tapi sayang, ia ditaburi aroma cafe dengan orang-orang membicarakan sosok Tuhan. Cerita yang terlalu dibuat-buat jika mahasiswa membicarakan hal--hal begini ditempat yang begitu riuh.
***

Buku 'Kabar dari Kesunyian' ini sebagaimana judulnya, berusaha untuk menjadi kabar dari kesunyian dan hal-hal yang tak selesai lainnya.  Saya sendiri kurang menangkap, sebenarnya apa yang dimaksudkan oleh 'kesunyian' yang coba diwartakan penulis, ataukah kesunyian itu merupa kesendirian atau bahkan kenangan.

Itu pula yang perlu ditelisik, sebab kelima belas cerita ini, tidak semua membicarakan hal muram yang kerap diwartakan sebagai sebuah kesunyian. Apalagi mau diambil berang merahnya, saya kira, pembaca paling biasa pun sukar mendefinisikannya.

Terlepas dari itu, dengan umur yang masih sangat muda, Zakky Zulhazmi mampu bercerita dengan begitu lancar, dan kalau saja tidak terburu-buru menyelesaikan cerita, akan jadi sebuah kisah yang--jika ia menginginknkan--menjadi jalinan kesunyian yang diinginkan, maka ia harus lebih mengesplorasi ruang terdalam, yang kerap tidak terucap, dan menjadi kekuatan kesunyian, seperti halnya kisah-kisah yang diterakan Guy De Mapaussant, misalnya, atau cerpenis serupa Puthut EA Apalagi dengan luasnya ragam tema yang dibahasnya.

Kekuatan bercerita yang cukup bagus tadi akan menjadi lebih istimewa jika Zakky Zulhazmi mampu mengelupas ruang batin terdalam manusia, yang menjadi kabar dari masa lalu, tempat bersemayam kenangan dan kesunyian. Sesuatu yang belum bisa dipenuhinya lewat kumpulan cerpen ini. Begitu. 

@Dedik Priyanto

PS: Saya mengenal penulisnya begitu dekat, tapi berhubung saya harus berkata apa adanya, terhadap resepsi karyanya, maka beginilah adanya.

Minggu, 17 November 2013

Taman Kesedihan

Langit petang menaungi taman itu,  bekas alun-alun tua yang bersejarah namun tak terawat, sampah-sampah mengendap di sekitar tanah yang masih basah karena hujan yang senantiasa datang, sangat jarang pula kendaraan lewat di sekitar situ, hanya ada beberapa orang saja lewat, bahkan nyaris tak ada lagi pertokoan, rumah-rumah makan yang ramai kala makan siang atau pengamen yang mengais receh di jalanan.

Di taman itu pula aku duduk, mengarahkan mataku ke sekitar yang tampak seperti seorang tua yang diusir dari rumah dan pergi ke panti jompo, entah kenapa aku merasa begitu dekat dengan semua yang ada di sini.

Aku berjalan ke taman ini selepas membaca sebuah artikel di internet tentang sebuah kota yang penuh dengan kesedihan, tempat orang-orang datang untuk kembali menyapa luka. Kota yang akhirnya, oleh pemerintah daerah setempat ditujukan untuk mereka yang ditinggalkan keluarganya karena kematian.

Sebuah kota haruslah membuat orang berbahagia, dengan hidup modern yang serba ada dan lampu neon yang senantiasa terang sepanjang malam, atau riang jalanan dengan musik dan  tatapan manja mereka yang berpasangan. Tapi di kota ini, sore tak ubahnya tengah malam, sepi.

Di taman ini pula, pada Desember ketujuh puluh tiga, kita akan berjumpa.   

#JejakDesember

Sabtu, 16 November 2013

#5BukudalamHidupku: Candu Humor dari Mahbub Djunaidi

Saya orang yang begitu mudah terprovokasi, khususnya pelbagai bacaan bermutu,  yang terkadang, harus saya curi dari ragam perbincangan orang-orang. Dari situ pula, saya mulai jatuh cinta pada sosok ini; Mahbub Djunaidi.

Siapakah Mahbub Djunaidi, dengan tambahan 'Haji' di depannya?

Jika saudara aktivis pergerakan, atau minimal pernah berada di lingkungan organisasi kepemudaan atau sekurang-kurangnya memiliki latar belakang jurnalisme, pasti saudara akan mengenalnya. Lebih-lebih jika suka mengoleksi tulisan-tulisan lawas yang bernas, tentunya nama ini tidaklah asing.

Saya mengenalnya pertama kali lewat novel 'Dari Hari ke Hari' yang berkisah tentang revolusi Indonesia, khususnya kala Agresi Militer Belanda pada tahun 1945-1949 dalam kaca pandang seorang bocah. Ia bercerita dengan begitu detil, alamiah dan begitu lucu. Tak heran, akhirnya novel ini menyabet novel DKJ pertama pada tahun 1984.

Jika puncak filsafat adalah komedi yang berbalut komedi (tragikomedi) maka saya bisa katakan, novel ini begitu berhasil mengangkat revolusi dengan canda yang begitu komikal, penuh dengan ironi, kaya akan metafora, dan tentu saja tragedi. Tapi, melebihi segalanya, inilah gerbang mula untuk lebih mengenal karya-karya beliau, khususnya humor yang begitu penuh di esai-esainya.

Maka, seperti halnya provokasi lainnya, saya pun terpantik untuk mencari karya-karya lainnya, semisal Kolom Demi Kolom, Humor Jurnalistik, Binatangisme (terjemahan dari George Orwell Animal Farm), Angin Musim, Di Bawah Gurun Sinai (terjemahan) dan lain sebagainya. Ia pula yang menerjemahkan buku legendaris 100 orang paling berpengaruh di dunia karya Hart.

Tapi sayangnya, dari kesemuanya, saya masih belum menemukan terjemahannya atas Animal Farm George Orwell, padahal novel ini adalah salah satu novel yang begitu saya sukai. Juga konon Mahbub menulis sebuah buku tipis tentang liputan perang di Bosnia.

Jika masih tidak percaya, silakan baca sendiri karya-karya Mahbub Djunaidi. Saya tidak ikut provokasi, tapi coba menunjukkan bukti bahwa saat ini kepala saya masih terus terngiang humornya. Saya butuh obat sakit kepala atau minimal buku-buku Mahbub lainnya--yang belum saya punya tentunya.

Apakah saya akan bercerita tentang hal lucu itu? Tidak.

Silakan cari sendiri, misalkan, dengan mengunjungi laman ini, atau sila baca novel 'Dari Hari ke Hari'  atau tulisan-tulisan lainnya. Beberapa kawan menyebut Mahbub Djunaidi sebagai pendekar humor, atau yang paling bagus: penulis sableng.

Sungguh saya tidak ingin memprovokasi.

@Dedik Priyanto

PS: #HariKelima, hari terakhir mudik ke blog sendiri.

Jumat, 15 November 2013

#5BukudalamHidupku: Orang-orang yang Merindu

~ Pram, Bumi Manusia dan karya-karya lainnya

Sebut saja kami orang-orang yang merindu. Orang-orang yang tidak pernah bertemu langsung dengan sosokmu yang entah; merupa bayangan yang hanya kami temukan di lembaran-lembaran lusuh yang saling berganti tangan.

Itulah kami, generasi yang tak pernah mendengar suaramu yang konon selalu keras jika berbicara itu.

Kami tumbuh dengan rapuh, selalu memandang masa depan seolah dunia yang retak dan merasa tiap waktu berjalan pada lorong yang senyap penuh rerimbun. Tak ada cahaya yang datang seperti sebuah pagi yang membangunkan lelaki muda dengan teriknya, yang ada hanyalah alarm denngan lengkingnya bergegas menyuruh kami terkesiap mengejar dunia yang entah.

Lalu muncul televisi yang merenggut kesadaran kami atas dunia sekitar, menculik jiwa kami dari permainan kelereng di sekitar atau rebutan suara dengan azan yang menyentak kala magrib tiba. Juga ponsel dan pelbagai kaca yang enggan berbagi dan mematikan senarai cakap yang sedari kecil kami genggam.

Kami tumbuh dengan luka yang tak pernah kami sadari; tentang suramnya masa lalu yang dibiarkan menjalar begitu saja menjadi kebenaran tunggal. Perihal pembunuhan-pembunuhan yang kami terima sebagai sebuah heroisme yang diajarkan sejak masa kanak, dan  pembangunan-pembangunan fisik yang kami terima sebagai bagian dari dunia modern.

Selebihnya, tak ada yang sanggup membuat kami begitu gigih memertahankan ego yang kian rudin, sedikit ringkih, terkadang bengal dan begitu keras kepala terhadap sekitar. Seakan semuanya mengabur dan tak ada ruang tersisa atau semacam residu yang entah kapan kami akan menggenggamnya.

Kemudian muncul orang-orang itu.

Orang-orang yang mengjarkan kami untuk mengenalmu, pribadi-pribadi yang dikirimkan semesta untuk mengingatkan akan sosokmu.

Kini, bagi kami, hidup bukan sekadar beranak-anak pinak lalu mati bergumul tanah, atau bekerja dan bergumul dengan rutinitas yang entah.

Kami melihat hidup tidak hanya tanah retak yang terpaksa kami huni atau masa depan suram yang berusaha kami capai dengan segala pengetahuan.

Tak ada masa tanpa ada gejolak. Tak ada sejarah tanpa darah. Tak ada pekik perubahan tanpa ada leher yang tercekik. Dan kemanusiaan hanya menjadi bumbu masak bagi mereka yang gemar memeram masa lalu dengan culas. Kesadaran merupa bait suci yang tunduk pada keadaan.

Kami akan selalu menjadi generasi yang rapuh jika tak mengenalmu melalui lembar-lembar lusuh itu.

Kami akan melangkah ke lorong senyap tanpa jika tak bercakap tentang perlawanan yang telah kau lemparkan itu.

Kami adalah orang-orang itu, orang-orang yang merindu akan sosokmu kembali hadir menjadi nyala bagi bara api kami yang terus meredup.

Dan sampai kini, titahmu adalah cambuk bagi kami. Bumi manusia adalah tempat kau ingatkan kami, dan selamanya kami, orang-orang yang datang jauh dari generasimu ini, akan terus mengenangmu dan karangan-karanganmu itu yang membangkitkan generasi kami yang kian hari bertambah layu.

Kau adalah kakek kami, yang menyapa dengan buku pertama kali, yang mengajarkan akan arti memahami bangsa sendiri.

Kami merindukanmu, dan akan selalu ingat petuahmu di Bumi Manusia ini."Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan."

@Dedik Priyanto

PS: Hari keempat #5BukudalamHidupku, kembali ke blog pribadi, sebuah gerakan menarik dari kawan-kawan di linimasa. 

Kamis, 14 November 2013

#5BukuDalamHidupku: Eka, Cantik itu Luka dan Perjumpaan Lainnya

Entah kenapa saya harus menyukai sosok ini, perempuan yang terlahir dengan paras memesona, cantik yang tak terkira dan wafat, serta bangkit lagi selepas 25 tahun dikuburkan. Begitulah Eka membuka cerita dengan racun yang ganas, persis seperti Gregor Samsa dalam Metamorphosis Kafka, tapi ini lebih berasa Indonesia: mistis.

Darimana pertama kali saya mendengar nama Eka Kurniawan? Saya lupa. Barangkali dari letupan suara dengan Bang Makki, seorang abang penggemar garis keras bacaan bermutu yang pernah saya temui, atau dari internet, saya benar-benar lupa.

Terlepas dari kelupaan saya itu, harus saya akui Cantik Itu Luka Eka Kurniawan ini, menurut saya, masih karya sastra terbaik Indonesia kontemporer. (Belakangan, saya menemukan yang hampir-hampir mirip, sebagai karya sastra terbaik kita, yakni Murjangkung, kumpulan cerpen AS Laksana)

Novel ini mengisahkan tentang kehidupan ibu-anak yang memiliki paras cantik. Dewi Ayu, Sang Ibu, dan ketiga anaknya, Alamanda, Adinda, Maya Dewi, memiliki bentuk fisik yang memukau, berkat keturunan Belanda dan atau Jepang yang mereka miliki, juga tentang Rengganis dan pelbagai kisah panjang tentang cinta dan sejarah di sebuah kota bernama Halimunda.

Jika saudara pernah membaca One Hundred Years of Solitude dari Gabriel Garcia Marquez, dan menemukan ada sebuah kota imajiner bernama Macondo, maka Eka dengan lihai meniru gaya ini dengan sebuah kota bernama Halimunda, sebuah kota yang sebenarnya  tidak pernah ada, tapi membangun dirinya sendiri dalam otak pembaca, minimal saya.

Saya pun pernah menjuluki daerah sekitar kontrakan saya di Semanggi II, sebagai bagian dari Halimunda. Dan saya sendiri, di otak saya yang dungu ini, begitu percaya bahwa sosok Kamerad Kliwon, seorang aktivis gerakan kiri yang terbunuh dalam cerita Eka Kurniawan itu merupakan sosok yang nyata, yang barangkali suatu hari nanti akan datang ke Semanggi II lengkap dengan topi kabaretnya, dan mengetuk pintu dan selanjutnya, kami berbincang tentang banyak hal--padahal ia sudah meninggal--termasuk gerakan politik yang membuatnya gagal dan terbunuh.

Sekali lagi, entah kenapa, saya harus menyukai novel ini, hingga akhirnya saya pun mencari karya-karya Eka Kurniawan lainnya. Beruntung pula, saya memiliki kawan penggila Eka Kurniawan seperti Zakky Zulhazmi, Arlian Buana, Asep Sopyan, Ahmad Makki dan lainnya yang setia memberikan informasi perihal Eka, terkadang tanpa diminta.

Dan hingga kini, saya selalu mengikuti perkembangannya dan sempat bersedih hati,  ketika tidak lagi berinteraksi dengannya via twitter ataupun facebook--dua hal yang sudah ditinggalkannya dua tahun belakangan. Tapi itu terobati, dengan laman ekakurniawan.com yang menjadi bacaan wajib, mirip sembahyang, jika sekali saja tidak melakukannya, maka dosa besar akan menghantam otak saya, seketika itu pula.

***

Eka Kurniawan, saya dan Cantik Itu Luka adalah sebuah perjumpaan kata-kata. Saya mengenalnya melebihi saya mengenal kekasih saya yang lama. Kekasih yang membuat saya kecewa, dan lebih-lebih terhadap diri saya sendiri.

Tapi Eka dan Cantik Itu luka tidak pernah membuat saya kecewa, dan sebagai seorang yang jatuh cinta dengan karyanya, maka saya pun terus mencari tentang karya apa yang bakal dibuatnya nanti, sembari terus berharap seperti halnya kisah cinta tak sampai, seperti Melatie dan Manio, kisah  cinta yang dingin dan dungu di Cinta Tak Ada Mati, cerpen panjang Eka Kurniawan, yang termaktub dalam buku Sepuluh Kisah Cinta yang Mencurigakan bareng Puthut EA dkk.

Perjumpaan pertama kali secara fisik--dan saya yakin Eka Lupa ini--adalah kala saya turut bersama di konser #KoinSastra, disebuah pagelaran di Bentara Budaya Jakarta untuk penyelamatan PDS HB Jassin. Saya diberi amanah untuh berada di desk belakang konser, sembari menyiapkan artis atau  talent lain sebelum masuk panggung.

Pada saat giliran Eka Kurniawan akan naik ke panggung, saya pun diminta untuk mencarinya, dan saya yang hanya berbekal pengetahuan potret di internet perihal sosoknya, harus mencari dan bertemu sosok yang, menurut sahabat karibnya Puthut EA, adalah seorang dengan tubuh rapuh,  Sedikit angin malam saja menyentuh dua-tiga minggu ia akan terkapar, dengan matanya yang seperti bocah kehilangan mainan senapan,sementara di luar dar-der-dor, kawan-kawannya yang lain saling menembak. Tapi cerita tidak berhenti di situ.

Kawan saya bernama Chandra, yang diberi tugas menjadi pengait antara panggung utama dan belakang panggung begitu gusar dan tampak marah-marah, sebab saya yang diberi tugas mencari, malah duduk-duduk dan ngobrol dengan seorang berkacamat, kurus dan tampak seperti orang belum makan berapa hari tersebut.

"Woi, mana Eka! Cari dong!" Teriaknya sembari menendang-nendang kaki saya.

Saya melirik Eka, ia hanya tersenyum. Dan kawan-kawan yang lain di sana pada terkekeh. Kawan saya ini tidak tahu, Eka berada di samping saya dan kita sedang ngobrol. Ia mungkin berpikir, Eka yang begitu terkenal di antara kami ini, adalah orang yang gagah perkasa, atau ganteng luar biasa. Bukan. Eka sosok yang biasa, yang jika orang melihat matanya, akan melihat sedih tak terkira

Selanjutnya, Eka adalah tetap sebuah misteri dan penjaga kata-kata. Dan seperti pengakuannya di  On/Off yang saya tulis ulang, ia sudah menyapih dirinya sendiri dari penulis-penulis dunia yang telah mengasuh dirinya dengan karya-karya hebat dirinya, dan dengan cara inilah, dengan karya-karya hebatnya, kelak ia akan menemukan ajalnya.

***

Eka Kurniawan dan saya sama-sama tinggal di Ciputat, sebuah kota kecil di pinggiran Jakarta yang begitu berisik dan bising, tapi begitu cantik, serta penuh dengan kekuatan imajinasi, sebab di kota inilah Jakarta ditopang oleh para pendatang yang saban pagi merayap menuju pusat, dan ketika malam tiba, ke kota ini pula orang-orang berpulang.

Cantik itu Luka adalah jalan saya untuk lebih lanjut mengenal karya-karya lain di sastra Indonesia yang bermutu, dan saya akan selalu, akan senantiasa terus menerus,  menempatkannya dalam standar estetis bagaimana karya sastra itu dibuat--walaupun saya sendiri masih belum bisa menulisnya. Tapi sebagai pembaca, saya akan terus membuatnya sebagai perbandingan dalam menilai sebuah novel Indonesia.

Segala yang ada di dunia ini menipu, persis seperti cerita Eka. Bahkan kecantikan, terkadang begitu miris dan tanpa segan-segan membuat tangis. Eka telah berhasil mencekoki otak saya dengan karya yang begitu  bagus--dan ditulis oleh orang Indonesia--sesuatu yang belakangan sukar ditemui.

Belakanggan juga, konon Eka akan merampungkan cerita panjangnya yang bertajuk, entah ini benar atau tidak, berkisah tentang masuknya islam ke nusantara. Saya menunggu sejarah ditafsir ulang dengan apik olehnya, seperti halnya peristiwa kelam 65 dan sejarah lainnya dalam Cantik Itu Luka. Bukan merayakan desak tangis korban seperti halnya novel belakangan. Tapi membuatnya begitu satire dan menyayat, seperti seorang yang menikmati perutnya ditusuk pisau karatan dengan perlahan, saya bersedia mati dengan cara demikian.

Jika nanti Eka gagal atau minimal belum bisa menandingi anaknya bernama Cantik itu  luka, maka otak saya siap-siap harus berhamburan keluar, bersedih tanpa seucap kata. Tapi seperti halnya cinta, ia tetaplah menerima, dan saya akan tetap mencintai karya Eka selanjutnya seperti halnya saya mencintai Cantik Itu Luka.

Tebet, 11 November 2013
@Dedik Priyanto

PS: Ini hari ketiga #BukuDalamHidupku, perjalanan masih di pertengahan, kembali ke blog pribadi.

Selasa, 12 November 2013

#5BukuDalamHidupku: Orang-orang Tortilla

Saya sarankan kepada saudara sekalian, jangan pernah membaca buku ini jika tidak, dan saudara bisa pilih sendiri jawabannya. Pertama, bisa gila. Kedua, orang lain yang gila karena kelakuanmu.

Gila pertama adalah gila yang, membuat saudara, menjadi orang yang terkekeh sendirian, terjungkal-jungkal dihajar tawa, dan pada level yang akut, saudara akan dibuang, dilempar botol sebab berisik tanpa berkesudahan. Beruntung jika di samping saudara tidak ada anak kecil, yang kemudian kabur dan melaporkan ke orang tuanya. Sekonyong-konyong kemudian, sebuah mobil putih akan datang dan menciduk saudara sebab dianggap gila betul dan selayaknya dimasukkan ke rumah sakit jiwa.

Gila kedua adalah, orang-orang yang saudara provokasi untuk membaca kisah gila di dalamnya, dan akan mengalami gila pertama.

Buku ini, yang membuat orang-orang menjadi gila adalah Tortilla Flat dari John Steinbeck, dan saya membacanya lewat terjemahan yang begitu biadab dari Djoko Lelono, seorang sepuh yang patut diberi label orang yang gila pertama sebab mampu menafsirkan kebiadaban Steinbeck pada tingkatan yang lebih serius lagi dari gila pertama dan kedua: sableng.

Baiklah, saya tidak akan bicara tentang gila lagi. Sebab jika saudara pernah membaca novel ini, maka pasti mengerti maksud saya, bahwa cerita orang-orang di dataran Monterrey ini hingga detik ini terus menghantui.

Bahkan, beberapa kali itu saya mencari jejak orang-orang Tortilla yang diceritakan oleh Steinbeck itu dengan kawan-kawan yang berada di lingkaran saya. Misalkan, kawan A saya yang memiliki rumah, maka saya akan menyebutnya Danny. Yang memiliki hati lembut, penyayang binatang maka sepatutnya saya panggil nama Bajak Laut, dan bagi yang agak dungu, bertubuh gempal, tapi baik hati maka Joe Portugis adalah namanya. Yang agak filosofis, mirip filsuf yang gagal dan akhirnya mencari harta karun entah akhirnya bernama Pilon.

Semuanya, bahkan saya sendiri, acapkali dianggap sebagai Joe Portugis oleh kawan-kawan lain, juga seorang yang menyia-nyiakan perempuan yang telah menyiapkan anggur pada sebuah malam. Tapi lebih memilih anggur daripada perempuan. Entah, dosa apalagi yang harus saya terima selepas membaca Tortilla Flat. 

Saya beruntung berada di lingkungan orang-orang yang gemar bercakap tentang apa saja, biasanya ada saja yang menyentil soal bacaan, dan tentu saja dengan kehidupan yang begitu biadab, mirip seperti kehidupan orang-orang Torelli di lembah Monterrey.

“Novel yang menginspirasi Ronggeng Paruh adalah Dataran Tortilla. Karya Steinbeck,” seloroh Si Celurit Emas, D. Zawawi Imron, ketika kami berdiskusi di Pojok Gus Dur beberapa bulan lalu.

Seketika itu pula saya terdiam, dan menoleh ke arah Abah, seorang kawan yang sekarang menjadi wartawan di sebuah portal.

Sejenak mata kami bertaut, seolah ingin berteriak bersama,”Brengsek Steinbeck!”

Saya sendiri membaca buku ini entah berapa kali, dan mata saya begitu tertohok dengan percakapan Pilon dan Pablo di hutan perihal  hujan dan air yang turun saat itu. Mereka berdebat soal bagaimana air hujan yang turun. Ada yang berkata bahwa  jika turun berupa permata. Maka, tentu mereka akan kaya, dan banyak uang untuk dibawa ke Torelli guna dibelikan anggur.

Namun, akhirnya mereka sepakat bahwa air hujan yang turun malam itu alangkah lebih indah jika berupa anggur. Tentu anggur Torelli.  Karena dengan itu,  mereka akan lebih bisa menikmati tiap jengkal, tiap waktu untuk menikmati anggur.

Imajinasi ini, bagi saya, begitu gila, jenaka dan candu.

Anggur Torelli, yang menjadi barang paling berharga bagi orang-orang Torelli,  begitu merasuki otak saya, dan kerap mengusik alam bawah sadar saya. Bahkan sampai sekarang saya masih terus mencari tempat ini di Ciputat, atau di daerah-daerah lain di negara ini. 

Jika saudara tahu, ajaklah saya.

Bahkan saya yakin, jika pun Tuhan tahu, ia pasti sekarang sedang berada di Torelli, atau sekadar menggoda si nyonya belibis, atau paling tidak ia akan   

Begitulah, selepas baca ini, saya begitu bernafsu untuk mencari karya Steinbeck yang lain, dan juga mencari novel asli. Beberapa kali saya mencari di toko buku konvensional tidak ketemu.

Pernah suatu tempo menemukannya tergeletak di antara buku terjemahan  lainnya, tapi malang tak bisa ditolak, saat itu isi dompet saya hanya setengah dari harga yang tertera di buku tersebut. Dalam hati saya mengumpat, namun juga bahagia.

Gembira karena saya akan mendapatkan buku asli tersebut. Bukan fotocopy, begitu pikir saya. Dan menunjukkan pada mereka yang sering meremehkan para sivitas tukang copy ini.

Sebulan selepas peristiwa itu, saya mengumpat kembali sembari mendengar dinginnya seorang kasir berkata lirih,”Sudah tidak ada, Mas. Stok habis kayaknya. “

Sontak, saya kecewa untuk kembali. Saya pun mencari di toko-toko buku langganan. Tapi hasilnya sama; nihil. Dan sampai sekarang saya hanya mempunyai versi fotocopy. Entah bagaimana tawasul saya nanti, seperti kebiasaan saya waktu dulu saat ngaji, yang harus melafalkan doa kepada mereka yang berjasa atas keberadaan buku ini di muka bumi.

Konon, buku ini dianggap hadiah terbesar bagi penduduk Amerika selepas luluh lantak akibat perang tak berkesudahan, dan perekonomian yang ambruk selepas perang dunia pertama. Terlepas dari itu, buku ini menyelematkan kegilaan saya tentang humor sebagai bagian satir dalam bacaan.Orang-orang Paisano di lembah Monterrey ini mampu memberikan gelak tawa dan obat sejenak di antara deru tangisan.

Sastra, atau buku lainnya, bukan hanya persoalan serius dan patut untuk dirayakan sebagai sebuah kesedihan semata. Sedih yang berbalut jenaka tentunya lebih menyakitkan, dan model begini yang ditawarkan oleh Steinbeck melalui kisah orang-orang Tortilla. Ibarat racun, saya rela senantiasa meneguknya dan mati berkali-kali sebab tawa.

Maka, ketika saya ditanya banyak orang tentang sebuah novel yang patut ditempatkan di tempat utama dalam perpustakaan. Jawaban saya bulat, Tortilla Flat karya John Steinbeck.

Saudara juga sepakat, bukan?

Hujan

Kita adalah
airmata yang, jatuh
depan jendela

(2013)

#5BukuDalamHidupku: Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta

Apa  buku yang kau lakukan jika kau adalah seorang mahasiswa, dengan tekad  bertahan hidup di perantauan  dan  menemukan sebuah buku yang mirip-mirip dengan hidupmu? Apalagi jika kau adalah seorang yang aktif di pergerakan, forum studi dan dikutuk untuk selalu berurusan dengan teks, selebaran dan media di kampusmu, apa yang akan kau lakukan?

Tentunya jika bertemu buku tersebut, banyak orang yang mengepalkan tangan sembari berujar: Eureka!

Dan barangkali pula, akan berteriak sekencang-kencangnya, berlari sejauh-jauhnya dan tertawa sehabis-habisnya. Tapi berbeda halnya dengan saya, ketika menemukan buku bertajuk ‘Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta’ ini, badan saya tiba-tiba lemas, dan gelisah merupa kentut yang tak tertahankan untuk segera dilepaskan.

Saya bertanya, apakah hidup saya ini, dengan pilihan-pilihan dan keadaan model begini, merupakan pilihan yang sesuai: menjadi seorang dengan kebanggaan yang maha biasa,  menyebut dirinya adalah penulis, apalagi tokoh yang saya baca di buku ini hidup begitu menderita, dan berakhir dengan sedih tak ada ujung; ditipu penerbitan, tidak bisa makan, terusir dari kampus dengan status DO, dan akhirnya meninggal dunia sebelum jadi apa-apa.

Sebegitukah bengis kehidupan, di sebuah kota yang konon begitu menghargai pengetahuan dan kata-kata: Yogyakarta.  

Buku ini berhasil memengaruhi hidup saya sampai detik ini—dan entah sampai kapan akan terus membuat teror di otak saya tentang kehidupan ringkih di jalur kepenulisan, kalau tidak mau dibilang membius saya melalui narasi yang dibangun. Di buku ini pula, saya lupa untuk melihat sebuah novel dari segi estetik yang mendukung sebuah karya sastra bisa disebut bagus, atau minimal dari ulasan, percakapan maupun resensi yang menuntut saya untuk bersegera mencari dan malahapnya.

Proses saya menemukannya pun harus dengan curi baca. Berawal dari kawan saya yang—entah meminjam darimana—membawa buku ini dan dibacanya di teras depan kontrakan, dan saya hanya bisa sesekali mencuri lihat. Lalu  cara yang misterius pula,  kawan saya ini tiba-tiba ke kamar dan meletakkan sembarangan buku itu samping televisi.

Sontak saja, saya langsung membacanya dan agak mmenjauh dari kontrakan.

Tatkala kawan saya bangun dan mencari buku ini, saya enggan untuk memberi tahu, bahkan pernah terbersit di otak saya untuk sengaja mencurinya. Belakangan ia tahu, saya hanya berdalih, buku itu saya baca dan lupa. Tapi entah kenapa, sampai sekarang, saya ingin mencuri buku itu. Walaupun saya tahu, kalau pun saya merajuk dan meminta pasti dikasih, tapi sekali lagi, saya ingin mencurinya. Itu saja.  Tidak salah, bukan?

Selain soal isi dan cerita yang mirip-mirip obat bius itu kala saya baca, saya jatuh cinta dengan perwajahan muka novel ini. Jika kover buku itu boleh diambil sebagai istri saya, maka seketika itu pula saya akan mengajak orang tua saya untuk mendatangi rumah kover itu dan melamarnya.

Bayangkan, kovernya saja begitu buluk, tapi menyentak; seorang lelaki yang tampak sedang mengayuh sepeda onthel dan dibelakangnya terdapat buku-buku. Sublim, pikirku. 

Novel ini berkisah perihal kehidupan sunyi yang harus dialami ketika orang memutuskan untuk menjadi seorang penulis dan meninggalkan dunia kuliah. Orang yang begitu mencintai dunia menulis dan buku hingga ia menukarkan hidup dan nyawanya hanya untuk membaca.

Tak hanya itu, buku ini juga mengulik dunia penerbitan Jogja yang riuh oleh penerbitan. Lengkap dengan pelbagai tipu daya dan unsur humor tentang dunia yang konon mencerdaskan manusia ini. Buku ini ditulis dengan apik oleh Muhidin M. Dahlan, yang belakangan selain penulis produktif, juga membuat gerakan arsip dan suara digital dengan @radiobuku.

Satu hal lagi, buku ini merekam jejak Jogja sebagai kota buku, gerakan dan juga cinta. Juga memotret perdebatan masa  2000-an perihal debat buku terjemahan yang memantik sengit antara kubu penulis/penerjemah asal Jogja dan Jakarta yang acapkali sok pintar itu.

Namun, sayang sekali, beberapa bulan lalu saya menemukan buku ini diterbitkan ulang dengan perwajahan yang begitu mengecewakan dan diberi tajuk yang sangat buruk dan layak segera dimasukkan dalam daftar buku, yang jangan dibaca sebab judulnya unyu: Jalan Sunyi Seorang Penulis.

Ah, saya sungguh tidak simpati.

Jika Gus Muh, begitu ia disapa, membaca catatan sederhana ini, tolong kembalikan cinta saya kepada sosok pria ringkih berambut gondrong yang berada dalam ‘Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta' ini, Tolong!

@Dedik Priyanto

PS: Hari pertama, untuk #5BukuDalamHidupku yang diinisiasi @irwanbajang dkk di twitter, mudik ke blog pribadi. Entah kenapa, otak saya langsung teringat buku ini. Gambar diambil di sini

Kamis, 07 November 2013

Jakarta

: Perempuan yang berdiri di dekat halte itu  

Pada mata yang lelah
bising
dan perjumpaan
yang kau peras dari darahku, dan
tercipta
miliaran cangkir
kopi Starbucks itu

tak ada jalan manis, dan
kerlip riang
kotamu

(2013)



Senin, 04 November 2013

Seno dan Kutipan di Dinding Facebook

"Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa." ~ Menjadi Tua di Jakarta- Seno Gumira Ajidarma

Saya pertama kali membaca kutipan itu dari dinding facebook penulis cum aktivis Puthut EA, seketika itu pula saya tercekat dan beberapa kali berpikir, untuk apa kita hidup di kota, lengkap dengan pelbagai kebisingan dan semrawut tanpa ada kesudahan?

Lalu saya teringat beberapa tahun silam, beberapa jam selepas kelulusan, tepuk tangan dengan ragam keriangan, dan ucapan selamat tanpa henti seperti udara yang saban hari dihirup, saya bertekad untuk keluar dari daerah saya di Jawa Timur dan bertekad menjadi perantau. Menjadi perantau dengan kesungguhan yang begitu menggebu untuk menjadi diri sendiri, menemukan pribadi sendiri, menelisik pelbagai kemungkinan yang, barangkali, akan terjadi.

Datang ke sebuah kota yang bagi orang desa seperti saya seperti membayangkan masuk ke kehidupan yang lain, yang tidak mungkin terbayang sebelumnya seperti seorang pengembala tersesat ke hutan dan pasir yang tak bertuan, lalu segera menemukan kegagapan sepanjang jalan dalam kisah The Alchemist Paul Coelho.

Kota adalah imajinasi banyak orang, dan memberikan harapan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Saya dan barangkali semua orang yang datang ke kota seolah memenuhi ruang janji yang tidak akan sanggup berdiri sendiri, tanpa mampu ada seseorang yang pergi menanggalkan keinginannya hanya untuk satu kalimat paling puitis yang mereka impikan: kehidupan yang lebih baik.

Lalu gerbang dunia pendidikan, pintu dunia kerja dan kesempatan mencari jejak-jejak penghidupan seakan menebarkan pelbagai harap, yang banyak orang tak mampu memenuhi janji.

Banyak pula yang meradang dengan ribuan umpatan, lalu kalah, dan pulang.

Kesempatan menjadi bagian kota dengan janji riang dengan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya diterjang dengan pelbagai risiko: bising, sakit, macet, gaji yang minim dan hidup seperti robot.

Dalam kehidupan kota yang serba berisik dan tidak menentu ini, kutipan Seno di dinding facebook itu kembali membuat saya bertanya, sampai kapan saya bertahan di kota Jakarta?

@DedikPriyanto

PS: saya belum pernah baca cerpen Seno yang itu, jika ada kalian yang punya, mohon saya dikasih tahu link atau bukunya, biar saya beli atau fotokopy