Sabtu, 04 Januari 2014

Buku yang Luput Diperbincangkan Sepanjang 2013


Dua hari lalu, dalam perjalanan menuju liburan pergantian tahun, kawan saya Zakky Zulhazmi berseloroh tentang begitu menariknya tahun 2013 dengan pelbagai terbitan bermutu dari para penulis yang sudah terbukti kualitasnya, dan yang lebih menarik lagi adalah, begitu banyaknya orang yang menuliskannya sebagai kaleidoskop akhir tahun.

Tahun ini barangkali tidak seheboh tahun lalu, dimana seorang kawan blogger, lewat tulisannya di blog menghujat beberapa buku yang ia anggap tak layak terbit—jika enggan dikatakan buku sampah. Orang itu bernama Arman Dhani, seorang pegiat literasi dan teman yang baik—entah siapa yang memasukkan kalimat ini—dan seorang yang begitu cerewet di linimasa dan tinggal di daerah Cawang, Jaktim. Tapi tahun ini, ia tidak membuat heboh lagi, ia hanya menuliskan review beberapa buku  yang menolak sama.

Ada juga Irwan Bajang, pemimpin redaksi penerbit Indie dan blogger, yang merangkum kejadian-kejadian menarik sepanjang 2013 dengan cukup lengkap; gossip, perdebatan dan pelbagai hal lainnya. Lain halnya dengan Haris Firdaus, jurnalis sebuah media cetak di Jakarta, yang mengambil satu fragmen dalam sastra; gossip, lengkap dengan cerita-cerita menarik lainnya yang melingkupi sastra Indonesia. Bahkan, ia menamakan tahun ini sebagai tahun gossip sastra.

Beberapa buku yang paing banyak diperbincangkan, untuk kategori fiksi antara lain, Murjangkung Cerita yang Dungu dan Hantu-Hantu (AS Laksana), Pulang (Leila S. Chudori), Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya (Dewi Michelia), Amba (Laksmi Pamuntjak) dan Pasung Jiwa (Okky Madasari)—kebetulan mereka adalah para finalis KLA yang penuh kontroversi itu. Sedangkan untuk non fiksi, riuhnya sastra kita dihangatkan oleh kemunculan Penghancuran Buku dari Masa ke Masa (Fernando Baez) dan Kekerasan Kebudayaan Pasca ’65 (Wijaya Herlambang). Paling tidak, dua buku itu paling mewakili perbincangan orang-orang, apalagi yang terakhir dengan arah yang sangat jelas; membongkar hegemoni Salihara, Goenawan Mohamad dan geng lawas warisan Manikebu.

Tapi, saya tidak akan membincangkan mereka atau yang paling banyak dipercakapkan orang. Saya hanya ingin memberikan beberapa hal, yang entah kenapa, orang-orang luput membicarakannya. Padahal bagi saya, buku ini penting untuk didiskusikan ulang dan memberikan pengaruh yang besar. Entah bagi literasi, kebudayaan atau yang muluk—dan itu akan membuatmu pusing—adalah sumbangsih bagi peradaban.

Baiklah, saya akan memulai membuat daftar beberapa buku yang pantas untuk diperbincangkan, dan entah kenapa luput disebut sepanjang 2013. Tentunya, ini sangat subjektif dan bebas kalian debat.

1. Rahwana Putih—Sri Teddy Rusdi

Kita mengenal Rahwana sebagai monster yang begitu durja, beringas dan menakutkan.  Ia pun dikenal penculik Sinta dan musuh dari Rama Wijaya, raja Ayodia yang merupakan titisan Dewa. Tapi di tangan Sri Teddy Rusdi, cerita ini berbalik dan berubah haluan. Rahwana menjadi sosok suci, yang mewarisi sasmita gaib dari semesta, dan pemeluk keteguhan hati yang tiada duanya. Bahkan Shinta pun di akhir ceritanya merasa tertipu dengan Rama, dan bersimpati pada Rahwana. Sayang, Rahwana telah meninggal pada perang Brubuh, sebab pengkhianatan Gunawan Wibisana, adiknya sendiri.


Cara pandang yang dilakukan oleh penulis ini berbeda, dan menitik beratkan pada proses Rahwana menjadi sosok yang begitu dicintai penduduk dan orang yang mengerti  rahasia semesta. Bahkan ia pun rela dikutuk. Baginya, penerimaan terhadap takdir adalah kunci kehidupan. Itulah inti dari ajaransastrajendra hayuningrat pangruwating diyu.


Tafsiran ini pula, dengan cara berbeda, pernah ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma dalam Kitab Omong Kosong, Agus Sunyoto dalam Rahuwana Tattwa dan yang paling mendekati epos ini adalah Anak Bajang Menggiring Angin dari Shindunata.

Yang membedakan adalah,  bagaimana penulis epos Rahwana Putih ini memberikan sentuhan akhir cerita, yang begitu mengharukan, seolah ingin memberikan tafsiran lain; tidak ada hal lain selain penerimaan.

Omong-omong, buku ini baru ramai diperbincangkan beberapa bulan belakangan, ketika tempo mengulasnya dengan cukup menarik sebagai tafsiran baru kisah wayang yang ada, disusul oleh pelbagai analisis yang kemudian datang. Buku bagus memang kadang tidak hadir seketika, ia harus menunggu orang membaca. Sebab kau tahu, tampilan buku ini tidak begitu memanjakan mata dan memantik orang membaca. Tapi percayalah, buku ini layak untuk kau perdebatkan.


2. Langit Pertama Langit Kedua—Martin Aleida

Entah kenapa orang-orang melupakan buku ini, saya juga heran. Padahal, dibanding dua novel yang paling banyak diperbincangkan soal ’65, Amba dan Pulang, kumpulan tulisan Martin Aleida ini lebih menggigit dan memiliki cara bertutur yang lihai, tanpa menggurui atau berusaha merayakan narasi korban secara besar-besaran.

Coba misalnya baca cerpen ‘Di Kaki Hariara 20 Tahun Kemudian’ yang menguak kebenaran dari cara pandang seorang guru yang menanamkan pohon di depan rumah. Tidak kehilangan sentuhan bercerita, bukan?

Kelebihan buku ini adalah, Martin Aleida mencatat pelbagai hal tentang hidupnya dan kisah-kisah soal ’65. Toh kita semua tahu, sedari dulu ia adalah sosok yang konsisten membincang soal ini dengan cara sastra, dan lewat pelbagai surat-surat dan artikel. Jauh melebihi orang-orang yang sekarang ini mengeksploitasi babak sejarah paling mengerikan di negara kita.


3. Ekspedisi Cengkeh—Puthut EA dkk

Boleh dibilang, ini adalah buku yang paling ditunggu sebab twit dari Puthut EA dalam mengisahkan perjalanannya mengarungi laut dan daerah-daerah yang ada di Indonesia. Dan biasanya, buku yang disunting Puthut bukanlah sembarangan.

Misalnya ia memimpin penelitian tentang Dana Bagi Hasil Tembakau (DBH) yang cukup menghentak. Belum lagi beberapa buku menarik lainnya. Intinya, buku yang di dalamnya ada penulis kelahiran 28 Maret ini adalah buku yang patut kita telaah.

Ekspedisi cengkeh adalah buku yang cukup menarik, sebab ia mengulik nusantara yang hilang, peradaban yang menghasilkan cengkeh sebagai komoditas besar yang luput diketahui khalayak. Buku ini seperti mengingatkan kembali akan kekayaan kita yang melimpah ruah, yang barangkali sebentar lagi akan hilang jika tidak dikelola dengan baik.

4. Beyond Motivation—Muhaji Fikriono dkk

Ketika mengetahui penulis buku ini adalah Muhaji Fikriono, penulis tentang filsuf Jawa Ki Ageng Suryomentaram lewat buku Puncak Makrifat Jawa (2012), saya curiga, apa yang akan dituju oleh orang ini lewat buku ini. Apalagi, ia masuk dalam rak buku motivasi. Sesuatu yang sangat membingungkan dan sungguh tidak menarik. Kau tahu, buku motivasi adalah salah satu buku yang menipu dan tidak layak kau konsumsi.

Tapi saya salah.

Buku ini ternyata kebalikan dari semuanya. Sebab di dalamnya tidak ada motivasi ala Mario Teguh yang membosankan itu, atau  ala Ary Ginanjar ESQ yang menjual tangisan.

Ya, buku ini dengan terang benderang mengajak para motivator itu, yang menjual utopianisme dan harapan palsu yang diimpor dari barat.Buku ini memberikan tafsir lain, dengan menggunakan pisau analisis  Ki Ageng Suryomentaram, Sosrokartono dan Ibn Atha’ilah, serta menggunakan khazanah lokal sebagai pemantik pemikiran filosofis.

Dalam buku ini, kita diajak untuk kembali merayakan pemikiran hebat yang lahir dari masa lampau dan mencoba menjejakannya ke bumi. Saya kira, buku ini sangat layak untuk diperbicangkan kembali mengingat rak-rak buku dipenuhi dengan bualan kosong yang menjual mimpi yang tak berkesudahan dan cenderung utopis, sesuatu yang entah kenapa begitu dinikmati oleh khalayak.

***

Tentunya, empat buku di atas amat jarang diperbincangkan orang, tapi bagi saya keempatnya merupakan buku yang patuh untuk diperbincangkan. Mereka mewakili empat jenis yang berbeda, dan memiliki keunggulan di bidangnya.

Begitulah, semoga 2014 akan lebih banyak buku yang menyenangkan.

@DedikPriyanto


1 komentar: