Kamis, 23 Oktober 2014

Surat Cinta untuk Ajo Kawir yang Burungnya Enggan Berdiri

Belakangan ini kita melihat orang-orang menulis surat terbuka, baik yang dicintai maupun yang ia benci. Tapi, saya tidak ingin menyebar kebencian. Saya hanya ingin menulis surat untukmu, Ajo Kawir. Kau mungkin diciptakan dari tawa—yang mungkin kau anggap sebagai hinaan dan beban dalam rentang hidupmu. Percayalah, banyak yang hidup dengan rasa malu yang dahsyat dan membuat kebohongan-kebohongan untuk menutupinya. Tapi, bukankah kebohongan yang diciptakan terus-terus menerus akan menjadi sebuah kebenaran? Atau yang lebih busuk lagi, kebohongan yang diceritakan dengan bagus akan tampak sebagai kebenaran pula?

Baiklah. Namaku Dedik Priyanto, orang biasa saja, sama sepertimu. Kau mungkin tidak mengenalku, dan seperti halnya orang-orang yang kukenal baik lainnya, misalnya Florentino Ariza—tahukah kau bahwa ia menunggu kekasihnya selama 53 tahun, 7 bulan dan 8 hari, sama sepertimu yang harus menunggu begitu lama untuk burungmu berdiri lagi, dan kembali melihat Iteung, kekasihmu itu.  Saya juga mengenal Pilon, seorang filsuf di tengah kejenakaaan Danny dan kawan-kawannya di lembah Monterrey, atau barangkali saudara tuamu, Margio, orang biasa aja yang enggan dianggap membunuh dan menyalahkan harimau di tubuhnya. Mereka kukenal dengan baik, sama sepertimu.

Mungkin kita bisa bersahabat dengan baik, Ajo Kawir, dan tentu sangat hangat. Orang-orang biasanya menyebut kata ‘lawan’ untuk seorang yang diajak bicara, tapi aku ingin menyebutmu seorang kawan. Kawan bicara. Dan laiknya seorang kawan, saya akan berbicara apa saja—walaupun nanti dianggap ngawur dan tidak penting. Kau tentu menyadari, biasanya hal-hal yang tidak penting tidak layak untuk dibicarakan, bukan? Tapi, melihat kisah hidupmu yang diambil orang-orang yang tidak penting, pinggiran dan nyaris dilupakan, kukira, surat ini juga patut kau baca. Kau bisa menggantungkannya di sisi busmu atau dilipat dan ditaruh dompet—tentu ini permintaan bodoh sebab di dompetmu sudah ada foto Iteung, yang kau simpan ke manapun kau pergi.

Ajo Kawir yang baik,

Saya mengenalmu terlebih dahulu melalui dunia yang dibangun dalam cerita panjang bertajuk ‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’. Maaf, ternyata bukan kali itu pertama saya mengenalmu. Saya pernah membacanya di sebuah cerpen yang dibuat oleh Eka Kurniawan. Saya menunggu karya ini begitu lama. Tapi, saya penasaran, bagaimana membuka dari ketiganya. 

Sore hari di akhir pekan bulan Maret, Dewi Ayu bangkit dari kuburan setelah dua puluh satu tahun kematian. Seorang bocah gembala dibuat terbangun dari tidur siang di bawah pohon kamboja, kencing di celana pendeknya sebelum melolong, dan keempat dombanya lari di antara batu dan kayu nisan tanpa arah bagaikan seekor macan dilemparkan ke tengah mereka. Semuanya berawal dari kegaduhan di kuburan tua, dengan nisan tanpa nama dan rumput setinggi lutut, tapi semua orang mengenalnya sebagai kuburan Dewi Ayu. Ia mati pada umur lima puluh dua tahun, hidup lagi setelah dua puluh satu tahun mati, dan kini hingga seterusnya tak ada orang yang tahu bagaimana menghitung umurnya. 

(Cantik itu Luka)

Senja ketika Margio membunuh Anwar Sadat, Kyai Jahro tengah masyuk dengan ikan-ikan di kolamnya, ditemani aroma asin yang terbang di antara batang kelapa, dan bunyi falseto laut, dan badai jinak merangkak di antara ganggang, dadap, dan semak lantana. Kolamnya menggenang di tengah perkebunan cokelat, yang meranggas kurang rawat, buah-buanya kering dan kurus tak lagi terbedakan dengan rawit, hanya berguna bagi pabrik tempe yang merampok daunnya setiap petang. Di tengah perkebunan, mengalir sungai kecil penuh dengan ikan gabus dan belut, dikelilingi rawa yang menampung tumpahan arus kala banjir. Orang-orang datang, selang berapa lama selepas perkebunan dinyatakan bangkrut tumbang, untuk memberi patok-patok dan menanam padi di rawa-rawa itu, mengusir eceng gondok dan rimba raya kangkung. Kyai Jahro datang bersama mereka, menanam padi untuk satu musim, terlalu banyak minta diurus dan menggerogoti waktu. Kyai Jahro yang bahkan tak mengenal apa makna bintang waluku mengganti padi dengan kacang yang lebih tangguh, tak minta banyak urus, namun dua karung kacang tanah di musim panen tak alang membuatnya bertanya-tanya, dengan cara apa ia mesti memamahnya. Demikianlah petak tersebut berakhir menjadi kolam, dilemparkan ke sana benih mujair dan nila, dan jadi kesenangannya untuk memberi pakan setiap senja, melihat mulut mereka cuap-cuap di permukaan air menggenang.

(Lelaki Harimau)

Hanya orang yang enggak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati,” kata Iwan Angsa perihal Ajo Kawir. Ia satu ari beberapa orang yang mengetahui kemaluan Ajo Kawir tak bisa berdiri. Ia pernah melihat kemaluan itu, seperti anak burung baru menetas, meringkuk kelaparan dan kedinginan. Kadang-kadang bisa memanjang, terutama di pagi hari ketika pemiliknya terbangun dari tidur, penuh dengan air kencing, tapi tetap tak bisa berdiri. Tak bisa mengeras. 

(Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas)

Apa yang membedakan?

Cerita yang bagus biasanya membuka dengan memikat, dan kau telah memperkenalkan pembukaan kepada kami. Tapi, ada satu hal yang sangat mengganjalku; kenapa kau langsung menutup itu dengan tanda jeda, seolah ini kerangkeng. Apakah kau berusaha memisahkan dan menjadikan scene patah laiknya menonton sebuah film?

Quentine Tarantino membuat hal serupa di film Pulp Fiction, pasangan kekasih yang bercakap-cakap untuk merampok sebuah kedai kopi, percakapan tentang layak atau tidaknya merampok ditempat seperti itu—biasanya merampok di bar, atau bank. Ini teknik pembocoran cerita yang lazim sebenarnya. Marquez melakukan hal itu, Aureliano Buendina berhadapan dengan senapan-senapan di regu tembak. Tapi, kalau kita lihat. Kau memakai pembocoran di tengah cerita, seperti 100 tahun kesunyian. Cantik Itu Luka pembuka konvensional, menyentak dan tampak terpengaruh gaya klasik Kafka dalam metamorfosa di pembukanya, atau Lelaki Harimau yang memakai alur mundur; awal adalah akhir dari cerita. Sedangkan di Seperti Dendam, awal adalah pembocoran tengah cerita. Seperti tengah cerita

Tapi, lagi-lagi, Eka menabrak itu dengan menggunakan kerangkeng sebagai jeda baca. Membuatmu menjadi cerita yang berbeda.

Tentu saja, dengan pola seperti ini, plot akan terbangun dengan tidak biasa. Ada banyak subplot di dalam cerita ini. Misalnya, bagaimana kehidupan Iteung yang ternyata mendapat perlakukan senonoh dari guru sekolah, atau si Mono Ompong yang malu pada keluarga karena naksir seorang pelacur dan lain  sebagainya. Dan sekali lagi mengingatkan saya pada adegan Pulp Fiction, dimana tiap adegan berlangsung pendek dan dibagi-bagi pada adegan-adegan terpisah. Seolah memasuki ruang yang besar dan mempunyai pintu-pintu kecil yang saling bertautan. Orang akan bebas untuk duduk dan termangu di pintu saja, tapi tetap ia akan tertarik memasuki pintu-pintu selanjutnya.

Ajo Kawir yang baik,

Saya membayangkan penciptamu telah bercakap-cakap dengan Sigmund Freud. Seorang tua dari Wina. Ia dengan tongkat tuanya berjalan-jalan menuju rumah Eka, cakap tentang trauma masa kecil. Tiga tesis utama; Id, Ego Superego. Id adalah ruang masa kecil dan traumatik dari tokoh-tokohnya; Ajo Kawir, Iteung, Mono Ompong. Sedangkan Ego adalah Realitas yang terjadi dan senantiasa jadi ruang pertarungan psikologis mereka; Ajo Kawir yang enggak mau mengecewakan orang yang dicinta, Iteung yang mencari orang biasa saja yang ia cinta—tapi ia akhirnya kalah oleh keinginan dan hasrat seksual hingga bercinta dengan Budi Baik, sesuatu yang kelak membuat retak rumah tangganya. Lain halnya adalah Superego, ruang ideal, yang harusnya ia inginkan; Ajo Kawir ingin burungnya berdiri dan hidup laiknya pemuda lainnya, dan hidup bahagia dengan Iteung.

Di perjalanan hidupnya, Ajo kawir mempu mendamaikan antara Id, Ego dan Superego dala dirinya. Misalnya, ketika di akhir, saat ia lebih memilih diam dan tidak berkelahi lagi. Padahal, ia sudah didesak oleh Jelita untuk membantu Mono Ompong. Tapi, kalau ia melakukan hal serupa seperti jaman muda, ia tidak akan melakukan kesalahan serupa. Apalai, saat ia membunuh macan, ia terdorong oleh rasa marah akibat tahu istrinya selingkuh.  Begitulah, ruang tarik menarik menjadi demikian menarik di novel ini sepanjang cerita

Ajo Kawir yang baik

Salah satu hal menarik di novel ini adalah kekuatan bercerita. Dibanding dua novel penciptamu sebelumnya, di sini adalah ruang eksplorasi bahasa. Misalnya. … nyamuk berdengung. Nyamuk dan gerimis… (hal.23) Selain itu, ada narrator novel ini, saya menenemukan ketidakjelasan (hal.32, 144, 155) lalu, perubahan dan suara-suara lain (hal, 97,100, 144,155). Deskripsi cerita yang dibikin cukup menarik. Tapi, ada beberapa pertanyaan-pertanyaan, misalnya, kenapa deskrpsi hujan dan keheningan dikerangkeng (Hal 22) dan kurang menambah cerita.
Ajo Kawir yang baik

Kekuatan fiksi adalah membuat ruang adegan di otak pembaca. Misalnya, pada kasus Cantik Itu Luka, saya masih teringat adegan Kamerad Kliwon yang menanti datangnya revolusi melalui tanda telatnya koran yang biasanya ia baca atau bagaimana Danny dan Pilon di Tortilla Flat

Di kisah hidupmu,  saya juga menemukan hal serupa. Misal, bagaimana kegundahan hati Ajo Kawir selepas kejadian di rona merah. Pertama, adegan burung yang diolesi cabe rawit, dengan perlahan berubah menjadi panas dan membuatnya blingsatan. Kedua, ia menyengatkan burungya pada tawon biar tambah membesar. Ketiga diajak jajan dan ancaman untuk dikapak. Ruang-ruang ini yang menjadi kekuatan yang bisa kita temui sepanjang novel ini.

Ajo Kawir yang baik,

Saya menduga-duga, sebenarnya, kapan kau dilahirkan. Sebenarnya sangat mudah ditebak, sebab ia menggunakan tanda puncak orde baru, di mana kekerasan dan pembunuhan menjadi biasa saja. Ini tampak dari brutalnya kehidupan Ajo Kawir dan Si Tokek dan Iwan Angsa. Di sini, saya taruh lengkap semacam pledoi, untuk kita tahu, sebenarnya apa maksud dari Eka Kurniawan untuk membuat gaya bercerita tak lazim.

Dua Tradisi

Eka Kurniawan 10 May 2014 (1)

Saya selalu membayangkan ada dua tradisi besar dalam bercerita/menulis novel (saya rasa sebenarnya dalam kesusastraan secara umum). Pertama, tradisi menulis dengan wadah; kedua tradisi menulis yang bebas mengalir. Saya tak yakin apakah istilah itu tepat atau tidak, tapi mari kita membayangkannya. Tradisi pertama, berawal atau berkembang dipengaruhi oleh tradisi panggung. Tradisi kedua, tentu saja berawal atau berkembang melalui tradisi mendongeng. Penyebutan pertama dan kedua ini bisa kita bolak-balik. Saya tak mengasumsikan yang satu lebih utama dari yang lain. Kenapa tradisi dari panggung ini saya bayangkan sebagai tradisi menulis dengan wadah? 

Ya bayangkan saja panggung sebagai wadah. Ada ruang terbatas sebesar panggung. Ada durasi waktu sebuah cerita akan dipentaskan. Jangan lupa, penonton juga dikondisikan di situasi tertentu: duduk di tempat penonton, memandang panggung dari sudut pandang yang tetap. 

Artinya, ada ruang-waktu yang secara ketat membatasi sejauh mana cerita akan disajikan. Keadaan ini secara langsung tentu saja sangat berpengaruh terhadap cara dan teknik bercerita. Saya melihatnya, tradisi ini menciptakan satu aturan-aturan dramatik yang sangat ketat. Jika kamu pernah dengar dari editormu, buang bagian yang tidak mengganggu cerita jika ia menghilang, maka saya yakin, editormu merupakan bagian dari aliran ini. Aliran yang menjunjung tinggi efisiensi. 

Aliran ini memerhatikan dengan ketat kapan sebuah karakter harus muncul, kapan permasalahan ditampilkan, di bagian mana konflik memuncak. Tentu saja dalam menulis novel, kita tidak membayangkan panggung. Meskipun begitu, bukan berarti tradisi ini, tradisi bercerita dengan wadah, tak terasa di novel. Bahkan saya melihat, pengaruhnya sangat kuat sekali. Saya bisa menyebut, Hemingway berada di tradisi ini. Kebanyakan sekolah menulis, akan mengajarkan aliran ini. Kita tak memerlukan panggung untuk membuat batasan-batasan ruang dan waktu, karena kita menciptakannya sendiri. Tentu saja bapak dari aliran ini, saya akan membayangkannya: Shakespeare. Aliran kedua, yang bersumber dari mendongeng, tentu bersifat sebaliknya. Ia mengasumsikan bebas ruang dan waktu (meskipun ya sebenarnya tidak). Sebagaimana layaknya dongeng, ia bisa diceritakan di mana dan kapan saja. Nyaris tak ada batasan durasi (bisa bersambung bermalam-malam layaknya Syahrazad di Hikayat Serbu Satu Malam). Pendengar dongeng juga bisa mendengarkan dongeng dengan cara apa saja, sambil tiduran, duduk di belakang pendongeng, atau di mana pun. Tak ada ruang dan waktu yang mengungkung, karena itu aturan-aturan ketat tangga dramatik tidak dikembangkan di sini. Yang berkembang adalah justru teknik “hipnosis”, teknik mencengkeram minat pendengar dongeng dengan apa pun tergantung situasi (karena situasinya tidak bisa dikendalikan, sebagaimana keadaan di ruang pertunjukan). Kadang-kadang pendongeng mengambil teknik dramatik panggung, tapi lain kali ia mungkin menyanyi untuk membuat pendengarnya betah, lain kali ia melantur dulu ke cerita yang lain. Disgresi, permainan kata, bunyi, berkembang di aliran ini yang bebas-merdeka selama pendongeng yakin bisa mempertahankan pendengarnya. Di aliran ini kita bisa menemukan kisah yang semena-mena, novel yang tak ke mana-mana (bayangkan If On A Winter’s Night A Traveler Italo Calvino), alur yang maju-mundur bertumpuk-tumpuk (bayangkan novel-novel Faulkner). 

Ada kesan aliran ini seenak udel sendiri, tapi saya rasa kesusastraan tak akan berkembang banyak tanpa mereka. Saya bayangkan editor harus bekerja keras melihat novel-novel seperti ini (dan mereka kadang tetap memakai ukuran “wadah” untuk mengatasinya). Aliran ini juga berkembang pesat. Ada Marquez. Ada Salman Rushdie. Ada James Joyce. Bapak dari semua penulis ini, tentu saja saya akan menyebut: Cervantes penulis Don Quixote. Saya menaruh hormat pada kedua kecenderungan ini (eh, jangan dilupakan para penulis yang kadang berada di area abu-abu keduanya), dan jauh di dalam hati kecil saya, saya selalu berpikir kondisi ideal menjadi penulis adalah menjadi Shakespeare dan Cervantes di waktu yang bersamaan. Berpikir tentang wadah sekaligus merasa mengalir bebas, atau sebaliknya. Itulah kenapa kita sering berpikir tentang aturan-aturan dalam menulis (seolah kita membayangkan menulis untuk ruang-waktu tertentu seperti panggung), sekaligus punya hasrat besar untuk melanggarnya (membebaskan diri sebagaimana pendongeng).

Dari sini, kita akan melihat benang merah penceritaan yang dianut. Eka memilih jalur tradisi mendongeng, yang mengutamakan kekuatan memengaruhi orang untuk senantiasa menunggu cerita ini rampung, tanpa memedulikan bahwa cerita itu konvensional atau tidak, benar atau tidak, tapi kekuatan cerita itu yang memikat.

Ajo Kawir yang baik

Satu hal yang membuatku tertawa  adalah, sebagai orang yang terlahir di generasi santri, saya tertawa terbahak-bahak ketika tahu bahwa semua yang ada dicerita ini hanyalah perjalanan sufi seorang Ajo Kawir. Melalui burung—yang selalu ia tanya tentang apa yang bakal ia lakukan selepas keluarga dari penjara akibat membunuh macan.

Membaca ceritamu di novel ini ini, saya diajak untuk eksplorasi gaya bercerita, sekaligus tertawa mengingat jaman cerita keemasan cerita silat dan seks. Dan sekali lagi meneguhkan bahwa seberapapun absurd ide sebuah cerita, jika ia mampu diceritakan dengan baik, maka akan membuat orang percaya bahwa cerita itu benar-benar terjadi. Dan mengaburkan ruang antara fakta dan fiksi di dunia nyata. Selain itu, novel ini memiliki struktur yang sangat tebal selain cerita sufi, yakni tentang kekerasan dan operasi-operasi militer (hal.183) sesuatu yang berat, tapi dibuat jenaka.

Kira-kira begitu.  Dan selamat burungmu sudah bisa berdiri. Tapi, sayang, kau tidak bisa bercinta dengan iteung karena ia sudah kembali ke penjara.

Jabat erat
Dedik Priyanto


PS: Ditulis sebagai bahan diskusi para penggerutu, jumpa lagi book club, bersama A.S. Laksana, Eka Kurniawan, Linda Christanty, Yusi Avianto Pareanom, Zen Hae, Dea Anugrah dkk di resto jumpa lagi resto, 26 Agustus 2014.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar