Kamis, 19 Maret 2015

Gabriel Garcia Marquez Berjumpa Ernest Hemingway

Oleh: Gabriel Garcia Marquez

Aku segera mengenalinya, saat berjalan bareng Mary Welsh, isterinya, di Boulevard  St. Michel di Paris pada suatu hari yang hujan di musim semi tahun 1957, ia berjalan di sisi lain jalanan itu, ke arah Taman Luxembourg, memakai celana seperti koboi lawasan, kemeja kotak-kotak dan sebuah topi pemain bola. Satu-satunya hal  yang membuatnya tak tampak seperti dirinya adalah sebuah kaca mata logam, kecil dan bulat, dan membuatnya seperti memiliki wajah kakek-kakek tua yang yang prematur. Ia sudah berusia 59 tahun, dan tubuhnya besar nyaris kentara dan tampak, tetapi ia tak memberi kesan kekuatan brutal yang tak meragukan, dan itu ia harapkan, karena pinggulnya sempit dan kakinya tampak sedikit kurus di atas sepasang sepatu kasar penebang pohon. Ia tampak begitu hidup di tengah-tengah kios buku bekas dan di antara anak-anak muda yang banyak dari Sorbonne, sehingga tidak mungkin membayangkan ia hanya punya waktu empat tahun lagi untuk hidup.

Ernest Hemingway
Selama sepersekian detik, seperti biasanya yang selalu menjadi masalah, aku menemukan diriku terbagi antara dua peranku yang saling bersaing. Aku tak tahu apakah akan memintanya untuk sebuah wawancara atau sekadar menyeberangi jalan raya untuk mengungkapkan kekagumanku kepadanya. Namun segala pertimbangan, aku menghadapi ketidakenakkan yang sama. Waktu itu, aku bicara bahasa Inggris yang dasar, dan aku sangat tidak yakin dengan bahasa Spanyol petarung banteng-nya. Jadi, aku tidak melakukan keduanya yang dapat merusak suasana saat itu, namun tiba-tiba aku menangkupkan tangan di depan mulutku dan, seperti Tarzan di hutan, berteriak dari seberang ke ke arahnya: "Maaaeeestro!" Ernest Hemingway tampaknya mengerti bahwa tak akan ada sebutan 'master' lain di tengah-tengah gerombolan para pelajar, dan ia menoleh, mengangkat tangannya dan berteriak padaku dalam bahasa Castilian dengan suara yang sangat kekanak-kanakan, "Adiooos, amigo!" Itu satu-satunya waktu kala aku melihatnya.

Pada saat itu, aku seorang wartawan berumur 28 tahun dengan sebuah novel yang sudah diterbitkan dan telah mendapatkan hadiah sastra di Kolombia, tetapi tetap saja aku terkatung-katung dan tanpa tujuan di Paris. Guru-guruku yang terbesar adalah dua novelis Amerika Utara yang hidup nyaris berbarengan. Aku telah membaca apa saja yang mereka terbitkan, tetapi bukan sebagai bacaan yang saling melengkapi- namun lebih sebagai dua yang berlawanan, dua perbedaan dan satu sama lain hampir merupakan bentuk-bentuk ekslusif pemahaman sastra. Salah satunya adalah William Faulkner, pada siapa aku tak pernah melihatnya dan yang hanya dapat aku bayangkan sebagai petani yang mengenakan kemeja merentangkan lengannya di samping dua ekor anjing putih kecil dalam potretnya yang terkenal karya Cartier-Bresson. Pengarang satunya lagi adalah orang barusan yang baru saja mengatakan selamat tinggal kepadaku dari seberang jalan, meninggalkan aku dengan kesan bahwa sesuatu telah terjadi dalam hidupku, dan telah terjadi selamanya.

Gabo
Aku tak tahu siapa yang berkata bahwa para novelis membaca novel karya penulis lain sekadar untuk memahami cara mereka menulis. Aku mempercayainya. Kami tentu tidak puas dengan rahasia-rahasia per kalimat di permukaan halaman mereka: kami membolak-balik buku untuk melihat lapisan-lapisannya. Dalam satu cara tidaklah mungkin untuk diterangkan, kami membongkar buku itu untuk mendapatkan bagian-bagian esensialnya dan kemudian mengembalikannya bersama-sama setelah kami mengerti misteri-misteri kerumitan personalnya. Usaha ini membuat kecil hati pada buku-buku Faulkner, karena ia tak tampak memiliki suatu sistem organik dalam menulis, namun berjalan membabi-buta menembus alam biblikalnya, seperti sekumpulan kambing dilepas di sebuah toko kristal. Berencana membongkar satu halaman yang seperti ini, seorang akan memiliki kesan pegas dan sekrup berhamburan, dan tidaklah mungkin untuk meletakkannya kembali dalam keadaan sesungguhnya. Hemingway, sebaliknya, kurang inspirasi, kurang nafsu, dan kurang gila namun dengan kesederhanaan yang mempesona, meninggalkan sekrup seluruhnya tampak, seolah mereka berada dalam mobil barang. Mungkin dengan alasan itu Faulkner merupakan seorang penulis yang banyak berbuat bagi jiwaku, namun Hemingway adalah orang yang telah banyak berbuat bagi keterampilanku - tidak sungguh-sungguh bagi buku-bukunya, tapi bagi pengetahuannya mengenai aspek keterampilan dalam teknik menulisnya yang mengherankan. Dalam wawancaranya yang bersejarah dengan George Plimpton di The Paris Review, (Hemingway) memperlihatkan di segala keadaan- berbeda dengan gagasan kreativitas Romantik - kesenangan ekonomi dan kesehatan yang baik kondusif untuk menulis; bahwa salah satu kesulitan yang utama adalah menyusun kata-kata dengan baik; bahwa ketika menulis menjadi sulit adalah baik untuk membaca kembali buku-buku sendiri, untuk mengingat bahwa hal itu memang selalu sulit; bahwa seseorang dapat menulis begitu lama ketika tak ada yang berkunjung dan tak ada telepon; dan tidaklah benar bahwa jurnalisme mematikan seorang penulis. "Sesekali menulis menjadi keburukan utama dan kesenangan paling besar," katanya, "hanya kematian yang mampu mengakhirinya." Akhirnya, pelajarannya adalah penemuan bahwa setiap hari kerja seharusnya hanya dipotong ketika ia tahu di mana hari esok bisa dapat memulai lagi segalanya. Aku tak berpikir ada nasihat lain yang lebih berguna tentang menulis yang pernah orang lain berikan. Begini saja, tak kurang maupun lebih, semacam peristiwa mengerikan untuk para penulis: pagi yang menyengsarakan menghadapi halaman kosong.

Seluruh karya Hemingway menunjukkan bahwa spirit karya tersebut memang begitu brilian namun usianya pendek. Dan ini dapat dimengerti. Ada semacam tegangan internal yang ia lakukan, dan tetap tunduk pada dominasi teknik, dan untuk itu tak dapat ditopang di dalam jangkauan-jangkauan luas dan berisiko laiknya novel. Ini sifatnya, dan kesalahannya adalah mencoba untuk melebihi batas-batas kehebatannya. Dan itulah mengapa segala sesuatu yang berlebihan lebih nyata padanya ketimbang pada para penulis lain. Novel-novelnya seperti cerita-cerita pendek yang telah keluar dari proporsi yang harusnya, yang diisi terlalu banyak. Sebaliknya, segala sesuatu yang terbaik mengenai cerita-ceritanyanya adalah bahwa karya-karya itu memberi kesan tentang sesuatu yang hilang, dan inilah misteri cerita dan bukti begitu impresifnya (Cerita itu). Jorge Luis Borges, yang merupakan salah seorang penulis besar zaman kita, memiliki batas-batas yang sama, tetapi memiliki cita rasa untuk tidak coba berlebihan.

Satu tembakan dari Francis Macomber pada singa menunjukkan suatu pemberian yang besar sebagai suatu pelajaran berburu, tetapi juga sebagai suatu cara penyajian teknik menulis. Dalam salah satu ceritanya, Hemingway menulis  seekor banteng dari Liria, setelah menyeruduk dengan ganas dada sang matador, kembali laiknya "seekor kucing menuju sebuah sudut." Aku percaya, dengan segala rendah hati, bahwa pengamatan itu merupakan salah satu dari sedikit kedunguan penuh inspirasi, hanya datang dari para penulis yang begitu berbakat. Hasil kerja  Hemingway itu penuh dengan pengamatan sederhana dan mempesona, yang mana menampakkan titik di mana ia menambahkan definisinya mengenai penulisan sastra: bahwa, seperti gunung es yang terapung, ada dasar yang sangat kuat yang menopang gunung itu yang merupakan satu per tujuh volumenya.

Kesadaran teknik tersebut tak diragukan lagi merupakan alasan Hemingway tak akan mencapai kegemilangan dengan novel-novelnya, terkecuali dengan cerita-cerita pendeknya yang lebih disiplin. Membicarakan "For Whom the Bell Tolls" ia berkata bahwa ia tak memiliki pertimbangan sebelumnya untuk mengkonstruksi buku, tetapi lebih dibuat-buat setiap hari sehingga menjadi panjang. Ia tak punya apa pun untuk mengatakan itu: sudah jelas. Sebaliknya, cerita-cerita pendek instannya yang memberi inspirasi tak dapat disangkal. Seperti halnya tiga cerita yang ditulisnya pada suatu sore bulan Mei di sebuah  rumah penginapan kota Madrid, ketika suatu  badai salju memaksa pembatalan adu banteng di perayaan San Isidro. Cerita- cerita tersebut, seperti yang ia katakan juga pada pada George Plimpton, adalah “The  Killers, Ten Indians” dan “Today is Friday”, dan ketiga-tiganya magis. Pada baris-baris cerita di sana, bagi seleraku, cerita di mana kekuataannya sangat ditekan adalah salah satu ceritanya yang paling pendek," Cat in the Rain."

Meskipun begitu, bahkan jika hal itu muncul menjadi suatu olok-olokan nasibnya, bagiku karyanya yang paling mempesona dan manusiawi adalah karyanya yang paling tak sukses:"Across the River and Into the Trees". hal tersebut  sebagaimana ia nyatakan, diawali sebagai sebuah cerita pendek dan jadi tersesat ke dalam rimba mangrove sebuah novel. Sukar dimengerti begitu banyaknya retak-retak struktural dan begitu banyak kesalahan mekanik sastra dalam seorang teknisi yang bijaksana seperti demikian - dan dialog begitu seperti dibuat-buat, bahkan disusun, dalam karya salah seorang pandai emas paling cemerlang  sejarah sastra.

Ketika buku itu diterbitkan tahun 1950, para kritkus menjadi galak tapi salah cara (Dalam memahami). Hemingway merasa terluka, begitu sakit hati, dan ia membela diri dari Havana, mengirimkan sebuah telegram penuh gairah yang tampak tak sopan untuk seorang yang terkenal sebagai penulis terkenal.Tak hanya novel terbaiknya, itu juga merupakan yang paling pribadi, ditulis pada saat fajar di suatu musim gugur, dengan nostalgia pada tahun-tahun hidupnya yang tak dapat ditebus kembali dan suatu pertanda pedih tahun-tahun yang telah ia lewati. Tak ada satupun di dalam bukunya ia meninggalkan banyak hal dari dirinya sendiria, tidak juga ia menemukan - dengan segala keindahan dan kelembutan hati- suatu cara untuk memberi bentuk pada sentimen penting karya dan kehidupannya; kesia-siaan kemenangan. Kematian protagonisnya, seolah-olah begitu damai dan alami, merupakan penyamaran bunuh dirinya sendiri.
Ketika seseorang hidup begitu lama dengan karya seorang penulis, dan dengan intensitas dan rasa sayang, seseorang itu terjebak tanpa suatu cara memisahkan fiksi dari realitas. Aku telah menghabiskan banyak jam berhari-hari membaca di cafe itu, di Place St. Michel, yang ia anggap tempat baik untuk menulis karena tempatnya nyaman, hangat, bersih dan bersahabat, dan aku selalu berharap untuk menemukan sekali lagi gadis yang ia lihat masuk pada satu hari yang buas, dingin dan berangin, seorang gadis yang begitu cantik serta tampak segar, dengan rambut dipotong diagonal, wajahnya seperti sayap seekor elang. "Kau bagian dariku dan Paris adalah bagian dariku," ia menulis padanya, dengan kekuatan menulis dan tulisannya yang  kuat seperti yang ia miliki. Aku tak dapat melewati jalan Rue de l'Odeon No. 12 di Paris tanpa melihatnya berbincang dengan Sylvia Beach, di dalam sebuah toko buku yang sekarang tak lagi sama, membunuh waktu sampai jam enam malam, ketika James Joyce mungkin akan datang. Di padang rumput Kenya, melihatnya hanya sekali, ia menjadi pemilik kerbau dan singa-singanya, dan pemilik rahasia-rahasia berburu yang paling intim. Ia menjadi pemilik petarung banteng dan petinju bayaran, para seniman dan jago tembak yang hanya ada sesaat sementara mereka menjadi miliknya. Italia, Spanyol, Kuba--setengah dunia diisi dengan tempat-tempat yang ia ambil secara sederhana dengan hanya menyebut mereka. Di Cojimar, sebuah desa kecil di dekat Havana di mana nelayan kesepian "The Old Man and the Sea", tinggal ada sebuah tanda peringatan keberanian yang heroik, dengan patung  Hemingway berlapis emas. Di Finca de la Vigia, tempat ia mengungsi  Kuba, di mana ia tinggal hingga menjelang kematiannya, rumah itu tetap utuh di tengah-tengah pepohonan yang rindang, dengan koleksi beragam bukunya, piala-piala berburunya, podium tempatnya menulis, sepatu orang matinya yang sangat besar, pernah-pernik yang tak terhitung dari seluruh dunia miliknya sampai ia mati, dan yang hidup tanpanya, dengan jiwa yang ia berikan pada mereka dengan magis  atas benda-benda itu.

Beberapa tahun yang lalu, aku masuk ke dalam mobilnya Fidel Castro—Ia pembaca sastra yang kuat—dan di tempat duduknya aku melihat sebuah buku kecil dengan sampul kulit berwarna merah. "Ini guruku, Tuan Hemingway," Fidel Castro berkata padaku. Sungguh, Hemingway terus menjadi tempat di mana orang berharap menemukannya - 20 tahun selepas kematiannya - waktu yang singkat yang abadi sebagaimana pada pagi itu, barangkali bulan Mei, ketika ia berkata "Adios, amigo" dari seberang, kala melewati jalan Boulevard St. Michel.

*Diterjemahkan ke dalam bahasa inggris oleh Randolph Hogan, artikel ini saya terjemahkan dari ini

1 komentar:

  1. Menarik, menarik. Anda yang suka baca Gabriel Garcia Marquez? Baca juga wawancara dengan Gabriel (imajiner) di stenote-berkata.blogspot.com Mudah-mudahan suka.

    BalasHapus