Sabtu, 04 April 2015

SUATU HARI DALAM KEHIDUPAN PRAMUDYA ANANTA TOER


Hidup memang bukan pasar malam, juga di tempat tahanan politik Pulau Buru. Di belakang kawat berdiri itu berjajar barak-barak bambu: bangunan sederhana di tengah sunyi ilalang dan pokok-pokok meranti yang telah ditebang. Di keluasaan itu, hampir-hampir tak ada suara.

Di hari Kamis sore yang mendung tanggal 25 Desember 1969 tersebut, seorang laki-laki berkaus dan bercelana khaki-dril lusuh berdiri dekat barang yang paling ujung. Barak XIX. Rambutnya putuh seluruhnya. Dari jarak sekitar 25 meter itu saya tak segera mengenali wajahnya, yang kadang-kadang diselaputi asap sampah sedang dibakar. Tapi kemudian saya tahu: dialah Pramudya Ananta Toer.

Ia adalah tahanan pertama yang terlihat dari kamp itu. Ia melambai-lambai romobongan wartawan yang datang dari Jakarta, lewat Ambon, singgah Namlea, menyusuri sungai Way Apu, dan saat itu muncul satu demi satu—setelah perjalanan kaki yang panjang menuju kamp—di atas jalan setapak yang becek dan hitam.

“Pramudya!?“ teriak seorang wartawan.

“Ya...“ Pram menjawab berseru. Suaranya masih keras lantang, mengeletar dengan emosi dan sifat gugupnya yang lama, seperti dulu. Hanya kini tubuhnya nampak liat, kulit wajahnya lebih terbakar matahari. Ia memelihara kumis.

Saya berhenti memasang kedua kamera yang tergantung di leher dan pergelangan tangan, mencoba memotret wajah di kejauhan itu lewat kawat berduri.

Dekat saya, di samping tonggak tempat saya menompangkan bahu mengatur fokus, Bur Rusuanto berseru, memperkenalkan dirinya kembali kepada Pramudya Ananta Toer, Pram agaknya tak lupa kepada pengarang yang lebih muda satu generasi sesudahnya itu, bekas tetangganya, yang dulu pernah jadi lawannya berdebat di saat-saat bertandang, dan kemudian jadi salah satu unsur lawan politiknya di tahun 1964, ketika anak muda itu ikut menyusun dan menandatangani Manifes Kebudayaan.

Saya sendiri berteriak:“Mas Pram, ada salah dari H. B. Jassin!“

“Terima kasih!“ Ia menyahut.

Sebenarnya, saya tidak ada amanat menyampaikan salam semacam itu dari H.B. Jassin—yang tak tahu sebelumnya bahwa saya akan berjumpa Pram di Pulau Buru—tapi saat itu tak ada cara lain bagi saya untuk membuka percakapan: suatu kesempatan yang mungkin tak akan saya dapatkan lagi dalam hidup saya. Pramudya Ananta Toer tidak pernah mengenal saya, dan saya tidak pernah berkenalan dengannya secara pribadi. Ia menyangka saya adalah seorang yang bernama “Goenawan Semaun“. Dan saya hanya berseru mengiyakannya. Waktu begitu sempit dan tempat begitu tak wajar buat suatu upacara introduksi yang tak perlu.

Lagipula apa baiknya itu buat Pramudya Ananta Toer? Sudah cukup baginya untuk mengetahui bahwa dalam rombongan wartawan wartawan yang datang itu ada pengarang yang dikenalya, Bur Rusuanto dan Alex Leo, dua pengarang yang berada di pihak lain dari pihaknya, dan karena itu mempunyai peruntungan yang lain pula dari padanya: dalam kebebasan. Saya tak bisa menebak, adakah kunjungan dari orang-orang luar tempat pembuangan sore itu menggembirakan atau menyedihkannya. Hanya pada saya ada semacam kekhawatiran aneh, kalau ia mengira bahwa beberapa orang hari itu sengaja datang kepadanya untuk menyindir ketidakbebasan yang kini mengungkungnya, dengan salam dan senyum mengasihani, orang yang dulu pernah dikutuknya hingga tak merdeka lagi buat berbicara di bawah bayang-bayang Partai Komunis, sebagaimana ia kini—meskipun dalam kondisi yang lebih jelek—juga tak merdeka untuk berbicara.

Karena, soalnya sudah sedemikian jauh. Perbedaaan seta pertentangan paham telah berakhir dengan perbedaan dan pertentangan nasib, di antara pagar yang telah dijaga dan petak rumput yang luas sore itu. Hidup memang bukan pasar malam. Nasib tak terbagi serentak beramai-ramai. Saya tak yakin adakah saya—ketika untuk kesekian kalinya memandang Pramudya Ananta Toer lewat kaca kamera—jadi bersyukur, atau menyesal, karenanya.

“Klik,“ saya memotret. Pada momen itu Pram tersenyum.

*

“Di sini mas Pram beloh menulis atau tidak?”

“Mintakan izin untuk itu,“ jawabnya.
Dari penjara Bukit Duri dan Pulau Edam hingga akhir Desember 1949—dua puluh tahun yang lalu—Pramudya Ananta Toer menuliskan ceritap-cerita pendek dan beberapa novel, yang sebagian besar diselundupkan keluar oleh Prof. G. J. Resink dan diterbitkan. Dari tempat penahanannya di tahun 1960, setelah menulis Hoa Kiau di Indonesia, ia juga konon menulis naskah yang hingga sekarang belum kita ketahui, meskipun H. B. Jassin pernah membacanya. Dan dari kamp Pulau Buru ini, apakah yang hendak ditulisnya?

Malam hari di tempat penginapan jaksa agung di kamp itu, Pramudya Ananta Toer didatangkan dan berbicara. “Ia menyatakan behwa ia ditangkap ketika sedang merencanakan menulis sejarah,“ kata Jaksa Agung ketika saya tanyakan peristiwa pertemuan dan pembicaraan itu. “Ia menyatakan bahwa ia mempunyai buku-buku dan guntingan-guntingan koran tabg sejak lama dikumpulkannya untuk itu. Ia bertanya tentang kemungkinan buat mendapatkannya kembali semua itu, sebab ia merencakan akan melanjutkan penulisannya. Saya kira itu usul yang baik. Saya kira itu bisa diusahakan.“

Menulis sejarah, seperti yang dilakukannya dengan dua jilid Panggil Aku Kartini Saja? di majalah indonesia bulan Juni 1956 dimuat Sunyi Senyap di Siang Hidup, yang konon ditulis Pram beberapa waktu sebelum ia mengunjungi Peking. ”Its difficult ti see this story as anything else but a sort of final settlement with the past at the moment of his break with it. It is noteworthy that after story Pramudya as a creative artist almost ceased to exprese himself…”  tulis Teeuw tentang cerita pendek itu. Nampaknya sang pengarang telah sampai pada satu babakan, di mana ia telah siap menggantikan impian-impiannya dengan tindakan—karena kepahitannya dengan dunia di sekitarnya, karena kekecawaannya terhadap kesia-siaan hidupnya sendiri, terhadap kegagalan tulisan-tulisannya dan terhadap tidak-cukupnya rasa kemanusiaan yang ada padanya.

Menggantikan impian-impiannya dengan tindakan: itukah yang menyebabkan Pramudya pada akhirnya menjadi  penulis pamflet lewat koran dan jadi penulis sejarah perjuangan? Itu pulakan yang menyebabkan ia dapat menemukan lingkungan dalam Parta Komunis Indonesia? Kesusasteraan memang tak selamanya bisa menolong, dan tak akan langsung sanggup memecahkan masalah-masalah yang berhubungan dengan rasa kemanusiaan. Bisa dimengerti pula apabila sastrawan sering tergoda oleh semacam rasa malu, atau mungkin putus asa, melihat dirinya sendiri hanya menulis puisi, cerita-pendek, novel dan esai, sementara ketidakadilan berlingkar-lingkar di sekitarnya: seakan-akan ia tak cukup menjadi manusia penuh yang bila perlu bertindak. Tapi kesalahan Pramudya Ananta Toer ialah bila ia dengan begitu kemudian mengira, bahwa hanya Partai Komunis Indonesia yang akan mampu memberesekan persoalan. Partai Komunis, atau partai revolusioner mana pun, atau kekuatan politik mana pun, akan terpaksa mengakui keterbatasannya di hadapan majemuk manusia. Dan apabila hidup kesusastraan yang wajar, yang bebas dan terbuka bagi segala kemungkinan hati serta pikiran, dikorbankan untuk itu, apakah artinya? Sejarah bukanlah soal yang mudah. Cita-cita besar, mungkin mulia, memang bisa menghalalkan penundaan beberapa bentuk kemerdekaan, tapi saya tidak percaya ia harus pula membenarkan tertahannya kemurnian hati. Pramudya Ananta Toer menjelang 1965 mungkin merasa telah memberikan pengorbanan buat cita-cita partai, yang tak lain artinya adalah pengorbanan rohani dalan acuan realisme-sosialis, ia rupanya harus mengorbankan diri lagi—bila ia masih percaya kepada pengertian perjuangannya—hanya kini dalam bentuk rohani dan jasmani yang terbelenggu dan terbelenggu.

Saya hanya mencoba menebak sikapnya, ketika saya kebetulan memperoleh kesempatan berbicara dengannya tanpa pengawal sore itu di depan Barak XIX. Umurnya 44, saya ingat, tapi di bawah rambutnya yang terlalu cepat memutih itu sorot matanya tetap seperti dulu, campuran keangkuhan dan kepahitan, tangkas, cerdas dan keras, tidak juga redup, memandang sekitarnya tanpa senyum, tanpa ketenteraman dan dengan segaris kebimbangan.

Bagaimanapun, saya seorang asing baginya—dalam suatu pertemuan yang tak bisa ditentukannya sendiri, di mana tak bisa diketahuinya adakah saya seorang pengunjung yang bersimpati atau seorang penyelidik dengan maksud tersembunyi.

“Menurut mas Pram, lebih enak mana di Buru atau di Salemba?” hati-hati saya bertanya, tahu bawha ia beberapa waktu lamanya berada di Rumah Penjara di pojok Jakarta itu sebelum dibawa ke mari, dan tahu bahwa mungkin pertanyaan seperti itu tidak akan dijawabnya terus-terang. Tapi ia menjawab,”Ya lebih enak di Salemba.”

Suaranya pasti.

Ia tidak mempunya kecurigaan kepada saya agaknya, untuk berkata demikian.

“Saya tadi bertanya kepada beberapa kawan-kawan,” kata saya lagi agak terbata-bata menyebut tahanan politik sebagai ‘kawan-kawan’ suatu istilah yang punya konotasi istimewa bagi mereka,”dan mereka mengatakan  bahwa makana di sini lebih baik daripada di beberapa penjara di Jawa… dan di sini ada alam terbuka yang luas… meskipun mereka mengeluh karena jauh dari keluarga.”

“Ya, tapi tenaga ktia di sini diabsordir oleh kerja yang berat.”

Saya terdiam, memandangnya. Suaranya bersemangat

*

“Di sini, sastrawan atau profesor harus bekerja sebagai tani,“ kata seorang petugas. “Mereka harus mengolah tanah ini, agar nanti bisa memilikinya dan hidup dari hasilnya.“

Dan saya bergurau.“Seorang sastrawan penganut realisme sosialis memang harus belajar hidup dengan dan dari kaum tani, seperti yang dikatakan Mao.“

Beberapa orang tertawa di sekitar saya, dan saya tak tahu adakah gurauan semacam itu tidak keterlaluan. Yang menyebabkan mereka bekerja semacam itu di pulau ini bukanlah partai mereka, tapi pemerintah yang telah membubarkan partai itu. Dan itu bisa berarti, bahwa kerja di situ adalah unsur ketidakbebasan, suatu batas yang harus mereka taati, seperti halnya pagar kawat berduri yang melingkupi kamp mereka.

Tapi tidakkah itu mungkin pula justru suatu alternatif yang lebih baik bagi mereka? Kerja, juga kerja di tanah-tanah di Pulau Buru yang telah disediakan bagi para tahanan politik, denan hutan yang telah dibuka oleh pasukan zenie dan Jawatan Transmigrasi, dengan rencana pembebasan yang konon akan terlaksana secara bertahap di masa depan, dan bibit padi serta palawija yang telah disiapkan, tidakkah itu juga bisa berarti kerja “Membangunkan Hari Kedua“ itu masih jauh, masyarakat baru yang akan mereka lahirkan kelak masih hanya satu kemungkinan, tapi kesempatan kerja di lingkungan langit terbujka, pohon-pohon serta tanah subur Pulau Buru barangkali lebih baik daripada duduk-duduk di sudut sel sepanjang hari, hingga akhir yang tak bisa diduga.

Barangkali. Tapi saya tahu bahwa masalahnya adalah masalah kenisbian: seberat-berat mata memandang masih berat bahu memikul, meskipun selalu ada kemungkinan bahwa mata yang memandang itu mata yang terlalu cepat jatuh kasihan...

Dalam catatan saya, 18 Desember 1969, Kamis, Kamp Tahanan Politik P. Buru, tertulis: “Kamp ini bukanlah neraka—seperti dinyatakan orang, juga bukan surga—sebab proyek Buru barulah suatu kemungkinan. Kita tak bisa menilai terlalu cepat, dan dari jauh, begitu saja.

“Beb Vuyk pernah tinggal di pula ini dan menulis Rumah Terakhir di Dunia. Mungkin Pusat Resettlement Buru akan merupakan rumah terakhir buat Pramudya Ananta Toer, dan yang lain-lain. Tapi sebuah rumah adalah tetap sebuah rumah, lebib baik daripada sekadar impian dan kekecewaan.”

Saya tidak tahu adakah saya benar.

Goenawan  Mohamad
Desember 1969

PS: Catatan ini saya tulis ulang dari buku ‘Kesusasteraan dan Kekuasaan’ karya Goenawan Mohamad dan terbit 1993.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar