Halaman

Senin, 13 April 2015

Wawancara dengan Sabda Armandio: “Selama Saya Masih Bisa Merasa Bosan, Selama Itu Pula Saya Masih Menulis.”

Beberapa hari lalu ada yang bertanya padaku, siapa penulis muda saat ini yang tulisannya ciamik. Saya terdiam sejenak, lalu mulai menyebutkan beberapa nama. Salah satu nama yang kusebutkan adalah Sabda Armandio, penulis kelahiran Tangerang 18 Mei 1991 silam ini rajin mengunggah cerita-cerita pendek, baik terjemahan maupun cerita dia sendiri, di blognya www.agrarifolks.wordpress.com dan telah menerbitkan sebuah novel bagus bertajuk ‘Kamu (Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya)’ yang diterbitkan oleh Moka Media. Apa yang membuat cerita Dio menarik? Banyak. Salah satunya adalah humor yang kental dan cara bercerita yang menyenangkan. Dan jika kau adalah makhluk twitter dan menyukai hal-hal yang lucu dan selo, kukira twitter @armandiolif wajib kau follow, jika tidak, bisa-bisa kau bisulan tujuh turunan.

Kami sering bercakap-cakap, lebih banyak tentang guyonan dan hal-hal tak penting lainnya, juga tentang buku, film dan perempuan tentu saja. Berikut ini wawancara tidak penting yang saya lakukan di antara kesibukannya menjadi pekerja kreatif periklanan dan hobinya main game. Untuk menghindari kejaran intel atau kimcil atau groupies daripada saudara Dio yang kian banyak, sengaja wawancara ini saya lakukan via email dan saya batasi hanya persoalan menulis, serta hal-hal menarik lainnya.  

Kalau boleh tahu, apa yang sedang kau lakukan saat ini?

Sebenarnya, tidak boleh tahu, sih. Tapi karena Yang Mulia Pak Nabi Dave (terkait sapaan ini, sila baca ini- peny)yang bertanya, saya bisa apa? Oke, saat ini saya sedang mencari cara baru untuk mengakali atasan saya supaya saya punya lebih banyak waktu luang untuk mengalih-bahasakan cerpen dan, kalau bisa, menyelesaikan tulisan sendiri.

Hmm... Oke begini,  apakah kau punya semacam ritual sebelum menulis?

Ritual khusus (dalam artian saya tidak bisa menulis kalau tidak melakukannya) sih, tidak ada. Bisa jadi karena saya tidak percaya hal-hal semacam itu.

Tapi, begini, Pak Nabi. Kadang saya suka memikirkan sebuah cerita sambil jalan kaki atau naik kendaraan. Dan biasanya sebelum cerita itu selesai, saya sudah memikirkan cerita lain. Akhirnya jadi bertumpuk-tumpuk, macam roti isi yang terus meninggi, disenggol sedikit pasti jatuh. Kalau saya sedang memikirkan sebuah cerita dan seseorang memanggil saya, atau saya tersandung, misalnya, ya semua cerita yang saya pikirkan buyar, tamat. Tapi kadang mereka kembali lagi, tentu dalam bentuk yang tidak utuh. Dan kalau sedang luang, saya menuliskannya.

Misal sedang menunggu kereta di peron, saya kadang suka memperhatikan orang yang duduk di peron seberang: Membayangkan apa yang mereka percakapkan atau sedang mereka pikirkan. Memberikan ‘tujuan’ ke obyek yang menarik perhatian saya—misal ibu-ibu muda yang sedang berbincang dengan kakek-kakek yang membaca koran, atau gadis-gadis SMA yang senang bergerombol dan membicarakan apa saja—lalu saya mulai mengarang-ngarang dialog sesuka hati, yang menurut saya lucu. Jika saya rasa menarik, saya akan menuliskannya.

Saya nggak tahu apa ini menjawab pertanyaan soal 'ritual', cuma menceritakan kebiasaan, mungkin orang lain punya kebiasaan yang sama.

Jika sedang berada di kamarmu, dengan teko dan cangkir berada di sisimu dan tentu saja rokok, apakah  kau menulis di laptop, atau tulisan tangan?

Laptop saya sudah lama rusak dan uang untuk membelinya selalu habis. Karena itu, terpaksa saya menulisnya di buku tulis, mengetiknya di ponsel, atau merekamnya. Kadang ada gunanya, kadang tidak ada sama sekali.

Saya punya komputer personal di kamar, tapi saya tetap menulis di buku. Karena kalau di kamar dan berhadapan dengan komputer, pasti saya akan melakukan hal lain: main game, baca komik digital, nonton film, atau membuka media sosial. Akhirnya tidak menulis.

Saya lebih suka menulis di warnet. Biasanya saya ke sana setiap Minggu pagi, sekitar jam 9. Ada warnet langganan di Jalan Raya Pemda, sekitar 100 meter dari McDonald. Koneksi internet di warnet itu jelek sekali, hanya ada 7 komputer dan pelanggan mesti duduk bersila, tanpa sekat, dan pengap karena tidak dipasang AC. Keadaan seperti itu bikin saya malas bermalas-malasan, maksud saya, jadi malas melakukan hal yang cocok dilakukan saat bermalas-malasan di depan komputer seperti menonton video atau film, mengunduh sesuatu, membuka situs media sosial, apalagi main game online. Kadang, karena sumpek, merokok pun malas. Kira-kira, urutannya begini: Beli makanan dan minuman secukupnya, masuk ke dalam warnet, pilih paket 8 jam—ada semacam ‘paket hemat’ di warnet langganan saya—memasang earphone dan mendengar lagu-lagu dari ponsel, lalu membuka microsoft word; mengetik apa yang sudah saya tulis selama satu minggu terakhir di buku catatan dengan tenang hingga delapan jam ke depan.

Dapatkah kau mengingatnya, kapan kali pertama kau ingin jadi seorang penulis? Dan apakah dalam keluargamu ada tradisi menulis?

Ingin menulis cerita sejak SD, sejak saya merasa bisa bikin cerita yang lebih bagus dari Akira Toriyama, dan seorang teman lumaya jago menggambar, jadi kami bikin komik-komikkan. Tapi justru teman saya itu yang terkenal, dia jadi sering diminta gambar Kapten Tsubasa dan dibayar 500 perak, dibelikan ikan cupang, atau ditraktir es kelapa.

Pertama kali muncul keinginan untuk menjadi penulis itu SMP, saya mulai dengan menulis cerita bersambung. Semacam cerita detektif, judulnya kalau tidak salah “Pembunuhan Pak Qushay”. Saat itu saya benar-benar takjub oleh gaya unreliable narrator dalam cerita Pembunuhan Atas Roger Ackroyd-nya Agatha Christie, dan saya ingin membuat cerita seperti itu juga. Trik pembunuhannya saya tiru dari komik Detektif Kindaichi, dan Pak Qushay benar-benar ada. Awalnya beberapa teman main di rumah membaca cerita itu, tetapi karena tulisan tangan saya jelek tidak ada yang mau baca lagi. Haha.

Di SMP pula saya berkenalan dengan Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, dan saya kira, cerita bersambung saya banyak menyontek gaya narasi Idrus. Meski saat itu saya tidak mengerti isi ceritanya, tapi saya suka gayanya bercerita. Mungkin karena waktu itu novel yang saya temukan di perpustakaan SMP kebanyakan R.L Stein, Trio Detektif, Pilih Sendiri Petualanganmu, atau Agatha Christie. Sehingga saat membaca Idrus, saya merasa tulisannya ‘segar’ dan keren. Saya cenderung mengikuti orang-orang keren.

Soal tradisi menulis, saya tidak terlalu yakin apakah di keluarga saya ada tradisi menulis, tapi saya pernah menemukan surat cinta ayah untuk ibu. Apa itu artinya ayah saya suka menulis? Sejauh ini saya tidak pernah menemukan buku harian atau apapun. Tapi, almarhum kakek dari ibu saya seorang dalang, beliau suka bercerita apa saja. Jadi, saya rasa, tradisi bercerita lisan lebih kuat daripada tradisi menulis.

Lalu, bagaimana kau mendapatkan tradisi itu, maksudku bercerita. Bolehlah kau berbagi cerita ini dengan sebuah cerita.

Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, almarhum kakek saya suka bercerita. Dan kalau sudah bercerita panjang sekali, seolah tidak mau berhenti. Kakek tinggal bersama kami di Peninggilan, Ciledug, dan dia suka mengajak saya naik sepeda. Saya duduk di depan, kami bersepeda menyusuri Jalan Raden Fatah, ke Jurangmangu, masuk ke perkampungan yang tembus ke perumahan tempat tinggal kami. Pernah juga sampai Stasiun Sudimara. Kadang kami cuma mampir di Bintaro. Saat itu Bintaro sedang dalam pembangunan, kami cuma berhenti di tepi jalan, menyaksikan gerak-gerik buldozer, lalu pulang. Dan selama jalan-jalan, dia bercerita, kebanyakan cerita wayang, sih. Kebiasaan itu bertahan hingga tengah tahun 1997, di tahun itu kakek pindah ke Bogor, dan wafat di Bogor satu tahun kemudian.

Ayah saya pendiam. Cool. Persis macam Pak Nabi. Seingat saya dia jarang mendongeng. Satu-satunya cerita yang pernah dituturkannya dan masih saya ingat sampai sekarang itu kisah Upik Abu. Dia bercerita soal Upik Abu versinya sendiri. Seluruh ceritanya mirip dengan Upik Abu, kecuali bagian akhirnya. Versi aslinya, kan, kalau nggak salah: pangeran membawa sepatu berkeliling desa, mencari kaki yang pas dengan sepatu itu. Versi ayah saya: Sebelah sepatu itu berjalan sendiri keliling desa mencari pemiliknya.

Dugaan saya begini: Ayah saya barangkali berpikir dia ingin menghilangkan kisah percintaan dari cerita itu karena menganggap saya masih kecil, atau dia berusaha melucu meski saat itu saya yakin saya tidak tertawa.

Itu barangkali cerita ‘sureal’ pertama yang saya dengar.

Kemungkinan dari Kakek dan cerita Ayah saya itulah saya jadi suka membaca atau mendengar cerita orang. Terlebih di kampung saya dulu—kampung yang hampir seluruh laki-laki dewasanya penganggur dan penjudi—gemar bercerita apa saja: dunia perdukunan, pengalaman tidur di komplek pemakaman tionghoa untuk mendapat nomor undian, dan sepakbola. Kalau bercerita kadang sambil teriak-teriak, mereka tertawa-tawa di rumah biliar belakang gereja Pentakosta. Kebetulan saya berteman dengan anak pemilik rumah biliar itu, kadang saya membantunya: mulai dari membereskan bola-bola biliar, merapikan tongkat, menulis poin di papan, menyajikan kopi, hingga menulis kertas undian judi Toto Gelap yang saat itu memang sedang marak. Tak jarang pula mereka bertanya apa yang saya mimpikan semalam. Saat mereka sedang bermain biliar, ributnya bukan main. Tetapi, saat berhadapan dengan kertas-kertas kode judi Toto Gelap, mereja bak kaum phytagorean yang tenggelam dalam angka-angka. Mereka merancang rumus-rumus khusus, menafsir gambar-gambar binatang yang muncul dalam kertas kode, dan mereka kelihatan serius sekali melakukannya. Dari rumah biliar itulah saya banyak mendengar kisah-kisah dari tiongkok, membaca novel-novel silat dan komik-komik (alm) R.A Kosasih. Mungkin dari pengalaman masa kecil itu pula saya jadi suka menulis cerita.

Nah, mari kita berbicara tentang novel pertamamu berjudul ‘Kamu‘. Dalam kesempatan Peluncuran novelmu bulan lalu, banyak yang bilang terpengaruh oleh Albert  Camus. Sebenarnya, sejauh mana pengaruh pengarang ‘the stranger’ itu bagimu?

Saya baca novel itu SMA, ‘Orang Asing’ yang sampulnya siluet orang berbaris kalau tak salah—saya lupa penerbitnya. Adakah orang yang membaca novel itu lalu tidak terpengaruh? Ada, pasti, tapi rasanya yang terpengaruh lebih banyak. Saya tidak meniatkan diri untuk mengikuti gaya narasi Camus. Saat itu saya nggak tahu apa itu eksistensialisme dan tetek-bengek lainnya, saya hanya menganggap novel itu keren. Dan seperti saya bilang tadi, saya cenderung mengikuti orang keren. Hehe. Di masa-masa itu saya banyak bermain peran jadi orang-orang yang saya anggap keren. Misalnya, setelah membaca potongan artikel Jim Morrison, saya berpura-pura menjadi Jim Morrison. Setelah membaca Pulanglah Dia Si Anak Hilang, saya ingin jadi Chairil.

Yang seperti itu, kira-kira. Tokoh 'Kamu' lahir di masa-masa itu, dalam perjalanannya, setelah saya bertemu orang-orang tampan lainnya dan cara pandang saya sepertinya ikut bergeser, ia terpecah jadi dua, yang satu tetap menjadi 'Kamu' setengahnya lagi menjadi Sang Narator. Sejujurnya, esai Arthur Schopenhauer banyak berperan membentuk karakter Sang Narator. Sebelumnya saya pernah kecewa bekerja sama dengan seorang editor dan setelah itu saya nggak pernah lagi mengirimkan naskah ke penerbit, rasanya lebih baik diunggah di blog sendiri sebab saya pikir mungkin memang naskah saya tidak layak untuk dicetak dan diperbanyak. Lalu nasib baik mempertemukan saya dengan Pemuda Korea, Dea Anugrah. Pemuda Korea ternyata jauh berbeda dengan editor yang pernah saya temui, kami lebih banyak ngobrol tentang hal yang kurang penting ketimbang membicarakan naskah itu sendiri, dan berkat wejangan dari beliau pula saya akhirnya menemukan semacam kepercayaan diri untuk menerbitkan novel itu.


Kemarin, beberapa alien mendatangiku. Saya terkaget. Ternyata, mereka cuma ingin bertanya, novel menarik apa di negaramu yang menarik saat ini dan serta merta kujawab novelmu. Lalu, mereka bertanya lagi, kenapa? Kujawablah singkat, karena novel itu punya selera humor yang menyebalkan. Ketika kujawab demikian, kulihat para alien itu memanggil kawan-kawannya dan turun ke bumi dengan jumlah lebih banyak lagi. Kami pun berbincang, salah satu dari mereka bertanya lagi, siapa penulis brengsek itu dan kujawab, namanya Dio. Dan kini, mewakili mereka, saya harus bertanya, dari mana cerita di novel ini berasal?

Dari sekitar, sih, Pak Nabi. Misalnya, bagian pembuka novel itu bau kamar saya sendiri. Pengamen yang menyebutkan nama-nama musisi itu dari seorang pengunjung warung kopi tempat saya biasa kongkow. Namanya Bang Heru, badannya besar dan kalau pakai celana pendek dilipat hingga sebatas selangkangan. Kalau ke warung kopi suka minta dibuatkan kopi, dan dia mencelupkan tahu goreng ke kopi itu sebelum dimakan, persis seperti mencelupkan biskuit. Kata warga sekitar, dia orang gila. Dia suka ngomong sendiri, dan bicaranya ngawur. Banyak ngomongin soal mesin-mesin, jendral anu yang bisa merakit bom dari sendok saat zaman penjajahan, dan sebagainya.

Saya kira dia mengidap skizofernia atau semacamnya. Suatu hari dia tiba-tiba berkata santai ke kawan saya: “Gue tahu kapan lo mati.” Kami jelas tercengang. Tapi, ya cuma begitu. Setelah itu dia malah membicarakan soal mesin kapal laut.

Sumur di perjalanan ke ‘Sisi B Kota Bogor’, itu terinspirasi dari serial animasi Inuyasha. Pernah nonton, Pak Nabi? Sumur keramat yang mengantar Kagome kembali zaman siluman. ‘Sisi B Kota Bogor’ sendiri adalah penafsiran ugal-ugalan dari lagu-lagu di album Fifth Dimension-nya The Byrds, beberapa lagu dari Strawberry Alarm Clock, dan lainnya.

Tentang bunuh dirinya Hana itu saya dapat dari pernyataan Menteri Pendidikan saat itu, M. Nuh. “...jika ada satu kelas bunuh diri massal usai UN, baru bisa dipikirkan ulang penyelenggaraan UN.” (tautan berita) Saya merasa beruntung tinggal di negara ini, tidak perlu mahal-mahal beli LSD atau ganja, cukup nonton TV atau baca berita saja

Oh, iya, setelah membaca Naked Lunch dan The Rum Diary, saya jadi terpikir untuk memasukkan unsur di dalam novel itu ke dalam novel 'Kamu'. Isi novel itu mungkin ya, campuran dari apa yang saya lihat dan dengar setiap hari.

Bisa kau sebutkan penulis-penulis favoritmu dan alasannya?

Kalau favorit ya banyak banget, Pak Nabi. Hehe. Bagaimana kalau yang saya nikmati selama kurang lebih empat bulan menyelesaikan novel Kamu sebelum akhirnya siap terbit?

FIKSI

-The Plague - Albert Camus: Sebab kematian itu menggantung di udara.

-Do Androids Dream of Electric Sheep? - Philip K. Dick: Seperti memaksa pembaca untuk bertanya-tanya, “Apa, sih, yang sebenarnya sedang terjadi sekarang?” Dan soal empati yang sepertinya merupakan inti novel ini.

- In the Miso Soup - Ryu Murakami: Kota Modern: bar-bar gelap, klub seks di bawah lampu-lampu neon, prostitusi remaja kelas menengah... surem. Saya kira kota itu perlu sosok seperti Pak Nabi. Oh iya, yang saya suka dari novel ini karena justru rasanya seperti membaca novel grafis.

- Ficciones -  Jorge Luis Borges: Bermain dengan konsep penciptaan~

-The Sailor Who Fell from Grace with the Sea - Yukio Mishima: Bayangkan situasinya begini, kau baru patah hati dan temanmu berkata begini: “Berliburlah ke pantai.” Kau pergi, tapi pantai dan laut ternyata juga tidak terlalu menghibur.

NON-FIKSI

-Riwayat Sang Kala (A Brief History of Time) - Stephen Hawking: Meski di kata pengantar tertulis, kalau tidak salah: ‘ditulis dalam bentuk yang dapat dimengerti oleh mereka yang tidak berpendidikan sains’—saya lupa tepatnya. Tetap saja saya tidak mengerti. Hehe. Tapi, di dalam buku ini banyak yang bisa dijadikan bahan di dalam cerita.

- A Walk in the Woods: Rediscovering America on the Appalachian Trail - Bill Bryson: Cocok dibaca kapan saja, dan di halaman mana saja. Hehe.

-The World as Will and Representation - Arthur Schopenhauer: Sebaiknya, jangan percaya apapun yang dikatakan orang tentang Schopenhauer sebelum kamu baca ini.

-Nyanyi Sunyi Seorang Bisu - Pramoedya Ananta Toer: sebenarnya, saya baca lagi buku ini karena teman baru mengembalikan saat saya sedang menyelesaikan novel ‘Kamu’.

-The Naked Ape: A Zoologist's Study of the Human Animal - Desmond Morris: Umat mesti selo, Pak Nabi, kalau tergesa-gesa nanti lenyap.

Sebagian saya baca dalam format buku elektronik, Pak Nabi. Karena kalau beli lumayan mahal dan susah dicari, dan saya tidak tahu bagaimana cara memesan di Amazon. Hehe.

Hmmm.. Kalau ini tidak ada hubungannya dengan alien. Selepas pertanyaan tadi, alien itu  kembali ke angkasa. Oh ya, alien itu juga menyebutkan kata ajaib, menurutnya,  penulis bumi suka tipu-tipu. Mending ia kembali ke planetnya saja. Tapi begini, menurutmu buku atau tulisan yang hebat  itu seperti apa? Jika perlu sebut judul-judulnya dan alasannya kenapa?

Tulisan yang hebat selalu membuat saya ingin memotong-motong mereka hingga menjadi bagian kecil. Menggosoknya hingga saya pikir saya sudah menemukan semacam intinya. Dan sialnya, setelah itu saya ingin membuat yang seperti itu juga. Sederhananya: Buku yang mengubah saya jadi mirip-mirip tukang batu akik.

Hmm, mungkin ini agak melebar, tapi  generasi kita dianggap sebagai generasi  digital. Bagaimana menurutmu?

Ya, nggak gimana-gimana hehe hehe terserah, deh, generasi apapun sama saja. Saya malah jadi ingat lagu My Generation dari The Who. Hehe.

Lalu, bagaimana caramu memelihara etos kepenulisan di tengah dunia digital yang terkadang malah membuat orang lupa membaca, atau malas membaca buku elektronik, dan lebih sering komentar di media sosial?

Soal 'membuat orang lupa membaca (buku) dan lebih sering komentar di media sosial' rasanya bukan urusan saya. Menulis barangkali semacam jembatan yang menyeberangi saya dari kebosanan satu ke kebosanan yang menunggu saya di depan. Bukan tujuan. Sehingga saya merasa tidak perlu memelihara 'etos kepenulisan' saya ‘di tengah dunia digital’, selama saya masih bisa merasa bosan, selama itu pula saya masih menulis. Ditambah dengan berkumpul bersama Pak Nabi Dave dan para sahabat, tentu saya semakin bersemangat menulis.

Saya merasa tidak keberatan hidup di ‘era digital’; membaca buku-buku digital, membaca majalah digital, dan digital-digital lainnya. Membaca kicauan Pak Nabi di twitter atau status-status Pak Nabi di facebook kan mempertebal iman kami juga. Kabar baiknya, dengan buku elektronik, tas jadi lebih ringan. Saya pikir seharusnya dengan buku elektronik kita jadi lebih rajin membaca, akses bacaan semakin luas, dan kita bisa menyimpan banyak buku di dalam ponsel, dan membacanya kapan saja. Menyenangkan. Kalau malas membaca buku elektronik ya, itu kan cuma soal cara berpikir, dan cara berpikir orang lain ya, lagi-lagi, bukan urusan saya.

Jika boleh tahu, proyek ambisius apa yang sekarang lagi kamu kerjakan, maksudku dalam menulis?

Saya tidak punya proyek ambisius, tapi saat ini sedang menulis novel dan menerjemahkan novel Kurt Vonnegut. Hehe.

Apakah kau berpikir bahwa dirimu adalah  seorang kutubuku? Kenapa?

Tidak. Karena selain membaca, saya punya kegemaran lain. Eh, kalau benar katamu tadi kita ini 'Generasi Digital', yang juga artinya membaca buku-buku berformat digital, istilah kutubuku bukankah jadi agak aneh? Selama ini, seingat saya,saya belum pernah menemukan kutu merayap di antara berkas-berkasbukuelektronikdalam harddisk.

Hahaha. Kau menghabiskan banyak waktumu di Bogor. Bagaimana arti kota ini bagimu?

Tidak ada artinya. Hehe.

Sebenarnya masih banyak yang kuingin tanyakan misalnya, kenapa belalang kian susah dan apakah ini ada hubungannya dengan fenomena crop circle atau bagaimana rambut putih bagi manusia disebut uban, kenapa tidak nama lain. Tapi itu semua tidak penting, sebab aku hanya ingin nanya satu hal dan ini kesukaanmu, bagaimana musik mempengaruhi dirimu dalam menulis? 

Saya cukup sering membuat cerita kecil dari lirik lagu yang saya suka. Menyenangkan ketika saya bisa berpura-pura mengerti apa yang ingin  disampaikan si pencipta lagu. Cuma corat-coret, sih, malu kalau dibaca orang.Hehe. Semoga menjawab pertanyaan Yang Mulia Pak Nabi Dave.

Oya, yang terakhir dan ini lebih penting dari segala pertanyaan di atas:  apakah situ sudah sarapan?

Terima kasih Pak Nabi Dave. Bolehkah minta gope buat nambahin beli rokok?




2 komentar:

  1. sepertinya cepat atau lambat saya harus baca Sabda Armandio, kelihtannya menyenangkan.

    BalasHapus
  2. KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.


    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.

    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.



    BalasHapus