Sabtu, 08 Februari 2014

Tiga Novel Populer

Hari ini Sabtu, dan ini adalah pekan pertama saya di kontrakan saya di daerah Kahfi II—saya hanya butuh kurang dari lima menit untuk berjalan ke kantor. Seperti biasa jika tidak menghabiskan waktu bersama kawan-kawan, maka yang saya lakukan hanya dua hal; nonton film atau baca buku. Kali ini saya memilih kedua.

Membaca adalah aktivitas yang menyenangkan, dan saya akan sedikit melepaskan egoisme saya untuk membaca bacaan sastra atau paling tidak sedikit mengurangi sinisme saya terhadap bacaan yang tidak bermutu. Saya hanya ingin terhibur dan untuk itu, sepulang dari kantor kemarin, saya membawa tiga novel populer. Ketiga novel ini, menurut amatan saya, sangat disukai pembaca umum.

Baiklah, saya tidak akan berlama-lama. Sebab lagi-lagi, saya tidak ingin berusaha menjadi kritikus atau menjelek-jelekkan sebuah karya, kau tahu, menulis sebuah novel membutuhkan ketahanan yang luar biasa dan para penulisnya saya yakin merupakan orang-orang terpilih; mereka mampu keluar dari cengkeram menulis pendek sebagai tanda generasi digital hari ini.

Pertama, The Truth About Forever (Orizuka)

Mendengar namanya kalian berpikir ia orang Jepang, apalagi novelnya menggunakan judul bahasa Inggris. Pasti terjemahan, pikirku. Tapi ia sebenarnya bernama Okke Rizka Septiana. Kelebihannya utama; ia menggarap tema-tema anak muda dengan problematiknya dan bagaimana ia menjalani hidupnya selepas mendapatkan masalah itu.

Orizuka adalah prototipe penulis populer yang dengan serius menggarap tema anak muda bukan dengan gaya bercinta fisik, tapi bagaimana mencintai masalah, lalu menyelesaikan masalahnya. Mirip yang dilakukan John Green dengan novel Fault in Our Stars, dimana tokoh utamanya terkena penyakit, tapi tidak merasa sedih dan menjalani hidup laiknya orang kebanyakan.

Di novel ini pula, Orizuka berusaha untuk menerapkan apa yang telah dilakukan oleh John Green. Si tokoh utama bernama Yogas, dan ia terkena penyakit HIV yang ditularkan oleh seorang kawannya saat SMA. Untuk mengatasi masalahnya, ia pergi ke Yogya untuk balas dendam kepada sahabatnya. Lalu ia bertemu seorang gadis bernama Kana. Singkat cerita, mereka jatuh cinta dan Yogas berhasil mengatasi masalahnya.

Apa yang menarik dari cerita yang tampak biasa ini?

Menurut saya, cerita ini jika dibaca oleh remaja atau dewasa awal, maka ia akan menunjukkan satu hal—dan mungkin ini sudah begitu klise—tentang bahaya narkoba dan masa depan yang bakal kacau jika terkena jeratnya. Tapi Orizuka mampu melukiskan kisah ini dengan cara anak muda, mengalir dan menggunakan bahasa anak muda sehingga di tangan pembaca kisah ini akan disukai.

Gaya bertutur model begini, jika Orizuka konsisten terus menggarapnya, akan menjadi salah satu kekuatan menarik di novel-novel berikutnya. Dan kau tahu, penulis ini memang begitu laris. Paling tidak, nama ini akan cukup menjanjikan untuk beberapa tahun mendatang. Sebab ia sendiri sudah punya banyak penggemar.

Kedua,  Pillow Talk (Christian Simamora)

Hal pertama yang membuat saya gusar dan takjub ketika membuka novel ini adalah; ia memasuki cetakan kedelapan dalam rentang 2010-2011. Tentu, ini novel yang begitu disukai pembaca, dan memang tidak salah, Christian Simamora memang sudah memiliki  penggemar tersendiri—kebanyakan dari kalangan urban, pikirku.

Dalam novel ini, Christian membungkus percintaan sahabat lama dalam suasana urban yang gegap gempita; sex, cafe, kehidupan kelas menengah dan pelbagai hal lain sebagai penanda kota. Sebagaimana kita tahu, para pembaca tentu adalah kalangan yang berada dalam lingkup ini, dan penulis novel ini tahu betul kemana ia harus memberikan dunia bagia pembacanya. Orang tentu akan senang jika kehidupannya diceritakan oleh orang lain, bukan? Dan tentu, orang akan bergembira jika dunianya dikisahkan dengan cinta.

Berbeda dengan Orizuka, Pillow Talk sendiri tampaknya diperuntukkan bagi pembaca dewasa,  seperti yang saya katakan di atas, dan mengisahkan persahabatan antara Jo dan Emi dengan tautan masalah kehidupan percintaan mereka masing-masing. Seperti cerita cinta berlatar sahabat kebanyakan, mereka enggan mengungkapkan cinta sebab takut persahabatannya hancur dan lebih memilih diam dan berpacaran dengan orang lain. Singkat cerita, mereka akhirnya sadar dan akhirnya bersatu setelah mengalami banyak hal.

Novel ini juga memiliki bumbu sex yang lumayan banyak sebagai penanda kaum urban mengisahkan dirinya, dan untuk sebuah novel yang sejak awal ditujukan bagai pembaca dewasa, Pillow Talk mampu meramu emosi pembaca dengan cukup menarik—saya membayangkan orang-orang membaca novel ini di kafe, hotel ataupun bar—dan berhasil meraih simpati banyak orang.

Ketiga, Montase (Windry Ramadhina)

Harus saya akui, di antara tiga novel populer yang saya baca kali ini, saya sangat menikmati bagaimana Windry Ramadhina bercerita. Ia mengingatkan saya pada Nicholas Sparks yang konsisten menempuh jalur romance sebagai spesialisasi dalan novel-novelnya, dan kau harus tahu, salah satu novelnya One Day merupakan novel romantis yang sampai saat ini masih banyak diperbincangkan orang.

Salah satu kekuatan utama dalam kover.

Siapa tidak terpantik dengan sebuah bangku di taman, pohon yang rindang, jalanan kecil berkelok, berung bertebangan rendah dan sebuah kata ‘kau di antara beribu sakura’. Semuanya memakai ilustrasi dengan wajah yang muram seperti potret jaman dulu. Ini mengingatkan orang akan sebuah ruang terdalam dalam hati manusia, yang mungkin sesekali akan kau kunjungi dan mengingatkanmu akan kenang-kenangan bersama orang yang kau sayangi atau meninggalkanmu. Sungguh kerja kreatif yang membuat nalar gusar; mengangumkan.

Montase sendiri menggambarkan dunia film dengan kampus Insititut Kesenian Jakarta (IKJ) dengan lakon utama seorang bernama Rayyi, yang juga anak produser film-film mainstream, dan berusaha untuk tidak mengikuti jejak bapaknya. Ia ingin menjadi sineas film dokumenter dan tidak mau ikut pasar.

Seperti yang saya bilang di awal, ini adalah kisah cinta. Dan Montase menyuguhkan balutan asmara yang menarik antara si Rayyi dengan seorang gadis Jepang bernamau Haru yang sedang menempuh studi film di IKJ. Singkat cerita, gadis ini yang membuatnya sadar bahwa pilihan hati akan sangat menentukan dirinya kelak menjalani masa depan. Dan itu terbukti, Rayyi berhasil di dokumenter tapi jodoh tidak mempertemukan mereka. Haru meninggal.

Alur yang diciptakan penulisnya sangat menarik dan tidak membosankan.  Dialog dalam sebuah novel tentu  berbeda dengan percakapan-percakapan sehari-hari. Sebab di dalamnya, kau akan coba membuat pembaca untuk memasuki dunia rekaan si penulis. Dan Windri cukup memahami itu sehingga dialog yang ia gunakan tidak klise.

Apakah Windri akan menjejaki hal serupa seperti halnya Nicholas Sparks mengkhususkan dirinya menulis novel-novel populer bertema cinta?

Saya tidak tahu dan hanya Windri yang mampu menjawabnya. Toh, saya baru membaca dua novelnya. Montase dan London, novelnya yang terakhir juga memiliki gaya bertutur yang menarik, dan saya belum membaca karya-karya dia yang lain. Tapi melihat namanya—ia pernah berguru di DKJ yang diampu mas Sulak dan mas Yusi—ia memiliki potensi untuk menjadi penulis kisah cinta yang tidak biasa, dan tentu terus menerus disukai pembaca.

***

Ketiga novel di atas adalah novel populer—entah siapa yagn pertama kali menggolongkannya—yang banyak disukai pembaca dan sekali lagi saya tidak ingin berbicara tentang keburukan sebuah karya dulu. Ada ruang tersendiri.

Tentu kalau mau lebih ke persoalan buruknya sebuah karya, kita tidak bisa membaca dengan cepat. Perlu penelusuran lebih mendalam, dan berhubung saya tidak ingin menulusuri, saya hanya akan kembali mengingatkan bahwa menulis panjang merupakan kekuatan tersendiri dan saya selalu mengagumi orang yang menulis panjang. Sebab ini modal yang luar biasa di tengah arus deras sosial media dan informasi yang membuat orang begitu malas berlama-lama menuliskan kisahnya.

Saya kerap membayangkan, bagaimana para penulis ini membagi hidupnya; berinteraksi, menulis, bekerja dan mungkin berkencan.

Begitulah, saya cukup menikmati hari sabtu ini.

Jagakarsa, 8 Februari 2014
@Dedik Priyanto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar