Sabtu, 24 Mei 2014

Berbincang dengan Seno Gumira Ajidarma

Seno Gumira Ajidarma. Penyandang nama Jawa ini lahir di Boston, Amerika Serikat 19 Juni 1958. Ia memiliki tinggi badan di atas rata-rata orang Indonesia, perutnya sedikit buncit. Rambut gondrongnya mulai dipenuhi uban. Dari dulu sampai sekarang, jambang dan kumisnya tebal. Sorot matanya tajam, tapi terkesan cuwek. Tapi bukan ciri-ciri fisik yang membuat laki-laki anak Prof. Dr. MSA Sastroamidjojo itu diperhitungkan di dunia kepenulisan, melainkan karya-karyanya.

Karya Seno bukan sekadar banyak dan menyentuh pelbagai ragam jenis tulisan, tapi juga selalu baru dan kreatif, dan oleh karena itu penerbit mencetak ulang karyanya, masyarakat mencarinya, mendiskusikannya serta menghargainya.

Seno menerima wawancara tiga kru Surah di mobil Avansa hitam yang joknya masih dibalut plastik. Seno nyupir sendiri, Dedik Priyanto duduk di sampingnya. Sementara Zakki Zulhazmi, M Sabqi, dan Hamzah Sahal, duduk di jok tengah. Bagian belakang mobil tampak penuh. Ada tas ransel, buku-buku, satu set CD Robert Johnson berjudul The Complete Recordings, sandal, sepatu, handuk, dan lain-lain.

Berikut ini sari wawancara yang berlangsung dua jam lebih, di sepanjang perjalanan dari Cikini hingga Kebon Jeruk. Kami menjadikan hujan deras dan macet saat itu sebagai teman, sehingga kami tetap ringan dan riang; wawancara, ketawa, wawancara, ketawa, sesekali berceloteh tentang motor polisi yang meraung-raung tak peduli, sesekali juga mengomentari bajaj yang cuwek.

Apa komentar Anda tentang sastra hari ini?

Saya itu tidak terlalu mengikuti.

Mengapa, Mas?

Enggaklah. Perhatian saya di yang lain. Saya kan bukan ahli sastra. Kalau ahli sastra itu bacasemua. Saya bukan. Ya, bebas saya..hahaha..

Apa yang sedang digeluti?

Apa saja, suka-suka.

Dalam sebuah wawancara, Anda katakan tidak ada sastra yang adiluhung. Bagaimana maksudnya?

Iya. Sastra saja tidak ada kok. Kenapa harus namanya sastra? Yang ada, tulisan semua itu boleh disebut sastra. Kenapa harus ada yang namanya sastra, dan ada yang bukan? Sudah kuno itu. Sastra dan bukan sastra itu nggak perlu ada. Kurang kerjaan itu.

Lalu disebut apa?

Sastra juga boleh, tapi ya tidak penting. Disebut tulisan juga boleh. Ya, kayak orang ngobrollah. Ngobrol boleh, tidak ngobrol juga tidak masalah. Sastra juga begitu.

Apa yang sedang Anda tulis sekarang?

Menamatkan Naga Bumi. Tapi dengan susah payah mengerjakannya. Ya seperti begini ini, macet, tidak ada waktu, dan lain sebagainya itu, yang harus disesuaikan. Harus a sosial dulu.

SGA tergolong penulis yang padat aktivitasnya. Mengajar di Institut Kesenian Jakarta, jadi pembicara di mana-mana, menulis untuk majalah, koran atau seminar, menulis novel dan skenario, melayani wawancara, dan tentu saja urusan keluarga. Tapi dia juga mengaku waktunya banyak habis di jalan, tapi juga tidak bisa menikmati suasana jalanan, tidak mampu cari makanan di tempat-tempat asyik di Jakarta, karena macet dan tidak aman.

“Saya suka sate kambing. Tapi tidak seperti Danarto yang mengejar warung sate di mana-mana. Saya cukup sate di sekitar TIM (Taman Ismail Marzuki, red.) saja. Kalau saya mengejar kabar warung sate andalan teman-teman, bisa gila saya..hahaha..,” ungkap Seno sambil terkekeh-kekeh.

: Judul di atas aslinya adalah 'Seno: Saya Hanya Ingin mengembara' dan dimuat di wawancara majalah Surah. Ingin lebih lanjut baca wawancara ini, sila ke sini.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar