Rabu, 12 Maret 2014

Antara Cinta dengan Titik dan After Rain

Dua penulis muda dan aktif memubliskasikan  karya mereka di media massa, barangkali kita  akan menemukan banyak nama. Dan, membincang  nama Bernard Batubara dan Anggun Prameswari  adalah pengecualian. Tapi, kali ini saya tidak akan membicarakan kiprah keduanya, cuma ingin sedikit bercakap tentang dua novel yang mereka terbitkan tahun lalu lalu.

Seperti catatan kecil saya sebelumnya di blog ini, saya tidak akan menimbang isi  ataupun kualitas sastra dari keduanya—walaupun  keduanya adalah cerpenis dan tentu menulis sastra—tapi lebih kepada, kenapa keduanya disukai pembaca dan kekuatan mereka dalam mengisahkan romantisme.

Sebelum beranjak ke dua novel tadi, saya teringat Motingge Busye dan Fira Basuki. Dua nama lawas yang mengisi lembar sejarah sastra kita dan juga produktif menulis karya--yang acapkali--dianggap populer. Dan keduanya, tetap produktif, dan nama mereka abadi.

Dan saat menuliskan catatan ini, saya teringat Nicholas Sparks. Entah kenapa saat membincang karya romantis berjenis ini, saya tidak akan pernah bisa mengenyahkan nama ini. Selain bahwa ia bercerita dengan gaya populer dengan cukup bagus, ia juga dianggap sebagai penulis kisah cinta nomor wahid di bidang ini, dan disukai pembaca.

Tentu hal ini bisa didebat, misalnya, kenapa tidak menyebut nama-nama penulis sastra semacam Gabriel Garcia Marquez yang mengisahkan Florentino Ariza dan  Fermina Daza di Love in the time of Cholera yang begitu sunyi dan romantis atau kisah haru antara Tomas dan Tereza buatan Milan Kundera The Unbereable Lightness of Being atau barangkali novel yang begitu kusukai, yakni kisah antara pelukis Otoko dan Oki dalam Beauty and Sadness dari Yasunari Kawabata, atau yang paling kontemporer antara Watanabe, Naoko dan Midori dalam Norwegian Wood dari Haruki Murakami.

Sebab lagi-lagi, Nicholas Sparks berada di jalur yang dianggap orang dengan jenis novel populer. Dan mungkin suatu saat nanti saya harus menuliskan pembedaan antara populer dan sastra.

Ah, kenapa saya tidak mulai-mulai mengisahkan dua novel tadi. Baiklah, saya akan mulai    membincangkan keduanya saja.

Pertama, After Rain

Kali mula membaca novel ini, saya merasa bahwa Anggun tetaplah orang yang piawai bercerita dan akan tetap berpatokan pada beberapa cerpennya di media massa yang kebanyakan berkutat persoalan perasaan, cinta, kehilangan dan kenangan. Dan itu pula yang menjadi kekuatan utama dalam novel bertebal 323 halaman ini.
Kenapa novel ini disukai? Menurut kawan saya yang juda editor, Faisal Adhimas, sebab kesedihan di dalamnya begitu menyayat. Dan saat itu bercerita sembari memeragakan proses bunuh diri; pisau yang disayatkan para pergelangan leher, sebagai orang patah hati yang sangat. Bagi pembaca, yang tentu  sedang patah hati dan berusaha menjejaki masa lalu yang pilu, novel ini akan jadi kawan.

Tapi, bagi saya, yang menarik justru adalah kisah seorang yang menjadi guru dan kehidupan anak-anak SMA. Ini yang menjadi kekuatan sebab si tokoh utama, Seren, memilih untuk menjadi  seorang guru dan menjalani laku hidup yang berubah--Sebelumnya ia adalah seorang sekretaris perusahaan.

Lazimnya karya remaja lainnya, kedekatan dengan objek akan membuat karya itu menjadi cukup diminati. Dan itu bagi anak remaja, tentu akan sangat senang jika di sekolah mereka ada guru yang cantik dan cerdas, dan tentu saja dekat dengan mereka.

Begitulah Anggun berhasil mengambil hati remaja dan pembaca, khususnya mereka yang sedang bersedih hati, serta membuatnya menjadi karya yang cukup digemari saat ini.

Kedua, Cinta dengan Titik

Membincang Bernard Batubara yang pertama kali terpantik dalam otak saya adalah sosial media. Penulis ini dengan sangat apik mampu memanfaatkan sosmed dan menjadikan dirinya arus perbincangan. Entah oleh para pembacanya--yang kebanyakan remaja--atau dengan komunitas literasi lain dengan lebih serius.

Cerita ini sebenarnya bertumpu pada alur Nessa, Demas dan Endru. Sosok Nessa menjadi tokoh utama yang mengaitkan konflik utama seorang perempuan kota yang sudah dapat tuntutan menikah dan keluarga yang bermasalah. Ia ditinggalkan ibunya yang lari dengan lelaki lain, dan ia dibesarkan oleh sang ayah sendirian. Dan Nessa dijodohkan dengan Endru.

Nessa, dengan pengalaman keluarga yang buruk itu, tidak ingin mengulangi hal serupa. Tapi, apa lacur, justru ia bertemu dengan Demas dan jatuh cinta. Demas sudah memliki tunangan dan siap menikah. Kisah cinta terlarang yang harusnya ia hindari, justru ia alami. Konflik pun terjaidi, dan singkat cerita keduanya pisah.

Hingga waktu juga yang mempertemukan kisah ini dan Nessa memahami apa yang dulu dipikirkan ibunya. Cinta memang selalu menemukan waktunya dan waktu itu bukan milik kita, begitulah kira-kira.

Tapi, entah kenapa, ketika membaca novel ini, khususnya ketika adegan ia menyadari apa yang dilakukan ibunya, dan ia melakukan hal yang serupa laiknya takdir yang harus dijalani, saya teringat film India bertajuk 'Tab Eik Hain Jaan' yang dibintangi Shah Rukh Khan.

Cerita ini, bagi pembaca, tentu akan semakin memperkuat Bara, begitu penulis ini biasa disapa, sebagai novelis yang disukai. Khususnya saat menulis romance seperti halnya novel sebelumnya Radio Galau FM, Kata Hati dan lain-lain. Dan, ia harus memperbaiki gaya bercerita dan bukan hanya persoalan keindahan kata-kata. Sebab lagi-lagi, cerita adalah cerita. Ia mengisahkan segalanya, dan keindahan kata-kata bukanlah segalanya. Yang penting adalah cara bercerita yang membuat orang percaya bahwa kisah yang kau bikin itu nyata.

Dan dalam kasus ini, Cinta dengan Titik, yang dipenuhi dengan bahasa-bahasa puitis memang menjadi kekuatan tersendiri bagi pembaca remaja. Banyak yang bisa dikutip dan dijadikan sesuatu di twitter, misalnya. Dan itu akan membuatnya kian laris. Bara berhasil melakukan itu. Sesuatu yang susah dilakukan oleh penulis  lain.

***

Begitulah uraian dua penulis muda dengan dua novelnya. Tentu saja, hal ini sangatlah subjektif. Toh, cerita tetaplah cerita dan jika dikembalikan pada pembaca, akhirnya mereka juga yang menentukan apakah mau membaca atau tidak.

Dan bagi remaja, atau pembaca novel romantis lainnya, dua novel ini cukup untuk dibaca sebagai pelepas lelah jika Anda penat bekerja atau sekolah.

Kira-kira begitu

@DedikPriyanto

Tidak ada komentar:

Posting Komentar