Jumat, 11 Oktober 2013

Yang Retak dalam Sajak Mendendang Puan

Mendendang Puan
Aku menemukanmu dalam kegelisahan senja yang temaram

Dalam bola mata bersalahmu,
menyala riang yang remang.

Bergendak engkau pada melati layu yang dicuri putiknya.
Belalu aku pada derita mata setengah terbuka.

Aku hanya mentari pekat yang sekejap menelusurimu dalam detik-detik cumbu.
Memahami dimensi asingmu pada senja yang tiada; senja kita.
Senja yang jingga sekejap tercipta lagi untukmu.

Semesta merayakanmu, berbahagialah.
Mentari layu kan' berpulang pada hatimu, berbahagialah.

***

Konon, puisi yang baik selalu menimbulkan tanya selepas membacanya, melahirkan katarsis dan acap memberikan resah di tiap lekuk baitnya. Sebab di dalamnya selalu ada ketegangan dan ketidaknyamanan yang membuat aku lirik terkadang berdiri sendiri, tanpa ada yang lain, termasuk pembaca.

Kritikus puisi, Conrad Aiken (Damono; 1968) pernah menyatakan bahwa puisi adalah  potret manusia dengan peluh di kening, darah di tangan, siksa neraka di hati, dengan absurditasnya, dengan kejalangannya, keyakinan-keyakinannya, dan keraguan-keraguannya. Baik itu merupa muram yang menjadi ide, atau bahkan bahagia berbentuk jelaga di muara tiap kata. 

Sajak di atas menunjukkan sesuatu yang, bagi saya, mendekati penafsiran puisi dari Aiken tadi. Ada perjuangan yang begitu berat yang harus diperjuangkan aku lirik untuk kembali ke pangkuan 'Puan'.

Coba perhatikan pertemuan aku lirik berkisah tentang pertemuan yang resah--dan sengaja menjadikannya sebagai bentuk lelaku: Aku menemukanmu dalam kegelisahan senja yang temaram/Dalam bola mata bersalahmu,/menyala riang yang remang. Pada bait ini juga berusaha mengisahkan pertemuan yang bermula dari luka yang disadari. Ketegangan timbul dalam bentuknya yang absurd; kesadaran.

Biasanya, kesadaran ini membuat manusia memilih untuk pergi meninggalkan luka yang, barangkali, telah membuatnya jadi objek kesalahan. Kesalahan ini pula yang digambarkan penyair dengan gembira; riang yang remang.

Saya percaya, kesedihan harus dirayakan sebagaimana manusia merayakan kegembiraan. Sungguh tidak adil jika bahagia hanya sendirian saja. Ujungnya tentu akan semu. Sebab tak ada yang bisa berdiri sendiri, termasuk bahagia yang kerap dicari oleh manusia.

Proses menjadi semu dan tidak bahagia ini pula yang membuat yang coba diterakan dalam bait: Bergendak engkau pada melati layu yang dicuri putiknya.

Ada semacam gembira yang menyayat dan getir yang coba ditertawakan, ketika putik itu telah dicuri dan berakhir menjadi layu sebab proses perkawinan yang tidak direstui, atau bisa jadi penyair sengaja menjadikan putik yang dicuri ini sebagai antitesa keperawanan. Sesuatu yang bagi masyarakat umum masih mengganggap perawan adalah hal yang sakral sebelum perempuan pernikahan. Bergendak (bersetubuh) dengan keterpaksaan.

Dimana cahaya bagi perempuan jika keperawanan masih dianggap sesuatu yang sakral, dan mengindahkan pelbagai fakta bahwa selaput dara sebagai tanda keperawanan bukanlah sesuatu yang faktual dan tunggal?

Di sinilah penyair mencoba untuk mengisahkan aku lirik dengan dunia yang penuh absurd. Sebuah percumbuan yang begitu gamang dan sukar terlaksana: Aku hanya mentari pekat yang/sekejap menelusurimu dalam detik-detik cumbu. lalu diteruskan dengan perjumpaan yang tak pernah purna dan, bisa jadi, hanyalah sebuah khayalan...Memahami dimensi asingmu pada senja yang tiada; senja kita.

Senja yang menjadi asing, tak tentu, dan enggan menemukan kebersamaan antara dua orang yang mencumbu ini pula ditutup dengan larik yang diceritakan dengan sederhana dan riang...Senja yang jingga sekejap tercipta lagi untukmu.

Pada titik lain, sajak di atas berusaha untuk menelurkan pelbagai ketegangan antara hubungan dua manusia yang  tidak mampu bercakap dengan seksama, dan malah menjadikan percumbuan sebagai alat komunikasi.

Semesta merayakanmu, berbahagialah.
Mentari layu kan' berpulang pada hatimu, berbahagialah.

Bait di atas adalah penutup sajak ini, dan kembali lagi meneguhkan kecurigaan saya bahwa aku lirik tidak berusaha untuk menghilangkan kesedihan dan tidak ingin menggarami luka yang ada. Seakan semua selesai jika harus dikembalikan semesta.

Ketegangan yang terjadi menunjukkan bahwa cahaya pun, pada akhirnya, bisa layu dan rontok. Tergopoh-gopoh dan harus tetap berpulang dengan riang walau dengan luka yang terus menganga. Namun tetap saja, hati itu telah retak. 

lukisan karya Titis, begitu ia biasa disapa.
Begitulah kiranya, sebuah sajak yang mampu menjadi jembatan antara ketengan-ketegangan yang ada, bahkan bisa jadi optimisme dalam merayakan kesedihan. Sebab dengan kesedihan adalah titipan kehidupan yang tidak boleh ditaruh di pojok dan dibungkus dengan tangisan semata.

Catatan ini ini adalah apresiasi sederhana dari orang yang masih biasa terhadap karya dari orang yang juga masih biasa. Tapi bukan berarti karya yang dibuat orang biasa ini menjadi biasa saja. Sama sekali tidak, sebab sajak ini membuat saya terpantik untuk membuat resepsi yang sederhana.

Menulis adalah mencipta dunia dengan segala ketegangan-ketegangan yang acapkali membuat dunia rekaan itu menjadi begitu absurd. Begitulah realitas memberikan warna. Dan Karya puisi karya Titis Dewanti yang bertajuk 'Mendendang Puan', membuat saya dengan jujur harus berkata: saya terpesona dalam tiap kalimatnya.

@DedikPriyanto


Post Scriptum: Di sajak yang saya ambil dari blog yang bersangkutan ini juga disertakan lukisan karya penulisnya, Nastiti Dewanti, yang saya kenal belakangan di Kelas Menulis Surah. Bisa jadi, suatu saat nanti, saya akan menulis khusus tentang sketsa yang bakal menghiasai edisi 4 majalah sastra Surah yang saya turut di dalamnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar