Jumat, 04 Oktober 2013

Bulan Juni di Mata Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Mohamad

Bulan Juni seperti halnya bulan-bulan selanjutnya, tak ada yang lebih istimewa dari sebuah perjumpaan. Bila tak bisa ditaruh sebagai peristiwa biasa, maka tentu saja Sapardi Djoko Damono tidak akan usai menebalkannya menjadi 'Hujan Bulan Juni' atau seorang Goenawan Mohamad tak akan mengabadikan dalam sajak 'Di Sebuah Juni'.

Bulan ini pula yang memaksakan dua penyair ini untuk melukiskan gundah lewat temaram kota. Kota yang dengan arif diceritakan, tapi membentuk partitur perpisahan tanpa kata-kata, tanpa harus mengharu biru seperti halnya deru kendaraan yang melintas saban hari di sebuah kota. 

Goenawan Mohamad bercerita tentang dirinya dan sebuah pertemuan;

Di sebuah Juni yang seperti asma
kutemukan kau tanpa nama


Tanpa nama adalah kata yang dipilihkan Goenawan Mohammad dalam membuka sajak lirisnya itu. Bagaimana bila pertemuan itu tanpa nama, dalam sebuah  bulan seperti penyakit asma; tersengal-sengal, sukar bernafas dan akhirnya jatuh sakit?

Lain GM, lain pula Sapardi. Penyair yang belakangan ditahbiskan sebagai pujangga memulai dengan lebih liris lagi.

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni


Bilakah sakit dan pertemuan tanpa nama adalah bentuk lain dari perpisahan, maka Sapardi adalah kebalikannya. Ia menganggap bulan ini adalah harapan, dan tak ada yang lebih tabah selain bulan ini, penuh dengan masa depan dan dimulai dengan pijak ikhlas sebagai mula.

Namun, semua itu merupa seorang yang tetap sakit, kata GM, meneruskan puisinya:

Sore yang sepucat pasien
Cahaya
hampir absen


Hampir tak ada cahaya lagi, jika tanpa absensi, kilah seperti itu yang coba diteriakkan sebagai bentuk sublimasi dan perayaan tanda..  Karbol/tercium di udara dan seperti pada titik 0/angin tak juga kuasa

Bahkan angin pun tak punya kuasa, seperti halnya orang-orang yang tak mampu menduduki semesta dengan pelbagi teknologi. Manusia dengan kecerdesannya itu hanya mampu sebatas titik. Titik-titik ini pula yang membuat manusia begitu kecil, sebuah titik yang tidak hanya kecil, tapi juga kerdil. 

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu


Juni adalah penghapus jejak kaki yang ragu untuk melangkah, seperti halnya hidup di negara yang penuh keraguan seperti hari ini, di negeri ini. Frasa 'Jalan Itu' yang dipilih Sapardi tentu saja bukan sembarang jalan, inilah kilau masa depan yang dengan tertatih coba untuk diraih, tapi tidak akan sampai bila kita ragu.

Sapardi pun menutupnya dengan ... tak ada yang lebih arif/ dari hujan bulan juni.. Selain hidup dengan pemaknaan yang biasa saja, maka arif adalah kunci. Orang yang arif akan memandang sesuatu tanpa meledak-ledak, sebab dirinya memahami bagian dari alam.

Dan bulan hanyalah rangkaian semesta yang ditafsirkan manusia untuk menandai hidup. Termasuk bulan Juni, yang pada awalnya Sapardi menuliskannya dengan keadaan kemarau, tapi Juni di bulan sekarang ini tidak bisa diartikan hanya satu saja.

Lebih dari itu, Juni dalam pandang Sapardi adalah semesta yang harus dipahami. Manusia hanya menyesuaikannya dan akan senantiasa menjadi bunga--walau musim gugur atau kemarau sekalipun.

dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
(Hujan Bulan Juni, 1989)



Goenawan Mohammad sendiri memandang Juni sebagai sebuah kotak penuh teka-teki.

Kota ini seakan sebuah kotak kaca, rasanya,
di mana orang setengah bicara, setengah membaca

menaruh tubuh sepanjang lorong
dan bayang juga, seperti kau bilang,
bertebar kosong


Ya, kosong dan keheningan adalah muasal dari ketidaktahauan akan dengan sendirinya berusaha menjadi. Menurutnya, orang-orang sibuk mengukir masa lalu dengan luka yang tak mampu diperamnya. Semuanya menjadi kosong dan..

Tentu saja kau coba
selubungi sepi


Menjadi sepi, terselebung dengan sepi, kata GM, merupakan sebuah pertemuan yang kalau boleh tidak akan pernah selesai, atau bisa selesai dengan duka.

Dan dengan sebuah topi
kauinginkan sebagaian matahari
di teras restoran ini

menahan vakum
di sebuah ruang yang tak terangkum


Tentu saja...

Tapi kita, mereka berkata, akhirnya setelah kata
pada spanduk:
cat tebal di pojok yang sibuk


Sebuah pertemuan, sebuah harapan, sebuah percakapan dalam sebuah teras adalah kejanggalan yang harus diterima manusia sebagai makhluk yang tidak sendiri.

di Juni yang seperti asma
yang ditemukan tanpa nama

Atau tak tereja, barangkali
sepatah maklumat,
pada kaki adpertensi

Kemudian aku cuma liwat
dan hari lari
dan kau tak ada lagi

1996
GM


Bagi mereka berdua, Juni adalah penanda. Penanda tentang kebahagiaan dan harapan yang kemarau, juga pertemuan-pertemuan singkat tanpa nama, tanpa ada percakapan yang sederhana. Juni  hanyalah pencerita, yang harus menuruti semesta dan menceritakan dirinya lewat tanda-tanda. Begitulah.

Bintaro, 3 Oktober 2013

Post scriptorium: catatan ini tidak ditulis dengan serius dengan pendekatan teori apapun, sebab tidak ada pretensi apresiasi sastra di dalamnya. Hanya sekadar perbandingan saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar