Senin, 30 September 2013

Tafsir Jokolodhang

Oleh: Jakob Sumardjo

Penyair istana zaman Surakarta, Ronggowarsito (1802-1873), adalah "pujangga terakhir" dalam tradisi keraton-keraton di Indonesia. Dia mengabdi sebagai pujangga pada zaman raja-raja Pakubuwono VII (1858-1861) dan Pakubuwono IX (1861-1893) terutama pada raja yang disebut terakhir. Sebagai layaknya seorang penyair dan intelektual umumnya dimana saja, dia sangat peduli pada kondisi zamannya, dan menilai kondisi itu dalam esensinya sehingga menemukan nilai-nilainya uyang mampu mengatasi zamannya sendiri. Inilah sebabnya karya-karya besar para penyair dan seniman selalu aktual kembali, apabila kondisi zaman serupa terulang kembali di masa-masa kemudian.

Salah satu karya puisinya yang terkenal adalah Jokolodhang yang hanya terdiri dari sembilan syair. Puisi ini mengenai zaman perubahan sosial yang berakibat pula pada moralitas manusia-manusianya. Bagaimana kekeuasaan, kekayaan, jabatan telah dijungkirbalikan, dan bagaimana itu semua memengaruhi tabiat mereka yang terlibat di dalamnya.

Saya belum pernah menemukan terjemahan puisi in, kerenanya saya berusaha menerjamahkan semampu saya, karena banyak kosakata Jawan yang sudah tak hidup lagi sekarang, dan lagi pula ini bahasa para penyair,"penguasa kata-kata" itu

"Jokolodhang bergantung
tiba di dahan lantang berseru
ingat-ingatlah kehendak Yang Mahakuasa
gunung runtuh, jurang bangkit
para perwira terusir kalah perang. Tapi jangan keliru
Ketahuilah ujar pasti itu
Meski gunung runtuh pasti
namun masih tampak bekasnya
Beda dengan jurang lata. Meski jurang bangkit
tapi tanpa dasar akan gampang runtuh
Semua itu terjadi menurut kehendak-Nya
bila sampai pada tahun bertanda
Hilang lenyap tata tertib manusia.

Yang diimpikan tak terwujud
yang diinginkan tak tercapai
yang tersusun akan rubuh
Meraih keluhuran menemu comberan
Yang agung kehilangan keagungannya
yang jelata tak ingat jelataannya

Yang alim cuma alir di luar
putih di luar kuning di dalam
kaum pemuka giat bermaksiat
madat madon minum  main
mereka membanting surban putihnya
wanita tak ingat kewanitaannya
wibawa terletak pada harta
semua kesana tujuannya

Para saudagar bangkrut
di zaman kena tulah ini
ingin menguasai isi dunia
tapi kesengsaraannya semakin memuncak
tiada kebijakan dalam mengisi hidup
itulah tandanya
ujung derita kemiskinan
kalau sudah benar-benar bertobat
amat sengsara menerima kata hati nurani

Sang perawan bertopang dagu mahaduka di kalbu
Jokolodhang bersabda lagi
semua itu ada hikmahnya
ramalan yang pasti terjadi
upayakan agar terjadi. Ramalan masih akan terjadi
    tahun-tahun ini
itulah kehendak Yang Maha Kuasa

Ibaratnya orang mengantuk menemukan gamelan kenthuk,
bertebaran di sepanjang jalan
Bahagialah dia menemukannya
karena di dalamnya tersimpan ratna mutu
    manikam

Begitulah kurang lebih bentuk puisinya. Ronggowarsito seperti hidup kembali menyaksikan zamannya lagi. Sebuah zaman yang jungkir balik. Yang dahulu berkuasa, kini tidak berkuasa. Yang dulu menjadi korban kekuasaan kini ganti memegang kekuasaan. Yang dulu kaya sebagai saudagar besar, kini diambang kebangkrutan.

Semua orang menderita sekarang ini, seperti sebuah zaman kena kutuk.

Orang, yang karena jabatannya, harus hidup bersih, ternyata mengidap penyelewengan. Orang yang dulu baik-baik sebelum meningkat hidupnya, kini menjadi tidak baik dalam statusnya yang baru.

Tetapi manusia yang benar-benar 'raja' di lubuk hatinya, ia akan tetap seorang raja meskipun sudah tidak berkuasa, meskipun sudah tidak kaya, meskipu sudah di alas paling bawah. Sedangkan si jelata yang mencoba menjadi raja tetap rakyat yang meraja.

Ada yang berkuasa tetapi tidak pernah memergunakan wewenang kekuasaannya. Dia berkuasa dengan wewenang keadilan yang disetujui semua hati nurani yang dikuasai. Tetapi ada yang mabuk kepayang oleh kekuasaan yang diperolehnya. Manusia-manusia  semacam ini seperti rakyat kelaparan yang menemukan timbunan sembako, tidak tahan untuk merampoknya habis-habisan.
Sedangkan yang dari sononya memang sudah raja, memang sudah kaya, tidak akan kaget dengan godaan harta benda. Orang begini tidak mungkin KKN. Orang begini tidak mungkin sewenang-wenang karena sejak kecil permainannya kekuasaan. Dia dilahirkan untuk berkuasa.

Dalam zaman yang jungkir balik in iorang tidak insyaf akan asal-usulnya. Siapakah aku ini? Bukankah dari orang tua miskin yang harus berkeringat deras untuk menghidupi seluruh keluarga? Dan sekarang aku kaya raya, bukankah tugasku membalas dendam terhadap kemiskinanmu dahulu? Bukankah tugasku mengambil kesempatan untuk tidak jatuh kembali dalam hidup "sehari makan, sehari tidak"? Apa peduliku terhadap mereka yang masih merangkak di bawah seperti keadaanku dahulu? Bukankah wajar-wajar saja kalau semua impianku di masa miskin dahulu itu harus aku wujudkan sekarang ini? Bukankah setiap anak petani selalu bermain menjadi raja-rajan?

Siapakah aku ini? Bukankah sejak lahir aku selalu dilayanin orang? Minta apapun tentu disediakan? Bukankah sejak dului porsi makanku kecil saja? Aku sering heran menyaksikan para pembantuku yang setia-setia itu selalu makan nasi sepiring penuh dan menggunung. Apakah ruang perut manusia tidak sama? Para priyayi makan seperti kucing, rakyat jelata makan seperti kuli? Bukankah aku sejak dahulu tidak pernah kekurangan. Benar aku tidak pernah pegang uang, tetapi semua kebutuhan datang kepadaku.

Kalau aku berkuasa sekarang, bukankah hal itu yang selalu diajar padaku? Kalau aku berkuasa, aku tetap akan makan sedikit, aku tetap tak bawa uang, aku tetap bekerja seperti layaknya manusia lain bekerja. Seperti sekertaris harus menulis, seperti petani harus mencangkul, seperti pencari rumput harus menyabit rumput, Bukankah itu luarbiasa? Kalau aku berkuasa untuk apa mencari kekayaan? Bukankah warisan kekayaanku lebih dari cukup untuk menjamin hidup anak cucuku, meskipun, misalnya aku dipanggil mendadak? Impianku? Impian sejak kecil tercermin dalam mainan kanak-kanakku.

Waktu itu kami gemar bermain menjadi petani-petani miskin, orang miskin itu. Baju kami sengaja dirobek-robek, wajah kami sengaja dicelemong. Alangkah indahnya menjadi petani, orang miskin itu. Impianku menyatukan diri dengan merka yang miskin seperti dahulu pernah pernah saya mainkan di masa kecil.

Inilah zamannya "gunung jatuh, jurang bangkit". Namun, "gunung" tetap akan gunung, sedang yang jurang akan tetap jurang, meskipun sekarang ini sedang terjadi "gunung". Manusia gunung yang sejati tidak akan pernah runtuh meskipun tampaknya sekarang menjadi jurang. Sedangkan orang-orang jurang tetap saja berkarakter jurang meskipun tampaknya dia menjulang.

Manusia otentik, manusia sejati, manusia yang jujur pada dirinya sendiri, itulah yang dicari Jokolodhang. Dia boleh kaya, dia boleh miskin, dia boleh rakyat jelata, dia boleh dari keluarga berpunya dan bermartabat, tetapi jujurkah mereka pada sangkan parannya itu? Jujurkah pada hati nuraninya yang terdalam?

Semua kutuk zaman ini adalah akibat dari kemunafikan manusia. Karena kemunafikan, ketidakjujuran, maka:"hilang tata tertib manusia". Bersyukurlah bahwa dirimu ditakdirkan untuk menjadi gunung, dan jadilah yang sebenar-benarnya gunung. Sebab, pada suatu kali gunungmu itu akan lenyap, tetapi jagalah agar kegunungananmu tidak lenyap di hati rakyat.

Gunungmu adalah gunung sejati, meskipun pada suatu kali akan rata dengan tanah, tetapi mereka akan membuat legenda tentang gunungmu itu. Dan jangan sekali-kali membuat gunungmu digoncang-goncang untuk dirubuhkanb. Engkau tetap gunung, meskipun asalmu dari jurang atau gunung sejak mulanya.

Penyair Ronggowarsito percaya pada kaidah moral tua, bahwa kemunafikan dan ketidakjujuran dalam segala bentuk kekuasaan, hanya akan mendatangkan penderitaan manusia. Itu kepastian."Kehendak Yang Maha Kuasa". Itulah sebabnya digambarkan, Sang Perawan, Ibu Pertiwi, berduka cita oleh ulah para pemimpinnya.

Puisi ini ditutup oleh penyairnya dengan gambaran bagaimana orang yang setengah mengantuk menyusuri jalan pulang, dan ditengah jalan menemukan kethuk, instrumen gamelan pelengkap, kurang berharga dan berperan sebagai instrumen, tetapi ternyata di dalam relung kenthuk itu ditemukan ratna mutu menikam yang amat berharga.

Jadi jangan mengabaikan ajaran yagn amat sederhana ini: kejujuran hati nurani, sebab disitulah terletak nilai-nilai tinggi umat manusia.

Post scriptorium: selepas menyaksian penahbisan Sapardi Djoko Damono oleh Jeihan di acara #LimaRukun hari di Bandung kemarin, Sabtu (28/09), saya teringat pernah membaca ulasan tentang syi'ir Ronggowarsito. Kebetulan salah satu orangnya juga yang menahbiskan SDD dalam buku #LimaRukun, yakni Jakob Sumardjo. Saya tulis ulang di buku Pak Jakob bertajuk Manusia Indonesia (2001) hal .204-207

Tidak ada komentar:

Posting Komentar