Kamis, 14 November 2013

#5BukuDalamHidupku: Eka, Cantik itu Luka dan Perjumpaan Lainnya

Entah kenapa saya harus menyukai sosok ini, perempuan yang terlahir dengan paras memesona, cantik yang tak terkira dan wafat, serta bangkit lagi selepas 25 tahun dikuburkan. Begitulah Eka membuka cerita dengan racun yang ganas, persis seperti Gregor Samsa dalam Metamorphosis Kafka, tapi ini lebih berasa Indonesia: mistis.

Darimana pertama kali saya mendengar nama Eka Kurniawan? Saya lupa. Barangkali dari letupan suara dengan Bang Makki, seorang abang penggemar garis keras bacaan bermutu yang pernah saya temui, atau dari internet, saya benar-benar lupa.

Terlepas dari kelupaan saya itu, harus saya akui Cantik Itu Luka Eka Kurniawan ini, menurut saya, masih karya sastra terbaik Indonesia kontemporer. (Belakangan, saya menemukan yang hampir-hampir mirip, sebagai karya sastra terbaik kita, yakni Murjangkung, kumpulan cerpen AS Laksana)

Novel ini mengisahkan tentang kehidupan ibu-anak yang memiliki paras cantik. Dewi Ayu, Sang Ibu, dan ketiga anaknya, Alamanda, Adinda, Maya Dewi, memiliki bentuk fisik yang memukau, berkat keturunan Belanda dan atau Jepang yang mereka miliki, juga tentang Rengganis dan pelbagai kisah panjang tentang cinta dan sejarah di sebuah kota bernama Halimunda.

Jika saudara pernah membaca One Hundred Years of Solitude dari Gabriel Garcia Marquez, dan menemukan ada sebuah kota imajiner bernama Macondo, maka Eka dengan lihai meniru gaya ini dengan sebuah kota bernama Halimunda, sebuah kota yang sebenarnya  tidak pernah ada, tapi membangun dirinya sendiri dalam otak pembaca, minimal saya.

Saya pun pernah menjuluki daerah sekitar kontrakan saya di Semanggi II, sebagai bagian dari Halimunda. Dan saya sendiri, di otak saya yang dungu ini, begitu percaya bahwa sosok Kamerad Kliwon, seorang aktivis gerakan kiri yang terbunuh dalam cerita Eka Kurniawan itu merupakan sosok yang nyata, yang barangkali suatu hari nanti akan datang ke Semanggi II lengkap dengan topi kabaretnya, dan mengetuk pintu dan selanjutnya, kami berbincang tentang banyak hal--padahal ia sudah meninggal--termasuk gerakan politik yang membuatnya gagal dan terbunuh.

Sekali lagi, entah kenapa, saya harus menyukai novel ini, hingga akhirnya saya pun mencari karya-karya Eka Kurniawan lainnya. Beruntung pula, saya memiliki kawan penggila Eka Kurniawan seperti Zakky Zulhazmi, Arlian Buana, Asep Sopyan, Ahmad Makki dan lainnya yang setia memberikan informasi perihal Eka, terkadang tanpa diminta.

Dan hingga kini, saya selalu mengikuti perkembangannya dan sempat bersedih hati,  ketika tidak lagi berinteraksi dengannya via twitter ataupun facebook--dua hal yang sudah ditinggalkannya dua tahun belakangan. Tapi itu terobati, dengan laman ekakurniawan.com yang menjadi bacaan wajib, mirip sembahyang, jika sekali saja tidak melakukannya, maka dosa besar akan menghantam otak saya, seketika itu pula.

***

Eka Kurniawan, saya dan Cantik Itu Luka adalah sebuah perjumpaan kata-kata. Saya mengenalnya melebihi saya mengenal kekasih saya yang lama. Kekasih yang membuat saya kecewa, dan lebih-lebih terhadap diri saya sendiri.

Tapi Eka dan Cantik Itu luka tidak pernah membuat saya kecewa, dan sebagai seorang yang jatuh cinta dengan karyanya, maka saya pun terus mencari tentang karya apa yang bakal dibuatnya nanti, sembari terus berharap seperti halnya kisah cinta tak sampai, seperti Melatie dan Manio, kisah  cinta yang dingin dan dungu di Cinta Tak Ada Mati, cerpen panjang Eka Kurniawan, yang termaktub dalam buku Sepuluh Kisah Cinta yang Mencurigakan bareng Puthut EA dkk.

Perjumpaan pertama kali secara fisik--dan saya yakin Eka Lupa ini--adalah kala saya turut bersama di konser #KoinSastra, disebuah pagelaran di Bentara Budaya Jakarta untuk penyelamatan PDS HB Jassin. Saya diberi amanah untuh berada di desk belakang konser, sembari menyiapkan artis atau  talent lain sebelum masuk panggung.

Pada saat giliran Eka Kurniawan akan naik ke panggung, saya pun diminta untuk mencarinya, dan saya yang hanya berbekal pengetahuan potret di internet perihal sosoknya, harus mencari dan bertemu sosok yang, menurut sahabat karibnya Puthut EA, adalah seorang dengan tubuh rapuh,  Sedikit angin malam saja menyentuh dua-tiga minggu ia akan terkapar, dengan matanya yang seperti bocah kehilangan mainan senapan,sementara di luar dar-der-dor, kawan-kawannya yang lain saling menembak. Tapi cerita tidak berhenti di situ.

Kawan saya bernama Chandra, yang diberi tugas menjadi pengait antara panggung utama dan belakang panggung begitu gusar dan tampak marah-marah, sebab saya yang diberi tugas mencari, malah duduk-duduk dan ngobrol dengan seorang berkacamat, kurus dan tampak seperti orang belum makan berapa hari tersebut.

"Woi, mana Eka! Cari dong!" Teriaknya sembari menendang-nendang kaki saya.

Saya melirik Eka, ia hanya tersenyum. Dan kawan-kawan yang lain di sana pada terkekeh. Kawan saya ini tidak tahu, Eka berada di samping saya dan kita sedang ngobrol. Ia mungkin berpikir, Eka yang begitu terkenal di antara kami ini, adalah orang yang gagah perkasa, atau ganteng luar biasa. Bukan. Eka sosok yang biasa, yang jika orang melihat matanya, akan melihat sedih tak terkira

Selanjutnya, Eka adalah tetap sebuah misteri dan penjaga kata-kata. Dan seperti pengakuannya di  On/Off yang saya tulis ulang, ia sudah menyapih dirinya sendiri dari penulis-penulis dunia yang telah mengasuh dirinya dengan karya-karya hebat dirinya, dan dengan cara inilah, dengan karya-karya hebatnya, kelak ia akan menemukan ajalnya.

***

Eka Kurniawan dan saya sama-sama tinggal di Ciputat, sebuah kota kecil di pinggiran Jakarta yang begitu berisik dan bising, tapi begitu cantik, serta penuh dengan kekuatan imajinasi, sebab di kota inilah Jakarta ditopang oleh para pendatang yang saban pagi merayap menuju pusat, dan ketika malam tiba, ke kota ini pula orang-orang berpulang.

Cantik itu Luka adalah jalan saya untuk lebih lanjut mengenal karya-karya lain di sastra Indonesia yang bermutu, dan saya akan selalu, akan senantiasa terus menerus,  menempatkannya dalam standar estetis bagaimana karya sastra itu dibuat--walaupun saya sendiri masih belum bisa menulisnya. Tapi sebagai pembaca, saya akan terus membuatnya sebagai perbandingan dalam menilai sebuah novel Indonesia.

Segala yang ada di dunia ini menipu, persis seperti cerita Eka. Bahkan kecantikan, terkadang begitu miris dan tanpa segan-segan membuat tangis. Eka telah berhasil mencekoki otak saya dengan karya yang begitu  bagus--dan ditulis oleh orang Indonesia--sesuatu yang belakangan sukar ditemui.

Belakanggan juga, konon Eka akan merampungkan cerita panjangnya yang bertajuk, entah ini benar atau tidak, berkisah tentang masuknya islam ke nusantara. Saya menunggu sejarah ditafsir ulang dengan apik olehnya, seperti halnya peristiwa kelam 65 dan sejarah lainnya dalam Cantik Itu Luka. Bukan merayakan desak tangis korban seperti halnya novel belakangan. Tapi membuatnya begitu satire dan menyayat, seperti seorang yang menikmati perutnya ditusuk pisau karatan dengan perlahan, saya bersedia mati dengan cara demikian.

Jika nanti Eka gagal atau minimal belum bisa menandingi anaknya bernama Cantik itu  luka, maka otak saya siap-siap harus berhamburan keluar, bersedih tanpa seucap kata. Tapi seperti halnya cinta, ia tetaplah menerima, dan saya akan tetap mencintai karya Eka selanjutnya seperti halnya saya mencintai Cantik Itu Luka.

Tebet, 11 November 2013
@Dedik Priyanto

PS: Ini hari ketiga #BukuDalamHidupku, perjalanan masih di pertengahan, kembali ke blog pribadi.

2 komentar:

  1. Pengakuan yang sungguh menyejukkan, sudah lama saya ingin menuliskan pengalaman saya perihal Cantik Itu Luka, tetapi belum saya mulai hingga sekarang. Baiklah, mulai sekarang saya akan menuliskannya. Demi novel ini, saya menyingkirkan Bumi Manusianya Pram di daftar bacaan untuk sementara waktu

    BalasHapus
  2. bacaan kita kok sama semua! sialan.... tapi memang eka menyihir dengan gaya dan ketekunannya... kalau secara tampilan fisik, puthut lebih tampan dikit, tapi puthut . dua org itu menjadi penulis idola saya, mereka masing2 menggunakan gaya yang bertolak belakang.

    BalasHapus