Selasa, 12 November 2013

#5BukuDalamHidupku: Orang-orang Tortilla

Saya sarankan kepada saudara sekalian, jangan pernah membaca buku ini jika tidak, dan saudara bisa pilih sendiri jawabannya. Pertama, bisa gila. Kedua, orang lain yang gila karena kelakuanmu.

Gila pertama adalah gila yang, membuat saudara, menjadi orang yang terkekeh sendirian, terjungkal-jungkal dihajar tawa, dan pada level yang akut, saudara akan dibuang, dilempar botol sebab berisik tanpa berkesudahan. Beruntung jika di samping saudara tidak ada anak kecil, yang kemudian kabur dan melaporkan ke orang tuanya. Sekonyong-konyong kemudian, sebuah mobil putih akan datang dan menciduk saudara sebab dianggap gila betul dan selayaknya dimasukkan ke rumah sakit jiwa.

Gila kedua adalah, orang-orang yang saudara provokasi untuk membaca kisah gila di dalamnya, dan akan mengalami gila pertama.

Buku ini, yang membuat orang-orang menjadi gila adalah Tortilla Flat dari John Steinbeck, dan saya membacanya lewat terjemahan yang begitu biadab dari Djoko Lelono, seorang sepuh yang patut diberi label orang yang gila pertama sebab mampu menafsirkan kebiadaban Steinbeck pada tingkatan yang lebih serius lagi dari gila pertama dan kedua: sableng.

Baiklah, saya tidak akan bicara tentang gila lagi. Sebab jika saudara pernah membaca novel ini, maka pasti mengerti maksud saya, bahwa cerita orang-orang di dataran Monterrey ini hingga detik ini terus menghantui.

Bahkan, beberapa kali itu saya mencari jejak orang-orang Tortilla yang diceritakan oleh Steinbeck itu dengan kawan-kawan yang berada di lingkaran saya. Misalkan, kawan A saya yang memiliki rumah, maka saya akan menyebutnya Danny. Yang memiliki hati lembut, penyayang binatang maka sepatutnya saya panggil nama Bajak Laut, dan bagi yang agak dungu, bertubuh gempal, tapi baik hati maka Joe Portugis adalah namanya. Yang agak filosofis, mirip filsuf yang gagal dan akhirnya mencari harta karun entah akhirnya bernama Pilon.

Semuanya, bahkan saya sendiri, acapkali dianggap sebagai Joe Portugis oleh kawan-kawan lain, juga seorang yang menyia-nyiakan perempuan yang telah menyiapkan anggur pada sebuah malam. Tapi lebih memilih anggur daripada perempuan. Entah, dosa apalagi yang harus saya terima selepas membaca Tortilla Flat. 

Saya beruntung berada di lingkungan orang-orang yang gemar bercakap tentang apa saja, biasanya ada saja yang menyentil soal bacaan, dan tentu saja dengan kehidupan yang begitu biadab, mirip seperti kehidupan orang-orang Torelli di lembah Monterrey.

“Novel yang menginspirasi Ronggeng Paruh adalah Dataran Tortilla. Karya Steinbeck,” seloroh Si Celurit Emas, D. Zawawi Imron, ketika kami berdiskusi di Pojok Gus Dur beberapa bulan lalu.

Seketika itu pula saya terdiam, dan menoleh ke arah Abah, seorang kawan yang sekarang menjadi wartawan di sebuah portal.

Sejenak mata kami bertaut, seolah ingin berteriak bersama,”Brengsek Steinbeck!”

Saya sendiri membaca buku ini entah berapa kali, dan mata saya begitu tertohok dengan percakapan Pilon dan Pablo di hutan perihal  hujan dan air yang turun saat itu. Mereka berdebat soal bagaimana air hujan yang turun. Ada yang berkata bahwa  jika turun berupa permata. Maka, tentu mereka akan kaya, dan banyak uang untuk dibawa ke Torelli guna dibelikan anggur.

Namun, akhirnya mereka sepakat bahwa air hujan yang turun malam itu alangkah lebih indah jika berupa anggur. Tentu anggur Torelli.  Karena dengan itu,  mereka akan lebih bisa menikmati tiap jengkal, tiap waktu untuk menikmati anggur.

Imajinasi ini, bagi saya, begitu gila, jenaka dan candu.

Anggur Torelli, yang menjadi barang paling berharga bagi orang-orang Torelli,  begitu merasuki otak saya, dan kerap mengusik alam bawah sadar saya. Bahkan sampai sekarang saya masih terus mencari tempat ini di Ciputat, atau di daerah-daerah lain di negara ini. 

Jika saudara tahu, ajaklah saya.

Bahkan saya yakin, jika pun Tuhan tahu, ia pasti sekarang sedang berada di Torelli, atau sekadar menggoda si nyonya belibis, atau paling tidak ia akan   

Begitulah, selepas baca ini, saya begitu bernafsu untuk mencari karya Steinbeck yang lain, dan juga mencari novel asli. Beberapa kali saya mencari di toko buku konvensional tidak ketemu.

Pernah suatu tempo menemukannya tergeletak di antara buku terjemahan  lainnya, tapi malang tak bisa ditolak, saat itu isi dompet saya hanya setengah dari harga yang tertera di buku tersebut. Dalam hati saya mengumpat, namun juga bahagia.

Gembira karena saya akan mendapatkan buku asli tersebut. Bukan fotocopy, begitu pikir saya. Dan menunjukkan pada mereka yang sering meremehkan para sivitas tukang copy ini.

Sebulan selepas peristiwa itu, saya mengumpat kembali sembari mendengar dinginnya seorang kasir berkata lirih,”Sudah tidak ada, Mas. Stok habis kayaknya. “

Sontak, saya kecewa untuk kembali. Saya pun mencari di toko-toko buku langganan. Tapi hasilnya sama; nihil. Dan sampai sekarang saya hanya mempunyai versi fotocopy. Entah bagaimana tawasul saya nanti, seperti kebiasaan saya waktu dulu saat ngaji, yang harus melafalkan doa kepada mereka yang berjasa atas keberadaan buku ini di muka bumi.

Konon, buku ini dianggap hadiah terbesar bagi penduduk Amerika selepas luluh lantak akibat perang tak berkesudahan, dan perekonomian yang ambruk selepas perang dunia pertama. Terlepas dari itu, buku ini menyelematkan kegilaan saya tentang humor sebagai bagian satir dalam bacaan.Orang-orang Paisano di lembah Monterrey ini mampu memberikan gelak tawa dan obat sejenak di antara deru tangisan.

Sastra, atau buku lainnya, bukan hanya persoalan serius dan patut untuk dirayakan sebagai sebuah kesedihan semata. Sedih yang berbalut jenaka tentunya lebih menyakitkan, dan model begini yang ditawarkan oleh Steinbeck melalui kisah orang-orang Tortilla. Ibarat racun, saya rela senantiasa meneguknya dan mati berkali-kali sebab tawa.

Maka, ketika saya ditanya banyak orang tentang sebuah novel yang patut ditempatkan di tempat utama dalam perpustakaan. Jawaban saya bulat, Tortilla Flat karya John Steinbeck.

Saudara juga sepakat, bukan?

1 komentar: