Senin, 18 November 2013

Kesunyian dan Sejumlah Kisah Orang Bawah

Syahdan, berdasarkan pengulik sastra kebanyakan,  kenangan adalah satu ruang yang banyak dijadikan inspirasi penulis mengeksplorasi kekayaan masa lalu. Kenangan itu bisa merupa pedih yang dalam, atau riang yang acap bergelap dengan ruang sendu sebagai penanda cerita.

Begitu halnya yang termaktub dalam kumpulan cerita pendek bertajuk Kabar dari Kesunyian (PBS, 2012) oleh Zakky Zulhazmi, cerpenis asal Ponorogo, Jawa Timur, yang berusaha untuk memberikan warta tentang hidup yang begitu dingin, minimal bagi dirinya sendiri. 

Jika Freud menganggap ruang kenangan ini merupakan alter ego yang menuntut orang untuk senantiasa datang, lalu menyublimasi segalanya ini menjadi kisah yang benar-benar nyata, maka kejadian dalam cerita ini hanyalah sebuah kisah yang  paradoksal; terkadang binal memaksakan masa lalu, tapi lain waktu 

Coba telisik kisah 'Di Beranda' yang berusaha menuturkan kisah masa kecil dengan personifikasi seorang renta dan menghabiskan masa tua dalam sebuah rumah yang nyaman. Namun di balik itu, ia menyimpan sebuah kenangan yang muram, tentang seorang yang jatuh cinta kepada seorang, dan juga tentang kawan yang terus menghantuinya.

Kisah dan janji pada akhirnya hanyalah fatamorgana dari risalah perjalanan, sesuatu yang ingin dikabarkan oleh penulis cerita ini sebagai bentuk; pengabdian masa lalu, tapi sayang ia gagal mewujudkannya menjadi cerita yang membuat pembaca menarik empati.

Empati ini pula yang coba dilihat oleh seorang anak kepada kakeknya dalam cerpen 'Masjid Abah' yang coba mengulik persoalan orang tua, kakeknya, yang teguh menjaga masjidnya dari serbuah modernitas. Ia enggan untuk kalah, tatkala keluarganya sudah tidak sanggup lagi memertahankan masjid sebab ada kejadian-kejadian ganjil, yang bisa saja karena konstrukis masjid sudah begitu tua dan lapuk, mereka terpaksa membongkarnya. 

Menurut saya, cerpen yang cukup berhasil, khususnya di akhir cerita dengan sebuah tanya: apakah yang dicari Abah di puing-puing masjid itu? Apakah ia sedang mencari kenangan pada masa lalunya, di sebuah tempat, yang hanya ia sendiri yang tahu? Apakah keris, yang jadi tema cerita, adalah hanya kiasan semata?

Persoalan ketidaktahuan inipula yang coba diceritakan oleh Zakky sebagai gaya bercerita yang cukup unik di cerpen 'Marsha', dengan dua gaya bertutur yang berlainan. Pencerita pertama mengisahkan kebingungan orang-orang menyaksikan seorang anak kecil yang menaiki Sutet, dan terjatuh serta meninggal. Pencerita kedua adalah si Marsha, yang ia tidak tahu, kenapa orang-orang ribut di bawahnya. Ia terus mendaki puncak, dan akhirnya turun, tapi jatuh dan meninggal. Tapi kesalahan di cerpen ini, ia menutupnya dengan kejadian gaya bertutur orang ketiga, dengan keadaan tahu segalanya, termasuk kehidupan selepas ia terjatuh.

Tema politik juga tidak lepas dari amatan Zakky, ia mengisahkan tentang-orang PKI yang tidak bisa pulang, dan dikiaskan lewat seorang perempuan yang senantiasa menunggu dalam 'Dewi Bulan'. Sebagaimana cerita berwatak realis lainnya, politik juga terjadi antara orang-orang biasa, seperti yang diceritakan Zakki tentang politisasi antara mereka, dua orang penjual yang saling bertukar fitnah dan dengki, dalam 'Angkringan'. Hingga akhirnya, pembeli enggan untuk keduanya.

Jika politik adalah milik penguasa dan orang-orang besar semata, maka dalam cerita ini, Zakky cukup berhasil memotret realitas yang terjadi dalam masyarakat kelas bawah, dan sekali lagi, ia seakan ingin menegaskan bahwa politik, apapun bentuknya, tidak akan pernah dipisahkan dari masyarakat. Bahkan, juga persoalan desas-desus mistis yang diciptakan oleh para pengusaha dalam cerpen 'Makam', hingga membuat orang-orang berkelahi. Juga cerita tentang 'Malam Tahun Baru' yang mengisahkan seorang sepuh yang ditipu dalam relokasi perumahan, padahal ia adalah turut memberontak pada jaman revolusi.

Mistis pula yang membuat seorang penyanyi dangdut kala mencalonkan diri menjadi wakil bupati dan pergi ke seorang dukun dalam cerpen 'Teluh'. Tapi sayangnya, ia kurang teliti dalam membuat repetisi cerita dengan hanya satu hari bercerita. Bagaimana teluh bekerja, orang-orang meminta dan calon saling bertarung hanya dalam satu cerita?

Ada juga kisah mistis tentang kematian lewat tanda kupu-kupu gelap yang datang ke rumah dalam cerpen 'Tamu', tapi sayang cerita ini begitu mudah ditebak, bahwa nanti tamu bukan saja soal kebahagiaan, tapi juga kematian. Lain halnya kala ia membicarakan hal mistis lainnya dalam cerpen bertajuk 'Sunyi', yang ini bisa jadi adalah cerita yang melatarbelakangi penunjukkan judul 'Kabar dari Kesunyian.

Ibarat sebuah kabar, ia sanggup mewartakan keinginan si penulisnya. Dan cerpen ini terbukti mampu mengendalikan emosi pembaca untuk larut pada kisah masa kecil 'Sun' dengan kenangannya yang detil: tentang ayunan masa kanak dan seorang sahabatnya--yang bisa jadi--hanya pada imajinasi belaka, seperti halnya kata Freud yang saya nukil di atas, ruang terdalam id yang kadang-kadang bisa timbul begitu saja. Ruang ketidaksadaran yang janggal, tapi begitu nyata.

Dari kelima belas cerita pendek yang ada di buku ini, hampir keseluruhan berkisah realis dengan acuan arus bawah sebagai cerita, seperti halnya cerpen Mbak Nik dan Langgar Mukadar. Kecuali satu cerpen bertajuk 'penjaga malam', yang seharusnya berpotensi menjadi cerpen yang sublim dan begitu surealistik.

Bayangkan saja, sosok yang saban hari menjaga malam dan mengatur denyut cuaca berkeliling mencari hiburan dan harus berganti dengan penjaga pagi, dan keduanya adalah sosok yang bukan manusia, bukan setan, atau bahkan bukan malaikat. Barangkali merupa bayangan, yang bisa menjadikan pembaca merasa terkaget dan mengimajikan sosok ini, tapi sayang, ia ditaburi aroma cafe dengan orang-orang membicarakan sosok Tuhan. Cerita yang terlalu dibuat-buat jika mahasiswa membicarakan hal--hal begini ditempat yang begitu riuh.
***

Buku 'Kabar dari Kesunyian' ini sebagaimana judulnya, berusaha untuk menjadi kabar dari kesunyian dan hal-hal yang tak selesai lainnya.  Saya sendiri kurang menangkap, sebenarnya apa yang dimaksudkan oleh 'kesunyian' yang coba diwartakan penulis, ataukah kesunyian itu merupa kesendirian atau bahkan kenangan.

Itu pula yang perlu ditelisik, sebab kelima belas cerita ini, tidak semua membicarakan hal muram yang kerap diwartakan sebagai sebuah kesunyian. Apalagi mau diambil berang merahnya, saya kira, pembaca paling biasa pun sukar mendefinisikannya.

Terlepas dari itu, dengan umur yang masih sangat muda, Zakky Zulhazmi mampu bercerita dengan begitu lancar, dan kalau saja tidak terburu-buru menyelesaikan cerita, akan jadi sebuah kisah yang--jika ia menginginknkan--menjadi jalinan kesunyian yang diinginkan, maka ia harus lebih mengesplorasi ruang terdalam, yang kerap tidak terucap, dan menjadi kekuatan kesunyian, seperti halnya kisah-kisah yang diterakan Guy De Mapaussant, misalnya, atau cerpenis serupa Puthut EA Apalagi dengan luasnya ragam tema yang dibahasnya.

Kekuatan bercerita yang cukup bagus tadi akan menjadi lebih istimewa jika Zakky Zulhazmi mampu mengelupas ruang batin terdalam manusia, yang menjadi kabar dari masa lalu, tempat bersemayam kenangan dan kesunyian. Sesuatu yang belum bisa dipenuhinya lewat kumpulan cerpen ini. Begitu. 

@Dedik Priyanto

PS: Saya mengenal penulisnya begitu dekat, tapi berhubung saya harus berkata apa adanya, terhadap resepsi karyanya, maka beginilah adanya.

3 komentar:

  1. mantabbb mas dedik.... saya termasuk yang riuh dalam cerita "kabar dari kesunyian" , tunduk dalam membaca karya, tapi lupa dalam menganalisa.... sukses untuk penulis ; mas zakky.

    BalasHapus
  2. Iya, Zakky pencerita yang baik. Semoga ia tidak berhenti.

    BalasHapus
  3. baru kenal yang namanya mas Zakky Zulhazmi , dan baru tahu ada novel ini. sepertinya sangat menarik hati saya untuk membacanya. dimana bisa beli bukunya neh?

    BalasHapus