Senin, 04 November 2013

Seno dan Kutipan di Dinding Facebook

"Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa." ~ Menjadi Tua di Jakarta- Seno Gumira Ajidarma

Saya pertama kali membaca kutipan itu dari dinding facebook penulis cum aktivis Puthut EA, seketika itu pula saya tercekat dan beberapa kali berpikir, untuk apa kita hidup di kota, lengkap dengan pelbagai kebisingan dan semrawut tanpa ada kesudahan?

Lalu saya teringat beberapa tahun silam, beberapa jam selepas kelulusan, tepuk tangan dengan ragam keriangan, dan ucapan selamat tanpa henti seperti udara yang saban hari dihirup, saya bertekad untuk keluar dari daerah saya di Jawa Timur dan bertekad menjadi perantau. Menjadi perantau dengan kesungguhan yang begitu menggebu untuk menjadi diri sendiri, menemukan pribadi sendiri, menelisik pelbagai kemungkinan yang, barangkali, akan terjadi.

Datang ke sebuah kota yang bagi orang desa seperti saya seperti membayangkan masuk ke kehidupan yang lain, yang tidak mungkin terbayang sebelumnya seperti seorang pengembala tersesat ke hutan dan pasir yang tak bertuan, lalu segera menemukan kegagapan sepanjang jalan dalam kisah The Alchemist Paul Coelho.

Kota adalah imajinasi banyak orang, dan memberikan harapan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Saya dan barangkali semua orang yang datang ke kota seolah memenuhi ruang janji yang tidak akan sanggup berdiri sendiri, tanpa mampu ada seseorang yang pergi menanggalkan keinginannya hanya untuk satu kalimat paling puitis yang mereka impikan: kehidupan yang lebih baik.

Lalu gerbang dunia pendidikan, pintu dunia kerja dan kesempatan mencari jejak-jejak penghidupan seakan menebarkan pelbagai harap, yang banyak orang tak mampu memenuhi janji.

Banyak pula yang meradang dengan ribuan umpatan, lalu kalah, dan pulang.

Kesempatan menjadi bagian kota dengan janji riang dengan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya diterjang dengan pelbagai risiko: bising, sakit, macet, gaji yang minim dan hidup seperti robot.

Dalam kehidupan kota yang serba berisik dan tidak menentu ini, kutipan Seno di dinding facebook itu kembali membuat saya bertanya, sampai kapan saya bertahan di kota Jakarta?

@DedikPriyanto

PS: saya belum pernah baca cerpen Seno yang itu, jika ada kalian yang punya, mohon saya dikasih tahu link atau bukunya, biar saya beli atau fotokopy

3 komentar:

  1. Nah loh... Kok pas banget sih? Saya barusan malah posting tentang #HeartOfJakarta dan bagaimana secercah harapan pun masih bisa ditemukan di Jakarta... Saya juga rantau, tapi saya gak mau menyerah sama kondisi. Saya harus membuat saya tak takluk pada kondisi Jakarta, tapi Jakarta yang mengerti saya. Gimana caranya? Wah, seharusnya tanya pribadi sendiri. Hehehe. Masih ada hal menyenangkan sih di Jakarta, dan saya pun sedang mencaritahunya. :D Kalau sempat, mampir saya juga ya. :)

    #HeartOfJakarta

    BalasHapus
  2. Heuheu, iya sih, Yu. Masih banyak hal menyenangkan di Jakarta, seperti semalam di #GerakanFilmIndonesia misalnya, yang menyanyikan banyak hal di senayan dg pelbagai tontonan klasik dan senarai musik yang asyik--yang tidak ada di kota. Moga saja kita tidak masuk seperti kutipan Seno tadi.

    Omong-omong, sampai kapan bertahan di kota berisik ini? :P

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus