Kamis, 21 November 2013

Buku, Pesta dan Cinta di Kampus Biru

Film: Cintaku di Kampus Biru (1976)
Adaptasi novel Cintaku di Kampus Biru (Ashadi Siregar)
Sutradara: Ami Prijono
Skenario: Nya Abbas Akub Cerita: Ashadi Siregar
Produksi: PT Safari Sinar Sakti Film

Buku, pesta dan cinta adalah tiga hal yang menjadi kunci  untuk memasuki dunia mahasiswa. Lalu dalam sejarah film nasional, film apa yang menggambarkan ketiga identitas ini?

Jika hal itu ditanyakan kepada beberapa kritikus, maka bisa jadi mereka serempak mereka akan menjawab film arahan Ami Prijono bertajuk Cintaku di kampus Biru (1976) adalah yang pertama menyuguhkan ketiga hal di atas. Bahkan film adaptasi dari novel populer Ashadi Siregar dengan judul serupa ini acapkali dijadikan contoh bagaimana menelurkan sebuah film yang tidak hanya komersial, tapi juga bermutu.

Film ini dimulai dengan adegan ciuman yang tidak hangat antara Anton (Roy Marten) dan Marini (Yetty Octavia) di semak belukar di dekat kampus Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta. Anton tampak rikuh dan gusar memikirkan ujiannya yang gagal untuk kesekian galinya, padahal waktu studinya sudah semakin mepet dan membuatnya lama lulus.

Sebagai seorang aktivis mahasiswa yang cerdas dan sudah hapal seluk beluk birokrasi kampus, ia merasa ada yang tidak beres dengan dosen ini. Menurutnya, ia sudah melakukan semua perintah yang dititahkan dosen tersebut, tapi apa lacur, ia tetap saja gagal. Dosen yang membuat Anton kesal itu bernama Dra Yusnita (Rae Sita), seorang gadis cantik, cerdas, angkuh tapi juga berumur.

Dari sinilah konflik film ini dimulai. Anton tidak diterima dengan perlakukan sang dosen. Lalu ia mengorganisasi sejumlah mahasiswa untuk mempertanyakan kepada pihak kampus terkait perangai dosen tersebut. Apalagi, korban dari kekejaman Bu Yusnita, begitu dosen itu biasa disapa, tidak sedikit yang bernasib sama seperti Anton.   

Konflik memang lantas terjadi antara sang dosen dengan sejumlah mahasiswa yang dipimpin oleh Anton. Ketegangan menjadi makin memuncak oleh tangan-tangan jahil yang melempari rumah Yusnita, serta menempelkan plakat di kampus yang isinya mengolok-olok Yusnita. Sonta, ia pun amat tersinggung dan menuduh Anton sebagai biang keladi, serta mendeesak kampus untuk mengeluarkannya dari kampus.

Ketegangan pun tak terelakkan, Anton harus berhadapan dengan dewan dosen, sedangkan di luar gedung, para simpatisan Anton telah bersiap menggelar aksi massa. Akhirnya, hukuman Anton pun ditangguhkan sebab ia masih harus memimpin sebuah penelitian yang melibatkan mahasiswa lintas kampus. Pendek cerita, Anton pun kembali diselamatkan oleh kegigihannya menerangkan otoritas kampus yang tidak boleh semena-mena. Apalagi menyingkirkan kampus 

Buku, Pesta dan Cinta

Seperti yang saya gambarkan di atas, film ini adalah mula yang memotret tentang fenomenakampus dengan pelbagai dinamikanya yang khas; corak intelektualisme mahasiswa dan semaraknya cinta antar mereka, serta tentu saja narasi perlawanan sebagai potret jaman di tahun 70-an, beberapa tahun sebelum NKK-BKK (1977-1978) diberlakukan sebagai bentuk kebiri yang dilakukan pemerintah orde baru terhadap gerakan mahasiswa.

Salah satu hal yang menonjol adalah perwujudan sosok Anton yang digambarkan begitu mengidolakan Che Guevara dan berambut gondrong, serta menjadi pemimpin Senat mahasiswa yang mampu memobilisasi aksi massa untuk melawan dewan dosen yang telah membuat dirinya.

Tak hanya itu, film ini juga menggambarkan intrik politik dan perebutan kekuasaan yagn terjadi dalam tubuh mahasiswa. Anton dianggap oleh kawan-kawananya sesama aktivis sebagai sosok yang harus segera disingkirkan, sebab ia telah lalai terhadap tugasnya sebagai pemimpin, apalagi kini sikapnya semakin lembek, dan kurang menggigit selepas dekat dengan beberapa perempuan, termasuk Yusnita, orang yang dulu ia lawan.

Maka dilancarkanlah pelbagai aksi guna menyingkirkan Anton di kursi. Anton pun harus pasrah, apalagi ia  dikhianati kawannya sendiri, Farouk, yang bersengkongkol untuk melawan dirinya dengan mengajukan orang lain untuk menduduki. Padahal sebelumnya, Anton adalah orang yang mengkader dirinya.

Farouk sakit hati, sebab ia merasa tidak dianggap dalam kancah politik kampus dan dilecehkan oleh sikap Anton. Apalagi ia tertangkap basah oleh Anton sedang selingkuh dengan kekasih Anton, Marini. Konflik antar tokoh mahasiswa pun terjadi, dan Anton harus merelakan jabatannya sebagai ketua senat beralih melalui pemilhan umum.

Walaupun demikian, dunia kampus tetaplah dunia yang penuh dengan cinta. Anton pun digambarkan sebagai sosok yang begitu digandrungi perempuan, yakni Marini, Erika dan bu Yusnita. Ketiga perempuan ini seolah berlomba untuk mendapatkan hati Anton.

Tapi Anton tetaplah tetaplah pribadi yang tidak bisa diatur, walaupun itu oleh orang yang dicintai. Bahkan ia pun menolak kembali ke Erika, gadis manis yang ditemuinya di perpustakaan kampus, sebab ia pernah ditolak mentah-mentah oleh orang tua Erika.

Buku, pesta dan cinta adalah tema yang telah lama diperdebatkan dan tak akan pernah usai selama masih sosok bernama mahasiswa. Drama Anton dan pelbagai konfliknya adalah tanda, perlawanan tidak akan habis selama masih ada mahasiswa di tengah kita. Begitulah. 

PS: Tulisan lebih menggelitik soal ini, bisa dilihat di edisi empat majalah Surah edisi 4 :p

Tidak ada komentar:

Posting Komentar