Sabtu, 16 November 2013

#5BukudalamHidupku: Candu Humor dari Mahbub Djunaidi

Saya orang yang begitu mudah terprovokasi, khususnya pelbagai bacaan bermutu,  yang terkadang, harus saya curi dari ragam perbincangan orang-orang. Dari situ pula, saya mulai jatuh cinta pada sosok ini; Mahbub Djunaidi.

Siapakah Mahbub Djunaidi, dengan tambahan 'Haji' di depannya?

Jika saudara aktivis pergerakan, atau minimal pernah berada di lingkungan organisasi kepemudaan atau sekurang-kurangnya memiliki latar belakang jurnalisme, pasti saudara akan mengenalnya. Lebih-lebih jika suka mengoleksi tulisan-tulisan lawas yang bernas, tentunya nama ini tidaklah asing.

Saya mengenalnya pertama kali lewat novel 'Dari Hari ke Hari' yang berkisah tentang revolusi Indonesia, khususnya kala Agresi Militer Belanda pada tahun 1945-1949 dalam kaca pandang seorang bocah. Ia bercerita dengan begitu detil, alamiah dan begitu lucu. Tak heran, akhirnya novel ini menyabet novel DKJ pertama pada tahun 1984.

Jika puncak filsafat adalah komedi yang berbalut komedi (tragikomedi) maka saya bisa katakan, novel ini begitu berhasil mengangkat revolusi dengan canda yang begitu komikal, penuh dengan ironi, kaya akan metafora, dan tentu saja tragedi. Tapi, melebihi segalanya, inilah gerbang mula untuk lebih mengenal karya-karya beliau, khususnya humor yang begitu penuh di esai-esainya.

Maka, seperti halnya provokasi lainnya, saya pun terpantik untuk mencari karya-karya lainnya, semisal Kolom Demi Kolom, Humor Jurnalistik, Binatangisme (terjemahan dari George Orwell Animal Farm), Angin Musim, Di Bawah Gurun Sinai (terjemahan) dan lain sebagainya. Ia pula yang menerjemahkan buku legendaris 100 orang paling berpengaruh di dunia karya Hart.

Tapi sayangnya, dari kesemuanya, saya masih belum menemukan terjemahannya atas Animal Farm George Orwell, padahal novel ini adalah salah satu novel yang begitu saya sukai. Juga konon Mahbub menulis sebuah buku tipis tentang liputan perang di Bosnia.

Jika masih tidak percaya, silakan baca sendiri karya-karya Mahbub Djunaidi. Saya tidak ikut provokasi, tapi coba menunjukkan bukti bahwa saat ini kepala saya masih terus terngiang humornya. Saya butuh obat sakit kepala atau minimal buku-buku Mahbub lainnya--yang belum saya punya tentunya.

Apakah saya akan bercerita tentang hal lucu itu? Tidak.

Silakan cari sendiri, misalkan, dengan mengunjungi laman ini, atau sila baca novel 'Dari Hari ke Hari'  atau tulisan-tulisan lainnya. Beberapa kawan menyebut Mahbub Djunaidi sebagai pendekar humor, atau yang paling bagus: penulis sableng.

Sungguh saya tidak ingin memprovokasi.

@Dedik Priyanto

PS: #HariKelima, hari terakhir mudik ke blog sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar